
Di kediaman rumah keluarga Sudrajat.
Saat ini Wenny dan Hesti (Mamanya Wenny) sedang berkunjung kerumah keluarga Sudrajat. Tak perlu heran lagi dengan rumah keluarga Sudrajat yang sangat mewah dan berkelas tersebut. Semua perabotnya mahal tentunya. Memang orang yang kaya dan terpandang. Wenny bersama Hesti berkunjung bukan hanya ingin main-main saja tapi juga punya maksud lain. Belinda Sudrajat dan Bambang Sudrajat adalah kedua orang tuannya Panji Sudrajat. Kedua orang tuanya Panji saat ini menemanin Wenny dan Hesti di ruangan tamu milik keluarag Sudarajat. Mereka duduk sambil berbincang di sofa empuknya keluarga Sudrajat.
“Maaf ya Tan... Om... Wenny Cuma bawa buah-buahan aja. Moga Om dan tante suka.” Wenny tersenyum dan memberikan buah-buahan yang banyak dibelinya tadi.
“Waduh... gak perlu repot Wen... tapi makasih ya...” Belinda menerima buah-buahan tersebut. Ia memanggil bik minah, pembantu rumahnya untuk membawa buah tangan Wenny ke dapur sekalian menyuruh bik minah membuatkan teh untuk tamu sekalian roti camilannya. Bik minah pun menurutinya.
“Maaf ya jeng... jadi ngerepotin toh, sampe dibuatin minum.” Hesti menampilkan wajah penuh senyum dan lemah lembut ke Belinda.
“Gak masalah kok Jeng...” Ujar Belinda ke Hesti.
“Ada prihal apa, Wenny dan dek Hesti berkunjung ke rumah?” Tanya Bambang Sudrajat.
“Begini Mas Bambang, Wenny dan Panji kan sudah lama juga bertunangan jadi ada baiknya kita segera melangsungkan pernikahan putra dan puti kita.” Hesti tersenyum manis.
“Oh... Hal tersebut bagi kami gak masalah. Iya kan Pa...” Belinda menoleh ke suami yang duduk disebelahnya.
“Iya Tan... untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, ada baiknya pernikahan Wenny dan Mas Panji dipercepat Tan.. Lagian kami sudah tunangan lama Tan..” Wenny juga membunjuk. Dia dan Mamanya memang bersongkol agar Wenny segera menikah dengan Panji agar kekayaan Keluarga Sudrajat bisa mereka manfaatkan juga. Bagaimana pun Wenny sekarang sudah makin berkuasa karena perusahaan Keluarga Hartono sudah ia yang kendalikan. Jadi kalau semakin dapat dukungan dari keluarga Sudrajat. Maka kekuatannya akan bertambah kuat.
“Hal yang tak diinginkan seperti apa?” Belinda nampak cemas.
Bik Minah membawa empat gelas teh disertai roti camilan. Kemudian semuanya diletakkan di atas meja tamu.
“Seperti Lilis Tan... Lilis sekarang muncul dihadapan Mas Panji. Jadi Wenny sedikit cemas.” Wenny berpura-pura cemas. Walau sebenarnya ia memang sangat cemas. Ia takut Panji akan berpaling ke Lilis kembali.
“Lilis...” Ucap Belinda dan Bambang bersamaan.
“Iya loh Jeng... Jeng Belinda dan Mas Bambang mungkin masih ingat dengan Lilis wanita liar yang sampai tidur dengan sembarangan Pria bahkan sampai hamil. Bukan kah hal tersebut tidak baik. Kedua orang tuanya saja sampai mengusirnya. Sekarang Mas Bram sakit dan Mbak Ajeng yang jagain di rumah. Eh Lilis sama sekali gak ada datang. Sedang kan perusahaan Keluarga Hartono sampai Wenny yang harus mengurusnya.”
Hesti dan Wenny memang dari dulu menghasut Belinda dan Bambang, agar mereka tidak menyukai Lilis. Awalnya Belinda dan Bambang tidak percaya. Karena Lilis yang mereka kenal dari kecil adalah wanita yang baik-baik karena ia pun dari keluarga baik-baik pula. Bram Hartono dan Bambang Sudrajat adalah sahabatan juga. Karena bersahabat dari kecil pula, oleh sebab itu mereka menjodohkan anak-anaknya. Namun nasib berkata lain sebelum hari pertunangan Lilis dan Panji, Lilis malah diperkosa kemudian hamil. Sehingga mereka akhirnya memilih Wenny sebagai penggantinya untuk bertunangan dengan Panji pada saat itu. Itu pun karena bujuk rayu Wenny dan tipu muslihat Hesti pula. Makanya pertunangan tersebut akhirnya terjadi saat itu. Keduanya memang ular betina yang suka menghasut orang.
“Kalau begitu kita segera nikahkan Wenny dan Panji saja. Ma... cepat panggil Panji. Hari Weekend gini kok Panji tidak nongol juga.” Perintah Bambang ke istrinya.
__ADS_1
“Iya Papa. Sebentar aku panggil Panji dahulu. Dia pasti saat ini dikamarnya.” Belinda bangki dari tempat duduknya. Ia menuju kamarnya Panji.
Didepan pintu kamarnya Panji, Belinda mengetuk pintu kamarnya. Karena tak ada jawaban, ia membuka pintu kamarnya. Dilihatnya Panji sedang serius memeriksa beberapa file di laptopnya. Anaknya memang pekerja keras.
“Panji... Mama panggilin kok gak dengar?” Belinda menegur Panji.
“Oh Mama. Maaf Ma... lagi serius lihat file untuk esok.” Panji masih didepan laptopnya.
“Panji... ini hari Weekend. Istirahatlah. Masalah kerjaan esok saja lagi. Kita kedatangan tamu. Ayo ikut Mama ke ruang tamu.” Belinda mendekatin Panji dan mengajaknya ke ruang tamu.
“Siapa tamunya Ma?” Panji heran hari libur begini kok ada yang datang.
“Wenny dan Mamanya yang lagi main kemari. Ayo cepat ikut Mama.”
Saat mendengar nama Wenny, Panji jadi malas. Ia tak suka dengan Wenny. Hanya karena desakan dan bujukan orang tuanya lah makanya Panji mau tunangan dengan Wenny.
“Oh... biarkan saja Ma. aku sibuk.”
“Loh.. kok gitu sih. Wenny kan tunanganmu nak... ayo temui”
“Panji..!!! Mama tidak suka sikapmu yang seperti itu ke calon menantu Mama. Mama dan papa sudah menentukan kalau Wenny dan Panji akan segera menikah. Jadi ayo ikut Mama, kita tentukan hari baik.”
“Mama...!!! Panji tidak suka Wenny. Dan Panji juga gak mau menikah dengannya.” Panji menolak.
“Apa kau bilang nak. Gak mau. Kalian sudah tunangan. Sudah tentu akhirnya harus menikah. Mau kapan lagi. Pertunangan kalian sudah cukup lama. Jadi sekarang waktunya menikah.” Belinda mendesak Panji. Suara mereka berdua sudah sama-sama meninggi hingga Weeny dan Hesti yang bersama Bambang bisa mendengarnya dari ruang tamu.
Bambang yang mendengar perdebatan istrinya dan anaknya, segera menyusul juga kekamar Panji.
“Panji gak mau Ma. Pokoknya enggak. Panji hanya mau dengan Lilis. Panji mencintai Lilis Ma...”
“Jangan sebut Lilis lagi. Dia gadis yang tak cocok untuk mu Panji.” Bentak Belinda.
“Dulu Mama sangat menyukainya. Namun setelah kena hasut Wenny dan Mamanya, Mama berubah jadi membenci Lilis.” Panji kecewa sebenarnya dengan orang tuanya.
__ADS_1
“Panji!!!” Bentak Bambang ke Panji. Hingga Belinda dan Panji yang berdebat menoleh ke arahnya. Bambang yang berada di depan pintu pun lalu masuk juga kekamar Panji.
“Sudah... sudah. Jangan bikin malu. Di ruang tamu ada tamu yang datang. Jangan berdebat. Dan kau Panji jaga sikapmu. Ayo ikut Papa.” Bambang memberi perintah.
Panji sangat kesal. Ia bukannya menurut tapi malah pergi keluar. Kunci mobil dibawanya dan segera turun ke bawah. Hesti dan Wenny yang di ruang tamu di lewatinnya begitu saja tanpa tegur sapa. Pani terus keluar dan kemudian menaiki mobilnya melaju pergi menjauh dari rumah.
Panggilan Papa dan Mamanya panji tak dihiraukannya. Ia terus melajukan mobilnya.
***
Ditempat lain. Lilis mengajak Dimas bertemu di sebuah cafe coffee. Lilis meminta bantuan Dimas. Ia menceritakan segalanya ke Dimas.
“Jadi begitu Dim. Kau maukan membantuku” Lilis sangat berharap bantuan Dimas. Ia tahu ini pasti terlalu berat untuk disanggupin.
“Ok. Tenang saja Lis. Aku pasti akan membantu mu. Kau ingin aku pura-pura jadi Papa dari anak-anakmu kan. Tentu saja aku mau.” Dimas menyanggupinya.
“Benarkah Dim?? Terima kasih ya Dim..” Lilis lega dan tersenyum.
“Tapi Lis... Kenapa kau tak memaafkan saja Dia. Bukankah dia Papa kandung dari anak-anakmu.”
“Aku tak bisa Dim. Kenangan masa lalu menghantuiku Dim. Itu kenangan buruk bagi ku karena itu aku mengalami masa yang sulit dan pahit. Aku susah membuka hati ku.”
“Bukannya kau dan dia sekarang menjalin hubungan kasih. Kau masih mencintainya Lis??”
Bersambung...
Jangan Lupa Klik Vote dan Favorite ya kakak-kakak Readers semuanya. :)
Di like juga semua episodenya ya kak. Tinggalkan Komennya juga. Dukungan kalian akan sangat berarti agar Authornya semangat dan bisa UP cerita secepatnya. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)
__ADS_1