Rafa Dan Fatar

Rafa Dan Fatar
Bab 14.


__ADS_3

William tiba-tiba datang dan menepuk bahunya. Lilis menjadi kaget dan ketakutan. Mendengar suara Lilis yang hampir menjerit tiba-tiba....


“Hei siapa kau?” Dimas tiba-tiba muncul dan menghalangi William yang mendekati Lilis. Tangan William dicekalnya.


“Dimas...” Lilis menoleh. Lalu dilihatnya seorang lagi dengan lebih jelas.


“Yudha...” Lilis nampak bingung.


Dimas melepaskan tangan William.


“Kau siapa?” Ucap Dimas.


“Kau yang siapa?” Ucap William pula.


“Aku Dimas. Dimas Pratama. Temannya Lilis”


“Aku Yudha Hadinata” William menatap Dimas dengan tajam dan dingin.


“Kau mau apa dengan Lilis.” Dimas nampak garang.


“Aku mengenalnya” William tak mau kalah garangnya.


Dimas bisa merasakan tatapan tajam dan dingin dari William. Lilis merasakan ada permusuhan dan segera melerai.


“Hei kalian berdua hentikan. Dimas ini Yudha. Yudha ini Dimas teman ku” Lilis menjelaskan.


Keduanya hanya saling tatap. Namun tatapan dingin yang ada.


“Dim... kau kenapa ada disini?” tanya Lilis ke Dimas.


“Aku lihat ada yang mengikuti mu jadi aku segera menyusul mu” Dimas menjelaskan.


“Dan kau Yudha.. kenapa ada disini tiba-tiba?” Lilis menoleh ke arah William.


“Aku tadi habis pulang meeting. Lalu melihat mu keluar dari cafe itu jadi ku dekati saat sudah sampai sini.” William tidak berbohong. Tadinya ia memang mengikuti Lilis namun teringat dia ada meeting dengan stafnya maka ia segera ke perusahaan. Setelah jam 10 malam ia kembali menjumpai Lilis yang kebetulan sudah selesai kerja dan mau pulang.


“Dia berbohong Lis... dari tadi dia mengikuti mu?” sanggah Dimas.


“Aku tidak bohong. Jika kau tak percaya bisa cek ke pegawai ku.” William membela diri.


“Pegawai mu?” tanya Lilis


“Maksudku para staf ditempat kerjaku” William membenarkan kata-katanya kembali.


“Dia bohong Lis. Mereka pasti sudah satu komplotan.” Dimas tak percaya.


“Kalau tak percaya. Kau cek CCTV kantor ku.”


“Sama saja... pasti sudah akal-akalanmu”


“Ah... sudah lah. Aku pusing melihat kalian berdua. Aku pulang duluan ya...” Lilis langsung naik ke Bis yang baru berhenti.


William dan Dimas pun ikut naik ke Bis tersebut.


“Hey... kalian berdua ngpain ikut? Kita kan gak ada yang searah.” Lilis memandangi Dimas dan Yudha bergantian. Tapi Yudha dan Dimas hanya diam saja.


Akhirnya Lilis memilih diam juga dan tak menghiraukan kedua lelaki tersebut.


Sampai lah Lilis di halte dekat rumahnya. Lilis turun begitu juga dengan William dan Dimas.


Hingga Lilis terus berjalan dan sampai depan rumahnya.


“Sampai kapan kalian akan mengikuti ku?” Lilis berbalik dan melihat Dimas dan William.


“Sampai kau masuk ke rumah.” Jawab Dimas.


“Masuklah Lis” Ucap William juga.


Lilis tak mau ambil pusing. Ia lalu langsung masuk kedalam rumah dan mengunci pintu.


Kini hanya tinggal William dan Dimas.


“Kenapa kau tak pergi juga?” Dimas bertanya.


“Apa urusannya dengan mu? Aku mau kemana tak perlu ijin mu..”

__ADS_1


“Kau jauhi Lilis...” Dimas melarang William.


“Kau tak berhak melarang ku. Kau bukan siapa-siapanya Lilis” William nampak sangat dingin.


“Aku teman Lilis.”


“Hanya teman kan..”


“Kau!!!”


“Kenapa?”


Sebuah panggilan masuk tertera di HP William.


“Kali ini kau kubiarkan. Aku akan pergi” ucap William dan lalu pergi.


Dimas hanya menatap dari kejauhan. Ia nampak tak suka dengan William. Dimas pun lalu pulang juga.


Di tempat lain sebuah mobil menunggu didekat sebuah pinggiran jalan. William mendekat. Lalu masuk ke dalam.


“Tuan?” Jack melihat ke William.


“Ada apa kau menelpon ku Jack?” William masih kelihatan sangar.


“Tadi anda tiba-tiba naik Bis. Saya mengikuti. Dari kejauhan saya lihat ada yang tidak beres. Jadi menelpon anda untuk kembali.”


“Kalau begitu kita segera pulang. Oh iya. Belikan aku sebuah rumah didekat daerah rumah Lilis. Yang paling dekat di rumahnya. Sekarang” Perintah William.


“Untuk apa Tuan?”


“Kerjakan saja”


“Baik Tuan.”


Mobil William pun melaju pergi dan pulang menuju rumahnya.


***


Di rumah kediaman Bram Hartono.


Bram hartono yang sedang didalam kamar melihat foto keluarganya. Yaitu foto dia, istrinya dan Lilis. Ajeng ayu Hartono, Istrinya datang mendekat.


“Iya. Ada apa?” Jawab Bram Hartono.


“Kau lagi melihat foto keluarga kita. Apakah kau merindukan Lilis?”


“Tidak. Aku masih sangat marah dengannya. Dia lebih memilih bayi tak jelas itu ketimbang aku Papanya yang mencintainya dari kecil hingga ia besar.”


“Lalu kenapa terus menatap foto Lilis? Jujur aku sangat merindukannya. Sudah bertahun-tahun lamanya kita tak tahu kabarnya. Aku dengar dari Panji kalau dia bertemu Lilis. Lilis punya anak kembar.”


“Biarkan saja.”


“Apa Mas tak ingin melihat cucu kita?? Lilis punya anak kembar artinya cucu kita kembar.”


“...”


“Mau sampai kapan Mas seperti itu terus. Sudah bertahun-tahun. Lupakan lah Mas. Maafkan Lilis dan terimalah cucu-cucu kita.” Ajeng Ayu Hartono berharap agar suaminya luluh.


“Lupakan saja”


“Kondisimu sekarang kurang sehat Mas... perusahaan bagaimana? Siapa yang akan mengurusnya?”


“Ada Wenny dan Hesti... mereka akan menjaga perusahaan.”


“Aku merasa Wenny dan Hesti punya niat lain Mas...” Dari dulu Ajeng Ayu Hartono tidak terlalu menyukai ibu dan anak itu. Ia selalu merasa kalau Hesti dan Putrinya tidak baik. Tapi mereka pandai bersandiwara di depan orang lain.


“Jangan berpikiran yang aneh. Mereka adalah keluarga kita juga.”


“Lalu bagaimana dengan putri kandung kita. Diluar sana entah bagaimana kehidupannya. Bagaimana cucuc-cucu kita juga hidup.”


“Sudah. Aku tak mau berdebat. Kau tak amau membuatku marahkan. Aku mau tidur.” Bram lalu naik ketas ranjang dan berbaring untuk tidur.


Ajeng Ayu Hartono hanya bisa menghela nafas panjang.


Esoknya....

__ADS_1


Pagi-pagi Lilis sudah hendak berangkat kerja. Lalu didepan pintu ada yang mengetuk pintu.


Tok.. Tok...


“Iya. Sebentar.” Lilis pun lalu membuka Pintu depan. Dan betapa kagetnya ia melihat kalau Ibunya datang ke rumah kontrakannya.


“Mama...” Lilis melihat ibunya.


“Lilis...” Ibunya sudah hendak menangis. Dipeluknya Lilis.


“Mama kangen nak... sangat kangen.” Ajeng Ayu Hartono memeluk Lilis.


“Masuk dulu Ma...” Lilis membawa ibunya masuk kedalam dan duduk diruangan tamunya.


“Mama mau minum apa?” Tanya Lilis.


“Gak usah. Mama Cuma mau ketemu kamu aja Lis..”


“Lilis juga kangen sama Mama. sudah lama sekali tak bertemu. Papa apa kabar Ma?”


“Papa mu kurang sehat Lis. Pulanglah Lis. Ikut bersama Mama” Ajak ibunya.


“Maaf Ma... Lilis gak bisa. Kalau Papa yang mengajak Lilis baru Lilis pulang. Kalau Papa masih marah dan tidak menerima anak-anak Lilis maka Lilis memilih tinggal disini saja.”


“Lis..”


Si kembar lalu muncul.


“Mama...” Ucap Rafa dan fatar bersamaan. Si kembar datang mendekat dan duduk di sebelah Lilis.


“Lis ini anak-anak kamu?” Tanya Ajeng Ayu Hartono.


“Iya Ma... Rafa.. Fatar. Ini nenek kalian?” Lilis mengenalkan Ibunya ke anak-anaknya.


“Halo nek. Salam kenal” Ucap Rafa.


“Nenek apa kabar?” fatar pun menanyakan kabar neneknya.


“Nenek baik. Nenek senang bisa jumpa kalian berdua. Rafa dan Fatar ya...” Kata Ajeng Ayu Hartono.


“Iya Nek...” Ucap Rafa dan fatar bersamaan.


Lilis tersenyum melihat Rafa dan fatar bisa bertemu dengan neneknya. Ajeng Ayu Hartono pun memeluk kedua cucunya. Ia pun menangis.


“Nenek kok nangis?” Tanya Fatar.


“Jangan sedih nek” kata Rafa pula.


“Nenek gak nangis dan gak sedih. Nenek bahagia bisa jumpa kalian berdua.” Ajeng Ayu Hartono tersenyum dan mencium kedua pipi cucunya. Pertemuan yang sudah lama dinantikan. Dan saat sudah bertemu ia ingin meluapkan semua kerinduannya.


“Mama... tau darimana kalau Lilis tinggal disini?” tanya Lilis kemudian.


“Dari Panji. Dia cerita ketemu kamu Lis. Terus dia berusaha cari kamu. Dan kemudian menemukan alamat mu. Makanya Mama kemari. Mama sudah lama ingin bertemu mu Lis.. juga ingin bertemu cucu-cucu Mama.” Air matanya menetes.


“Ma... jangan sedih.” Tutur kata Lilis.


“Iya” Ajeng Ayu Hartono menghapus air matanya.


“Lalu Lilis hanya sendiri saja merawat kedua anak kembar mu?? Kalian hanya bertiga dirumah ini?”


“Iya Ma..”


“Apa kau tidak menikah sekarng Lis...?”


“Siapa yang mau dengan wanita beranak dua. Umur 5 tahun lagi.” Lilis tersenyum getir. Walau banyak yang menggodanya dan mendekatinya tapi semua tak dihiraukannya.


“Lilis begitu sangat cantik. Tak mungkin tak ada yang mau.” Ucap Ajeng Ayu hartono.


“Tenang saja nek... sekarang ada Papa kok?” Ucap si kembar.


“Hah?”


Lilis dan Ibunya saling pandang.


Bersambung...

__ADS_1


 


 


__ADS_2