
Bel pun berbunyi.....
Ting tong.... Bel pintu depan berbunyi. Ada yang datang. Siapa yang datang???
William segera membuka pintu. Dan ternyata itu Jack. Jack pun masuk.
“Kenapa kau datang di jam segini?” Tanya William.
“Membawakan semua barang-barangmu dan berkas kantor.” Jack membawa dua koper besar.
“Aku sudah membawa beberapa barang. Tapi terima aksih akalu begitu. Taruk saja dikamar ku.”
“Baik.”
Setelah Jack menaruh dua koper besar dikamar. Ia lalu duduk disofa bersama William.
“Kenapa belum tidur Tuan?”
“Aku sedang memikirkan sebuah tugas. Sambil melamunkan masa-masa lalu juga.”
“Tugas apa. Tugas mu yang di inggris itu.” Walau Jack tak tahu apa itu. Tapi ia pernah mendengar kalau William punya pekerjaan di inggris.
“Iya.”
“Lalu perusahaan bagaimana? Bukankah kau bilang ingin meneruskannya. Aku sudah lama menjaga perusahaan. Saat nya kau yang menjalankannya” Ucap Jack ke William.
“Iya. Aku tahu.”
“Itu keinginan dari almarhum Nyonya (Hana Smith)”
“Iya. Aku mengerti Jack”
“Apa kau menyukai nona Lilis?” tanya Jack.
“Hehe... tumben tidak ada embel-embel Tuan nya kali ini” William terkekeh.
“Aku sedang serius. Apa kau benar-benar menyukai Lilis?”
“Iya. Aku jatuh cinta padanya. Walau awalnya karena rasa bersalah. Tapi setelah mengenalnya dan anak-anaknya, aku malah jatuh cinta padanya.”
“Rasa bersalah? Maksud mu?” Jack tak paham.
“Itu hanya bagian masa lalu. Dia tak mengingat ku Jack. Waktu itu aku datang ke indonesia. Dan diberi obat oleh seseorang. Lilis yang kebetulan bersama ku malah jadi ku perkosa. Tapi ia tak mengenaliku. Sampai sekarang ia tak tahu.”
“Apa!! Jadi kau Papa dari Rafa dan Fatar...” Jack terkejut mendengar pengakuan William.
“Aku belum tahu apa betul Rafa dan Fatar adalah anak-anak ku. Tapi dilihat kepintaran Rafa dan Fatar, aku curiga kalau mereka adalah anak-anak ku.”
“Apa bisa begitu”
“Bisa saja. Lilis tak pernah menikah. Tak punya suami dan tak punya kekasih. Sampai sekarang ia hidup bersama anak kembarnya. Walau ia tak pernah cerita siapa Papa kandung anak-anaknya. Tapi aku curiga dan firasat ku sangat kuat. Kalau Rafa dan Fatar adalah anak-anak ku.”
“Kenapa kau tak lakukan tes DNA saja untuk membuktikannya.”
“Itu ide bagus. Nanti akan ku lakukan. Sebelumnya aku harus mendekati Lilis dahulu dan meluluhkan hatinya. Jadi saat suatu hari nanti dia tahu kebenarannya, maka tak bisa menolak ku karena ia telah jatuh hati juga padaku.”
“Apa kau yakin bisa membuatnya jatuh cinta?”
“Hey... kau meremehkan ku Jack. Wanita manapun pasti jatuh cinta melihat ketampananku. Aku separuh keturunan inggris dan separuh keturunan Indonesia. Dengan wajah tampan blesteran ku dan kepintaranku, wanita mana yang tak jatuh hati padaku.” William membanggakan ketampanannya.
“Kau begitu narsis.” Jack agak kesal mendengar William dalam mode narsisnya.
“Hahaha... kau sendiri Jack. Apa akan terus melajang. Ingat sekarang kau 30 tahun. Sudah saatnya kau menikah.”
“Kalau itu urusan ku.” Jack nampak ketus menjawabnya.
Walau Jack dan William kadang berdebat tapi mereka sangat akrab layaknya kakak dan adik.
“Tidurlah disini Jack. Temanin aku.”
“Tak mau. Aku pulang. Lebih enak dirumah sendiri.” Jack pun lalu berdiri dan pamit pulang.
William mengunci pintu dan kembali ke kamarnya untuk tidur.
***
__ADS_1
Esoknya dikantor.
William dan Lilis sekarang berada diperusahaan I.S. William membawa Lilis masuk ke sebuah ruangan Desain. Jack ada bersama mereka.
“Ok Lis... ini adalah ruangan tempat Desain.” William menunjukkan ruangan tersebut.
“Bagus sekali... Luas juga.” Lilis tercengang. Tempatnya lebih bagus dari yang dipikirkan.
“Nona Ivanka... adalah Desainernya. Dan kau akan bekerja menjadi asistennya.” William menunjuk Ivanka yang sedang berjalan mendekati William dan Jack.
“Selamat Pagi Pak...” Ivanka membungkuk hormat ke William dan Jack.
“Ivanka... ini nona Lilis akan menjadi asisten mu. Ajarin dia dengan baik.” Jack memberikan perintah seperti yang diminta oleh William.
“Baik Pak.”
“Ok. Mulai lah bekerja dengan baik. Kami tinggal ya Lis...” William berbisik ke Lilis.
Lilis hanya mengangguk.
William dan Jack pergi keluar dari ruangan tersebut.
Ivanka melirik kearah Lilis. Ia disuruh mengajari dan membimbing Lilis. Sudah di intruksikan oleh Jack agar jangan salah bicara. Dan Ivanka sudah diberi arahan oleh William sebelumnya.
“Dengan Nona Lilis...” Sapa Ivanka.
“Iya. Bener. Lilis Hartono. Panggil saja Lilis.”
“Baiklah. Panggil saya Ivanka ya. sudah hampir 30 tahun saya menjadi desainer. Kini sudah terlelu tua jadi memerlukan seorng asisten. Semoga kita dapat bekerja dengan baik. Ok”
“Baik”
Lilis dan Ivanka berjabat tangan. Dan mulailah mereka bekerja.
***
William datang menemui si kembar. Dirumah hanya ada Rafa, Fatar dan Bibi May.
“Saya ijin bawa Rafa dan Fatar sebentar ya Bik...” William meminta ijin.
“Oke.”
Rafa dan Fatar dibawa masuk kedalam mobil oleh William. William hanya sendiri membawa mobilnya.
“Om kita mau kemana?” Tanya Rafa.
“Iya. Kemana Om?” Fatar juga bertanya.
“Kita akan mendaftar ke sekolah TK. Sekolah khusus anak pintar seperti kalian.”
“Benarkah Om?” Mata Rafa berbinar.
“Om gak bohongkan?” Fatar bertanya.
“Tentu saja benar. Kapan om bohong sama kalian. Om akan daftarkan kalian ke sekolah terbaik. Tenang saja masalah biaya sekolah semuanya aman.” William menjelaskan ke Rafa dan Fatar.
“Hore...” Rafa kesenangan
“Asyik...” fatar pun senang.
“Tapi Om... Mama sudah tahu belum?” Rafa menoleh ke William.
“Nanti Om yang kasi tahu. Sebentar lagi tahun ajaran baru jadi kalian harus segera mendaftar. Om yang wakilin dahulu. Mama kalian sedang sibuk bekerja.” William berbicara sambil mengemudi.
Rafa dan fatar mengangukan kepalanya.
“Gimana kak? Om ganteng cocok jadi Papa kita kan?” bisik Fatar ke Rafa.
“Iya. Kau bener. Kita pilih Om ganteng saja jadi Papa kita. Dia baik dan sayang pada kita berdua.” Bisik Rafa juga.
“Sip...”
“Hehehe...” si kembar terkekeh.
“Kalian bisik-bisik apa?” Tanya William.
__ADS_1
“Gak apa-apa Om. Om baik banget.” Rafa polos sekali menjawabnya.
“Om ganteng mau kan jadi Papa kami?” Kini Fatar lebih polos lagi berkata.
“Hah?? Papa kalian?” William menatap kedua bocah di dekatnya. Tapi kembali fokus ke jalanan.
“Iya Om...jadi Papa kami ya Om” Pinta Fatar.
“Maukan Om?” Rafa pun menanyakan kesediaan William.
“Om mau saja. Tapi apa Mama kalian setuju.” William kini tersenyum.
“Pasti mau.” Jawab Fatar.
“Iya. Mama pasti mau. Karena kami sudah setuju.”
“Ya sudah. Kita sudah mau sampai. Kita daftar sekolah dulu ya??”
“Oke Om” si kembar menjawab bersamaan.
***
Lilis merasa pekerjaannya sekarang sangat menyenangkan juga nampak santai. Mungkin karena masih baru jadi belum banyak pekerjaan yang dilakukannya.
“Lis... tolong ambilkan contoh kain di toko M ya. Segera. Oke.” Perintah Ivanka.
“Baik”
Lilis pergi keluar kantor dan mencari Toko yang dimaksud. Setelah ditemukan ia masuk kedalam dan meminta contoh kain yang dipesan.
Saat sedang menunggu contoh kain yang sedang diambil karyawati di toko tersebut, Wenny datang masuk kedalam Toko.
“Lilis... sedang apa kau disini?” Wenny bertanya saat ia melihat Lilis.
“Oh ... kau Wen... aku sedang mengambil contoh kain”
“Untuk apa? Bukannya kau kerja direstoran dan dicafe. Seorang pelayan kenapa ada di toko kain terkenal.” Wenny meledek.
“Apa salahnya?” Lilis berkata asal saja. Ia tak menyangka kalau Wenny meledeknya.
“Kau tak akan sanggup membayarnya Lis... apa kau punya uang. Kalau dulu kau seorang pewaris tapi sekarang kau hanya seorang pelayan” Wenny menejeknya.
“...” Lilis hanya diam saja. Ia sebenarnya sangat kesal. Tapi ia menahan diri.
“Kenapa kau diam saja. Apa karena miskin jadi tak bisa berkata apa pun hehehe” Wenny terkekeh dan menghina Lilis.
“Kau kenapa Wen... sepertinya kau sudah berubah.” Ucap Lilis ke Wenny.
“Berubah.... oh.... jadi kau tak tahu ya selama ini” Wenny memperlihatkan senyum jahatnya.
“Maksud mu?”
“Dari dulu aku sebenarnya tidak menyukai mu. Aku membenci keluarga Hartono dan ingin menghancurkannya. Aku dan Mama ku punya dendam pada keluarga mu.”
“Apa?” Lilis seakan tak percaya yang didengarnya.
“Kau sekarang bukan keluarga Hartono. Anak yang diusir dan tak diakui. Aku akan jujur padamu.”
“Jujur apa?”
Kemudian Wenny berbisik ke telingan Lilis.
“Dulu aku sengaja mengajak mu ke club untuk menjebak mu dan ternyata nasib buruk menimpa mu. Kau tau betapa senangnya aku saat tau kau diperkosa lalu hamil. Aku senang melihat mu hancur. Aku senang kau terusir dari rumah. Jadi aku dan Mama ku bisa merebut kekayaan Keluarga Hartono. Dan aku hanya menghasut Om Bram agar selalu membenci mu.” Kata-kata Wenny begitu menusuk ke jantung.
“Kau...” Lilis membentak.
“Hehehe... Kenapa? Kau mau apa hah?” Wenny nampak garang melihat Lilis.
Lilis ingin menampar wanita licik yang ada dihadapannya ini...
Plak... Suara tamparan terdengar.
Bersambung...
__ADS_1