
“Siapa kau? Dan Siapa yang menyuruhmu?” Ucap William.
Namun Pria asing itu tak menjawab. William lalu menodongkan pistol ke arah kepala Pria asing itu.
“Cepat katakan!!!”
“Max.. Max yang menyuruh kami.”
William melirik ke Katty. Ternyata William dan Katty di kejar-kejar dan hampir mati karena orang suruhan Max.
“Kita apakan Orang ini?” William menoleh ke Katty.
“Bunuh saja...” Dor.. Suara tembakan terdengar. Katty menembak ke arah kepala Pria itu dan langsung tewas seketika.
"Kau terlalu kejam Kat.." William tersenyum kecil.
"Dia musuh Will. Ingat ajaran Bos V" Katty mencoba mengingatkan. William hanya diam saja.
William dan Katty berjalan beriringan. Dan mencoba mencari taksi. Mereka berjalan mengarah jalan besar.
“Lukamu parah tidak?” Katty bertanya dengan cemas.
“Tidak. Kalau kau?” William balik bertanya.
“Aku tak apa. Luka kecil saja.”
“Sekarang gimana?”
“Ke tempatku. Seperti rencana awal.”
“Kat.. kau bisa celaka. Sepertinya Max sudah mengawasi gerak gerik ku sampai mengirim orang untuk membereskan ku.”
“Aku sudah terlibat Will. Ayo kita segera ke tempat ku.”
Sebuah taksi lewat langsung di stopnya. Mereka berdua masuk ke taksi dan melaju ke tempat Katty.
Sesampainya di apartement Katty, luka-luka William dibantu oleh Katty untuk membersihkannya. Dan segera dikasi obat dan anti biotik. William juga membantu membersihkan dan mengobati luka Katty.
“Thanks..” Ucap William.
“Hem... Aku juga harus bilang makasih” Sebuah senyuman cantik terukir diwajah cantik Katty.
Posisi keduanya cukup intens. William merasa Katty terlalu dekat dengannya. William berusaha menjaga jarak dan menjauh. Ia duduk di sofa. Katty hanya tersenyum melihat ke arah William. Ia pun juga duduk namum dikursinya yang berada di depan komputernya.
William hanya memandang sekilas ke Katty. Dia lalu melihat sekeliling apartement Katty. Dan melihat beberapa foto dipajang. Ada foto Katty dengan beberapa teman. Ada foto Katty dengan orang tua angkatnya. Iya. Katty sudah tak punya orang tua lagi. Ia dari panti asuhan. Sebuah keluarga baik mengadopsinya. Mereka lah keluarga Wilson, orang tua angkat Katty. Karena tak punya anak, makanya Katty diangkat jadi anak. Hal kesamaan inilah yang membuat Katty dan William dulu dekat. Sama-sama tak punya orang tua kandung lagi. Sudah lama meninggal. Karena merasa banyak kecocokan makanya mereka berpacaran dahulu. Tapi sekarang hanya masa lalu. Putusnya juga karena apa Katty pun tak tahu. William tak pernah mengatakan alasan putus. Sehingga Katty berpikir alasan William minta putus adalah karena tragedi antara William dan Lilis yang terjadi bertahun-tahun lalu. Karena waktu putus dan kejadian itu waktunya hampir bersamaan. William kemudian melihat foto Katty dan dirinya. di foto itu mereka berdua terlihat bahagia. Namun itu hanya kenangan masa lalu. Karena sekarang yang dicintai oleh William hanya Lilis seorang. Jadi yang ada dipikiran dan hatinya hanya Lilis dan anak-anaknya. Tak ada orang lain lagi. William menoleh ke Katty. Kenapa Katty masih memajang foto mereka berdua sewaktu pacaran dahulu. Apakah Katty masih mengharapkannya?
Katty terlalu fokus ke komputernya. Ia memeriksa card yang diberikan oleh William. Mencari data dan informasi. William berjalan mendekatin Katty yang masih fokus dilayar komputernya. Setelah disamping Katty, William pun bertanya.
“Bagaimana?”
“Harap sabar.. aku sedang mencarinya.” Katty terus mengotak atik komputernya. Ia sangat fokus.
Dan kemudian Katty mendapatkan sebuah informasi.
“Aku sudah memeriksa. Angka dan huruf di card ini adalah sebuah pesan rahasia yang di tujukan untuk Max.” Ucap Katty menoleh ke William.
“Apa artinya? Isi pesannya tentang apa?”
“Dikatakan retas akun beberapa bank dan investasi di beberapa akun. Sepertinya ada dua akun. Yang satu atas nama Nona LL dan yang satu atas nama Dim P.”
“Itu kah pesan rahasia untuk Max”
“Iya”
“Lalu siapa Nona LL dan Dim P”
__ADS_1
“Belum ku ketahui. Tapi aku memang mendengar beberapa Bank telah dibobol dan diretas. Sehingga banyak Bank kebingungan. Dan masalah Investasi banyak pialang saham menanam dan berinvestasi dalam jumlah besar di beberapa tempat. Aku akan mencari lebih detail lagi”
“Ok. Terima kasih Kat.” William menepuk bahu Katty pelan.
“Tak masalah” Katty tersenyum. Dan kemudian Katty menoleh kembali ke William. “Lalu hadiah ku?” Katty tersenyum nakal.
“Kalau yang aneh-aneh, aku tak bisa.”
“Kalau gitu traktir makan malam saja. Ok”
“Ok” William menganggukan kepalanya.
“Oh iya. Kenapa kau bisa bermasalah dengan Max?” Katty menatap tajam ke William.
“Bos V yang memberikan tugas ini. Dan ini adalah tugas terakhir ku.”
“Terakhir?”
“Iya. Aku mau pensiun saja”
“Bagaimana bisa? Bukankah ini impianmu Will... Bukankah Kau ingin seperti almarhum Papamu kan lalu kenapa sekarang ingin berhenti. Terlalu dini kalau kau ingin berhenti.”
“Aku punya alasan Kat.”
“Hem.. Baiklah. Aku paham” Katty tak tahu apa alasan William. Namun Ia bisa menebaknya. Karena ia paham betul dan sangat mengenal William.
***
Di Indonesia.
Dirumah Tania saat ini kedatangan Lilis dan kedua anak kembarnya. Hari Weekend jadi Tania meminta Lilis dan si kembar untuk datang ke rumahnya. Kini si kembar sedang bermain di ruang tengah. Bahkan banyak camilan, snack dan cake dihidangkan Tania untuk si kembar. Beberapa mainan pun diberikan agar si kembar bisa senang bermain. Tania tinggal sendirian di Apartementnya. Rumah keluarga Pak Siregar sebenarnya besar. Papa dan Mama Tania sebenarnya tak menginginkan putrinya tinggal jauh. Namun Tania yang bersikeras untuk tinggal sendiri. Alasannya biar mandiri. Sebenarnya Tania ingin bebas saja. Kalau dirumah besar akan terlalu banyak aturan. Tania ingin lebih bebas saja.
Tania melihat ke arah Lilis yang sedang duduk di ruang tamunya. Di sofa empuknya, Lilis duduk sambil meminum Jus yang disediakan Tania. Ada seorang pembantu dipekerjakan agar membantu Tania mengurus rumah. Dan itu permintaan dari orang tuannya. Mereka cemas membiarkan Putri tunggalnya tinggal dan hidup seorang diri. Ya sudah diterima saja Tania.
Tania menghampiri Lilis dan duduk disebelah Lilis.
“Aku tak apa-apa Tan..”
“Serius?” Tania menatap tajam dan menyelidik ke arah Lilis.
“Baiklah. Aku akan cerita.”
“Nah.. Gitu dong.”
“Kemaren aku ada menelepon William.”
“William sekarang kan di Inggris”
“Iya. Dan kau tahu dari mana?”
“Jack yang cerita.”
“Oh... Kau semakin dekat dengan Jack ya..”
“Hey... Fokus lah cerita.”
“Ok. Pas aku menelepon, seorang wanita yang mengangkat panggilan dariku”
“Siapa wanita itu?” Tania nampak penasaran
“Aku tak tahu. Tapi dia mengaku bernama Katty”
“Katty siapa?”
“Entahlah...” Lilis mengangkat kedua bahunya.
__ADS_1
“Lalu masalahnya dimana?”
“Dia bilang sedang menjatuhkan cincin dari William. Sepertinya dia memegang dan menerima cincin dari William.”
“Sungguh?”
“Iya. Dan kau pasti paham apa yang ku pikirkan. Mungkin saja William melamarnya”
“Hahaha...”
“Kok kau tertawa Tan..”
“Kenapa bisa pula kau memikirkan hal tersebut. Aneh sekali. belum tentu kali Lis...”
“Lalu cincin itu buat apa? Siapa Wanita itu saja aku tak tahu.”
“Terus kenapa dia yang menjawab. William kemana?”
“Dia bilang sedang ke toilet.”
“Lalu apa yang kau katakan selanjutnya”
“Tak ada. Saat mendengar kata Cincin langsung ku matikan”
“Hadeh... seharusnya kau tanya saja siapa dia? Siapanya William? Atau kau tunggu saja William yang akan balik dari toilet.”
“Kau gila ya Tan... masa aku harus menunggu orang balik dari toilet. Jadi selama menunggu aku harus bicara terus gitu dengan wanita itu. Pasti jadi canggung Tan..”
“Oh iya. Benar juga yang kau bilang.” Kata Tania.
“Tapi tunggu dulu...” Ucap Tania kembali.
“Apa?” Lilis menoleh ke Tania dengan serius.
“Kenapa pula kau tiba-tiba menelepon William?? Apa masalah hak asuh anak kembali atau masalah kau dan Dimas yang berpura-pura ada hubungan?” Tania menyelidik dan menyipitkan matanya melihat ke arah Lilis.
“Aku menelepon tak ada hal lain. Rafa bilang kangen dengan Papanya jadi aku menelepon nya untuk anak-anakku.”
“Yang benar??? Bukankah kau bilang takut anakmu diambil William. Kenapa sekarang malah membiarkan anakmu menelepon nya. eh salah kau yang menelepon iya kan”
“Hanya untuk anak-anakku saja.”
“Benarkah?” Tania menatap tajam ke Lilis.
“Benarlah. Tapi kenapa William tak ada kabar ya. Sudah tiga hari berlalu semenjak dia di Inggris. Ntah apa yang dilakukannya disana???”
“Kau telepon saja lagi. Tanya kan ke dia.”
“Enggak lah.”
“Kenapa?”
Lilis malas menjawab. Tania yang menunggu jadi radak kesel karena tak mendapat jawaban dari Lilis. Kemudian Hape Lilis berdering. Lilis mengambil Hapenya. Dilayar Hape tertera nama William.
“William?” Gumam Lilis.
Bersambung...
Jangan Lupa Klik Vote dan Favorite ya kakak-kakak Readers semuanya. :)
Di like juga semua episodenya ya kak. Tinggalkan Komennya juga. Dukungan kalian akan sangat berarti agar Authornya semangat dan bisa UP cerita secepatnya. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)
__ADS_1