Rafa Dan Fatar

Rafa Dan Fatar
Bab 117.


__ADS_3

Vanya membuat sebuah undangan makan malam. Dimana banyak para relasi dan teman bisnis di undangnya. Bahkan perusahaan I.S William pun di undangnya. Vanya membooking sebuah hotel dan ruangan Ballroomnya pun dihiasin dengan sangat megah. Banyak makanan yang enak dan aneka camilan tersedia. Bahkan anggur terbaik dan termahal pun disediakan.


Vanya menyambut para tamunya. Ia tersenyum dengan ramah. Jaka sekretarisnya pun berada disamping Vanya, juga Papanya Grey Steele turut hadir di acara tersebut.


Di sisi lain, dirumah William.


William sedang bersiap. Ia mengenakan setelan jas hitamnya. Dirasanya sudah cocok dan selesai, maka William melenggang keluar dari kamarnya. Di depan pintu kamar William berpapasan dengan Lilis.


“Sudah malam, mau kemana sayang?” Lilis menatap heran ke William yang terlihat rapi.


“Mau menghadiri undangan makan malam dengan para relasi bisnis” Jawab William santai.


Lilis memandang ke arah William.


“Dengan siapa hendak pergi?”


“Dengan Jack”


“Kalau undangannya dari siapa?” Lilis bertanya menyelidik.


William tersenyum.


“Kenapa sayang? Mau ikut? Kalau gitu ayo barengan kita perginya” Ajak William.


Lilis menggigit bibir bawahnya. Menimbang dan memikirkan ajakan William.


“Oke. Tunggu aku sebentar berganti pakaian”


William menganggukan kepalanya dan Lilis masuk ke kamar. Di dalam kamar ia berganti pakaian dan berdandan.


15 menit kemudian Lilis sudah selesai. Ia keluar dari kamar. Di ruang tengah William sudah menunggu Lilis. William melihat Lilis yang datang mendekat.


“Kok pakai mantel bulu sayang?” William menatap ke arah Lilis.


Iya. Saat ini Lilis memakai mantel bulu mahal berwarna hitam. Ia menutupi lekuk tubuhnya dengan mantel bulunya.


“Biar hangat aja sayang” Lilis tersenyum manis.


“Oh iya. Anak-anak tadi habis makan malam langsung ke kamarnya masing-masing. Jadi sekarang kita bisa pergi” William mengulurkan tanganya. Lilis awalnya masih ragu, tapi ia teringat kata-kata Tania. Lilis pun menghembuskan nafasnya perlahan dan menyambut tangannya William.


Mereka berjalan bersisian dan bergandengan tangan.


William kali ini yang menyetir mobil. Didalam mobil Lilis menatap William yang sedang menyetir. Mobilnya melaju menembus jalanan yang masih ramai.


“Will... Kita mau kemana seh sebenarnya?”


“Kita mau ke undangan makan malamnya Vanya. Perusahaannya mengundang banyak teman bisnis dan relasi bisnis” William berkata dengan pandangan fokus kejalanan.


Lilis tertegun. Oh ternyata Vanya. Syukur saja ia ikut dan menerima ajakan William. Dan untungnya ia sudah berdandan juga kali ini. Begitulah pikiran yang ada di dalam kepalanya saat ini. Lilis pun tersenyum. William sekilas melihat senyuman Lilis.


“Kenapa sayang?”


“Tak ada apa-apa. I’m okay”


Beberapa saat kemudian sampailah William dan Lilis di tempat yang dituju. William dan Lilis masuk beriringan kedalam ballroom tersebut.


Vanya menatap semua tamunya. Tapi ia belum juga melihat William. Vanya menatap ke arah Jaka. Jaka menyadari tatapan Vanya segera datang mendekat.


“Jaka. Kau sudah undang William kan?” Bisik Vanya ke Jaka.


“Sudah Non”


“Kenapa dia belum datang juga. Sudah 1 jam acara berlangsung tapi William belum kelihatan juga” Vanya mulai gelisah.


“Sebentar lagi mungkin Non”


Tepat di saat itulah William masuk bersama Lilis ke dalam ruangan ballroom tersebut. Vanya tak sangka Lilis bakal ikut.


Didalam ruangan ballroom, Lilis kemudian melepaskan mantel bulunya. Dan terlihatlah lekuk tubuhnya yang indah dan ramping. Lilis mengenakan dress hitam panjang dengan belahan belakang yang terbuka. Serta bagian depan yang seksi memperlihatkan belahan dadanya yang masih tertutup manis namun kesan seksinya masih terlihat. High hells hitamnya sangat senada dengan dress hitam Lilis. William melihat takjup ke arah istrinya. Pantas saja Lilis mengenakan mantel bulunya. Ternyata ia menutupi penampilannya. Mantal bulunya ia serahkan ke pelayan dan pelayan meletakan ditempat gantungan mantel.


Semua mata menatap kagum akan kecantikan dan bentuk tubuhnya yang terlihat seksi tersebut.


Vanya menatap dari kejauhan. Ia mendengus kesal. Seharusnya ia yang menjadi pusat perhatian malam ini. Namun malah Lilis yang di tatap kagum oleh semua orang.


William meraih pinggang Lilis dan memeluknya mesra. Ia pun berbisik dengan sensual di telinga Lilis.


“Sayang... Malam ini kenapa berpenampilan seperti ini? Terlalu banyak pasang mata menatapmu sayang. Aku tak rela membaginya dengan yang lain” deru nafas hangat William berhembus di telinga Lilis.


Lilis tersenyum manis dihadapan William. Menambah kecantikannya saja.


“Ayo kita bergabung dengan yang lain. Dan jangan lewatkan makan malam gratis ini”


“Dari pada makanan yang ada disini, aku lebih ingin memakanmu sayang”


Lilis tertawa kecil. Ia meraih tangan William agar mereka segera berbaur dengan tamu lainnya.


“Ayo kita sapa tuan rumah dahulu sayang” Ajak Lilis. William pun menganggukan kepalanya.


William dan Lilis melangkah ke arah Vanya. Vanya melihat kedatangan William dan Lilis yang semakin mendekat.


“Halo. Selamat malam” Ucap William.


“Terima kasih telah datang Will” Vanya tersenyum.

__ADS_1


“Iya. Aku bersama istriku yang malam ini sangat cantik” William menatap ke arah Lilis. Dan Lilis tersenyum.


“Oh... Aku kira kau akan datang bersama Jack” Vanya bersikap biasa saja.


“Awalnya ingin bersama Jack. Namun ku batalkan. Jadi aku pergi bersama istriku”


“Silahkan menikmatin hidangan yang ada” Vanya tersenyum ramah.


William dan Lilis pun menganggukan kepalanya dan tersenyum juga.


Lilis dan William berjalan ke arah meja makanan. Mereka mengambil beberapa makanan. Lalu duduk dimeja yang kursinya masih kosong. Duduk bersebelahan dan menikmatin makanannya serta mencicipi anggur mahal yang di antarkan para pelayan.


Sesekali mereka berbincang sambil mengunyah makanannya. Selesai menikmatin makanannya, salah satu kenalan William mengajaknya bergabung dengan para rekan bisnis lainnya. William pun pamitan pada istrinya untuk bergabung sebentar dengan yang lainnya. Lilis pun menganggukan kepalanya.


Vanya datang mendekatin Lilis.


“Sendirian saja kah?”


“William dengan tamu lainnya”


“Kau tak bosan duduk sendirian”


Lilis tersenyum melihat ke arah Vanya.


“Nona Steele hendak mengatakan apa sebenarnya?”


“Hahaha... Tak perlu sok ramah. Bukankah kau tahu aku mengatakan akan merebut William darimu?”


“Iya. Tapi kurasa kau tak akan bisa”


“Apa kau yakin?”


“Tentu. Lagian seorang wanita terhormat dari keluarga terpandang apa pantas menggoda suami orang lain” Mata Lilis menatap tajam ke arah Vanya.


Vanya merasakan sindiran dari Lilis. Vanya tersenyum .


“Kau sendiri apa pantas masih disisi William dengan diri sudah dinodai oleh pria lain” Vanya menyunggingkan senyumannya.


Lilis terkejut dengan perkataan Vanya. Ia tak tahu dari mana Vanya mengetahuinya.


“Apa maksudmu?”


“Jangan pura-pura bodoh. Aku sudah tahu semuanya”


“Jangan bilang kau tahunya dari William”


“Mungkin saja kan”


Lilis tertawa kecil. Vanya mengkerutkan keningnya,


“William tak pernah cerita apa pun padamu. Kau tak usah lagi berbohong di depanku. Aku tak tahu dari mana kau mendengar semuanya tentang Aku atau pun tentang hubungan aku dan William. Yang jelas itu bukan urusanmu” Lilis menatap dingin Vanya.


Vanya menatap sinis Lilis.


“Jangan berbangga diri. Tak ada lagi yang bisa di banggakan dari dirimu lagi. Wanita yang sudah disentuh pria lain” Vanya memberikan kata-kata tajamnya.


“Setidaknya aku tak memalukan diriku sendiri dengan mengejar-ejar suami orang” Lilis membalas perkataan Vanya dengan sama tajamnya dan sama pedasnya.


Vanya mendengus kesal. Ia mengepalkan tanganya. Ingin rasanya ia menampar Lilis. Namun menahan diri karena banyak tamu yang hadir.


“Aku heran. Ada niat apa kau mengundang banyak orang dan mengadakan makan malam bersama? Bukan hanya untuk ramah tamah dan persahabatan saja kan” Tatap Lilis ke arah Vanya.


“Aku hanya ingin bertemu William. Ini alasan saja. Tapi ada bagusnya aku melakukan perjamuan ini. Semakin mendekatkan para pembisnis tentunya” Vanya bersikap cuek.


“Kau mau merebut William dari ku kah? Cobalah kalau kau bisa” Tantang Lilis.


Kedua mata Lilis dan Vanya saling bertatapan dengan hawa dingin dan sama menyeramkannya.


William mendekat dan bergabung ke tempat duduk Lilis kembali.


“Maaf aku lama ya” Ujar kata William.


Lilis dan Vanya melihat ke arah William. Dan tatapan mereka berubah. Vanya kembali bersikap manis. Jika tak ada William, ia akan bermusuhan dengan Lilis. Tapi jika ada William maka Vanya akan berubah manis dan ramah.


Lilis tersenyum melihat sandiwara Vanya. Ia pun hanya mengikutin saja.


“Tak apa sayang” jawab Lilis dan meraih lengan William dan memeluk lengan William. William merasa senang dengan sikap Lilis malam ini. William duduk kembali disebelah Lilis. Vanya pun bangkit.


“Kalau begitu, aku tinggalkan dulu ya. tadi aku sudah menemanin Lilis” Vanya tersenyum dan William menganggukan kepalanya.


Vanya pun pergi berlalu.


Alunan musik yang merdu dan lembut pun mengalun. William mengajak Lilis berdansa. Tentu saja Lilis pun mengiyakan.


Kedua tangan William di letakan di pinggang ramping Lilis. Sedangkan kedua tangan Lilis melinggkari leher William. Mereka berdansa mengikutin alunan musiknya.


“Terima kasih sayang” Bisik William.


“Untuk?” Lilis memiringkan kepalanya.


“Untuk malam ini. Aku senang dan malam ini kau sangat cantik sayang”


Lilis tersenyum hangat dan William pun tersenyum hangat. Lilis meletakan kepalanya menyender ke William. Mereka masih berdansa.

__ADS_1


Vanya melihat dari jauh sungguh sangat kesal. Ia seperti orang yang sangat cemburu.


Jaka mendekat.


“Non. Jaga sikap. Nanti Tuan besar bisa tahu”


“Diam kau”


Grey Steele pun mendekatin putrinya.


“Kenapa Van?”


“Oh Papa. Tidak apa-apa Pa”


“Kau tak berdansa. Papa lihat banyak juga CEO dan Presdir tampan yang masih single ikut ke acara ini. Pilih lah salah satu dan ikut berdansa” Pinta Grey Steele pada putrinya semata wayang yang ada dihadapannya.


“Tidak Papa. Aku ke toilet sebentar ya Pa” Vanya pun melangkahkan kakinya menuju tolilet.


Grey menatap heran ke putrinya. Ia menoleh ke Jaka. Jaka hanya senyum cengir dan mengangkat kedua bahunya.


Musik pun berganti dengan alunan yang berbeda. William dan Lilis menghentikan dansanya.


“Aku ketoilet bentar ya sayang”


“Oke”


Lilis pun menuju toilet. Sampai di toliet ia berpapasan dengan Vanya.


“Oh... Kau Lis”


“Oh... Kau juga rupanya”


“Sudah selesai dansa mesra kalian”


“Kenapa? Kau cemburu? Ku lihat wajahmu di tekuk dan terlihat kesal sekali” Lilis terkekeh.


Vanya sangat kesal. Kesabaran dia sudah habis. Mumpung jauh dari lainnya, ia pun melayangkan tangannya hendak menampar Lilis. Tapi Lilis dengan sigap dan menangkap tangan Vanya.


Vanya terkejut dengan tindakan Lilis. Bahkan tak selesai disitu. Lilis pelintir tangan Vanya dan mengubah posisi Vanya, sehingga Lilis memutar tubuh Vanya dan ia berpindah ke belakang Vanya serta mengunci tangan Vanya di belakang. Lilis mengencangkan kuncian tangannya. Vanya pun meringis kesakitan.


“Kau berani padaku?” Bentak Vanya.


“Kenapa tidak. Aku hanya membela diri” Lilis tersenyum.


“Lepaskan” teriak Vanya. Lilis pun melepaskan Vanya. Vanya melihat pergelangan tangannya yang memerah dan sakit.


Vanya kesal menatap Lilis, ia bergerak cepat menampar Lilis. Namun Lilis bergerak cepat dan mengelak. Lilis segera mengeluarkan pisau belati kecil yang ia simpan di balik gaunnya yang ia letakkan di kedua pahanya yang terikat sempurna.


Kedua pisau ia keluarkan dan satu pisau ia lemparkan ke arah Vanya. Vanya terkejut luar biasa. Syukur saja pisau tersebut meleset dan tertancap ke arah lain. Vanya ketakutan dan diam mematung melihat ke arah Lilis.


“Kau tahu. Aku sengaja membuat pisaunya meleset. Aku bisa saja membunuhmu sekarang” Mata Lilis berkilat-kilat dengan tatapan yang mengerikan.


Bersambung..


Hahaha... ketakutan tuh si Vanya. Makanya jangan macam-macam sama suami orang :D


Yang suka dengan karya ini, ikutin terus kisahnya sampai akhir ya kakak readers semuanya :)


No Plagiat ya. Hargai usaha dan kerja keras seseorang dalam berkarya. Jadi katakan tidak pada meniru karya seseorang dan tidak menjiplaknya. No Plagiat. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)


 


Karya ini sedang mengikutin lomba, jadi mohon dukungannya terus ya kak.


 


Cara mendukungnya gampang yaitu :


1. Like semua episodenya / bab-nya ya kak. Dibaca juga semua babnya :)


2. Klik Vote setiap hari dan setiap saat ya kak. Dan setiap hari senin juga :D


3. Klik Favorite juga ya kak


4. Selalu berikan dukungannya ya kak setiap saat :D


5. Tinggalkan komen ya kak :)


6. Kasi bintang 5 ya kak untuk karya ini sebagai menyukai karya ini dan apresiasi ke karya saya ini.


 


Makasih semuanya. Dukung terus karya ini ya kakak readers semuanya, biar Author semangat UP ceritanya. Love you all  :)


Karya ini akan segera Tamat, akhir bulan ini rencananya akan di Tamatkan. Jadi Vote yuk kak yang banyak dan Like sebanyak-banyaknya. Thanks :D


Tembus 200 lebih like segera di UP kembali.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2