Rafa Dan Fatar

Rafa Dan Fatar
Bab 34.


__ADS_3

“Halo...” Ucap William.


“Hahahaha....” Hanya suara tawa terdengar. Dan suara ini bukan kah yang pernah menelpon William dengan suara yang disamarkan itu.


“Kau...!!!” Seru William.


“Kau masih ingat rupanya” ucap suara diseberang sana.


“Kau siapa rupanya??? Apa mau mu dari ku hah?? Kau yang memberi tahukan ke Lilis kah??”


“Aku max...”


“Max??? Kau Max...” William terkejut dan membelalakkan matanya.


“Bagaimana bisa kau mengetahuiku..” Ucap William kembali.


“Aku tak sengaja tahu tentang dirimu.. Dan ku dengar kalau kau mengejarku. Bagaimana? Kau suka hadiah dariku. Aku mengetahui rahasiamu saat mencari tahu tentangmu. Ku harap kau suka hadiahku. Hahaha...” Kemudian telepon diputuskan dari sebarang sana.


“Sialan... berengsek kau...” Umpat William kesal. Lalu di lemparnya HP-nya kelantai. Sontak semua yang didekat William kaget melihat kearah William.


William melanjutkan minum minuman kerasnya. Jack menelpon. Tapi tak digubris William. Ia lalu melakukan lacak lokasi melalu GPS dengan posisi letak HP William. Syukur saja walau HP William dibantingnya tadi masih tetap menyala. Walau kaca layarnya mulai retak. Jack yang melihat lokasinya langsung segera mendatangi William.


Sesampainya ditempat, Jack cukup kaget melihat keadaan William. Ia tak pernah melihat William seperti itu. Jack datang dan mendekat. Duduk disebelah William.


“Ada apa Tuan?”


“Pergi kau Jack. Jangan ganggu aku...” William menegak 1 botol minuman keras langsung ke mulutnya.


“Aku dari tadi menelpon mu. Menanyakan bagaimana selanjutnya. Restoran sudah ku booking untuk mu dan Lilis. Semua yang kau minta sudah kusiapkan. Tapi tak ada kabar darimu terus. Akhirnya aku mencarimu kesini”


“Lupakan saja... Mungkin hal itu akan susah terwujud.” William mengusap wajahnya dengan kasar.


“Terjadi sesuatu kah Will...”Jack memanggil nama William dengan sebutan namanya waktu kecil.


William menoleh ke Jack. Ia bersandar ke Jack.


“Lilis... Lilis... Ia sudah tahu semuanya. Ia marah, ia terluka, ia membenciku Jack” Air mata William mulai mengucur. Ia lelaki tangguh pun bisa seperti itu karena wanita yang dicintainya.


Jack mulai mengerti situasi yang terjadi. Ia menepuk bahu William dengan pelan.


“Sudah ku katakan seharusnya dari awal kau jujur saja. Kau malah ingin menyamar dan mendekatinya. Apakah sekarang luluh Lilisnya??”

__ADS_1


“Jangan mengejek ku Jack.” William kembali tegak dan mulai minum-minum kembali.


“Kemana kepercayaan dirimu Will...  Bukan kah kau pintar dan tampan. Gunakan kecerdasanmu Will”


Namun William tetap terus-terusan minum minuman keras.


“Mabuk tak akan menyelesaikan masalahmu Will.. Apa kau tak jadi melamar dan menikahi Lilis?? Apa kau tak jadi ingin membahagiakan Lilis dan kedua anak kembarmu Will???”


“Aku tak tahu harus bagaimana Jack...” Lirih kata William.


Jack bisa melihat kegundahan dan kesedihan William. Ia merasa iba dengan William.


“Minta maaflah ke Lilis...”


“Sudah ku lakukan. Tapi...”


“Terus dicoba... teruslah meminta maaf dengan sungguh-ungguh. Jika dia melihat ketulusanmu suatu saat dia akan menerimamu kembali Will”


“Bisakah itu Jack...”


“Percaya dirilah Will..”


Jack menemanin William semalaman di Club Malam tersebut. Jack tak mungkin meninggalkan William yang lagi terpuruk itu.


Esok harinya...


Setelah Lilis mengantarkan Rafa dan Fatar ke sekolah, ia kembali pulang ke rumah. Lilis tak ingin masuk kerja. Ia berniat untuk berhenti kerja. Ia tak mau bertemu William. Namun ia bingung harus kerja apa dan dimana. Anak anaknya sudah bersekolah. Jadi dia butuh biaya banyak untuk biaya hidup mereka bertiga. Apa ia harus minta bantuan Tania kembali kah. Namun ia bingung.


Seharian Lilis di rumah. Ada sekitar 15 kali telepon dari Ivanka. Ivanka menelpon bolak balik ke HP Lilis. Tapi tak diangkat Lilis. Ia bingung harus bagaimana mengatakannya ke Ivanka. Kemudian ada panggilan masuk kembali ke HP Lilis dari William. Lilis pun tak mau mengangkatnya. Sekitar 30 panggilan tak terjawab dari William dan 20 pesan chat dari William. Semuanya tak dihiraukan oleh Lilis. Setelah lama cukup hening, HP-nya kembali berdering. Lilis melihat kalau Tania yang menelponnya. Tapi Lilis juga tak mengangkat panggilan tersebut. Seharian ini Lilis hanya diam dan uring-uringan dirumahnya. Berkurung diam didalam rumah.


Tak berapa lama terdengar ketukan pintu dari pintu depan rumahnya. Bahkan ada yang memanggil namanya. Lilis bergerak menuju pintu depan. Dibuka pintunya. Ternyata Tania yang datang. Tania masuk kedalam. Lilis menutup kembali pintu rumahnya. Kini Lilis dan Tania duduk bersama di sofanya yang berada di ruangan tamunya.


“Lis... ku telpon kok gak diangkat seh??”


“Maaf Tan...” Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Lilis.


“Kenapa? Kok gak kerja? Terus kok gak diangkat teleponku?? Gara-gara itu aku sampe mencarimu. Karena gak jumpa di tempat mu bekerja, aku langsung ke rumahmu. Syukur kau dirumah”


“...” Lilis hanya diam.


Tania menyadari ada sesuatu yang terjadi. Dilihatnya Lilis nampak beda.

__ADS_1


“Kau sakit Lis...? karena itukah kau dirumah saja tak masuk kerja?” Tania berpikir kalau Lilis mungkin sakit karena itu ia tak bekerja dan dirumah saja.


“Bukan Tan... Aku...” Akhirnya Lilis menceritakan semuanya ke Tania. Tumpah sudah air mata Lilis. Ia kembali menangis. Tania memeluk Lilis dengan erat.


“Jadi selanjutnya bagaimana Lis...?” Tanya Tania setelah Lilis sudah menceritakan segalanya ke Tania.


“Aku tak tahu Tan... Aku gak tahu harus bagaimana”


“Lis... Aku paham perasaanmu. Aku mengerti yang kau rasakan. Tapi Dia adalah Papa dari anak-anakmu Lis... Tak bisakah kau beri kesempatan kepadanya. Dan jujurlah juga, bukan kah dihatimu masih ada cinta untuk William.”


“Tapi aku gak bisa Tan... Dia adalah Pria yang pernah merusak dan menghancurkan masa depanku. Karena dia, Papa marah dan kecewa padaku. Aku hamil kemudian diusir oleh Papaku sampai tidak dianggap anak. Kau pasti ingat semua masa-masa sulit ku kan Tan... Sulit bagi ku untuk memaafkannya.”


“Aku Paham... Jika kau butuh bantuan ku katakan saja Lis...”


Kedua orang tersebut saling berpelukan. Tania berusaha menghibur Lilis. Ia tahu saat ini Lilis sedang sedih dan mungkin sangat terluka.


Lilis awalnya memang ingin kejujuran dari William. Namun ia takut untuk mengetahui kejujuran tersebut. Jadi ia berharap agar William menyangkal dan mengatakan semua itu bukan dia. Karena Lilis tak ingin kebahagian yang sudah ada malah rusak. Tapi ternyata William mengakuinya. William memberikan kejujurannya yang sama sekali di takuti oleh Lilis. Karena jika Lilis sudah tahu kebenaran tersebut maka ia akan susah, susah sekali untuk menerimanya. Bagaimana mungkin bisa menerima orang yang di cintainya dan di percayainya adalah orang yang dulu pernah mencelakainya.


Rasanya bumi runtuh saat Lilis menemukan dan mengetahui kebenaran tersebut.


Disisi lain.


William mengecek kalau Lilis ternyata tak masuk kerja. William berpikir mungkin Lilis hendak berhenti bekerja. Bagaimana kalau Lilis benar-benar berhenti. Ia tak akan bisa bertemu dengan Lilis kembali. Apa yang harus dilakukan. William benar-benar bingung dan tak tahu harus bagaimana. Jika menghadapi musuh ia bisa dengan beringas menghajarnya. Jika menjalankan misi ia bisa menuntaskannya. Dan jika bekerja, memimpin perusahaannya atau bertemu klien itu gampang dilakukannya. Namun saat harus berhadapan dengan orang yang disayang apalagi orang yang disayangnya terluka karena dirinya maka ia tak tahu harus bagaimana.


Jack memperhatikan prilaku William. Jack pun melihat kalau William uring-uringan seharian ini dikantor. Bahkan saat ini William diam termenung duduk di kursi Presdirnya. Tanpa berkata apa pun seharian ini. Bahkan semua kerjaannya, Jack yang menghandelnya. Jack menjadi gelisah melihat William. Pasalnya William tak pernah berperilaku seperti itu. Jadi bisa disimpulkan kalau William benar-benar jatuh cinta kepada Lilis. Itulah pikir Jack.


Jack kemudian kepikiran seseorang. Ia lalu melakukan panggilan tanpa sepengetahuan William.


“Halo...” Ucap suara disebarang sana menjawab telepon dari Jack.


 


Bersambung...


 


Jangan Lupa Klik Vote dan Favorite ya kakak-kakak Readers semuanya. :)


Di like juga semua episodenya ya kak. Tinggalkan Komennya juga. Dukungan kalian akan sangat berarti agar Authornya semangat dan bisa UP cerita secepatnya. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)


 

__ADS_1


 


__ADS_2