
“Iya nak. Mama baik-baik saja. Mama hanya sedang hamil. Ada adik kalian di dalam perut Mama” Lilis tersenyum melihat ke arah si kembar.
Rafa dan Fatar saling pandang.
“Serius Ma? Mama lagi hamil?” Rafa bertanya memastikan kembali.
Lilis menganggukan kepalanya.
“Hore.... Fatar punya dedek bayi dong ah” Fatar kegirangan.
Lilis, William, Rafa dan Fatar tertawa bahagia bersama.
“Sudah. Biarkan Mama kalian istirahat ya” Ucap William kepada anak kembarnya.
“Tunggu dulu Pa... adek bayinya cowok apa cewek Ma? Rafa mau adek cewek biar ada temannya dirumah”
“Enggak Ma... Fatar mau adek cowok aja”
“Mama belum tahu sayang. Soalnya pas periksa gak periksa jenis kelamin dedek bayinya. Mau itu anak cowok atau pun cewek sama aja kan. Mama akan sayang kalian semuanya” Lilis tersenyum kepada kedua anak kembarnya.
Si kembar lalu mengangguk. William tersenyum nakal.
“Mungkin saja anak kembar lagi, seperti Rafa dan Fatar”
“Iiihh Papa...” Lilis memukul lengan William dengan pelan.
Si kembar malah tertawa.
“Loh... kenapa? Kan bagus kalau kembar lagi” Sambung William kembali.
“Papa belum tahu seh hamil anak kembar itu gimana rasanya. Coba aja Papa yang hamil pasti tahu rasanya” Lilis merengut.
William mengelus lembut kepalanya Lilis.
“Kan ada aku sayang yang selalu bersamamu. Pas kau hamil Rafa dan Fatar dahulu, aku tak tahu keadaanmu. Aku tak ada di sisimu saat itu. Jadi di kehamilan mu yang sekarang, aku mau menemaninmu sayang dan kita lewatin bersama”
Hati Lilis menghangat mendengar penuturan perkataan suaminya.
“Ya udah Pa.. Ma... kami keluar dari kamar Mama. Biar Mama istirahat” Rafa dan Fatar pun keluar dari kamar.
Tinggallah Lilis dan William di dalam kamar.
William duduk disisi tepi ranjang yang di dekat Lilis. Lilis menatap suaminya.
“Masih kurang enak badan ya sayang. Kalau ada yang di mau dan di perlukan katakan saja padaku ya sayang” William berkata dengan lembut.
“Iya sayang” Lilis tersenyum manis.
“Aku pergi keluar sebentar ya” William pun berdiri dan mengusap lembut rambut Lilis, Lilis menganggukan kepalanya.
William keluar dari kamarnya. Ia berjalan ke arah ruang bacanya.
Lilis kini sendirian di kamarnya. Ia kembali merasa mual-mual. Lilis bangkit dan berjalan ke arah kamar mandi yang berada di kamarnya. Ia masuk ke kamar mandi dan muntah-muntah. Rasanya lemas sekali. walau sudah tak ada lagi yang dikeluarkan atau hanya air doang tapi Lilis merasa sangat pusing dan mual.
Lilis kembali berjalan ke arah ranjangnya. Ia berbaring lagi dan berusaha memejamkan matanya untuk tidur.
***
Sekarang setiap pagi yang selalu Lilis rasakan adalah mual-mual dan muntah. Sudah seminggu sejak tahu ia hamil. Asal sudah bangun pagi rutinitas tiap harinya akan muntah di toliet. Keluar kamar mandi pasti akan lemas rasanya. Selera makan rasanya berkurang.
William yang baru selesai sarapan masuk ke kamarnya. Ia ingin melihat keadaan sang istri.
Lilis baru saja keluar dari tolilet.
“Are you okay honey?” Tatap William kuatir.
“Tak apa. Hanya mual dan lemas rasanya”
“Muntah lagi ya”
“Iya sayang” Lilis naik ke atas ranjang dan berbaring. William duduk di samping Lilis di tepi ranjang.
“Perlu sesuatu sayang? Atau mau sarapan?”
“Tidak. Kalau sarapan pasti percuma, nanti pasti akan di muntahkan lagi”
“Oh iya anak-anak gimana? Aku sampai tak bisa lagi merawat si kembar apa lagi memperhatikannya” sambung Lilis kembali.
“Anak-anak sudah sarapan sayang. Sudah pergi ke sekolah juga. Tak apa sayang. Mereka pasti mengerti kondisimu saat ini. Aku juga mau berangkat ke kantor”
“Aku di tinggalkan kah sayang??? Gak mau ditinggal...” Lilis cemberut.
William tersenyum lembut ke arah istrinya. Ia merasa akhir-akhir ini Lilis nampak manja. Apa mungkin bawaan si jabang bayi dalam perut. Begitulah pikir William.
__ADS_1
William menyentuh hidung Lilis.
“Kenapa belakangan ini manja sekali?” Ucap William dengan lembut.
Lilis makin memajukan bibirnya.
“Minta peluk” Ucap Lilis dan William terkekeh. Kok seperti anak kecil saja.
William memeluk istrinya dan mengecup puncak keningnya Lilis.
“Aku pergi sebentar ke kantor ya. Pagi ini ada pertemuan dengan klien penting. Setelah itu aku akan segera pulang ya sayang” William membujuk istrinya.
William melepaskan pelukannya. ia mengecup bibir istrinya sekilas.
“Janji ya jangan lama-lama. Pulangnya bawakan es cream coklat ya” Pinta sang istri.
William tersenyum dan menganggukan kepalanya.
“Iya sayang. Aku pergi ya”
Lilis pun mengangguk.
William pergi keluar kamar. Dan Lilis kembali tidur.
William segera menaiki mobilnya dan di supir oleh pak supir. Sampai di depan perusahaan, Jack sudah menunggunya. Jack kemudian masuk ke dalam mobil William dan mereka langsung menemui kliennya.
Beberapa jam telah berlalu. Pertemuan klien telah selesai. Mobil William kembali ke arah kantornya. Di dalam mobil yang sedang dalam perjalanan, William berkata pada Jack.
“Jack, nanti singgah ke supermarket ya”
“Buat apa? Tanya Jack bingung.
“Mau beli es cream coklat”
“Ah... Kebiasaanmu yang tak berubah itu. Baiklah”
“Kali ini bukan aku. Tapi istriku”
“Hah? Lilis?” Jack pun segera memberi tahu supir untuk singgah ke supermarket nanti jika melewatinnya.
“Iya”
“Oh... dia sedang hamil kan. Waktu itu kau sudah cerita. Mungkin bawaan si bayi dalam perut ya Will?”
“Mungkin saja”
“Iya. Tapi belakangan ini Lilis sangat manja padaku. Tak mau ditinggalkan sendirian. Minta peluklah dan permintaan lainnya juga. Terkadang saat malam Lilis malah melendot-lendot manja padaku” William tersenyum mengingat tingkah istrinya di rumah.
“Hahaha.... pasti sangat lucu ya”
“Iya. Lucu dan menarik” William senang dengan tingkah istrinya itu. Ia tak masalah dan tak keberatan sama sekali. Bahkan jika permintaan istrinya itu aneh-aneh pun, William akan dengan senang hati melakukannya. Karena ia menikmatin masa-masa kehamilan istrinya ini.
Contohnya saja kemarin, Lilis minta di belikan hamburger dan roti bakar. Minta di belikan di pinggir jalan. Gak mau di tempat lain. Harus di pedagang kaki lima yang berjualan. Dan kondisinya harus masih panas dan tak boleh dingin.
Dengan segera William laksanakan permintaan sang istri. Namun saat makanan sudah didepan mata Lilis. Lilis sama sekali tak memakannya. Katanya asin sayang. Gak mau. Sayang aja yang makan. Cuma satu burger yang dimakan Lilis dan itu pun tak habis. Sisanya William yang makan semua. Ia membeli dua burger dan 4 roti bakar. Dan semuanya William yang akhirnya yang memakannya sampai habis.
Jika makanan rumah tak ada satu pun yang bisa di telan Lilis. Jika di makannya maka nanti akan dimuntahkan kembali. Tapi jika makanan diluar dan beli diluar, maka dengan lahap Lilis makan sampai habis.
Hahaha... William selalu tertawa melihat tingkah istrinya. Terkadang ia sedih melihat kondisi istrinya, jika muntah-muntah akan langsung lemas tubuhnya. Disitu William merasa sedih. Ingin menggantikan posisi istrinya saja rasanya.
Sekarang William mengingat semua hal tersebut dan tersenyum. Jack melihat dari samping.
“Bahagia sekali ya Will?” Tatap Jack ke William.
“Iya. Aku bahagia. Dan cepatlah kau menikah dengan Tania” William tersenyum ke arah Jack.
“Iya. Tinggal seminggu lagi Will. Maka aku akan sah menikah dengan wanita pujaan ku”
Jack dan William pun tersenyum.
***
William baru saja kembali pulang ke rumah. Si kembar belum pulang. Sepertinya habis sekolah mereka langsung lanjut latihan bela diri. Jadi rumah serasa sunyi.
Sebelum sampai ke rumah, William telah beli es cream coklatnya tadi saat singgah di supermarket. Sekarang ia membawa es cream tersebut dan masuk kedalam kamarnya. Ia melihat sang istri sedang tertidur. William tak mau mengganggu jadi ia membiarkan istrinya untuk tidur.
William hendak keluar kamar dan menyimpan es creamnya dikulkas. Tapi baru saja pintu kamar di bukanya, suara Lilis terdengar.
“Sayang sudah pulang?”
William kembali menoleh ke Lilis. Ia kembali mendekatin sang istri dan duduk di dekat ranjang. Lilis bangun dan duduk bersender di ranjang.
“Sudah sayang. Ku lihat kau tidur jadi aku tak mau menggangu”
__ADS_1
“Aku senang kalau kau sudah kembali. Peluk” Pinta Lilis dan William tersenyum lalu memeluk istrinya.
“Kecup bibir juga”
William pun segera mengecup bibir sang istri sekilas saja.
Lilis melihat bawaan yang dibawa di tangannya William.
“Apa itu?”
“Es cream yang kau minta sayang”
“Asyik... mana sini. Mau ku makan” Lilis terlihat girang.
William meberikan es creamnya. Ada 5 buah es cream cup rasa coklat.
Lilis langsung melahap es creamnya.
“Sayang jangan dimakan semua ya. Sisanya untuk si kembar” William mengingatkan.
“Gak mau. Ini untuk ku” Lilis merengut manja.
William terkekeh melihat sikap istrinya.
“Tapi perutmu kosong sayang. Bukankah muntah lagi tadi. Jadi jangan banyak-banyak ya”
Lilis menggelengkan kepalanya. Ia masih melahap es creamnya.
Satu cup habis. Dua cup habis dan sudah mau tiga cup.
William merebut sisa es cream yang ada. Lilis menatap sedih. Dan sudah mulai ada genangan air mata yang terlihat di sudut matanya Lilis.
William jadi tak tega. Dan mengembalikan kembali es cream yang masih tersisa.
Lilis kembali ceria dan melahap es creamnya kembali.
William menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang istri.
“Kalau sakit nanti gimana sayang?”
“Kan ada kamu sayang” Lilis masih terus melahap es creamnya.
“Kau manja sekali sayang” William terkekeh.
Lilis juga merasa heran. Seingatnya saat hamil Rafa dan Fatar dulu tak seperti ini. Kenapa sekarang di kehamilannya saat ini, ia bersikap seperti ini. Ah entahlah. Lilis juga tak paham. Mungkin bawaan si bayi dalam perut. Atau karena ada suaminya sekarang. Karena dulu di kehamilannya yang pertama, ia hanya sendiri dan harus menahan semua penderitaannya. Jadi harus kuat dan tabah. Jadi mungkin bayi dalam perut tak pernah rewel dan memahami kondisinya. Itu dahulu.
Berbeda dengan kehamilan sekarang. Ada suami disisinya. Ia tak perlu cemas dan merasa di sayang terus oleh suaminya. Maka sikap manja dan kekanakan terus yang ada. Ia merasa aman dan nyaman dengan ada suaminya selalu di sisinya.
Willliam melihat ke arah istrinya.
“Pelan-pelan lah makannya sayang. Lihatkan belepotan gini” William menyeka di sekitar bibir Lilis dengan sapu tangan yang ada di saku jasnya. Ia menyeka dengan lembut.
“Makasih sayang” Lilis tersenyum.
“Oh iya. Jack dan Tania akan menikah seminggu lagi. Tapi melihat kondisimu sebaiknya kita di rumah saja ya. Nanti biar aku saja yang datang sebentar mewakili. Mereka pasti mengerti kondisimu sayang”
Lilis mendongak dan melihat ke arah suaminya.
“ Apa? Jadi aku tak boleh datang kah?” Lilis merasa sedih.
“Bukan tak boleh sayang. Cuma hanya lihat dirimu yang sekarang, lebih baik dirumah saja. Lagian selama kau hamilkan selalu dirumah. Tak pernah lagi keluar atau pun ke butik”
“Tidak. aku tetap mau hadir di pesta pernikahan Tania dan Jack” Lilis bersikeras dan tak mau mendengarkan suaminya.
Bersambung...
Bawaan ibuk hamil beda-beda ya... Hehe... :D
Tapi Author waktu hamil anak pertama ya gitu seh. Suamiku, ku minta belikan burger dan roti bakar dan setelah udah dibelikan dan masih hangat malah ku suruh suaminya yang habiskan... Hahaha... pengalaman sewaktu hamil dulu. Jadi teringat Author masa itu :D
Yang suka dengan karya ini, ikutin terus kisahnya sampai akhir ya kakak readers semuanya :)
No Plagiat ya. Hargai usaha dan kerja keras seseorang dalam berkarya. Jadi katakan tidak pada meniru karya seseorang dan tidak menjiplaknya. No Plagiat. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)
Karya ini sedang mengikutin lomba, jadi mohon dukungannya terus ya kak.
Makasih semuanya. Dukung terus karya ini ya kakak readers semuanya, biar Author semangat UP ceritanya. Love you all :)
Tembus 200 lebih like segera di UP kembali. Like yang banyak dan vote sebanyaknya ya kak. Thanks :D
__ADS_1