Rafa Dan Fatar

Rafa Dan Fatar
Bab 130. (Tamat)


__ADS_3

Lilis menatap ke arah suaminya. Bisa terlihat di wajah William kalau saat ini ia marah. Lilis mengigit bibir bawahnya. William membersihkan luka-luka Lilis sambil Lilis meringis merasakan sakitnya, dan kemudian William memberikan obat pada luka-luka Lilis. Baru setelah itu di balutnya dengan perban.


William bangkit dan membawa kotak P3Knya, Lilis memegangi ujung pakaian bagian bawah jasnya William.


William menoleh ke arah istrinya.


“Maafkan aku” Lilis menundukan kepalanya.


William mengecup puncak keningnya Lilis, kemudian ia melangkah pergi keluar kamar.


Lilis merasa sedih, entah karena bawaan bayi dalam perut jadi ia perasa sekali. Lilis menangis tersedu-sedu. Setelah ke kamar mandi dan berganti pakaian tidur, Lilis pun berbaring di ranjang. Tak lama kemudian William kembali dan kekamar mandi serta berganti pakaian tidur. Lalu ikut berbaring di sebelah Lilis. Lilis sekilas melirik ke arah William dan mata William sudah terpejam. Mereka pun akhirnya tertidur.


***


Esok harinya.


Dari pagi ke siang dan sampai malam hari Lilis gelisah terus. Di pagi hari saat sarapan William bersikap cuek dan dingin. Ia memang masih memeluk istrinya dan mengecup kening istrinya, tapi pandangannya menjadi dingin dan cuek. Hanya dengan si kembar saja William mau berbicara. Begitu siang hari sama saja, Lilis mencoba menelepon tapi William mengabaikan teleponya. Baru kali ini William begitu sikapnya pada Lilis. Sore hari setelah anak-anaknya pulang, Lilis menyambut anak-anaknya pulang sekalian menyambut William pulang. Tapi William tak pulang juga di sore harinya.


Hingga malam pun tiba, hanya si kembar yang makan bersama dengannya di meja makan. Lilis makan sedikit saja. Kemudian si kembar pun pergi tidur ke kamarnya masing-masing.


Sudah jam 9 malam dan William belum pulang juga. Lilis gelisah sekali. Menelepon pun percuma. Saat jam mendekatin jam 10 malam, barulah William pulang. Lilis segera masuk ke kamarnya. Ia memakai sudah memakai pakaian tidurnya.


William masuk kedalam kamarnya. Ia tak menatap Lilis yang ada di atas ranjang, langsung ke kamar mandi. Mandi, gosok gigi dan ganti pakaian dengan pakaian tidur. Baru setelah itu William naik ke atas ranjangnya.


Lilis menatap suaminya.


“William sayangku... Suamiku... Cintaku..” Suara lembut Lilis menggema di telinga William.


William menatap istrinya. William cukup kaget, karena Lilis memakai lingerie yang tipis dan seksi.


“Will...” Suara lembut Lilis terdengar kembali.


Lilis mendekat dan memeluk suaminya.


“Jangan marah lagi ya. Maaf” Lilis menggigit bibir bawahnya. Ia sengaja berpenampilan begitu untuk meluluhkan hati suaminya.


“Kenapa kau berpakaian seperti ini?”


“Kenapa? Tak suka kah?”


William menghela nafas panjang.


“Laki-laki mana yang tak suka sayang. Pastilah suka dan akan membangkitkan gairahnya”


“Aku siap dan mau sayang”


“Tapi kau sedang hamil sayang. Apa kau mau membahayakan lagi bayi kita yang ada diperutmu?”


“Tidak. Maafkan aku. Tapi kalau kita bercintanya pelan-pelan pasti bisa sayang”


“Aku yang takut tak bisa sayang. Ketahuilah, aku bukan hendak marah denganmu sayang. Aku hanya takut terjadi sesuatu denganmu dan anak kita”


“Iya. Jangan marah lagi ya... Kita mainnya yang aman. Oke. Lagian aku sudah pernah hamil dan melahirkan. Jadi kandunganku kuat kok sayang”


William sebenarnya sudah tak tahan. Ia terbangkit gairahnya. William tak kuasa. Ia pun mendekatin Lilis dan mendekatin bibir manis milik Lilis. Di kecupnya dan di kulumnya dengan mesra. Kehangatan terpancar dari kedua insan tersebut. Dan terjadilah penyatuan di antara William dan Lilis yang keduanya menikmatinnya. Dari situlah William dan Lilis kembali mesra kembali. Hubungannya kembali membaik.


#


Waktu terus berlalu dan bulan demi bulan pun terlewatin. Kandungan Lilis sudah membesar. Bahkan sedang memasuki usia kandungan untuk melahirkan.


Hingga akhirnya Lilis melahirkan dirumah sakit. William terus di sampingnya menemanin Lilis terus dari masa awal kehamilan sampai waktunya melahirkan.


Si kembar juga menyambut kedatangan bayi yang baru lahir. Adik mereka. Dan ternyata bayi tersebut seorang anak cowok.


Kini Lilis suah membawa bayinya pulang kerumah. Di rumah Lilis menggendong bayinya dan diletakkan di box bayi (tempat tidur bayi) yang diletakkan di dalam kamar tidurnya William dan Lilis.


Rafa dan Fatar melihat adik bayi yang baru lahir.


“Wah... dapat adek cowok. Hore. Fatar menang nih. Ada kawan” Fatar kegirangan.


“Yah... Ma... Pa... Kok gak adek cewek seh. Rafa gak ada temennya dirumah dong” Rafa sedih.

__ADS_1


“Kan ada Mama loh sayang” Lilis mengelus  rambut Rafa dengan lembut.


“Papa juga ada loh. Jadi gak usah sedih ya. Kan adek Rafa juga” William tersenyum pada putrinya.


Rafa kemudian tersenyum dan menganggukan kepalanya.


“Pa... Nama adek bayi siapa?” Fatar penasaran.


“Nama adek kalian adalah Dominic Smith. Gimana baguskan?” Tanya William.


“Bagus Pa...” ucap si kembar bersamaan.


#


Sebulan, dua bulan dan tiga bulan berlalu.


Semenjak hari lahirnya Dominic, William semakin sibuk saja. Malam hari, ia akan ikut terbangun saat Dominic bangun dan rewel. Belum lagi jika Dominic menangis, maka Lilis dan William akan sibuk mendiamkannya.


Bahkan William juga ikutan sibuk menjaga Dominic kecil.


Saat ini di pagi hari di kantor William.


Jack memperhatikan keadaan William yang kurang tidur, ia pun mendekatinya.


“Will... jika mau tidur, tidurlah disofa panjang itu. Jangan tertidur di meja kerjamu”


William yang hampir tertidur pun terbangun.


“Ah... Iya. Aku merasa ngantuk sekali”


“Akhir-akhir ini kulihat kau suka mengantuk di kantor. Ada apa?”


“Aku membantu Lilis menjaga Dominic kecil. Setiap malam bayi kecil selalu terbangaun. Waktu baru lahir yang paling parah. Tak ada hari istirahat rasanya. Sekarang agak mendingan, tapi terkadang ia terbangun juga di malam hari. Jika menangis harus perlu tenaga ekstra untuk mendiamkannya. Belum lagi memberikan susu atau membuatkan susu untuk anak. Dan yang paling sulit mengganti popok bayi yang telah ada pup nya” William menjelaskan panjang lebar.


Jack tertawa.


“Dominic sekarang sudah berusia 3 bulan kan?”


“Iya. Dan nanti juga kau akan merasakannya Jack. Bukankah saat ini Tania sedang hamil?”


“Aku tak mau bayiku di urus orang lain. Dominic itu anak kandungku”


“Bukan begitu Will. Ini untuk meringankan kalian. Bukankah kalian sampai kelelahan. Lagian kalian tetap mengawasinya. Hanya saja pengasuh bayi membantu kalian merawat anak kalian yang masih bayi. Pertimbangkanlah.” Jack menepuk pelan pundak William. William pun menganggukan kepalanya. Tak salah juga mencoba yang dikatakan oleh Jack. Begitulah pikir William.


***


Waktu pun terus berlalu.


Di tempat lain di Tiongkok. Lou Ling Ling yang sudah lama tak mendengar kabar putrinya menjadi gelisah. Ia pun segera mendatangi suaminya yang ada di Jerman.


Di Jerman. Di mansion mewah dan penjagaan yang sangat ketat. Lou Ling Ling baru saja tiba. Ia lalu langsung menemui suaminya di ruangan tempat Alexander Luther biasa melihat senjata koleksinya.


“Alex...” Suara Lou Ling Ling datang mendekat.


Alex melihat kedatangan istrinya tiba-tiba.


“Ada apa? Tumben kau kemari tak bilang-bilang dahulu”


“Aku sengaja segera mencarimu lex”


“Kenapa?”


“Apa kau tahu dimana Laura sekarang? Aku sudah lama tak mendengar kabarnya Laura dan Philips?” Lao Ling Ling nampak cemas dan gelisah.


Baru kali ini Alex melihat istrinya begitu.


“Tenanglah. Aku akan menyuruh anak buahku mencari tahu”


Alex segera meminta anak buahnya menyelidiki keberadaan Laura putrinya juga Phlips.


Tiga bulan kemudian.

__ADS_1


Saat ini Alexander Luther dan Lou Ling Ling sedang sarapan bersama. Saat sedang sarapan, seorang anak buahnya datang mendekat ke arah Alex.


Alex menjatuhkan sendok dan garfunya. Ia terlhat syok. Lou Ling Ling menatap suaminya.


Anak buahnya pun selesai memberitahukan Alex sebuah info.


“Ada apa?” Tanya Lou Ling Ling.


Alex menoleh ke istrinya.


“Laura dan Philip telah sudah tiada. Sudah tewas”


Lou Ling Ling kaget. Ia kemudian menangis pilu. Alex segera memeluk istrinya. Kemudian menoleh ke anak buahnya.


“Kau cepat cari tahu siapa dalang sebenarnya dari kematian Laura dan Philips... segera selidiki. Bunuh dia atau bawa dia hidup-hidup ke hadapanku. Aku harus membalasnya” perintah Alex dengan wajah dingin yang menakutkan.


“Baik bos”


***


Beberapa tahun pun terlewatin.


Dominic saat ini berusia 5 tahun. Ia sedang berlari-lari di sekitar halaman yang luas di rumah William.


William dan Lilis menatap ke arah Dominic yang sedang berlari-lari dengan ada pengasuhnya di sisinya.


Dominic tertawa riang dan nampak bahagia. Lilis dan William pun tersenyum ke arah Dominic.


“Hari ini, hari week end yang menyenangkan ya sayang” Lilis tersenyum melihat William.


“Iya sayang. Menyenangkan karena kita berkumpul bersama dan hari-hari kita membahagiakan” William juga tersenyum ke arah Lilis.


“Bagaimana Jack dan Tania?”


“Mereka pasti juga berkumpul berbahagia bersama, apalagi sudah ada anak mereka kan. Keluarganya sudah lengkap”


“Sama seperti kita, berkumpul bersama dan bahagia bersama anak-anak kita. Keluarga lengkap yang bahagia”


“Iya sayangku”


Lilis dan William tersenyum bahagia. Kemudian William memeluk Lilis dan mengecup mesra bibir istrinya.


“Papa.. Mama...” Dominic kecil berlari dan datang ke arah Mama dan Papanya.


William dan Lilis melepaskan ciumannya dan menoleh ke arah Dominic. Sang pengasuh hanya melihat dari samping.


Lilis berjongkok dan memeluk putra kecilnya. William juga melakukan hal yang sama. Mereka berpelukan. Kemudian Rafa dan Fatar juga datang dan ikut memeluk Papa dan Mamanya.


Semuanya tersenyum dan terlihat bahagia bersama.


Happy.


The End (TAMAT).


 


Akhir yang bahagia kan untuk Lilis dan William. Cerita selesai ya :D


No Plagiat ya. Hargai usaha dan kerja keras seseorang dalam berkarya. Jadi katakan tidak pada meniru karya seseorang dan tidak menjiplaknya. No Plagiat. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)


Karya ini sedang mengikutin lomba, jadi mohon dukungannya terus ya kak.


Makasih semuanya. Dukung terus karya ini ya kakak readers semuanya. Akhir kata terima kasih untuk semua pembaca setia yang dari awal sampai akhir mengikutin cerita ini dan terus mendukung karya Rafa dan Fatar ini. Makasih ya :D


Maaf untuk segala kekurangan Author dan typo yang masih bertebaran dimana-mana :D


Yang suka dengan karya ini, Like yang banyak dan vote sebanyak-banyaknya ya kak. Thanks :D


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2