
“Will... ini Aku Jack... Kau masih ingat aku kan, William.” Ucap Jack kembali.
William nampak bingung dengan sikap Jack. Apalagi Ayu, ia semakin tak mengerti.
“Tolong lepaskan. Anda ini siapa Tuan?” Ucap William kemudian melepaskan pelukan Jack.
“Apa kau tak ingat padaku Will. Ini aku Jack. Dari kecil kita tumbuh bersama.”
“Aku tak tahu siapa anda. Aku tak ingat apa pun.”
“Lalu Lilis dan anak-anakmu?? Apa kau juga tidak mengingat mereka Will?” Jack berkata sambil mengguncang badan William.
“Anak-anak?” Gumam Ayu. Sambil menatap William, Jack dan Lilis bergantian.
“Lilis? Anak-anakku?” Ucap William juga mengulangi perkataan Jack.
“Iya. Keluarga mu. Apa kau juga melupakannya?” Jack mengkerutkan keningnya.
Sedangkan Lilis sudah mulai berurai air mata. Ia tak akan pernah bisa menerima kalau William melupakannya dan anak-anak mereka berdua.
William memandang ke arah Lilis. Di lihatnya Lilis sudah berurai air mata. Ntah kenapa di dalam relung hatinya, ia merasakan sakit saat melihat Lilis menangis.
“Will... Jawab aku?” Jack kembali bersuara karena William hanya diam saja. William nampak kebingungan.
Disaat seperti itu, Ayu menarik tangan William.
“Anda salah orang. Ini Om-nya Ayu. Om Leo namanya” Ujar kata Ayu ke Jack.
“Aku tak mungkin salah orang. Aku mengenal William dari kecil. Aku bahkan kenal dengan tanda lahirnya di pinggang kiri bawah ada tanda lahir William. Jika tak percaya pun bisa di cek dengan Tes DNA antara Anak anaknya dengan orang yang disampingmu gadis kecil” Ucap Jack ke Ayu.
Ayu terperangah. Sedangkan William masih kebingungan dengan semuanya.
“Sudah Jack hentikan.” Ucap Lilis kemudian.
“Tapi Lis... kita harus membuat William mengingat semuanya. Mengingat kau, anak-anakmu Lis, anak-anak dari kalian berdua.” Jack menambahkan kata-katanya.
“Berdua?” Ayu menatap ke arah Lilis.
Dalam hati Ayu :” Benarkah itu? Jadi Om Leo itu William kah? Dia punya hubungan dengan Kak Lilis? Mereka sudah punya anak? Benarkah itu?” Ayu serasa tak mau mempercayai hal tersebut.
William merasakan sakit kepala. Ayu melihat ke arah William.
“Om... Kita pulang yuk.” Ajak Ayu ke William.
“Kau jangan membawa kabur William.” Ucap Jack ke Ayu.
“Kalian jangan ganggu kami. Jangan ganggu Om Leo ku.” Ayu menarik tangan William dan membawanya pergi menjauh meninggalkan Lilis dan Jack.
Jack hendak menghadang tapi Lilis melarang.
“Hey... Tunggu.” Jack berseru.
“Sudah Jack. Hentikan.” Lilis mengusap air matanya.
“Tapi Lis..”
“Biarkan dahulu. Ku rasa William sedang kebingungan. Dia butuh waktu.”
“Tapi gadis muda itu siapa? Kenapa dia seperti penghalang antara kita dan William.”
“Jack...” Lilis sudah hendak tumbang. Beberapa hari ini dia kelelahan, serta kurang istirahat. Bahkan banyak pikiran. Lilis yang oyong segera di tangkap Jack.
__ADS_1
“Kau tak apa-apa Lis...”
“Tak apa. Hanya kelelahan dan sedikit stres.”
“Ini pasti karena masalah William dan Rafa baru-baru ini. Kau seharusnya menjaga kesehatanmu Lis. Ayo kita pulang kalau begitu.”
Lilis pun menganggukan kepalanya. Jack meminta Lilis untuk satu mobil dengannya. Ia menyuruh anak buahnya untuk membawakan mobil Lilis kembali pulang kerumahnya.
Dan pulanglah Lilis bersama Jack.
***
Dirumah kecil dan sederhana milik Ayu. Saat ini William sedang dikamar. Ia merenung sendirian. Ayu menatap dari balik pintu kamar. Ia kemudian melihat William memegangi kepalanya dengan kedua tangannya. Sepertinya William kembali merasakan sakit kepala. Ayu pun datang menghampiri.
“Om...” Panggil Ayu.
William menoleh ke Ayu.
“Masih sakit kepalanya. Mau kita berobat saja”
“Gak usah yu... Aku baik-baik saja.”
“Om... Jangan tinggalkan Ayu ya...” Ayu udah mulai menangis. Ia tak mau ditinggalkan William. Kebersamaannya dengan William, membuat Ayu tak bisa lagi jauh dengannya.
“Kok nangis yu.” William berdiri dan mendekatin Ayu. Di hapusnya air mata Ayu dengan kedua telapak tangannya dengan lembut. Lalu di elusnya rambut Ayu dengan lembut pula.
“Anak manis gak boleh sedih ya. Nanti manisnya hilang.” William mencoba menghibur.
“Gak lucu. Om mau ke tempat Kak Lilis ya... jangan pergi ya Om. Ayu udah gak punya siapa-siapa lagi. Cuma Om yang Ayu punya sekarang. Ayu minta maaf atas perkataan Ayu tadi didepan Om, Kak Lilis dan siapa pria tua satu tadi. Tapi jangan pergi ya Om” Ayu takut ditinggal oleh William.
William menghela nafas panjang.
“Bener Om... Janji ya.”
“Iya.”
“Lalu tentang yang tadi itu gimana Om?”
“Aku masih belum ingat apa pun.”
“Kalau suatu saat Om ingat, apa Om akan ninggalin Ayu?” Ayu kembali berurai air mata.
“Hey... Om sayang sama Ayu. Gak akan Om tinggalkan Ayu sendirian disini. Tapi sayang yang aku maksud itu adalah sayang seperti keluarga ya Ayu. Bukan sepasang kekasih.” William menjelaskan. Ia tak mau Ayu salah paham. Berarti perhatiannya selama ini di anggap Ayu lain. Jadi William tak mau Ayu salah paham lagi.
Ayu menyadari perasaan William. Ia sadar sekarang kalau William hanya menganggapnya seperti keluarga sendiri. Ia paham dengan yang dikatakan oleh William. Namun Ayu masih tak mau kalau Willam pergi darinya. Mungkin egois rasanya. Tapi ia gadis muda yang sebatang kara. Tak punya siapa pun, sehingga William yang hadir dikehidupannya dianggap sangat berarti sekali. ia tak mau sendirian. Begitulah pikir Ayu.
“Ayu sayang Om..” Ayu memeluk William. William menerima pelukan tersebut. Ia mengelus lembut kepalanya Ayu. Dalam hatinya Ayu sudah seperti keluarga.
***
Malam hari saat Lilis kembai ke rumah sakit. Tadi dia sudah istirahat di rumahnya. Jack yang mengantar. Kini ia kembali ke rumah sakit untuk bertemu Rafa kembali.
Didalam ruangan ada Fatar dan Tania. Dilihatnya Rafa sedang tertidur. Bahkan Fatar pun sudah tertidur di dekat sofa panjang didalam ruangan tersebut. Maklum ruangan VVIP jadi fasilitasnya pun sesuai dengan ruangannya.
Tania melihat kedatangan Lilis. Tania duduk disamping ranjang pasien. Si kecil Rafa yang tertidur. Lilis datang mendekat.
“Si kembar sudah tidur ya...” Lilis berkata dengan pelan.
“Sudah..” Jawab Tania.
“Kau pulang lah Tan. Sudah malam. Istirahat lah.” Lilis menyarankan untuk Tania pulang dan istirahat.
__ADS_1
“Aku sudah dengar dari Jack semuanya Lis..” Tania menatap sendu sahabatnya. Ia lalu mendekatin Lilis dan memeluknya.
“Yang sabar ya Lis..” Ucap Tania kembali.
“Iya Tan. Makasih.”
Tania dan Lilis keluar ruangan. Mereka duduk di kursi luar ruangan. Agar si kembar yang tidur tak terganggu.
“Lalu bagaimana selanjutnya Lis...” Tania menatap ke arah Lilis.
“Tak tahu. Aku pun tak tahu.”
“Kita coba buat William kembali mengingat semuanya saja. Gimana menurutmu?”
“Bagaimana caranya. Gadis itu sepertinya tak mau pisah dengan William.”
“Pantas saja donor darahnya cocok ya Lis. Ternyata Papanya Rafa sendiri yang mendonorkan darahnya.”
“Iya. Aku pun kaget mengetahuinya. Sekarang ada rasa sesal yang kurasakan Tan...”
“Maksudmu Lis...?”
“Jangan pernah menyiayiakan orang yang sudah mencintaimu dengan tulus. Dan aku telah menyiayiakan Wlliam. Dulu sewaktu William meminta maaf dengan tulus dan mengatakan ingin memperbaiki hubungan kami kembali, juga mengatakan mencintaiku, namun ku abaikan. Sekarang aku menyesal Tan... jika dari dulu aku cepat memperbaiki hubungan kami mungkin semuanya ini tak akan terjadi. Aku, William dan anak-anak pasti akan bahagia bersama dari dulu. Dan saat William tak ada, aku baru merasakan kehilangannya. Kini William telah bersama yang lain.” Lilis kembali menangis.
“Tenang Lis... suatu saat William akan ingat kembali dan akan kembali bersamamu lagi Lis. Percayalah.”
Tania memeluk Lilis. Lilis menangis dalam pelukan Tania.
Di sisi lain sebuah pesawat baru saja mendarat.
Di bandara, Laura dan Philip baru saja turun dari pesawat. Mereka baru saja tiba di Indonesia kembali.
Karena Mamanya Laura sudah pulang kembali ke Tiongkok, jadi Laura segera menjalankan rencananya. Philip ikut serta dengan Laura kali ini.
“Pak supir ke hotel ya...” Ucap Philip setelah mendapatkan sebuah taksi untuk mereka berdua.
“Baik.” Jawab supir taksi.
Masuklah Laura kedalam taksi disusul Philip juga. Taksi pun melajukan kendaraannya ke sebuah hotel ternama di kota tersebut.
Di dalam taksi. Laura memandangi memandangi pemandangan di malam hari. Ia tersenyum dan lalu bergumam.
“Aku kembali William... Kita akan bertemu kembali.” Ucap Laura dengan senyum yang mengerikan.
Bersambung...
Nona LL muncul kembali gaes... Laura si gila akan berbuat apa lagi ya kira-kira..??? Ikutin terus kisahnya ya...
Jangan lupa dukungannya ya kak agar semangat UP.
Di like juga semua episodenya ya kak. Tinggalkan Komennya juga :D
Di like, di vote dan klik Favorite yah sebagai tanda telah membaca dan menyukai karya ini, juga sebagai apresiasi ke karya ini.
No Plagiat ya. Hargai usaha dan kerja keras seseorang dalam berkarya. Jadi katakan tidak pada meniru karya seseorang dan tidak menjiplaknya. No Plagiat. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)
Tembus 200 lebih like segera di UP kembali.
__ADS_1