
Ekpresi wajah William suram dan menggelap. Lilis melihat perubahan wajah William. Ia datang mendekatin William.
“Ada apa Will?”
William menatap ke arah Lilis.
“Anak-anak Lis... Rafa dan Fatar dalam bahaya”
Lilis kaget mendengar perkataan William. William segera meraih kunci mobilnya.
“Kau mau kemana?” Lilis nampak cemas sehingga bertanya.
“Menyelamatkan anak-anak. Tak ada waktu Lis.”
“Tapi kau masih terluka.”
“Aku tak apa-apa. Anak-anak lebih penting”
“Aku ikut.”
“Kau tinggal saja Lis. Berbahaya. Anak-anak dengan siapa?”
“Dirumah bibi May. Aku harus ikut. Rafa dan fatar anak-anakku juga.”
William tak ingin Lilis dalam bahaya juga, karena itu William tak mau Lilis ikut. Tapi sudah tak ada waktu untuk berdebat. Akhirnya William dan Lilis bersama-sama berangkat menuju rumah bibi May.
Sepanjang jalan baik Lilis atau pun William sama-sama sangat cemas tentang keselamatan si kembar. Lilis berkali-kali mencoba menelepon bibi May. Tapi tak ada yang mengangkat panggilannya.
Sedangkan William memberikan pesan singkat ke nomor Jack. Untuk antisipasi bala bantuan maka Jack akan segera membantu.
William berkendara sangat cepat. Beberapa lampu merah di terobosnya. Ia malah tak peduli. Hampir saja menabrak mobil yang lain tapi dengan segera di elakkannya.
Hingga kemudian sampailah mereka di rumah Bibi May. William dan Lilis segera turun dari mobil. Mereka langsung memeriksa ke rumah bibi May.
“Bibi May... Rafa... Fatar...” Panggil Lilis. Namun tak ada yang menyahut. Lilis gelisah dan William juga nampak panik.
William membuka pintu rumah. Ternyata tidak terkunci. Mereka pun masuk. Di dalam sunyi tak ada siapa pun. Dan di dalam dilihat oleh William dan Lilis kalau Bibi May sedang pingsan. Tapi Rafa dan Fatar tak ada kelihatan. Dimana anak-anak? William menggeledah seluruh ruangan tapi keberadaan anak-anak tak ada. William memakai alat kecil mini ditangannya sebuah pendeteksi bom. Namun nihil tak ada bom di sekitar rumah tersebut. Bahkan anak-anak tak ada kelihatan.
“Bibi May... bangun bik... Rafa dan Fatar dimana?” Lilis berusaha membangunkan bibi May. Tapi beliau pingsan dan tak bangun juga.
“Bagaimana?” Tanya William menatap Lilis.
“...” Lilis hanya menggelengkan kepalanya.
William menggendong bibi May masuk kekamar dan membaringkannya. Ia lalu kembali ke Lilis.
“Aku sudah memeriksa tapi tak ada anak-anak dan tak ada bom di sekitar sini.”
“Lalu?” Tatap Lilis.
“Kita coba cari dirumahmu Lis.”
Lilis menganggukan kepalanya. Mereka berdua segera keluar dan menutup pintu rumah Bibi May. Sepertinya Bibi May aman saja. Jadi mereka segera ke rumah Lilis. Di rumah Lilis, William dan Lilis memeriksa segala ruangan juga tidak ditemukan tanda-tanda si kembar. Begitu juga pas di cek ke sebelah tempat William dulu pernah tinggal disebelah rumah Lilis. Juga tak ada jejak si kembar. Lilis terduduk dan lemas. Ia sedang memikirkan bagaimana nasib anak-anaknya. William menoleh ke Lilis.
“Jangan cemas. Aku akan menyelamatkan anak-anak” Ucap William menenangkan. Walau sebenarnya hatinya sedang panik juga. Tapi William berusaha tetap tenang.
__ADS_1
“Anak-anak dimana Will?” Lilis sudah menangis. Ia sedih.
“Tenanglah. Oke. Aku akan memikirkan caranya.”
William lalu memeluk Lilis. Ia berusaha membuat Lilis tenang.
Hape William berdering. Sebuah panggilan masuk dari nomor yang tak dikenali.
“Halo..” Jawab William
Hanya ada suara tawa di seberang sana.
“Kau Max kah? Dimana anak-anakku?” Tanya William. Lilis menoleh ke William. Ia pun hendak tau keadaan si kembar.
“Menurutmu??” Suara disamarkan diseberang sana sudah jelas si Max.
“Kembalikan anak-anakku. Mereka tak ada hubungannya. Aku lah sasaranmu Max. Jadi lepaskan anak-anakku.”
“Baik. Tapi datanglah ke tempatku. Di daerah..” Max menyebutkan tempat pertemuan mereka.
“Baik. Aku kesana sekarang” Jawab William.
“Ingat hanya kau sendirian tak boleh ada yang lain.”
“Oke”
Telepon terputus dan dimatikan. Lilis memandang ke arah William.
“Bagaimana?” Tanya Lilis.
“Aku ikut.”
“Lis... Tinggallah. Ini demi kebaikan bersama. Aku sendiri yang akan kesana.”
Lili ingin ikut tapi William sangat melarangnya. William memeluk Lilis dengan erat. Ia mengecup kening Lilis. Kemudian William segera pergi dengan tergesa-gesa. Ia menaiki mobilnya dan langsung melaju pergi dengan kecepatan maksimal.
Lilis diam dirumah dengan segala pikiran yang terus berkecamuk. Bagaimana anak-anaknya? Bagaimana William juga? Hatinya sungguh sangat gelisah.
Lilis menerima telepon dari Jack. Ia langsung mengangkatnya.
“Lis... dimana William?”
“Aku tak tahu, dia tak menyebutkan mau kemana. Jack aku takut.”
“Tenanglah. Kau dimana sekarang. Biar aku kesana menyusulmu. Akan lebih baik jika ada yang menjagamu.”
“Aku dirumahku sendirian.”
“Tunggulah aku...” Ucap Jack.
“Ba...” Lilis tak menjawab lagi. Ada seseorang yang memukulnyanya dari belakang. Tenyata pintu tak dikunci dan ada yang masuk menyelinap dan memukul Lilis hingga pingsan.
“Lis... Lis... kenapa tak ada jawaban lagi.” Jack sudah cemas. Segera melajukan mobilnya menuju arah Lilis.
Lilis yang terkapar dilantai dengan keadaan pingsan. Di tatap si penyelinap. Pakaian dengan celana jeans hitam dan jaket hitam dengan bentuk body yang bagus. Rambutnya panjang lurus dan bola matanya berwarna coklat sama dengan rambutnya yang berwarna coklat. Ia mengenakan topeng di wajahnya. Dia adalah Nona LL.
__ADS_1
“Hem... kena kau” Ucap Nona LL. Wanita misterius bertopeng.
Disisi lain William masih melaju ke tempat yang mau di datanginya. Sebuah pesan masuk di Hape William. Pesan tersebut dari Katty. Di pesan dikatakan Katty sudah tahu wajah sekarang dari Max. Dan saat William membaca pesan juga data serta foto yang dikirimkan oleh Katty melalui Hapenya, betapa kagetnya William membacanya. Ia tak habis pikir bagaimana bisa. William tak mengerti dan hampir tak percaya.
Sedangkan Jack yang sudah sampai di rumah Lilis dengan beberapa pengawalnya, segera memeriksa seluruh ruangan dan mencari di sekitar rumah tapi tak ada Lilis. Ia nampak gusar. Jack kemudian teringat. Kalau Hapenya bisa melacak keberadaan William melalu Hape. William segera mengaktifkan GPS dan melacak lokasi William. Mungkin saja Lilis ditangkap oleh orang yang sama yang menyekap dan menculik si kembar. Seperti pesan William sebelumnya kalau si kembar dalam bahaya.
Jack segera menginstruksikan para pengawalnya untuk langsung menaiki mobil mereka. Mereka akan menyusul William dengan mengikuti lacak lokasi William melalu GPS. Segeralah pergi Jack beserta para pengawalnya. Mereka melajukan mobilnya dengan cepat.
Di tempat lain.
William telah sampai di tempat yang dimaksud. Sebuah gedung tua yang terbengkalai dan jauh dari keramaian. Serta tak ada penghuninya. Bahkan gedung tersebut sudah nampak hendak roboh karena sudah merupakan bangunan lama dan tua.
William turun dari mobil. Ia segera memasuki gedung tua tersebut. William menaiki beberapa anak tangga yang ada. William melirik kesekeliling tapi tak nampak seorang pun. William sudah memegang senjata ditangannya. Dan bersiap mengarahkan kalau-kalau ada yang mencoba menyerangnya.
Sampailah William di lantai paling atas. Di atap gedung, William melihat sikembar sedang terikat. Dan ada Bom di sekeliling badan mereka. William segera berlalri ke arah anak-anaknya.
“Rafa... Fatar... kalian tak apa-apa kan??” Tanya William nampak cemas.
Namun Rafa dan Fatar tak menjawab. Mereka dalam keadaan pingsan. Sepertinya diberi obat bius. William menatap Bom yang ada di tubuh anak-anaknya. Ia berusaha untuk mematikan Bom tersebut. Tapi seseorang telah memanggilnya. William pun menoleh ke asal suara tersebut
“Hai Fatar...” Sapa Max. Dengan wajah yang ditutupin. Ia menyembunyikan wajahnyadengan topeng separuh yang hanya menutupin matanya. Sehingga dari hidung ke mata sampai atas tak terlihat. Hanya bagian bibir dan dagu bawah yang terlihat.
“Kau Max kah?”
“Iya...”
“Lepaskan anak-anakku. Mereka tak bersalah.”
“Kau suka hadiah ku bukan” senyum licik Max terukir di wajahnya.
“Lepaskan mereka...”
“Aku tak bisa... mungkin kau harus memilh.”
“Maksudmu?” William mengkerutkan keningnya.
Tepat setelah Max berucap begitu, sebuah mobil datang mendekat. Beberapa pria asing sekitar 10 orang datang. Dan seorang wanita bertopeng kupu-kupu hitam pun turun dari mobil. Mereka membawa Lilis.
“Lihatlah kebawah” Ucap Max.
William kemudian melihat kebawah. Dibawah ia melihat Lilis sedang pingsan dipegang dua pria asing.
“Lilis?” Gumam William. Lalu William menoleh ke Max.
“Apa maksud mu ini?” Tanya William.
“Kau pilih anak-anakmu atau Wanitamu??”
Bersambung...
Jangan Lupa Klik Vote dan Favorite ya kakak-kakak Readers semuanya. :) Likenya belum tembus 100 nih. Kalau tembus 100 lebih maka UP-nya akan segera Author liris. Makasih semuanya :)
Di like juga semua episodenya ya kak. Tinggalkan Komennya juga. Dukungan kalian akan sangat berarti agar Authornya semangat dan bisa UP cerita secepatnya. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)
__ADS_1