
“Karena aku sudah menikah. Punya dua anak kembar. Serta istriku juga sangat cantik.” Jawab William dengan tegas.
Vanya tertegun mendengar perkataan William. Ia jadi terdiam.
“Kenapa rupanya Van?”
“Eh... Gak. Cuma tanya aja. Kau mencintai istrimu Will?”
“Tentu saja. Aku sangat mencintai istriku. Dia sudah banyak menderita karena aku. Aku harus membahagiakannya”
“Beruntung sekali ya istrimu. Siapa namanya?” Vanya jadi penasaran.
“Istriku namanya Lilis. Dulu namanya Lilis Hartono. Setelah menikah denganku berubah menjadi Lilis Smith. Mengikuti nama marga keluargaku. Begitu juga anak kembarku juga mengikutin nama margaku”
“Siapa nama anak-anakmu?”
“Rafa Smith adalah anak cewek yang manis. Suatu saat pasti menjadi gadis yang cantik. Dan Fatar Smith adalah anak cowok yang tampan. Suatu saat akan menjadi setampan Papanya.”
“Hahaha... memuji diri sendiri yak...”
“Hey. Aku kan memang tampan. Iya kan” Tatap William dengan serius di hadapan Vanya. Alis matanya dinaikan sebelah.
Vanya susah payah menelan salivanya. Iya. William sangat tampan. Vanya membuang mukanya dan menatap arah lain. Ia berusaha menahan gejolak yang ada di hatinya.
“Iya deh.” Akhirnya Vanya mengiyakan.
“Lalu urusan apa kau kemari? Hanya mencari dan bertanya padaku kah?” William mulai curiga.
“Aku hanya bertanya saja. Kita bertemankan. Kau mau kan jadi temanku” Vanya tersenyum ke arah William.
“Oke. Baik. Tapi biasanya aku hanya menjaga jarak dengan wanita lain”
“Kenapa begitu?”
“Aku tak mau menyakiti hati istriku, wanita yang ku cintai”
“Oh... Irinya” Vanya terlihat sedih.
William mengkerutkan keningnya.
“Sudah ya. Cuma hanya ini saja kan. Aku harus segera kembali. aku masih ada meeting.”
“Ya. Baiklah. Itu saja”
William pun pamitan dan melangkah pergi. Ia harus kembali karena ada meeting dengan anggotanya. Sedangkan Vanya, ia memilih kembali ke mobilnya untuk pulang.
***
Dua bulan pun berlalu.
Lilis kini sudah mahir dalam bertarung. Pelatihan ketat dan rutin yang ia lakukan akhirnya mendapatkan hasil. Ia sudah bisa melakukan pukul, tendang dan bahkan tinju juga. Baik itu karate atau pun kick boxing. Ia sudah mempelajarinya.
“Oke Lis. Aku rasa pelatihan selama dua bulan ini sudah cukup. Kau hanya perlu rutin terus berlatih. Latihan sendiri pun sudah bisa” Ucap Stuart.
“Oke. Makasih” Lilis tersenyum.
“Lalu bisakah kau juga mengajariku dalam memakai senjata?” Sambung Lilis kembali.
Stuart melihat ke arah Lilis dengan tatapan aneh.
“Kenapa? Bukankah kau ingin untuk melindungi diri saja Lis?” Tanya Stuart.
“Aku juga mau belajar cara menggunakan senjata. Baik itu pistol, pisau, panah dan lainnya”
Stuart berpikir sebentar.
“Baiklah. Esok kita bisa mulai mempelajarinya”
“Terima kasih pelatih Stuart” Lilis tersenyum bahagia.
Sore harinya.
William sudah sampai rumah. Ia ke kamarnya berganti pakaian dengan pakaian santai. Lalu ke ruang baca tapi langkahnya terhenti karena melihat anak kembarnya sedang menonton berdua saja di ruang keluarga. William pun bergabung dengan anak-anaknya.
“Rafa... Fatar... sudah dari tadi kalian pulang kah??” William duduk disamping anak-anaknya.
“Sudah Pa. Siang saat pulang sekolah kami sudah sampai rumah” jawab Rafa melihat Papanya.
“Mama dimana? Kenapa Papa jadi jarang melihat Mama dirumah belakangan ini?” William tak melihat Lilis dirumah.
“Mama palingan latihan Pa. Sudah dua bulan ini Mama latihan bela diri. Pa... Kapan kami juga latihan bela diri” Ujar kata Fatar ke Papanya.
William memandangi wajah anak kembarnya. Ia pun berpikir. Mungkin saatnya si kembar di ajarin bela diri. Ia akan mencari pelatih untuk si kembar.
“Baik”
“Beneran ya Pa”
“Iya nak”
Kedua anaknya kegirangan dan William pun tersenyum.
Malam pun tiba dan William makan malam bersama kedua anaknya. Kemudian si kembar masuk ke kamarnya masing-masing. William pun kekamarnya. Saat malam hari barulah Lilis pulang.
Lilis masuk kamar dan langsung mandi kemudian berpakaian pakaian tidur. William yang melihat Lilis pun segera menghampirinya.
“Sudah pulang sayang?”
“Iya”
“Sudah makan?”
“Sudah. Aku makan diluar”
__ADS_1
Lilis menuju ranjangnya. William juga ikut naik ke ranjang dan berada disebelah Lilis. Ia mendekatin Lilis dan ingin memeluknya. Tapi Lilis refleks masih menghindarinya.
“Sampai kapan sayang?”
“Apanya?”
“Sampai kapan kau akan begini?”
“Aku kenapa?”
“Ah... Sudahlah” William akhirnya tidur dengan mempunggungi Lilis
Lilis menatap William yang tidur. Ia merasa bersalah. Tapi ia merasa masih belum bisa. Malam semakin larut dan Lilis pun akhirnya tertidur lelap.
***
Esok Paginya.
William yang sudah sarapan pun buru-buru pergi ka kantor sedangkan si kembar yang sudah sarapan pun segera berangkat ke sekolah.
Tinggallah Lilis seorang diri di rumah. Ia pun bermaksud mengunjungi butiknya hari ini. Pergilah ia ke butiknya setelah selesai sarapan.
Sesampainya di butik, Lilis mengecek semua hal yang ada. Jika ada persediaan yang mulai habis atau perlu pakaian baju baru maka Lilis akan segera menyiapkannya. Ia merancang beberapa desain dan menyuruh beberapa anak buahnya meneruskan menyiapkan pakaian tersebut.
Siang harinya, Lilis pergi makan siang bersama Tania di sebuah cafe yang letaknya tak jauh dari butiknya Lilis. Mereka makan spageti dan minumnya jus orange. Kedua wanita itu makan dengan tenangnya. Setelah selesai makan siang, Lilis pun menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dan William kepada Tania.
“Jadi menurutmu bagaimana Tan?”
“Lis... Kalian kan sudah menikah, lalu mau sampai kapan kau akan menghindari William. Jangan sampai ia pindah ke lain hati loh”
“Jangan begitu Tan”
“Ya bagaimana pun William itu pria Lis. Pasti keinginannya sebagai pria ingin berdekatan dengan istrinya itu wajar Lis. Apalagi kalau harus sampai berhubungan layaknya suami istri di ranjang. Lis, masa lalu biarlah berlalu. Toh William tak pernah mempermasalahkan hal itu kan”
“Tapi aku merasa diriku hina dan menjijikan Tan. Seakan aku tak pantas lagi untuk William”
“Lis. Hentikan kata-kata itu. Apa William pernah mengatakan ia keberatan dan membencimu. Tidak kan. Dia masih sangat mencintaimu. Dia menerima mu apa adanya.”
“Aku masih belum bisa Tan”
“Hapus bayangan mengerikan itu Lis. Ingat rumah tangga mu masih harus dipertahankan. Ingat kebahagian si kembar juga. Kau masih mencintai William kan?”
“Iya. Kau benar Tan. Aku harus berusaha menghapus bayangan gelap itu”
“Nah. Gitu dong. Jangan sampai ada pihak lain yang menyela dia antara kau dan William”
Lilis terdiam dan mencerna semua perkataan Tania sahabatnya itu. Benar juga kata Tania. Ia harus menjaga rumah tangganya. Ia harus melupakan kejadian gelap yang sudah berlalu. Walau itu sulit, tapi ia harus mencobanya.
Setelah itu Tania dan Lilis meninggalkan cafe. Mereka bermaksud hendak berjalan-jalan ke Mall. Sampai di Mall, Lilis dan Tania singgah ke beberapa toko. Melihat-lihat banyak barang. Tania dan Jack hendak menikah. Jadi Tania pergi berbelanja bersama Lilis ke Mall. Melihat-lihat beberapa barang yang bagus untuk di jadikan souvenir nanti dihari pernikahannya.
Saat sedang berjalan-jalan ke toko satu ke toko lainnya. Tak sengaja Lilis dan Tania melihat William juga ada di Mall tersebut. Tapi William berdua dengan seseorang. Dia seorang wanita. Dan itu adalah Vanya.
Semenjak kejadian Vanya meminta berteman dengan William, semenjak itulah Vanya selalu mencari cara untuk bertemu dengan William. Kadang masalah model lah yang dibahas Vanya, kadang masalah produk-produk mereka atau terkadang Vanya iseng saja menemui William.
William karena masalah pekerjaan, jadi ia bersikap biasa saja. Dan saat ini mereka berdua ke Mall karena habis mengunjungi salah satu toko perhiasan dan kosmetik milik Vanya yang ada di Mall tersebut.
“Lis.. Itu William kan?” Tania menunjuk ke William.
Lilis melihat arah yang di tunjuk Tania. Dan benar itu William.
“Iya. Itu William”
“Ngpain dia di toko perhiasan itu? Itu siapa yang bersama William?”
“Entahlah...” Lilis mengangkat kedua bahunya.
“Kita samperin yuk”
“Oke”
Kesanalah Tania dan Lilis. Vanya dan William belum melihat kedatangan Lilis bersama Tania.
“Will... Menurutmu ini bagaimana?” Vanya menunjukkan salah satu koleksi kalung berlian yang mahal milik tokonya.
“Bagus. Ini bisa dijadikan salah satu promosi selanjutnya. Salah satu model kami bisa memakainya saat pemotrekkan selanjutnya nanti”
“Dengan kosmetik yang tadi kita datangi pasti cocokkan sekalian dipadukan saat dilakukan sesi pemotrekan”
“Iya. Kurasa juga bisa”
Lilis sampai di dekat William bersama Tania juga.
“Ehem...” Tania berdeham.
William dan Vanya menoleh ke asal suara tersebut.
“Eh Tania... Loh Lilis juga” William melihat Tania dan Istrinya.
“Sayang... sedang apa kau disini?” Lilis berdiri di samping William.
“Oh... sedang meninjau beberapa hal yang akan di iklan kan oleh perusahaan kami. Kali ini perusahaan I.S bekerja sama dengan perusahaan J and Co. Ini Vanya Steele Direktur utamanya” William memperkenalkan Vanya ke Lilis.
Vanya mengulurkan tangannya.
“Halo. Aku Vanya Steele.”
“Halo. Aku Lilis Smith” Lilis menyambut uliran tangannya Vanya.
“Kalau aku Tania Putri Siregar. Tunangannya Jack dan sekaligus sahabatnya Lilis” Tania bergantian berjabat tangan dengan Vanya.
“Vanya Steele” Ucap Vanya.
“Oh... Jack yang selalu bersamamu kan Will. Oh Nona Tania ini ya calon istrinya” Vanya menoleh ke William.
__ADS_1
“Iya. Benar. Bukankah Jack memesan cincin di toko perhiasanmu?’
“Ah... Iya”
Lilis dan Tania saling pandang. Cincin di toko perhiasannya.
“Apa kau bilang? Jack memesan cincin di toko mu?” Tania bertanya ke Vanya.
“Iya. Lagi tahap desain dan pembuatan. Katanya untuk calon istrinya. Ups. Aku malah membocorkan. Hehe... bilang saja belum tahu ya” Vanya mengkerlingkan sebelah matanya pada Tania.
“Baiklah.” Tania menganggukan kepalanya.
“Oh iya. Kami hendak makan siang bersama. Kalian mau ikut?” Ajak William ke Lilis dan Tania. Lilis dan tania sudah makan siang bersama tadi. Tapi karena ingin ikut jadi mereka menganggukan kepalanya saja.
Pergilah mereka berempat kesebuah salah satu tempat makanan yang ada di Mall tersebut.
Lilis dan Tania hanya memesan minum. Tania jus melon dan Lilis jus orange. Sedangkan William memesan nasi plus ayam geprek dengan minumnya Jus kuini dan Vanya memesan sama seperti menu William. Saat mereka berempat menikmatin makanan dan minumannya. Tania terpaksa harus kembali pulang. Salah satu anak buahnya di cabang restorannya menelepon karena masalah intern restoran. Tania pn pamitan.
Tinggallah Lilis bersama William dan Vanya.
“Aku ke toliet sebentar ya.” William bangkit dan menuju ke arah toilet.
Tinggal Lilis bersama Vanya.
“Kok tidak pesan makanan? Hanya minum saja?” Vanya bertanya ke Lilis sambil menghabiskan suapan terakhir makanannya.
“Aku sudah kenyang. Jadi hanya pesan minuman” Jawab Lilis santai.
“Apa kalian hanya berdua saja. Kemana para asisten dan seketaris kalian berdua?” Tanya Lilis selanjutnya.
“Oh... Untuk urusan ini kami bisa melakukannya berdua”
“Hanya berdua saja”
“Iya. Hahaha..” Vanya tertawa tiba-tiba.
Lilis mengkerutkan keningnya.
“Apa yang lucu?”
“Aku merasa sedang di introgasi olehmu”
“Oh iya kah?” Lilis pura-pura tak mengerti dengan ucapan Vanya.
“Iya. Apakah kau mencurigai aku dan William?”
“Apa maksudmu?”
“Hem... Tapi mungkin kau harus curiga. Aku lebih sering bertemu William dari pada kau kan? Ku dengar dari William, istrinya sering menyibukan dirinya sendiri bahkan menjauhi dirinya. Benarkan?” Vanya menatap lurus ke Lilis dan tatapannnya tajam.
“William yang mengatakannya.”
“Iya. Dia butuh teman bicara dan ada aku di sisinya”
“...” Lilis diam di depan Vanya. Kenapa William bisa jadi sedekat ini dengan Vanya? Hubungan mereka sudah sampai sejauh apa? Begitulah pikir Lilis.
“Kau mencurigai suamimu sendiri kah?? Aku kecewa saat sudah melihatmu langsung”
“Maksudmu?”
“Kalau begini, aku bisa saja merebut William darimu”
Lilis menatap tajam ke arah Vanya. Sebaliknya Vanya juga menatap tajam ke Lilis. Kedua mata mereka berdua berkilat-kilat. Seperti ada api yang membara.
Dalam hati Lilis : ”Apa mau dia? Merebut William? Jangan harap. Aku akan tetap mempertahankan rumah tangga kami”
Bersambung....
Sepertinya bakal ada perang nih...hihi... Semangat Lis. Pertahankan rumah tanggamu.
Yang suka dengan karya ini, ikutin terus kisahnya sampai akhir ya kakak readers semuanya :)
No Plagiat ya. Hargai usaha dan kerja keras seseorang dalam berkarya. Jadi katakan tidak pada meniru karya seseorang dan tidak menjiplaknya. No Plagiat. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)
Karya ini sedang mengikutin lomba, jadi mohon dukungannya terus ya kak.
Cara mendukungnya gampang yaitu :
1. Like semua episodenya / bab-nya ya kak. Dibaca juga semua babnya :)
2. Klik Vote setiap hari dan setiap saat ya kak. Dan setiap hari senin juga :D
3. Klik Favorite juga ya kak
4. Selalu berikan dukungannya ya kak setiap saat :D
5. Tinggalkan komen ya kak :)
6. Kasi bintang 5 ya kak untuk karya ini sebagai menyukai karya ini dan apresiasi ke karya saya ini.
Makasih semuanya. Dukung terus karya ini ya kakak readers semuanya, biar Author semangat UP ceritanya. Love you all :)
Karya ini akan segera Tamat, akhir bulan ini rencananya akan di Tamatkan. Jadi Vote yuk kak yang banyak dan Like sebanyak-banyaknya. Thanks :D
Tembus 200 lebih like segera di UP kembali.
__ADS_1