
Bik Minah yang sedang sembunyi, merasa ketakutan. Ia bisa mendengar kalau Wenny hendak melenyapkan orang yang mendengarkan percakapan mereka.
Namun sayang. Wenny melihat sosok Bik Minah yang sedang sembunyi. Wenny tarik Bik Minah dan menjambak rambutnya. Padahal Bik Minah sudah tua tapi Wenny memperlakukannya sangat sadis.
“Oh... Kau yang mendengarkan kami ya...” Wenny mengamuk ke Bik Minah.
“Gak Non. Saya gak tahu apa-apa.” Bik Minah sangat takut.
“Jangan bohong bik..” Ucap Hesti juga.
“Bener Buk Hesti...”
“Bohong. Kau bohong. Kalau tak tahu apa-apa kenapa malah sembunyi. Dasar tua bangka. Sini kau.” Wenny menarik Bik Minah dengan kasar. Bik Minah pun ketakuan dan kesakitan.
“Mati saja kau...” Ucap Wenny sambil mencekik leher Bik Minah dengan kuat.
Hesti yang takut dengan kelakuan putrinya pun berniat menghentikan. Tapi sayang Bik Minah telah mati karena di cekik oleh Wenny.
“Ya ampun Wen... Apa yang kau lakukan?”
“Aku harus membunuhnya Ma. dia mendengarkan kita.”
“Seharusnya jangan. Kau hanya menambah masa hukuman penjaramu kalau ada yang tahu.”
“Mana ada yang tahu Ma. kan cuma Mama yang tahu. Sudah kita singkirkan saja tubuh Bik Minah ini.”
Hesti dan Wenny segera membopong mayat Bik Minah. Memasukan dalam karung goni besar dan akan mereka buat ke sungai. Keduanya bergerak sangat cepat agar tak ada yang melihat perbuatan mereka.
***
Lilis kembali ke rumah. Ia menitip pesan ke perawat yang jaga untuk melaporkan kalau ada apa-apa dirumah sakit. Bahkan pengawal banyak berjaga di rumah sakit tempat kedua orang tuanya dirawat. Bagaimana pun ia harus pulang karena ada anak-anaknya yang harus juga ia perhatikan.
Sampai dirumah, kedua anak nya sudah ada dirumah dan sedang di kamar masing-masing.
Sedangkan William juga ada dikamarnya. Namun Lilis yang hendak juga masuk ke kamarnya malah berpapasan dengan Katty di ruang tengah.
“Kat... Kau tak apa-apa? Aku dengar kau dalam bahaya” Lilis langsung bertanya saat melihat Katty.
“Oh... Tentang itu, aku tak apa-apa. Aku sudah selamat. Luka-luka ku sudah langsung di obatin. Oh iya bagaimana kedua orang tuamu Lis? Ku dengar dari William kalian sudah membawa orang tua mu”
“Kedua orang tua ku sedang dirawat dirumah sakit. Terima kasih atas perhatianmu.”
“No problem Lis. Oh.. Aku mau kedapur dahulu ya. Mau ambil minum” Katty pun hendak berlalu pergi melangkah ke dapur. Namun langkahnya berhenti saat Lilis memanggilnya kembali.
“Kat...” Lilis memandangi Katty.
“Iya.” Katty kembali melihat ke Lilis.
“Boleh bicara sebentar.”
“Oke.”
Kedua wanita tersebut duduk berdua di kursi yang ada di ruangan samping rumah, dimana ada taman yang indah yang bisa di lihat.
“Mau bicara apa Lis?” katty melihat Lilis yang nampak serius.
“Ku dengar kalau kau dan William dulu memang pacaran ya? Apakah lama hubungan kalian?”
Katty tentu kaget mendengarnya. Ia pikir William akan terus menutupinya. Katty lalu menatap langi-langit rumah dan tersenyum.
“Iya. Dulu kami memang pacaran. Tapi itu sudah lama berakhir Lis. Sekarang kami hanya teman baik saja. Dan percayalah Lis, William hanya mencintaimu.” Katty tersenyum tulus ke arah Lilis.
“Berapa lama kalian berhubungan? Maksud ku masa pacaran kalian dulu?” Lilis jadi bingung hendak bagaimana menanyakan yang baik caranya.
“Eemm... Sekitar 4 tahun kami pacaran”
“4 tahun??” itu bukan lah waktu yang singkat. Pikir Lilis dalam hatinya.
“Lalu kenapa kalian putus?” Lilis kembali bertanya. Ia penasaran saja. Karena biasanya jarang pasangan yang sudah putus tetap berteman baik. Hanya ada yang beberapa seperti itu tapi kebanyakan tidak.
“Eemm... Kenapa ya?? Aku juga gak tahu. William tak pernah bilang apa-apa.”
“Loh... kalian putus begitu saja. Dan kau menerima begitu saja” Lilis mengkerutkan keningnya.
“Selama kami pacaran, kami jarang bertengkar Lis. Apa lagi selama menjalankan tugas bersama kami selalu kompak tak ada kesalahan. Saat putus juga William tiba-tiba bilang hendak putus. Alasannya tak pernah dikatakan. Kami putus baik-baik Lis. Karena itu masih bisa berteman baik. Walau..” Katty menghentikan kata-katanya.
“Walau apa?”
__ADS_1
“Walau aku bisa menebak karena apa. Tapi William selalu bilang bukan karena hal itu.”
“Hal apa itu?” Lili smemandangi wajah katty. Katty pun beralih menoleh ke arah lain kemudian tersenyum melihat ke arah Lilis.
“Tak perlu kita bahaskan lagi ya. itu hanya masa lalu Lis. Kau lah masa depan Willam. Berbahagialah dengan William ya Lis. Aku mendoakan kebahagian kalian” Katty sangat tulus mendoakan Lilis dan William.
Lilis tersentuh dengan kata-kata Katty. Ternyata Lilis salah menilai selama ini. Ia pikir Katty adalah penghalang kebahagian dirinya dan William. Nyatanya Katty sangat baik. Ia merasa malu karena pernah cemburu melihat William dan katty. Tapi namanya wanita ya begitulah. Apa lagi ini pria yang kita cintai. Ya kan.
“Kapan kalian putusnya?” Lilis bertanya kembali.
Katty kelihatan sedang berpikir dan mencoba mengingat.
“Emmm... mungkin saat 10 tahun yang lalu. Kurasa ya. kira-kira gitulah. Kurang lebih ya. Aku sudah lupa. Hehe”
“Hah? 10 tahun lalu?” Lilis berpikir. Kalau 10 tahun lalu, itu bersamaan dengan umur si kembar. Jadi jangan-jangan, mereka putus karena William yang merasa bersalah kepadaku dan mencariku untuk bertanggung jawab. Begitulah ucap Lilis dalam hati.
Jadi bukan Katty yang mengganggu hubungan ku dan William. Tapi aku lah yang menyela di antara mereka. Aku yang membuat mereka putus. Keluh Lilis dalam hatinya. Lilis kemudian merasa sedih.
Katty melihat perubahan wajah Lilis. Ia melihat ada kesedihan dan kebimbangan.
“Kenapa Lis?”
“Tak apa-apa. Kalau aku boleh tahu bagaimana William meminta putus dengan mu Kat? Maksudku gelagat kelakuannya”
“Waktu itu ia sedang di tugaskan Bos V ke Indonesia. Mengejar dua pria asing. Pas tugas sudah diselesaikan, William kembali ke Inggris. Dia punya tugas baru lagi di Inggris. Saat kembali aku melihat ada perubahan pada diri William. Dia mulai menjauhiku. Dan nampak melamun sendirian. Terkadang terlihat ada kilatan di bola matanya. Terkadang senyum dan kadang ia nampak gusar gelisah. Lalu setelah beberapa hari seperti itu, William bilang untuk mengakhiri hubungan kami. Dan kami pun putus.”
Lilis mendengar dengan perasaan kacau. Jadi benar itu semua??? Keluh Lilis kembali dalam hatinya.
Karena Lilis hanya diam, Katty melihat perubahan di raut wajah Lilis. Katty merasa ada yang aneh. Ia lalu teringat sesuatu.
“Waduh... Apa aku bicara salah ya” Gumam Katty sendirian.
“Lis... Itu sudah masa lalu. Tak perlu kita bahas oke. Yang penting sekarang kalian bahagia bersama ya.”
Katty tersenyum dengan lembut. Lilis mulai menitikkan air matanya.
Katty terkejut melihat ekspresi Lilis.
“Lilis...” Katty menatap Lilis heran.
“Kok kau minta maaf.”
“Aku rasa kejadian dahulu itu karena akulah maka kau dan William putus.”
Katty tertegun mendengarnya. Ia lalu tersenyum dan memegangi kedua tangan Lilis dengan tangannya.
“Lis...Jangan menyalahkan dirimu. Willam memang cerita tentang kejadian yang terjadi di antaramu dan dia. Kejadian bertahun-tahun lalu. Tapi dia memang mencintaimu Lis. Dihati dan di hidup William hanya ada dirimu Lis.”
Lilis terharu mendengar ucapan Katty. Katty sungguh baik dan berlapang dada. Ia sungguh kuat. Kalau dirinya diposisi Katty, mungkin tak akan kuat. Itulah yang dipikirkan Lilis.
“Kau mencintai William, Kat???”
Katty menghela nafas panjangnya. Ia melipat kedua tangannya di dadanya.
“Aku mencintai William, sangat amat mencintainya.” Katty menatap ke langit-langit kembali.
Lilis yang mendengar serasa susah bernafas.
“Tapi itu dahulu Lis. Sekarang kami hanya teman” Katty tersenyum manis didepan Lilis. Ia tak mau merusak kebahagian William dan Lilis. Apalagi mereka udah punya anak bersama. Jadi ia tak mau mengatakan isi hatinya sejujurnya, kalau ia masih mencintai William. Ia akan bahagia jika melihat William bahagia pula. Dan kebahagian William sekarang adalah Lilis dan anak-anak mereka.
“Dan kau tahu Lis. Kebahagian William hanya ada padamu Lis. Aku mendoakan kebahagian kalian berdua”
Lilis bernafas lega.
“Terima kasih Kat.”
“sama-sama.”
Keduanya tersenyum hangat.
“Kau selalu membantu William ya...” Ucap Lilis kembali.
“Iya. Begitulah. Kali ini aku datang juga karena ingin membantunya. Pas di inggris juga, kalau tak ada aku mungkin William tak bisa kembali ke Indonesia dengan selamat.”
“Terima kasih ya. Dan luka-lukamu ini” Lilis melihat luka-luka Katty dan kedua lengannya Katty yang ada goresan pisau.
“Tak apa-apa Lis. Aku baik-baik saja. Ini ulah musuh saja.”
__ADS_1
“Apakah Nona LL? Karena setahu ku dia yang sedang mengincar kami. Dan kau juga jadi sasarannya"
“Mungkin saja dia. Makanya sekarang William dan Jack membuat penjagaan ketat. Banyak pengawal yang dikerahkan untuk menjaga kita”
Saat keduanya sedang berbicara. William melihat ke akraban di antara Lilis dan Katty. Wanita di masa lalunya (Katty) dan wanita yang sekarang bersamanya (Lilis) yang akan menjadi masa depannya hidup bersama selamanya.
William datang mendekat.
“Ehem...” William berdeham. Kedua wanita menoleh ke arahnya. “Nampak akrab ya” Goda William.
“Oh... tentu saja dong. Kita kan teman ya Lis.” Katty mengedipkan matanya ke Lilis. Lilis paham akan maksud Katty. Pembicaraan wanita cukup para wanita saja yang tahu.
“Iya. Kami berteman.” Lilis tersenyum.
William nampak heran. Terakhir kali ia ingat, Lilis marah dan cemburu dengan Katty. Dan sekarang kedua wanita dihadapannya telah berteman. Hebat. Ucap William dalam hatinya. Wanita memang makhluk yang sangat rumit yang perlu dimengerti oleh kaum adam.
“Kalian sedang membahas apa?” William mencoba mengorek informasi agar tahu apa yang dibahas kedua wanita di hadapannya.
“Sedang bahas luka-luka ku.” Jawab katty.
“Iya. Lihat lah katty terluka. Dia dikejar musuh yang juga mencelakai kita ya Will. Si Nona LL itu?” Lilis menerka.
“Dugaan kami seh seperti itu. Namun kita harus selalu hati-hati. Ia bisa menyerang kapan saja”
“Aku jadi teringat wanita yang bernama Laura, yang kita tak sengaja jumpa di cafe. Bukan nya kau cerita ia pernah mencelakai Katty dengan meneror dan mengirimkan paketan aneh-aneh.” Lilis mengingat hal tersebut.
“Laura?” Ucap William.
“Iya. Kurasa Nona LL dan Laura sama gilanya.” Kata Lilis kembali.
William tertegun. Kemudian berpikir. Dan hal yang mengejutkan baru ia sadari. William menatap Katty. Katty juga menatap William.
“Will... Jangan-jangan..” Ucap Katty menoleh ke William.
“Iya. Kurasa yang kau pikirkan sama dengan yang ku pikirkan Kat” William dan Katty mempunyai pikiran yang sama.
Hanya Lilis yang bingung jadinya karena mendengar perkataan William dan katty.
“Maksud kalian apa??” Tanya Lilis.
William melirik ke Lilis.
“Dugaan ku dan Katty, Kalau Laura dan Nona LL itu adalah orang yang sama.” Ucap William dihadapan Lilis.
Lilis kaget dan mulutnya terbuka hingga membentuk huruf O. Lilis memandangi William dan katty bergantian.
Bersambung...
Halo-halo... Semoga tetap stay dan setia di karya ini ya kak. Dari awal sampai akhir nanti. Makasih yang selalu setia di karya ini. Thank you all :)
Nah... William dan Katty punya pikiran dan tebakan yang sama nih. Bakal seru nih kayaknya bentar lagi. :D
Yuk kak... Gerakan jempolnya yak :D
Di Like yang banyak ya kakak readers semuanya... kasi Vote juga banyak-banyak ya :D
No Plagiat ya. Hargai usaha dan kerja keras seseorang dalam berkarya. Jadi katakan tidak pada meniru karya seseorang dan tidak menjiplaknya. No Plagiat. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)
Jangan lupa kasi bintang 5 nya ya kak di karya novel ini... :D
Ikutin terus kelanjutannya ya kak :D
Jangan lupa dukungannya ya kak agar semangat UP.
Di like juga semua episodenya ya kak. Tinggalkan Komennya juga :D
Di like, di vote dan klik Favorite yah sebagai tanda telah membaca dan menyukai karya ini, juga sebagai apresiasi ke karya ini.
Tembus 200 lebih like segera di UP kembali.
__ADS_1