Rafa Dan Fatar

Rafa Dan Fatar
Bab 72.


__ADS_3

“Boleh saya tahu siapa yang mendonorkan darahnya?” Tanya Lilis ke dokter dan perawat.


Dokter menatap ke arah perawatnya.


“Seorang Pria yang sangat tampan buk. Cuma saya gak tahu namanya.” Perawat lupa menanyakan nama si pendonor.


“Oh.. Lalu dimana dia sekarang. Aku ingin bertemu dan mengucapkan terima kasih.”


“Mungkin masih diruangan donor darah”


“Baiklah. Terima kasih”


Dokter dan perawat menganggukan kepalanya. Kemudian pergi dan bersiap untuk melakukan operasi Rafa kembali.


Lilis menatap Fatar dan Tania juga Jack.


“Tania... Jack... tolong jaga Fatar sebentar dan awasi operasi Rafa. Aku akan menemui si pendonor sebentar. Bagaimana pun dia penolong anakku.”


Usai berkata begitu Lilis langsung mencari tempat donor darah. Ia sempat bertanya ke perawat yang ia jumpai saat berpapasan. Dan perawat terebut ,enunjukan arahnya. Kesanalah Lilis segera menuju. Ia mau tahu siapakah penolong anaknya? Lilis hendak berterima kasih.


Sampai diruangan donor darah, Lilis segera masuk. Namun yang dilihatnya seorang gadis muda. Loh kok gadis muda. Katanya seorang pria. Kemana pria tersebut. Begitulah pikir Lilis.


Ayu menatap ke arah Lilis.


“Cari siapa ya Kak?” Ayu menatap Lilis.


“Maaf. Tadi ada yang donorkan darah untuk anak kecil. Katanya dia ada disini. Seorang pria. Lalu dimana orangnya” Lilis mengkerutkan keningnya.


“Oh... Om Leo ya. Udah selesai ambil darahnya kak. Itu darahnya.” Ayu menunjuk beberapa kantung darah yang sudah banyak menumpuk. Yang diambil seperlunya dan sesuai standar.


“Orangnya kemana?”


“Katanya mau ke toilet sebentar dan sekalian beli minum. Haus katanya.”


“Nama Pria itu Leo kah?”


“Iya Kak. Om Leo”


“Dia Om mu dik”


“Iya kak. Om nya Ayu.” Ayu mengatakan kalau William adalah Om nya. Ayu rasa jawaban itu yang terbaik. Habisnya ia tak tahu harus bagaimana lagi menjawabnya.


“Namamu siapa dik?”


“Ayu Hastari.”


“Makasih banyak ya dik Ayu Hastari. Dengan darah yang di donorkan maka putri ku bisa selamat. Terima kasih banyak ya dik.”


“Panggil Ayu aja kak. Iya kak. Sama-sama” Ayu tersenyum ramah. Lilis pun tersenyum.


“Oh iya dik Ayu. Ini ada sedikit rasa terima kasih aku ya dik.” Lilis mengeluarkan dompetnya dan memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu.


“Kalau kurang bilang aja ya dik.”


“Gak usah kak.” Ayu menolaknya.


“Kami niatnya Cuma bantu aja kok. Gak perlu uangnya kakak” sambung Ayu kembali.


“Makasih banyak ya dik” Lilis berurai air mata kembali. Ayu merasakan kesedihan Lilis. Ayu mendekat dan memeluk Lilis.


“Kakak yang tabah dan kuat ya...” Ucap Ayu. Lilis menganggukan kepalanya. Suasana menjadi haru.


William kembali dan masuk kedalam melihat Ayu berpelukan dengan seorang wanita. Namun William tak melihat wajahnya Lilis. Karena merasa kalau suasana nya agak gimana gitu, akhirnya William kembali keluar. Ayu melihat kalau William telah kembali tapi malah keluar lagi. Ia melepaskan pelukannya.

__ADS_1


“Kak. Ayu permisi dahulu ya kak. Mau cari Om Leo.”


“Oh iya. Kalau ada apa-apa atau butuh bantuan, katakan saja ya dik. Ini kartu namaku. Sekali lagi makasih dik. Sampaikan ke Om mu makasih juga.” Lilis menyerahkan kartu namanya. Dimana ada nama jelas Lilis beserta nomer Hapenya juga nama toko Butiknya.


“Oh iya kak. Permisi ya kak. Semoga anak kakak cepat sembuh ya.” Ayu pun pamit pergi.


Lilis menganggukan kepalanya dan melihat Ayu yang semakin menjauh. Seorang perawat masuk. Ia melihat Lilis didalam. Kemudian membawa kantung-kantung darah tersebut. Lilis pun mengikutin si perawat. Sekalian ia kembali ke ruangan operasi Rafa.


Di luar. Ayu sibuk mencari William. Setelah kesana kemari, ia akhirnya menemukan William.


“Om... Kok disini. Ayu cari-cari dari tadi.”


“Oh Ayu. Iya. Mau menghirup udara segar. Agak pusing. Karena banyak juga darah yang di donorkan.”


“Mau rebahan dulu gak?”


“Kita pulang aja. Balik ke warung.”


“Oke. Eh... Udah beli minumnya”


“Ini. Satu buatmu” William membeli dua minuman botolan ukuran kecil. Yang satu diminumnya. Satu lagi untuk Ayu.


“Oke. Yuk kita pulang.”


“Oke”


Pulanglah Ayu dan William. Mereka kembali ke warungnya Ayu. Mereka menyetop angkot yang lewat dijalan. Selama perjalanan pulang Ayu bercerita tentang Lilis yang berterima kasih kepadanya dan ke William. Semuanya Ayu ceritakan. Bahkan diberi kartu namanya juga di ceritakan Ayu.


“Ni Om... Kartu namanya . Dia sangat berterima kasih sekali om sama kita. Khususnya sama Om.”


“Hem...” William menerima kartu nama tersebut dari Ayu. Ia membaca nama Lilis dikartu nama tersebut.


“Lilis Hartono...” Gumam William.


“Loh... Om kenapa? Nangis?”


“Ah... enggak. Mungkin kelilipan.” Alasan William. Padahal ia pun tak tahu kenapa.


“Oh...” Ayu yang terlalu polos pun percaya.


Sampai di warung, mereka membuka kembali warungnya. Ayu meminta William untuk instirahat tapi William bilang tak apa-apa. Begitulah seterusnya. Hari-hari yang dilewatin Ayu dan William yang sibuk mengurus warung bersama-sama jualan.


Kembali ke rumah sakit, operasi Rafa telah selesai. Semuanya berjalan lancar dan Rafa telah selamat. Sekarang Rafa telah di tempatkan di ruangan pasien VVIP.


Tania , Jack, Lilis dan Fatar menunggui didalam ruangan.


“Lis... Istirahatlah. Kau sudah tak tidur dari semalam. Biar aku dan Tania yang berjaga gantian.” Ucap Jack.


“Tak perlu Jack. Kau saja dan Tania yang kembali istirahat. Kalian pasti sudah lelah. Jack juga harus kembali ke kantor kan” Lilis masih mau disamping Rafa. Rafa masih belum siuman.


“Baiklah. Fatar ikutlah bersama Tante dan Om ya. Nanti kita kembali lagi kemari.” Ajak Tania ke Fatar.


“Fatar masih mau bersama Mama dan kakak” Fatar menolak pergi dengan Tania dan jack.


“Nak... pergi dengan tante Tania dan Om Jack ya. nanti kembali kemari lagi. Jangan lupa baju ganti Mama bawakan ya.”


Fatar pun menganggukan kepalanya. Ia menurut. Pergilah Fatar bersama Tania dan Jack.


Kini Lilis berdua bersama Rafa di ruangan yang serba putih tersebut.


“Cepatlah sembuh ya nak. Rafa lekaslah bangun ya” Ucap Lilis pelan ke Rafa sambil mengelus rambut Rafa dengan lembut lalu mencium kening Rafa.


Lilis terus menemanin Rafa dan tak mau meninggalkannya.

__ADS_1


Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam dan hari demi hari telah berlalu.


Rafa sudah siuman. Ia kembali ceria. Lilis pun ceria kembali pula.


Siang itu Lilis menemanin Rafa sendirian.


“Ini dimakan buburnya ya sayang.” Ucap Lilis sambil menyuapi anaknya.


“Udah kenyang Ma...”


“Sedikit lagi loh sayang.”


“Udah Ma... Fatar mana Ma?”


“Palingan masih di sekolah. Mama udah minta Tante Tania yang jemput Fatar disekolah.”


“Om Jack...?”


“Om Jack sibuk dikantor nak. Nanti sore pasti kemari”


“Rafa kangen sama semuanya. Rafa juga kangen dengan sekolah dan belajar lagi”


“Kalau sama Mama?”


“Rafa juga kangen dong. Kangen banget malahan. Rafa pengen cepat keluar dari rumah sakit Ma..” senyum cerah mengembang di wajah Rafa yang mencerahkan Lilis juga. Rafa hari ini baru sadar setelah hampir dua minggu dia terbaring.


“Sabar dulu ya sayang. Sembuhkan dulu keadaannya baru Rafa bisa keluar dari rumah sakit”


“Rafa udah sehat loh Ma...”


“Nanti ya sayang. Kalau dokter udah bolehkan baru kita kembali pulang ke rumah. Ok”


“Baiklah Ma.”


“Rafa... Mama boleh tanya?”


“Boleh Ma.. Tanya aja”


“Waktu Rafa kecelakaan, Rafa waktu itu kenapa kok tiba-tiba lari ke arah lain dan tak jadi masuk mobil. Kenapa nak?”


“Waktu itu Rafa melihat Papa Ma...”


“....”


Lilis terkejut dengan yang di ucapkan Rafa. Ia menatap lurus ke arah Rafa dengan serius, tanpa berkedip sedikit pun.


Bersambung...


Akhirnya bisa UP kembali. Rafa udah selamat dan sadar nih. Rafa juga cerita ke Lilis, kalau dia melihat Papanya yaitu Willliam... Selanjutnya gimana ya. ikutin terus ya kak Readers semuanya :D


Di like juga semua episodenya ya kak. Tinggalkan Komennya juga. Dukungan kalian akan sangat berarti agar Authornya semangat dan bisa UP cerita secepatnya. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)


Like nya masih sikit nih. Gak tembus belum... jadi up nya agak lama gak apa-apakan... saya usahakan selalu UP tiap hari ya. Yang baca karya ini ada 34 ribu lebih pembaca. Jempolnya digerakan juga ya untuk like dan vote jadi gak hanya baca dalam diam hehehe :D


Tembus 200 lebih like segera di UP kembali.


Tinggalkan komen yah... Maaf baru bisa UP kembali dikarenakan ada sedikit masalah.


Di like, di vote dan klik Favorite yah sebagai tanda telah membaca dan menyukai karya ini, juga sebagai apresiasi ke karya ini.


Karya ini murni buatan Author ya. Jadi katakan No Plagiat. Beberapa rekan penulis sudah banyak yang di plagiat karyanya. Semoga Karya ini mendapatkan apreasiasi yang baik pula.


Karena Plagiat tersebut adalah perbuatan tercela dan tidak baik. Itu adalah hal yang memalukan, karena meniru dan menjiplak karya orang lain sangatlah buruk. Semoga kita dijauhkan dari orang-orang tersebut. 😎😎😎

__ADS_1


__ADS_2