
“Baiklah. Aku mengalah saja. Aku salah. Hehehe...”
“Iiihhh... Apaan sih...” Lilis agak kesel. Ia lalu bangkit dan berdiri namun tangannya ditarik oleh William.
“Eh...”
Lilis kaget dan terjatuh di pangkuan William. Kini Lilis duduk dipaha William.
Keduanya kembali saling memandang dan mata keduanya saling menatap tanpa berkedip.
“Maaf ya...” Bisik William ke telinga Lilis.
“...” Lilis hanya diam tak berani berbicara. Ia hanya menganggukkan kepalanya perlahan. Wajah tampan William sangat memukau. Sikapnya sangat lembut ke Lilis. Dan Lilis tersentuh. Hatinya bergetar dan menghangat karena William.
“Mama... Om...” Si kembar muncul.
Lilis segera berpindah tempat duduknya. Sedangkan William masih santai saja sikapnya.
“Sudah selesai mainnya nak?” Lilis bertanya ke Rafa dan Fatar.
“Sudah Ma... Seru sekali Ma...” Rafa tersenyum kegirangan.
“Asyik pokoknya Ma...” Fatar juga terlihat girang bahagia.
“Kalau begitu ayo kita pulang ya... sudah sore sekali.” Lilis menatap kedua anaknya.
“Yah... Mama. lagi donk mainnya.” Rafa masih ingin main.
“Iya. Ma... lagi donk.” Fatar juga masih ingin main.
“Lain kali saja ya.. udah sore nak...” Bujuk Lilis.
“Begini saja. Yang terakhir kita naik Bianglala saja. Nanti kalau ada waktu kita kemari lagi OK.” William membujuk si kembar.
“Oke..” Ucap kedua bocah tersebut.
Lilis tersenyum melihat ketiga orang tersebut. Ia pun mengiyakan perkataan William. Mereka berempat pun naik Bianglala tersebut. Sungguh bahagia ke empatnya. Tak lupa si kembar mengambil foto kebersamaan mereka berempat di tempat tersebut. Foto kebahagian mereka bersama.
Setelah puas bermain. William mengantarkan Lilis dan anak-anaknya pulang. Sesampai dirumah Lilis, Lilis mengajak masuk William ke rumahnya. Karena tak jadi makan bersama di luar. Ia pun mengajak William makan dirumahnya. Lilis memasakkan makanan sederhana yang cukup untuk mereka berempat.
Kini ke empatnya sudah dimeja makan. Rafa dan Fatar sudah berganti pakaian dan sudah bersih. Begitu juga Lilis sudah bersih dan berganti pakaian. Hanya William yang belum berganti pakaian.
“Yud? Apa kau mau bersih-bersih dahulu...” Lilis bertanya sambil menyendokkan nasi ke pirirng William.
“ Tak perlu. Nanti saja” William menerima priring yang sudah disendokkan nasi ke piringnya.
“Yakin...” Lilis menyodorkan lauk ke piring William.
“Iya. Kita makan saja dulu.” William pun mulai makan.
Lilis pun ikut makan, Rafa dan Fatar juga makan dengan lahapnya. Mereka maka dengan tenang. Sesekali berbincang dengan santai di sela makannya. Setelah selesai makan. Rafa dan fatar mengajak William ke kamar mereka. Sedangkan Lilis membersihkan meja makan dan piring kotornya.
Didalam Kamar.
__ADS_1
“Om... hari ini kami sangat bahagia.” Rafa memeluk William. Ia sangat merindukan Papanya.
“Iya Om... Om selalu bersama-sama dengan kami kan Om.. Lain kali kita jalan-jalan lagi ya Om” Fatar juga memeluk William.
“Iya. Om pun senang. Lain kali kita pergi lagi.” Ucap William sambil memeluk anak-anaknya. Walau ia belum tahu Rafa dan fatar anaknya. Tapi ia bisa merasakan kalau si kembar anaknya.
Lilis yang sudah selesai beres-beres, mendekati kamar tidur. Ia berdiri di depan pintu melihat William dan anak-anaknya. Ada rasa haru dirasakan di hatinya. Ia tak tahu kenapa namun air matanya malah menetes membasahi pipinya.
“Sudah malam. Waktunya tidur. Oke” William mengajak si kembar untuk tidur.
“Iya Om...” Si Kembar menurut.
Lilis melihat pemandangan tersebut seperti Ayah dan anak saja. Ia merasa hangat dan haru. Lilis kemudian ke ruang tamu dan duduk di sofanya.
William yang sudah melihat si kembar tertidur pun lalu beranjak keluar kamar dan menuju ruang tamu untuk menemui Lilis.
“Sedang apa?” William ikut duduk di sofa bersama Lilis.
“Tidak. Hanya duduk saja.” Lilis menoleh ke William.
“Seperti habis menangis saja.” William menyelidik.
“Ah... tidak kok. Aku melihat anak-anak sangat dekat dan menyayangimu. Ku lihat tadi kalian seperti Ayah dan anak saja” Lilis tersenyum tipis.
“Lis... Bolehkah aku menjadi Papanya Rafa dan fatar?”
“Hah?” Lilis merasa salah dengar.
“Aku ingin menjadi Papa dari anak-anakmu Lis”
“Kenapa kau masih ragu? Kau ragu dengan ku. Yakinlah kalau aku serius dengan mu Lis” William memandang Lilis lekat-lekat.
Lilis memandang William dengan intens. Ia melihat di kedua bola mata William yang jernih tersebut.
“Kenapa kau mau jadi Papa dari anak-anakku Yud?”
“Karena aku sayang pada Rafa dan Fatar. Aku juga mencintaimu.”
Lilis melihat sorot mata William. Di matanya terlihat kejujuran dan keseriusan. Dan Lilis bisa merasakan nya.
“Tanyakan ke hati mu Lis?? Apa yang kau rasakan terhadap ku?” Ujar kata William di telinga Lilis.
William meraih tangan Lilis, di ciumnya dengan lembut dan digenggamnya lalu diletakkannya didadanya yang bidang.
“Bisa kau rasakan Lis... Hati ku bergetar hanya untuk mu. Rasakan degupan jantungku” Tangan Lilis yang ada didada bidang William di genggamnya dengan erat.
Lilis merasakan degupan jantung yang berpacu di dadanya William dan debaran di hati Lilis pun bergetar.
“Aku juga merasakannya Yud...”
“Benarkah? Terima kasih sayang..” William memeluk Lilis dengan hangat.
“Kita akan mencoba hubungan ini.” Ucap Lilis kemudian dalam pelukan William.
__ADS_1
“Terima kasih sayang...” William merasakan kebahagian.
William kemudian melepaskan pelukannya. Ia menatap Lilis dan mencium lembut sekilas bibir Lilis.
“Cup...”
Sekilas namun masih terasa manis.
“Karena sudah malam aku pulang ya...” William berdiri.
“Oke.” Lilis pun berdiri hendak mengantarkan sampai depan pintu.
“Tapi boleh aku menginap disini?” Goda William kembali.
“Hah??? Kau gila ya... kamar ku hanya satu. Itu pun aku tidur dengan si kembar.” Ucap Lilis dengan mata melotot.
“Hahaha...” William suka sekali menggoda Lilis.
“Aku hanya bercanda Lis...” Kata William kemudian. Ia tersenyum ke Lilis. Di kecupnya keningnya Lilis.
“Oh... Baiklah. Hati-hati ya.” Lilis tersenyum ke William.
“Apanya yang hati-hati. Pulangnya juga ke sebelah doang. Hehehe”
“Iya... iya... pokoknya hati-hati lah...”
“Kalau kangen aku, panggil aja aku ada disebelah kok” Goda William lagi.
“Jadi pulang apa enggak nih...” Lilis sudah berkacak pinggang.
“Hehe... oke. Aku pulang. Bye .. sampai esok lagi.” William pun pamit pulang.
Lilis hanya menganggukan kepalanya. Lalu menutup pintu dan mengkuncinya. Ia lalu perg kekamarnya untuk istirahat bersama si kembar.
Lilis melihat HP nya tadi sikembar mengambil beberapa foto. Ia melihat ada foto mereka berempat. Ada foto si kembar berdua. Ada foto dirinya bersama si kembar, ada foto Yudha (William) bersama si kembar dan ada foto ia berdua saja dengan Yudha (William).
Lilis tersenyum manis melihat fotonya dengan William. Ia merasakan kebahagiaan dihatinya. Ia telah jatuh cinta. Sekian lama Lilis menutup rapat hatinya, kini terbuka kembali. Dan hanya Yudha (William) yang berhasil membuka hatinya. Anak-anaknya pun menyukai Yudha. Lilis merasa kalau Yudha cocok jadi Papanya anak-anaknya. Semoga pilihannya benar. Itu kata hati Lilis dan pikiran Lilis. Lambat laun Lilis pun tertidur dengan memeluk si kembar. Malam itu ia tidur dengan nyenyaknya.
Sedangkan di sebelah rumah. Wiliam yang sudah sampai dan sudah bersih-bersih serta berganti pakaian juga berbaring di kamar sederhananya.
William pun tersenyum sambil mengingat hari yang membahagiakan saat bersama Lilis dan si kembar.
Lalu telepon Hpnya berdering.
“Siapa yang menelpon di malam hari begini” Pikir William. Ia lalu meraih Hpnya yang berada di nakas.
Dilayar HP tertera nama Bos V
Bersambung...
Jangan Lupa Like dan Komen ya Kaka-kakak Readers semua. Klik Vote dan favorite juga... Makasih semuanya yang udah mampir :) :) :)
__ADS_1