
Pria itu adalah William Smith
“William..” Gumam Lilis.
William memasuki ruangan dengan berjalan santai namun tetap gagah. Para tamu dari kaum hawa begitu terpesona dengan wajah tampan William. Bahkan sangat tampan. Dan tamu undangan lainnya melihat sambil kagum juga bertanya siapakah pria tersebut. William memang jarang diketahui banyak orang. Di kalangan bisnis ia jarang muncul. Biasanya hanya Jack yang ditugaskannya. Kecuali beberapa orang yang pernah melihatnya lah yang mengenalinya selebihnya yang tak pernah melihat tidak akan tahu tentang diri William.
William mendekatin Wenny, Wenny yang merasa di dekatin William jadi tak melepaskan pandangannya terus ke William. Bahkan Wenny melupakan kehadiran Dimas dan Lilis. Dan sampailah William di hadapan Wenny.
“Halo Nona.. Selamat malam?” William meraih tangannya Wenny dan mencium punggung tangannya Wenny. Wenny jadi tersipu-sipu. Sedangkan Lilis di sebelahnya jadi diam mematung bahkan hatinya merasa kesal. Tadi sudah cukup kesal dibuat oleh Wenny sekarang malah William bersikap manis dihadapan Wenny, menambah kesal di hatinya.
“Ha-halo... Anda?” Tanya Wenny setelah tangannya di lepaskan William.
“Aku William Smith. Panggil saja William.” William memperkenalkan dirinya.
“Oh... Anda adalah Tuan Smith. Presdir dari I.S. Sungguh aku tak percaya anda datang ke acara ini. Biasanya anda jarang muncul didepan umum.” Wenny masih terkagum-kagum. Ia baru tahu kalau dihadapannya adalah William Smith yang misterius dan yang terkenal itu. Orangnya sangat tampan. Wenny kalau tak ada Panji mungkin saja akan pindah ke lain hati.
“Biasa saja Nona Wenny Herlambang. Panggil saja aku William” William bersikap agak cuek didepan Lilis. Ia tak menyapa Lilis dari tadi. Ia hanya sekilas melirik ke Lilis.
“Anda tahu namaku. Wah ini sungguh mengejutkan. Anda datang kemari saja sudah cukup mengejutkan tapi sekarang namaku juga anda tahu, benar-benar mengejutkan.” Wenny tersenyum cantik.
“Nona secantik anda siapa yang tak tahu. CEO dari perusahaan keluarga Hartono. Bukankah anda sekarang yang memimpin. Berita nya sudah banyak di koran dan di media”
“Oh.. Begitu. Aku tersanjung anda mengetahui tentang diriku. Hal apa yang membuat Tuan Smith bisa datang ke acara aku ini”
“Aku ingin melihat wanita cantik” Kerling nakal mata William dan sekilas melirik ke Lilis. Wenny pikir dirinya lah yang dimaksud. Padahal William datang karena tahu dari Jack kalau Lilis datang ke acara tersebut. Setelah dari Inggris, sesampainya ke Indonesia, William langsung berganti pakaian dan datang ke acara tersebut. Sedangkan Lilis yang mengira William sedang merayu Wenny, bersikap acuh tak acuh walaupun wajahnya sudah berubah ekspresi. Lilis malas melihat kearah William. Ia jadi hanya melihat ke arah minumannya dan tamu yang lainnya.
“Oh terima kasih. Dan silahkan menikmatin hidangan dan acara ini Tuan Smith” Ucap Wenny. Ia pun lalu pamitan ke William karena harus menyapa tamu lainnya juga.
William hanya menganggukan kepalanya. Ia lalu melirik ke Lilis. Namun Lilis tak mau melihat ke arahnya. William hendak duduk di dekat Lilis tapi ia terhenti karena di samping Lilis ternyata ada Dimas. Dimas dan William saling bertatapan tajam.
Pak Siregar datang menghampiri William.
“Tuan Smith? Benar itu anda kan?” Sapa Pak Siregar (Papanya Tania)
William tak jadi mendekatin Lilis, ia berjalan ke arah Pak Siregar dan berbincang dengannya.
“Iya. Anda Pak Mandala Siregar kan?” William dan Pak Siregar saling berjabat tangan.
“Iya. Syukurlah anda masih ingat. Aku datang bersama Istriku. Kalau anda?”
“Sendiri saja”
“Loh.. Mana pasangan anda?”
“Sedang bersama yang lain.”
“Ah anda bisa saja. Bagaimana bisa dia bersama yang lain sedangkan anda begitu keren dan gagah bahkan sangat tampan begini.”
“Haha... Anda bisa saja.”
“Sayang sekali anda tak berjodoh dengan Tania putri ku. Kalau saja berjodoh mungkin saja akan lebih baik. Namun Tania malah punya Pacar.”
__ADS_1
“Pacar? Siapa Pacar Tania?”
“Nah anda saja sudah menyebut nama putriku dengan sebutan Tania. Ah sayang sekali tak berjodoh. Oh iya tadi Tania bilang ia bersama Pacarnya. Namun tak kemana habis itu. Mungkin masih menemanin istriku”
Rosita Siregar, Mamanya Tania datang menghampiri suaminya bersama Tania dan Jack.
“Sayang...” Ucap Rosita.
“Oh itu mereka.” Ucap Pak Siregar.
William melirik dan melihat Jack sudah bersama Tania. Ia mengekerutkan keningnya.
“Sejak Kapan Jack?” Ucap William setelah Jack sudah di sampingnya.
“Baru” Bisik Jack sekilas.
William tertawa kecil.
Tania mulai memperkenalkan Jack.
“Papa disini rupanya. Dari tadi Tania mencari Papa dan Mama. Setelah bertemu Mama, kami langsung mencari Papa. Taunya malah bersama Tuan Smith” Tania menjelaskan.
“Hem...” Ucap Pak Siregar. Ia melirik Pria yang bersama Tania. Tania menyadarinya, ia langsung memperkenalkan Jack dihadapan orang tuannya.
“Papa dan Mama, kenalkan ini Jack pacarku” Tania tersenyum
“Hem... Papa Tania nama saya Mandala Siregar dan ini Mama Tania Rosita Siregar” Pak Siregar juga memperkenalkan dirinya.
“Saya Jack” Jack bersikap formal.
“Iya” Jawab Jack singkat.
“Papa... Jack bukan orang biasa. Papa pasti tahu dan kenal Jack kan.” Tania seperti paham kalau Papanya sedang menilai Jack.
“Hem” Pak Siregar tak ada kata-kata lain. Karena ia sebenarnya ingin Tania berjodoh dengan William Smith. Tapi malah dengan bawahan William.
William menyadari ekpresi Pak Siregar, ia pun langsung berkata.
“Pak Siregar, Jack bukan pegawai biasa saja. Dia adalah wakil Direktur sekaligus asisten khusus dan tangan kanan saya di perusahaan. Dan Jack sebenarnya adalah sodara saya. Jack tak pernah memakai nama keluarga. dia sebenarnya bagian keluarga Smith juga. Namanya adalah Jack Smith. Hanya Jack selalu memakai nama Jack ke semua orang. Jadi orang bayak yang tak tahu kalau kami ini adalah satu keluarga. walau bukan sekandung tapi Jack adalah kepercayaan saya. Semua hal tentang perusahaan Jack banyak yang mengurusnya. Bahkan selama saya di inggris, Jack lah yang mengelola Perusahaan saya. Posisi utamanya adalah Wakil Direktur saya di perusahaan” William menjelaskan dengan formal. Jack sebenarnya tak ingin kalau William menjelaskan semuanya. Namun sudah terjadi ya sudah lah.
Pak Siregar mangut-mangut. Ia mengelus janggut kecil di dagunya sambil menganggukan kepalanya pelan-pelan. Ia dapat mengerti penjelasan William. Tania berterima kasih dalam hati karena William membantu membuat Papanya menyukai Jack.
“Kalau aku tak masalah, apa pun yang Tania pilih asal dia bahagia maka akuakan setuju saja” Ucap Rosita ke yang lainnya sambil tersenyum.
“Makasih Mama” Peluk Tania ke Mamanya.
“Maafkan saya kalau begitu Tuan William Smith dan Tuan Jack Smith” Ucap Pak Siregar.
“Panggil saja saya Jack.”
“Oh. Oke Jack.”
__ADS_1
“Hahaha...” Semua tertawa riang.
Dari kejauhan Lilis memandang William. Ia sebenarnya merindukan sosok pria tersebut. Dimas memperhatikan aura wajah Lilis. Dimas tahu betul kalau Lilis tak bisa bahkan susah berpaling dari William. Walau ia mengelak berkali-kali tapi hatinya mungkin berkata lain.
Beberapa rekan bisnis berdatangan mendekatin William. Semuanya bergantian datang dan ingin mengenal juga menyapa William. Bahkan beberapa wartawan mengambil foto William. Ini adalah kesempatan bagus mereka, karena mereka jarang bertemu Tuan William Smith. Dan Wajahnya yang jarang dikenal orang maka sekarang bisa terpublikasikan.
Di temat Lilis dan Dimas, Panji datang mendekat.
“Lis... bisa kita bicara?” Panii datang penuh harap ke Lilis.
Lilis menoleh ke Panji. Dimas pun melirik ke Panji.
“Maaf Mas Panji. Sudah tak ada hal yang perlu dibicarakan diantara kita Mas. Jangan sampai tunanganmu marah padaku. Kalian kan mau menikah sebentar lagi”
“Lis... Itu kemauan Wenny saja”
“Orang tuamu setujukan Mas”
“Iya. Tapi aku tidak.”
“Maaf. Tolong jangan menganggu Lilis dan aku. Malam ini Lilis dan aku berpasangan.” Ucap Dimas menengahi kedua orang tersebut.
“Kau jangan ikut campur” Panji menoleh kesal ke Dimas.
Di tempat William. William melirik ke tempat duduk Lilis. Ia melihat dua Pria sedang berada diantara Lilis. William permisi ke semua tamu yang mengajaknya berbincang. Ia pun melangkah ke arah Lilis.
Sedangkan Tania sekarang duduk semeja dengan Papanya, Mamanya dan Jack. Mereka menikmatin beberapa makanan dan minuman. Pak Siregar melirik ke arah Tania dan Jack bergantian. Ia pun membuka suara.
“Tan... Jadi kapan kau dan Jack akan menikah?”
“Hah!!!” Tania dan Jack jadi saling pandang setelah mendengar perkataan Pak Siregar.
Dan ditempat Lilis, kedua Pria sudah bersitegang. Lilis mau bangkit dari tempat duduknya. Ia malas mendengar keributan kedua pria tersebut. Lilis hendak ke toilet sebentar. Baru saja ia berdiri dan mulai melangkah Panji dan Dimas melihat ke arahnya.
“Mau kemana Lis?’ Ucap Panji dan Dimas bersamaan.
“Aku mau pergi saja” Lilis melangkah beberapa langkah, Dimas dan Panji mencegah.
“Tunggu..” Ucap keduanya ke Lilis.
Lilis terhenti, tangan kanannya dipegang oleh Dimas sedangkan tangan kirinya dipegang Panji. William mendekat dan melerai kedua pria tersebut. Untuk mencegah.
“Hentikan...” Ucap William memegang pundak Dimas dan Panji bersamaan.
Kini ketiga Pria ada dihadapan Lilis. Ketiga Pria mengelilingnya. Lilis berada di tengahnya.
Bersambung....
Jangan Lupa Klik Vote dan Favorite ya kakak-kakak Readers semuanya. :) Likenya belum tembus 100 nih. Kalau tembus 100 lebih maka UP-nya akan segera Author liris. Makasih semuanya :)
Di like juga semua episodenya ya kak. Tinggalkan Komennya juga. Dukungan kalian akan sangat berarti agar Authornya semangat dan bisa UP cerita secepatnya. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)
__ADS_1