Rafa Dan Fatar

Rafa Dan Fatar
Bab 102.


__ADS_3

“Will... Bahaya. Kedua orang tuanya Lilis dalam bahaya” Ucap Jack di seberang sana.


Jack tak tahu kalau Lilis lah yang menerima teleponnya. Jack pikir William. Lilis tentu saja syok dan kaget dengan kabar berita yang dikatakan Jack barusan.


“Apa yang kau bilang Jack? Kedua orang tuaku dalam bahaya..” Lilis sudah sudah terisak.


“...”Jack terdiam di seberang sana.


William terbangun karena suara isak tangis Lilis. Ia melihat ke arah Lilis dan segera bangun. Ia memakai celana panjangnya dan mendekatin Lilis.


“Kenapa sayang? Kok nangis?”William mengkerutkan keningnya.


“Orang tuaku Will...” Lilis masih memegang Hape William.


William segera mengambil hapenya yang ada di tangannya LiLis. Ia melihat nama Jack dilayar hapenya.


“Halo Jack. Ini aku William.” Ucap William setelah mengambil alih menerima teleponan Jack.


“Oh kau Will. Tadi ku kira yang menerima adalah dirimu. Sehingga Lilis jadi mendengarnya.”


“Ada apa katakan padaku?”


“Kedua orang tuanya Lilis sedang sekarat di rumah sakit. Maaf mengganggu bulan madu kalian.”


“Oke. Kami segera pulang.”


Tanpa pikir panjang, William segera membuka lemari pakaian. Ia mengemasi seluruh pakaiannya dan seluruh pakaian Lilis. Sedangkan Lilis masih terpaku dan syok. Ia diam mematung.


Setelah semua selesai dibereskan William, William segera ke kamar mandi dan bersiap. Setelah berpakaian rapi William mendekatin Lilis.


“Sayang tenangkan dirimu. Kita pulang sekarang ya...” William menangkup wajah Lilis dengan kedua tangannya kemudian memeluknya. Lilis pun menganggukan kepalanya. Mereka segera membawa kedua kopernya untuk pulang. Helikopter pribadinya serta pilotnya sudah ready saat William sudah menelepon tadi. Pas datang pakai Helikopter dan pulang juga pakai Helikopter.


William dan Lilis segera menaiki helikopternya dan bergegeas pulang.


Selang beberapa jam kemudian, helikopterpun mendarat dilapangan rumah sakit. Tentu membuat beberapa orang geger melihatnya. Tapi Lilis lebih fokus ke orang tuanya. Bahkan bulan madunya yang masih tersisa 3 hari lagi pun tak dipedulikan lagi. Karena prioritas utamanya saat ini adalah kedua orang tuanya.


Sampai dirumah sakit Lilis segera turun dari helikopter dan langsung menuju ruangan yang di katakan Jack melalui pesan chat. William menemanin Lilis dari samping dan tak lupa berpesan pada anak buahnya untuk mengamankan koper mereka di dalam helikopter.


Sampai diruangan tersebut, Lilis melihat Jack. Namun Jack seakan menampakan wajah sedihnya. Hati Lilis sudah kebat kebit. Berdebar tidak karuan. Pikirannya pun sudah kacau rasanya.


Lilis mendekatin Jack. William pun melihat ke arah Jack.


“Dimana orang tuaku Jack? Papa dan Mama ku dimana?” Lilis sangat cemas.


“Maaf Lis..” hanya itu yang bisa diucapkan Jack.


“Apa yang terjadi?” Tanya William. Karena sebelumnya ia belum tahu kalau ceritanya dengan detail.


“Pak Bram dan Bu Ajeng seperti biasa dirumah sakit. Bu Ajeng menemanin suaminya untuk perobatan dan cek up. Namun tak disangka Wenny dan Hesti menyamar menjadi suster rumah sakit. Para pengawal lengah. Wenny berhasil membawa kedua orang tuanya Lilis. Dan saat ketahuan anak buah kita, anak buah kita langsung meneloponku. Tapi sayang kami terlambat. Wenny mendorong kedua orang tua Lilis dari atas atap gedung. Dan yang bisa ku lakukan adalah segera memanggil dokter untuk menyelamatkan mereka. Saat di ruangan UGD aku langsung menelepon kalian.” Jack menjelaskan.


“Jadi kedua orang tuaku masih didalam UGD Jack?” Lilis menatap Jack dengan tatapan sedihnya.


Jack menundukkan kepalanya.


“Maaf Lis. Dokter sudah berusaha. Namun...”


“Namun apa Jack? Jangan bilang kalau...” Lilis sudah menangis kembali.


“Iya Lis. Kedua orang tuamu tidak selamat. Mereka sudah meninggal.”


“Tidak!!!!” Jerit Lilis bersamaan isak tangisnya. William segera memeluk Lilis.


“Sabar sayang...” William membisikkan kata tersebut di telinga Lilis. Namun Lilis malah menangis tersedu-sedu.


“Dimana mayat kedua orang tua ku Jack?”


“Di dalam Lis” Jack menunjuk ruangan yang ada didepan mereka.


Lilis segera berlari dan masuk kedalam ruangan tersebut. Hatinya sangat sedih dan sakit. Kedua orang tuanya yang sudah berkumpul kembali dengannya malah sekarang pergi untuk selama-lamanya.


Lilis melihat mayat kedua orang tuanya yang sudah kaku dan dingin. Lilis menangis dan memeluk mayat kedua orang tuanya. Ia benar-benar kehilangan. Kedua orang tuanya sekaligus telah pergi dari dunia ini. Lilis menangis histeris di hadapan mayat Mamanya yang dipeluknya. Ia tak terima rasanya.

__ADS_1


William melihat dari samping. Ia bisa merasakan apa yang dirasakan Lilis. Karena kedua orang tua William juga sudah meninggal. Bahkan sudah lama kejadiannya. Dan sekarang kedua orang tuanya Lilis yang meninggal, William juga bisa merasakan kehilangan tersebut. Karena bagaimanapun  ia sudah menganggap orang tuanya Lilis juga seperti orang tuanya sendiri.


William menoleh ke Jack.


“Lalu dimana Wenny dan Hesti sekarang?” William merasakan kemarahan di hatinya.


“Wenny sudah kabur Will. Tapi Nyonya Hesti berhasil kami tangkap.”


“Dimana dia sekarang?”


“Sudah ku serahkan ke polisi. Sekarang ia dalam penjara.”


“Kau cepat kerahkan anak buah. Cari Wenny secepatnya. Dia tidak boleh lolos kali ini”


“Baik”


Jack pun pamit an melaksanakan tugas dari William.


William kembali ke sisi Lilis. Kini Lilis memeluk Papanya sambil masih terisak. William menarik tubuh Lilis dan memeluknya.


“Kau harus tegar sayang. Kuatkan dirimu. Ikhlaskan kedua orang tuamu Lis.”


“Tidak Will. Aku tak terima. Mereka harus mendapatkan balasannya. Kita harus jebloskan mereka kedalam penjara Will.”


“Iya sayang. Itu pasti. Kita akan memberikan hukuman untuk mereka.” William mengelus rambut Lilis dengan lembut dan mencoba menenangkannya dalam pelukannya.


William dan Lilis segera mengurus semua administrasi rumah sakit dan segera memakamkan kedua orang tuanya Lilis.


Kedua orang tuanya Lilis di makamkan di tempat pemakaman umum. Kuburan keduanya bersebelahan. Agar berdekatan selalu. Kini Lilis sedang menangisi kematian kedua orang tuanya di depan kuburan kedua orang tuanya. William mendekat di samping Lilis. Kedua anak Lilis juga ada di tempat tersebut datang bersama Katty dan Tania. Hanya Jack yang datang sebentar lalu pergi kembali karena masih ada yang harus dikerjakannya.


Rafa menoleh ke Mamanya yang masih bersedih. Ia lalu melihat ke Fatar.


“Fatar sekarang kita gak punya kakek dan nenek lagi” Rafa melirik Mamanya dan kemudian Fatar.


“Iya kak. Kita doakan saja kakek dan nenek kak. Juga hibur Mama agar tidak terus bersedih hati” Fatar melirik ke arah kakaknya.


William mengajak Lilis untuk kembali karena sudah tiga jam mereka di tempat tersebut dan belum beranjak pergi. Dari ramai yang datang melayat dan mengantar kepergian sampai semua orang sudah bubar. Lilis masih di makam kedua orang tuanya. Karean sudah 3 jam berlalu, William pun mengajak Lilis untuk pulang.


Setelah beberapa saat, sampailah mereka semua di rumah keluarga Smith.


Semuanya kini duduk di sofa yang ada di ruangan tengah. Dengan kesunyian dan kesedihan yang masih dirasakan dan melanda di hati masing-masing.


Rafa dan Fatar mendekatin Mamanya yang dipeluk Papanya. Lilis masih menangis saat ini.


“Mama... Jangan sedih lagi ya Ma. Masih ada Rafa dan Fatar disisi Mama” Ucap si Rafa kecil menghibur Mamanya.


“Iya Ma. Mama jangan sedih ya. Nanti Fatar belikan es cream yang banyak” Fatar menjanjikan beli es cream.


Seketika Rafa menoleh ke adiknya dan mencubitnya. Fatar mengaduh kesakitan.


“Kok dicubit kak?” Keluh Fatar.


“Ya iyalah. Mama sedih kok dibujuk pakai es cream. Emangnya anak kecil kayak dirimu Fatar.” Rafa nampak kesal dengan tingkah sang adik.


Lilis tersenyum melihat kedua anaknya. Ia mengelus rambut kedua anak kembarnya. Rafa dan Fatar terdiam karena perilaku Mamanya.


Lilis kemudian memeluk anak-anaknya.


“Makasih ya Rafa dan Fatar. Kalian anak-anak Mama yang terbaik, yang Mama miliki.”


William memperhatikan dari samping.


Tania dan Katty mendekat.


“Yang sabar ya Lis...” Ucap Tania.


“Kalau kau butuh teman cerita, katakan saja padaku” Katty berucap tulus.


Lilis memandangi Katty dan Tania bergantian.


“Makasih Kat... Makasih Tan..”

__ADS_1


Katty dan Tania menganggukan kepalanya.


Malam pun tiba. Katty kembali kekamarnya. Sedangkan Tania menginap malam itu di rumah keluarga Smith. Si kembar juga telah ke kamarnya masing-masing.


Kini tinggal Lilis dan William di ruang tengah.


“Sayang... Istirahatlah ya. Sudah malam. Ayo kita tidur. Kau butuh istirahat sayang.” William mengajak Lilis masuk ke kamar mereka berdua. Kini mereka tentu saja tinggal sekamar.


Didalam kamar Lilis masih duduk terpaku di atas tepi ranjang. Sedangkan William ke kamar mandinya yang ada didalam ruangan kamar mereka. William sedang mandi. Di saat William sedang mandi, Lilis yang masih terpaku diam melamun mendengar suara hapenya berbunyi.


Lilis menoleh ke hapenya. Ia melihat layar di hape nomer tak dikenal. Lilis pun menrima panggilan masuk tersebut.


“Halo... Siapa ini?”


“Ini aku...” Ucap Wenny.


“Wenny?” Lilis mengkerutkan keningnya. Tapi rasa amarah tiba-tiba menyelimutin hatinya. Tadi ia bersedih dan berduka. Kini ia merasa marah, apalagi saat ini Wenny lah yang meneleponya.


“Iya.”


“Mau apa kau? Tega kau Wen... Kenapa kau lakukan itu pada kedua orang tuaku?” Lilis nampak garang.


“Hahaha... Kalau kau mau cari aku. Temui aku sekarang. Dan datang lah sendiri. Jika kau bersama yang lain datangnya. Maka kau tak akan bisa menemukaku.”


“Dimana katakan cepat.”


Wenny memberikan alamat tersebut. Lilis segera mengambil kunci mobil dan ia pun bergegas pergi sendirian.


Setelah Lilis bergerak pergi. William keluar dari kamar mandi, ia baru selesai mandi. William melihat ke sekeliling tapi Lilis tak ada. William mencari dan memanggil namun Lilis tak ditemukannya.


Hape William berbunyi notif chat. Pesan dari Jack. William membaca isi pesan tersebut.


“Will. Ternyata Wenny berhasil kabur karena dibantu oleh Nona LL. Pantas saja kami tak berhasil menangkap Wenny. Dia dibantu oleh yang lainnya.”


Begitulah pesan singkat dari Jack. William merasa bakal ada bahaya datang. Ia menellepon hape Lilis tapi teleponnya terus sibuk.


“Sial. Dimana kau sayang? Kenapa perasaan ku tidak enak saat ini” keluh William.


William segera berpakaian. Dan ia harus segara mencari Lilis. Hati William benar- benar gelisah. ia mempunyai pirasat tidak baik. seakan sesuatu hal buruk akan terjadi.


Bersambung...


Halo-halo... Semoga tetap stay dan setia di karya ini ya kak. Dari awal sampai akhir nanti. Makasih yang selalu setia di karya ini. Thank you all :)


Bahaya masih mendekat nih. Gimana nasib Lilis dan William ya? Si Nona LL alias si Laura dan Wenny kayaknya lagi kerja sama tuh.. Si Lilis diajak ketemuan oleh Wenny. Kayaknya jebakan deh. William cepat temukan Lilis dong ya...


Yuk kak... Gerakan jempolnya yak :D


Di Like yang banyak ya kakak readers semuanya... kasi Vote juga banyak-banyak ya :D


No Plagiat ya. Hargai usaha dan kerja keras seseorang dalam berkarya. Jadi katakan tidak pada meniru karya seseorang dan tidak menjiplaknya. No Plagiat. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)


Jangan lupa kasi bintang 5 nya ya kak di karya novel ini... :D


Ikutin terus kelanjutannya ya kak :D


Jangan lupa dukungannya ya kak agar semangat UP.


Di like juga semua episodenya ya kak. Tinggalkan Komennya juga :D


Di like, di vote dan klik Favorite yah sebagai tanda telah membaca dan menyukai karya ini, juga sebagai apresiasi ke karya ini.


Yuk kak buat karya ini main bersinar, ajak gitu semuanya buat like semua babnya, komen, vote serta favoritekan yak. Jangan lupa kasi bintang 5 nya ya. karya ini sedang mengikutin lomba, semoga masuk 10 besar yak. Karena itu butuh dukungan dari kakak readers semuanya. Yuk kak buat karya ini masuk 10 besar gitu hehehe.


Tembus 200 lebih like segera di UP kembali.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2