
“Kau tidak marah padaku kan Lis?” Tanya William dengan wajah sedihnya.
Lilis menggelengkan kepalanya.
“Tidak. Aku tidak marah. Aku hanya perlu waktu saja Will.”
“Baiklah. Kalau begitu kita tidur saja.”
Malam semakin larut dan akhirnya mereka tidur.
Esok paginya.
Di meja makan hanya ada Rafa dan William yang sedang sarapan bersama.
“Mama mana Pa?” Rafa menanyakan Mamanya ke Papanya.
“Mama sedang di kamar Fatar. Mungkin sedang memberikan Fatar sarapan. Rafa mau berangkat sekolah bersama Papa?” William menoleh putrinya sambil memakan sarapannya.
“Rafa sama supir aja Pa.”
“Oke. Baiklah. habiskan sarapannya agar segera berangkat sekolah”
“Iya Pa. Lalu Fatar bagaimana Pa? Apa yang harus Rafa bilang ke sekolah?”
“Masalah sekolah sudah Papa telepon pihak sekolah kalau sementara Fatar dirumah saja. Papa sudah minta ijin ke sekolah kalian”
“Oh. Oke Pa”
Rafa segera menghabiskan sarapannya. Kemudian ia langsung berangkat ke sekolah dengan di antar pak supir. William yang baru selesai sarapan juga sedang bersiap hendak ke kantor. William berpapasan dengan Lilis saat Lilis baru turun dari tangga, ia baru dari kamarnya Fatar.
“Sayang... Aku berangkat kerja ke kantor dahulu ya? Kau mau bareng ikut aku sekalian ke butik mu sayang?”
“Tidak. Aku di rumah saja. Rafa dan kau sudah kah sarapan?”
“Sudah. Tadi kami sarapan bersama. Rafa juga sudah berangkat ke sekolah di antar supir. Kau sudah sarapan sayang?”
“Aku sudah sarapan saat menemanin Fatar sarapan tadi di atas. Oh iya selama keadaanku kurang baik, siapa yang menjalankan butikku? Lalu perusahaan Hartono bagaimana?”
“Butikmu aman saja sayang. Aku perintahkan pegawai mu untuk tetap melanjutkan tokonya. Bahkan ke asisten mu ku suruh menjaga toko butik mu. Sedangkan perusahaan Hartono aku yang mengawasinya terus. Karena sudah dibawah naungan Perusahaan I.S. dan Jack yang membantu ku juga. Jadi kami menjalankan dua perusahaan sekaligus.”
“Syukurlah. Bagus kalau begitu.” Lilis terdiam. Ia ingin menanyakan hal lain tapi ia urungkan.
William menatap Lilis yang terdiam.
“Apa kau hanya akan dirumah sayang?”
“Iya. Sementara ini, sambil menemanin Fatar di rumah.”
“Baiklah. Aku berangkat ya.”
“Iya sayang”
William ingin mengecup bibir Lilis tapi Lilis kembali mengelak. William mengkerutkan keningnya.
“Ada apa?” Tatap William dengan tajam.
“Tak ada apa-apa. Pergilah, nanti kau terlambat.”
William pun menganggukan kepalanya. Ia pun keluar dan pergi dengan mobilnya menuju kantornya.
Lilis kini sendirian diruang tengah tersebut. Ia melangkah ke sofa dan duduk di sofa tersebut. Melihat ponselnya dan menekan nomer Tania.
Lilis pun menelepon Tania.
“Halo Tan. Ini aku Lilis.”
“Lilis. Ini benar kau Lis”
“Iya.”
“Kau sudah membaikkah?”
“Sudah.”
“Syukurlah. Aku senang mendengarnya. Lalu ada hal apa kau meneleponku? Apa kau mau bertemu Lis? Kita temu kangen begitu.”
“Bukan itu. Ada hal lain. Kau sibuk gak Tan?”
“Tidak terlalu. Aku baru saja mengawasi restoran cabangku. Kenapa?”
“Aku mau tanya, apa kau ada kenalan atau tahu tempat untuk berlatih ilmu bela diri tidak?”
__ADS_1
“Hah?? Ilmu bela diri?”
“Iya. Kayak karate atau kick boxing gitu.”
“Untuk apa Lis? Kau jangan membuatku takut.”
“Aku mau belajar Tan.”
“Buat apa?”
“Untuk perlindungan diri sendiri.”
Tania mulai paham maksud Lilis. Mungkin setelah kejadian itu Lilis merasa harus menjadi kuat bukan wanita lemah lagi. Jadi karena itulah Lilis mau belajar ilmu bela diri. Begitulah pikir Tania.”
“Baiklah. aku akan cari tahu. Jika sudah ada info akan ku kabarin”
“Oke.Makasih Tan.”
“Ya. Sama-sama.”
Lilis mematikan teleponannya. Lilis menghela nafas panjang.
Sebenarnya ia pun masih bingung harus bagaimana. Ia mau kembali seperti dahulu tapi rasanya masih susah. Syukur saja mental dan jiwanya sekarang mulai membaik jika tidak mungkin ia akan menjadi kehilangan kewarasannya selamanya.
Dan setiap William mulai mendekatinnya, ntah kenapa Lilis refleks menghindar. Ia merasa masih takut bersentuhan dengan lawan jenis. Selain anaknya tentunya. Hanya pas dirumah sakit itu saja lah Lilis mau di peluk dan disentuh William. Tapi itu karena cemas dengan keadaan Fatar. Setelah itu, Lilis malah menjaga jarak dengan suaminya sendiri.
Lilis merasa tak nyaman dengan situasi dan keadaan sekarang. Namun bagaimana lagi ia pun tak tahu. Yang dia tahu, ia mau belajar ilmu bela diri. Untuk melindungi dirinya sendiri dari hal yang tidak-tidak. Walau ia sudah membaik tapi kenangan buruk masih membekas di hatinya dan dipkirannya. Makanya Lilis refleks menghindari dan menjaga jarak dari William. Walau Lilis ingin sekali memeluk William dan menyenderkan kepalanya didada bidang William, merasakan kehangatan William, tapi tubuhnya malah menolak.
Sebenarnya pas masa ia dalam keadaan kurang baik, Lilis bisa merasakan kehangatan dan kehadiran William. Tapi saat itu ia seakan terkurung di dasar kegelapan dan susah untuk keluar. Sehingga suara William terdengar hanya sayup-sayup saja. Ia pun hanya bisa seperti mayat hidup atau orang stres yang histeris menangis pilu atau pun mengamuk. Tapi sekarang hal itu sudah lewat.
Sekarang ia harus menyembuhkan kesiapan mental dan jiwanya. Walau ia sudah mulai membaik, sudah berbicara dengan yang lainnya dan sudah berinteraksi dengan yang lainnya tapi Lilis masih merasa kurang nyaman. Ia pun berpikir harus belajar karate atau kick boxing untuk sekarang ini. Karena hal tersebut pasti berguna untuk melindungi diri suatu saat nanti.
“Hah... Apa yang harus ku lakukan?” Keluh Lilis pada dirinya sendiri.
Kemudian suara kecil Fatar terdengar. Rupanya Fatar telah ada di hadapannya. Ternyata dari tadi pikiran melayang-layang ntah kemana-mana.
“Mama..”
“Oh... Fatar. Iya nak. Ada apa?”
“Fatar bosen. Kita keluar dan jalan-jalan ya Ma.”
“Tapi sebaiknya kita dirumah nak. Fatar harus istirahat ya”
“Eeemmm..”
“Ayolah Ma.”
“Baiklah.”
“Hore... Asyik...” Fatar terlihat senang.
Pergilah Fatar dan Lilis ke sebuah supermarket. Lilis yang membawa mobil sendirian.
Di dalam supermarket, Lilis dan Fatar membeli banyak es cream. Ia dan Fatar terlihat bahagia. Senyum cerah menghiasi wajah Lilis dan Fatar.
Saat keduanya asyik berbelanja es cream dan membeli beberapa jajanan juga, seorang pria menyapa Lilis.
“Lilis...” Sapa pria tersebut.
Lilis melihat asal suara tersebut.
“Mas Panji.”
“Hai Lis.. Apa kabar?” Panji tersenyum hangat melihat Lilis
“Baik. Kalau Mas?” Lilis menjaga jarak namun berusaha bersikap biasa saja.
“Baik juga. Sedang apa?”
“Oh.. sedang berbelanja saja bersama Fatar. Dan Mas?”
“Aku singgah hanya membeli rokok. Bisa bicara kita Lis? Di dekat sini ada cafe minuman mau kesana?”
“Maaf. Aku tak bisa Mas.”
“Hanya sebentar Lis” Panji hendak membujuk Lilis dan memegang lengannya. Tapi refleks Lilis langsung menghindar.
Panji mengkerutkan keningnya.
“Maaf mas. Aku tak bisa.”
__ADS_1
“Apa karena sekarang kau punya suami Lis? Jadi menjaga jarak denganku? Aku harap kita masih bisa berteman Lis. Jujur aku mungkin masih susah melupakanmu. Tapi yakinlah, kalau aku sudah ikhlas dan mendoakan kebahagianmu bersama William.”
“Aku percaya. Hanya saja aku tak bisa”
“Kenapa? Karena status mu yang sekarang istri orang begitu. Ini hanya pertemuan dan pembicaraan biasa Lis..”
Lilis mengigit bibir bawahnya. Ia tak tahu harus bagaimana menghadapi Panji. Ia hanya mau pergi dan menjauh aja dari para lelaki. Pas kebetulan saat itu fatar datang.
“Mama. Ayo kita bayar semua ini dan pulang.” Ajak Fatar.
“Iya nak.” Jawab Lilis sambil menoleh ke Fatar.
Kemudian Lilis menatap Panji yang masih menunggu jawabanya.
“Maaf Mas Panji. Aku duluan. Anakku sudah memanggilku” Pergilah Lilis meninggalkan Panji.
Lilis segera ke kasir bersama Fatar. Membayar semuanya dan lalu bergegas naik mobilnya dan pulang.
Di tempat lain. Di kantor William.
William sibuk memeriksa semua berkas. Setelah semua sudah diperiksa ia bubuhi tanda tangannya. Kemudian ia menatap layar hapenya. Seharian tak ada kabar dari rumah atau pun Lilis di hapenya. Jack yang melihat tingkah William langsung menyapa Willam.
“Menunggu apa Will? Dan melihat apa?” Jack baru saja masuk ruangan dan melihat ke arah William.
“Oh kau Jack. Tak ada hanya memikirkan Lilis.” William bersender pada kursinya.
“Kenapa Lilis?”
“Dia agak beda dan aneh sekarang Jack. Walau sudah mulai membaik dan mau berinteraksi dengan yang lainya tapi kenapa aku merasa Lilis menjaga jarak denganku?”
“Dia butuh waktu Will. Lilis mungkin masih menata hatinya dan dirinya.”
“Iya. Mungkin hanya saja aku merasa ia menjauh.” William menghela nafas berat.
“Aku tadi bertemu Tania pas jam makan siang. Kami makan siang bersama. Tadi Tania cerita kalau Lilis hendak belajar Ilmu bela diri.”
“Hah? Mau belajar ilmu bela diri?” William agak heran dan mengkerutkan keningnya.
Bersambung...
Akankah Lilis benar-benar belajar ilmu bela diri?? Dan apa tanggapan William ya kira-kira?? Terus apakah Panji mulai mendekatin Lilis kembali kah?? Menurut kakak readers semua gimana ya kira-kira :D
Yang suka dengan karya ini, ikutin terus kisahnya sampai akhir ya kakak readers semuanya :)
No Plagiat ya. Hargai usaha dan kerja keras seseorang dalam berkarya. Jadi katakan tidak pada meniru karya seseorang dan tidak menjiplaknya. No Plagiat. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)
Karya ini sedang mengikutin lomba, jadi mohon dukungannya terus ya kak.
Cara mendukungnya gampang yaitu :
1. Like semua episodenya / bab-nya ya kak. Dibaca juga semua babnya :)
2. Klik Vote setiap hari dan setiap saat ya kak. Dan setiap hari senin juga :D
3. Klik Favorite juga ya kak
4. Selalu berikan dukungannya ya kak setiap saat :D
5. Tinggalkan komen ya kak :)
6. Kasi bintang 5 ya kak untuk karya ini sebagai menyukai karya ini dan apresiasi ke karya saya ini.
Makasih semuanya. Dukung terus karya ini ya kakak readers semuanya, biar Author semangat UP ceritanya. Love you all :)
Yuk kak buat karya ini makin bersinar, ajak gitu semuanya buat like semua babnya, komen, vote serta favoritekan yak. Jangan lupa kasi bintang 5 nya ya. karya ini sedang mengikutin lomba, semoga masuk 10 besar yak. Karena itu butuh dukungan dari kakak readers semuanya. Yuk kak buat karya ini masuk 10 besar gitu hehehe.
Yuk... Vote yang banyak dan Like yang banyak yak :D Makasih buat semuanya.
Tembus 200 lebih like segera di UP kembali.
__ADS_1