
Sontak saja Wenny kaget dan menoleh ke William. Begitu juga Lilis, ia pun kaget melihat William muncul di toilet wanita. William mencekal tangannya Wenny.
“Tu-tuan S-smith..” Wenny terbata-bata dalam berbicara. William melepaskan tangan Wenny. Dan Wenny mundur selangkah.
“Nona Wenny. Anda adalah tuan rumah, tak pantas melakukan hal tercela bukan. Dan Maaf aku tiba-tiba muncul karena aku tak sengaja lewat di depan pintu toilet dan mendengar cekcok kalian berdua jadi aku datang melerai.” Tatap tajam William ke arah Wenny.
“Aku..” Wenny jadi bingung dalam bersikap di hadapan William. Ia bisa merasakan hawa dingin yang dibawa William barusan.
“Sebaiknya Nona Wenny menemui para tamu.” Sambung William kembali.
Wenny tak banyak bicara. Ia tak berani membantah William. Apa lagi sorot mata William yang nampak tajam dan dingin. Wenny segera pergi menjauh. Ia keluar toilet dan mulai menuju ruangan Ballroom yang banyak tamunya.
Didalam toilet masih ada William dan Lilis. Kini William melihat kearah Lilis.
“Kau tak apa-apa?”
“Aku tak apa”
“Sakit kah?” William hendak memeriksa pipi Lilis yang ditampar Wenny tadi, namun Lilis mundur selangkah.
“Aku baik-baik saja. Tak perlu kau tolong.”
William yang tak tahan kemudian mendorong Lilis sampai tersudut ke dinding. Lilis hendak berontak namun William mendekap Lilis dan di peluknya dengan erat. Kehangatan mengalir diantara kedua insan tersebut.
“Aku merindukanmu Lis..” Bisik William di telinga Lilis. Lilis terdiam. Disaat Lilis terdiam, wajah William di dekatkannya ke wajah Lilis. Ia mulai mencium mesra Lilis. Dan meluapkan kerinduannya. Beberapa di Inggris William terus memikirkan Lilis. Sekarang orangnya sudah di depannya, maka ia salurkan saja kerinduannya dengan ciuman mesra dan hot William. Kedua bibir menempel dan kedua lidah saling bertautan. Lidah William terus masuk dan menjelajahi isi dalamnya. Mereka saling mengecup dan memberikan kehangatan. Lilis kemudian tersadar, ia pun lalu mendorong William.
William yang tiba-tiba terdorong, mengaduh kesakitan. Ada luka di tubuhnya yang terkena sewaktu di Inggris.
“Kau kenapa?” Lilis menyadari kalau William kesakitan.
“Tak apa. Kalau begitu ayo kita kembali ke acara.” Ajak William.
“Tunggu...” Lilis menarik William. Ia melihat ada noda darah di balik Jas hitam William. Kemeja putihnya berwarna merah.
“Kau terluka” Ucap Lilis kembali.
“Aku tak apa-apa”
“Jangan berbohong lagi padaku.”
William menatap Lilis. Terlihat ada kecemasan di matanya Lilis.
“Kau mencemaskanku Lis...”
“Obatin luka mu. Lihat lah kemeja dalammu sudah berubah. Dari putih menjadi ada noda merah.”
“Kalau begitu bantu aku.” William agak merasa oyong. Dia yang baru turun dari peswat dan belum istirahat. Bahkan belum mengganti perban lukanya. Sekarang mulai merasa oyong.
“Ayo. Ku antar kau pulang.” Lilis memapah William. Mereka berdua langsung keluar. Tanpa diketahui oleh yang lainnya. Bahkan Dimas tak tahu kalau Lilis pergi duluan dengan William.
__ADS_1
Diparkiran mobil.
“Kau bisa nyetir?” Tatap William.
“Bisa. Berikan kunci mobilmu” Lilis membantu William masuk ke dalam mobil dan menerima kunci mobil dari William. Kemudian Lilis mulai menyetir mobil William dan melajukan mobil William keluar dari tempat tersebut.
Di sepanjang perjalanan, Lilis beberapa kali menoleh ke William.
“Kalau kau terluka, kenapa datang ke acara tersebut.?” Ucap Lilis sambil menyetir.
“Aku mau menemuimu Lis..”
Lilis menoleh ke William, dilihatnya mata teduh William. Ia kembali fokus kejalanan.
“Kau mau pulang kemana?”
“Bukannya kau mau mengantarkanku pulang.”
“Iya. Tapi rumahmu yang asli apa bohongan.”
William kemudian paham maksud Lilis. William pun mengatakan alamat asli rumahnya. Lilis pun menuju alamat yang dimaksud oleh William. Lilis cemas. Ia teringat kata-kata William tempo hari, dimana William minta doakan selamat kembali pulang. Awalnya Lilis kira salah dengar. Namun melihat kondisi William sekarang sepertinya bukan main-main. William yang menyadari ekspresi Lilis dari raut wajah cemasnya, William pun berusaha menenangkannya.
“Aku tak apa-apa Lis... jangan risau.”
“Diamlah... simpan tenagamu”
Setelah cukup lama Lilis menyetir, sampailah Lilis di alamat yang William sebutkan tadi. Didepan gerbang sebuah sekuriti datang mendekat. Lilis membuka kaca jendela mobilnya. Sekuriti yang melihat William yang bersama Lilis segera membukakan pintu gerbangnya. Lilis langsung mengemudikan kembali mobilnya William dan memasuki halaman luas milik William. Inikah rumah asli William. Sungguh sangat besar dan megah. Setelah sampai didepan pintu depan utama, Lilis mengehentikan mobilnya. Seorang penjaga membantu membukakan pintu mobil. Lilis memapah William memasuki rumah besar William dan penjaga tersebut membawa mobil William untuk diparkirkan ke daerah parkiran mobil.
Sampailah di salah satu kamar, William menunjuk itulah kamarnya. Lilis membawa masuk kedalam. Setelah didalam William dibaringkan di ranjangnya yang ukurannya king size.
“Di sana ada kotak P3K. Ambillah Lis.” William menunjuk salah satu lemari didekatnya.
Lilis mengikutin perkataan William. Ia mengambil kotak P3K tersebut. Sebelumnya ia kekamar mandi William yang ada didalam kamarnya. Agak tercengang Lilis saat didalam kamar mandi. Karena ini kamar mandi atau kolam berenang. Kok sangat luas sekali. Lilis mengambil air bersih di kamarmandi tersebut. Kembali ke William dan membuka pakaian William. Setelah tinggal bertelanjang dada, nampaklah badan kekar milik William. Juga otot-otot besarnya. William bener-benar menjaga bentuk tubuhnya. Lilis melihat luka tersebut ada di antara pinggang dan perut William. Ia membersihkan dahulu. Membuka perban lama. Dan membersihkan luka William. Setelah bersih, Lilis memberikan beberapa obat yang cukup cocok di kotak P3K tersebut. Lalu mulai membalut luka William dengan perban yang baru dan bersih.
“Oke. Selesai.” Ucap Lilis dan meletakkan semuanya di atas nakas.
“Terima kasih Lis.”
“Bajumu ada dimana?”
“Dilemari pakaian di sebelah ruangan ini.” William menunjuk sebuah pintu di dalam kamarnya. Lilis menuju pintu tersebut dan membukanya. Didalannya ternyata banyak pakaian dan sepatu, jam, dasi dan semua keperluan William. Ini lemari apa toko pakaian pikir Lilis dan kata Lilis dalam hatinya.
Lilis memmilih pakaian santai untuk William. Ia kembali ke William yang masih terbaring.
“Ini pakailah. Kau nanti masuk angin kalau tak memakai pakaian.” Lilis mengulurkan tangannya memberikan pakaian William.
“Terima kasih.” William bangkit dan mencoba memakainya. Dilihat Lilis, William agak kesusahan, maka Lilis membantu memakaikannya. William menatap Intens ke Lilis. Ia suka saat Lilis menyentuhnya.
“Oke. Selesai.” Ucap Lilis setelah membantu memakaikan bajunya William.
__ADS_1
“Celananya tidak sekalian Lis..” Ucap William menggoda.
“Kau pakai sendiri saja.”
William tertawa kecil. Ia pun menggantinya sendirian. Lilis menghadap ke arah lain. Ia tak mau melihat William mengganti celananya. Setelah selesai. Pakaian kotor William di pungut Lilis.
“Taruh saja disitu Lis. Nanti pelayan akan mencucinya.” William kembali berbaring.
“Baiklah.” Lilis menaruh di sebuah keranjang yang khusus untuk pakaian kotor.
Lilis menatap ke arah William. Ia harus kembali. oh iya ia lupa memberi pesan ke Tania dan Dimas. Lilis merogoh Hapenya yang ada di tas kecilnya. Lilis kemudian mengirim pesan ke Tania dan Dimas kalau ia telah duluan pergi dan jangan menunggu atau mencarinya.
William menatap ke arah Lilis.
“Kau hendak pergi Lis..”
“Iya. Aku harus pulang. Sudah larut malam.”
“Tinggallah Lis..”
“Aku tak bisa.”
“Kau masih marah dan membenci ku Lis?” William bangkit dari pembaringan. Ia duduk dan bangkit lalu berjalan ke arah Lilis.
“Hey... Kau harus istirahat. Tadi hanya pertolongan dan pengobatan sementara. Kau harus ke dokter secepatnya.” Ucap Lilis melihat William sudah dihadapannya.
“Kau sudah mengobatinku. Maka aku tak akan apa-apa.”
“Aku harus pulang.”
“Lis...”
“Kenapa? Apa kau mau membahas hal anak kembali.”
“Hem... apa kau lupa dengan meminta bantuanku”
Lilis menatap William. Ia teringat percakapannya dengan Jack dan percakapan di telepon tempo hari dengan William.
“Kalau kau tak bisa bantu tak masalah Will”
“Aku bisa membantu mu.”
“Lalu..?”
“Kau mau memohon atau tidak kepadaku Lis...??” Ucap William santai.
“Hah!!”
Bersambung...
__ADS_1
Jangan Lupa Klik Vote dan Favorite ya kakak-kakak Readers semuanya. :) Likenya belum tembus 100 nih. Kalau tembus 100 lebih maka UP-nya akan segera Author liris. Makasih semuanya :)
Di like juga semua episodenya ya kak. Tinggalkan Komennya juga. Dukungan kalian akan sangat berarti agar Authornya semangat dan bisa UP cerita secepatnya. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)