
“Sial. Dimana kau sayang? Kenapa perasaan ku tidak enak saat ini” keluh William.
William segera berpakaian. Dan ia harus segara mencari Lilis. Hati William benar- benar gelisah. ia mempunyai pirasat tidak baik. Seakan sesuatu hal buruk akan terjadi.
William berpapasan dengan Katty di ruang tengah. Katty yang melihat William yang nampak panik segera memanggil William.
“Will...” Panggil Katty.
William menoleh ke Katty.
“Maaf Kat. Aku buru-buru.”
Namun Katty menghalangi William dengan menarik lengannya.
“Kenapa? Ada apa? Katakan padaku? Apakah ada masalah?” Katty menatap lurus ke arah William. Ia bisa melihat kalau William nampak gelisah dan cemas.
“Lilis dalam bahaya. Aku harus segera mencarinya.”
“Aku ikut Will.”
“Tidak Kat. Ini bahaya. Sebaiknya kau cari Jack dan bawa bala bantuan bersama Jack.”
Tanpa menunggu jawaban dari Katty, William langsung pergi dan segera menaiki mobilnya.
Katty menelepon Jack. Namun nomor Jack sedang sibuk terus.
“Sial” Umpat Katty.
Tepat saat Katty sedang mengumpat, Fatar lewat karena ingin mengambil air ke dapur.
“Eh Tante...” Sapa Fatar.
Katty menoleh ke Fatar. Ia lalu teringat sesuatu.
“Fatar... Apakah alat ciptaanmu sudah selesai?”
“Oh... sedikit lagi Tan. Kenapa?”
“Mamamu mungkin dalam bahaya. Bisakah kau selesai kan sekarang?”
Fatar pun menganggukan kepalanya.
Fatar tak jadi ke dapur, ia malah balik ke kamarnya dan Katty mengikutin dari belakang.
Didalam kamar Fatar.
“Aku akan menyelesaikannya sekarang Tan. Tunggulah sedikit lagi.”
“Ya.” Katty menganggukan kepalanya.
Katty juga bersiap membuka laptop yang dipakainya punya William. Katty menghubungi markas divisinya di inggris. Ia ingin menghubungi Ben.
Di lain sisi.
Lilis sudah mengendarai mobil cukup jauh. Ia masuk ke sebuah semak-semak jauh dari keramaian. Didalam jauh disana, ada sebuah rumah kosong tua. Lilis menghentikan mobilnya. Ia menatap layar hapenya. Sudah sesuai dengan share lokasi dengan yang diberikan Wenny.
Lilis membuka sebuah kotak. Tadi ia sempat ke ruang baca William. Dan menemukan sebuah pistol. Ia bawa untuk berjaga-jaga.
Lilis turun dari mobilnya. Pistol di selipkannya di bajunya. Ia pun berjalan memasuki rumah tua tersebut.
Saat didalam ia melihat sekeliling. Tak ada siapapun. Hanya beberapa barang yang berdebu atau beberapa barang yang sudah rusak tak terpakai.
Sebuah langkah kaki datang mendekatin Lilis. Lilis melihat asal suara langkah kaki tersebut.
Terlihatlah Wenny di hadapannya.
“Kau sudah datang rupanya. Bagus. Berani juga kau datang sendirian Lis” Wenny menatap Lilis dengan senyuman sinisnya.
“Untuk mu aku pasti akan datang. Akan ku balas atas apa yang menimpa kedua orang tuaku.” Lilis nampak garang.
“Kau bodoh ya... Hahahaha”
“Apa maksudmu Wen?? Dan apa yang kau tertawakan.”
Tepat setelah itu,banyak beberapa pria asing yang muncul. Sekitar 20 orang banyaknya. Lilis nampak bingung dengan situasi tersebut. Bahkan Nona bertopeng dan Pria bertopeng juga muncul.
“Kau...” Seru Lilis menatap ke arah Nona LL yaitu Laura Luther.
“Halo... Selamat atas pernikahan kalian. Aku ingin mengucapkan langsung. Sekalian memberikan kado langsung kepada dirimu Lis” Senyum Laura dengan mengerikan.
“Kau siapa sebenarnya? Kenapa kau menutupi wajahmu dengan topeng kupu-kupu hitam itu? Tanya Lilis ke Laura.
“Aku.. Aku hanya masa lalu William.”
“Masa Lalu?” Lilis mengkerutkan keningnya. Ia tak paham.
Lilis menatap ke arah Wenny.
“Wen... kenapa kau lakukan semua ini? Tak puaskah kau menyiksa oarang tuaku dan mendapatkan semuanya? Mau sampai kapan kau akan begitu? Bahkan Tante Hesti sekarang sudah masuk penjara karena membantumu. Sampai kapan dendam ini akan berakhir?”
__ADS_1
“Sampai kau mati Lis. Aku tak akan puas kalau kau belum menderita. Apanya yang semua ku dapatkan. Semuanya sudah kau ambil kembali. Bahkan Mas Panji menceraikanku.”
“Itu karena kau tak berubah Wen. Kalau kau berubah, pasti Mas Panji akan mencintaimu”
“Omong kosong. Saat ini Mas Panji keluar negeri melakukan perjalanan bisnisnya. Dan di hati dia itu cuma hanya ada kau. Maka kau harus ku hancurkan. Mas Panji tak bisa ku miliki maka kau yang harus menerima hukuman dariku”
“Kau gila Wen... Kedua orang tuaku sudah begitu baik padamu. Tapi kau tega membunuh mereka. Kau jahat Wen.”
“Biar saja. Itu pantas untuk mereka. Sama pantasnya kau akan disini menerima hukumanmu.”
“Apakah ini jebakan?” Lilis memandang ke Wenny.
“Kau bodoh ya. Sudah tahu jebakan, kenapa malah kemari? Hahahah....” Wenny tertawa keras.
“Lalu bagaimana kalian sekarang bisa berkerja sama?” Lilis menatap Wenny dan Laura bergantian.
Laura kini membuka suaranya.
“Aku tentu mencari musuhmu. Musuh dari musuh adalah teman. Jadi aku tahu kau dan Wenny berseteru. Sehingga aku mencari Wenny dan mengajaknya berkerja sama. Aku yang meminta Wenny untuk membawamu kemari. Dan kau terpancing.” Laura sedang memegang sebuah senjata.
Lilis menatap waspada. Begitu banyak anak buah wanita bertopeng itu. Bahkan mereka semua memegang senjata. Aku harus bagaimana? Keluh Lilis dalam hati.
“Kau memang bodoh Lis. Masuk jebakan dengan mudah. Hanya karena aku mengajakmu bertemu berduaan”
“Kau yang bilang hanya sendirian dan hanya kita. Tapi nyatanya kau curang Wen...” Lilis nampak kesal dengan Wenny.
Baik Wenny dan Laura sama-sama tertawa. Tawa keduanya mengerikan. Bahkan senyuman jahat terlukis di wajah keduanya.
“Kenapa wanita sepertimu bisa bersama William dan menikah dengannya? Sungguh aneh. Apa kalian sama bodohnya.” Laura mengelengkan kepalanya.
“Aku pikir William bakal pintar dan hebat dalam memilih pasangan, nyatanya wanita bodoh sepertimu yang dinikahinya. Kemari sendirian dan masuk jebakan. Bukan kah bodoh.”
Lilis mengeluarkan pistolnya. Ia mengarahkan ke hadapan Laura dan Wenny. Semuanya terdiam.
Kembali ke ruangan kamar Fatar.
Fatar yang berusaha membuat chipnya sempurna akhirnya membuahkan hasil.
“Tante... Chip ku sudah selesai. Bisa kita pakai sekarang.”
“Good boy. Kau hebat Fatar.” Katty tersenyum manis. Ia menerima chip dari Fatar.
Katty langsung memasang chip tersebut dengan alat yang di hubungkan ke laptopnya. Ia mulai mengotak-atik laptopnya.
Rafa yang kebetulan lewat, melihat cahaya kamar Fatar menyala. Ia pun ikut masuk.
“Ada apa ini? Sudah malam begini. Sedang ngpain?” Rafa menghampiri Katty dan Fatar.
“Oh...” Rafa memperhatikan dari samping.
Katty begitu sibuk dengan layar laptopnya. Ia kemudian menghubungi Ben... terdengarlah suara Ben dari Hapenya yang di loudspeakerkan. Sedangkan tangannya masih sibuk di keyboard laptopnya.
“Hai Kat...”
“Hai Ben...Bagaimana? Sudah kau temukan data yang ku minta cari”
“Kat. Karena mu aku terpaksa memakai kode rahasia pin divisi kita untuk membuka keynya.”
“Lalu hasilnya bagaimana?”
“Nona LL adalah Laura Kat.” Ucap Ben diseberang sana.
“Laura?”
“Iya. Laura Luther. Anak dari bos Mafia besar dari Jerman Alexander Luther. Dan Ibunya seorang ketua gangster terkenal dari Tiongkok yaitu Lou Ling Ling.”
“Kau sudah yakin kan Ben?”
“Iya. Aku yakin. Tapi kenapa kau mencari datanya. Apa kau sedang bermasalah dengannya? Sebaiknya jangan Kat. Dia putri Bos Mafia. Akan sangat berbahaya.” Ben terlihat kuatir.
“Dia memegang chip yang di minta bos V untuk menemukannya. Chip yang hilang karena dicuri itu. Jadi mau tak mau aku harus tetap berurusan dengannya”
“Bukan kah tugas tersebut sudah di tugaskan ke William? Dan kau melapor kalau William sudah kembali. ia masih hidup.”
“Iya. Aku tahu. Tapi aku sedang membantu William. Ok Ben.Thanks atas bantuanmu.”
“Berhati-hatilah kat” Ucap Ben.
“Ya.” Katty mematikan teleponnya. Ia kini menelepon William.
William masih melajukan mobilnya. Ia menatap layar GPS di layar mobilnya. Ia melacak keberadaan Lilis dari GPSnya. Hape William berbunyi. Ia segera menerima telepon masuk tersebut.
“Iya Kat. Ada apa?” William menyetir dengan kecepatan penuh. Syukur saja jalanan sunyi saat ini, jadi WIlliam ngebut pun tak ada masalah.
“Aku sudah menemukan infonya Will. Nona LL ternyata benar adalah Laura Luther. Tebakan kita benar.”
“Ternyata memang Laura”
“Iya Will. Berhati-hatilah.”
__ADS_1
“Pasti” William menutup teleponnya. Ia fokus menyetir.
“Lis... Sayangku. Tunggulah aku sayang.” Gumam William.
Katty masih mengotak-atik laptopnya. Ia masih menggunakan chipnya Fatar. Untuk menemukan lokasi Laura sekaligus mencari keberadaan chip yang di curi.
Katty mengkerutkan keningnya.
“Kenapa Tante?” Tanya Fatar.
“Ini sandi apa? Aku kurang paham” Ucap Katty.
Rafa dan Fatar melihat ke arah laptop.
“Oh... ini biar Rafa aja yang selesaikan Tante.” Katty pun bergeser dari tempat duduknya. Kini Rafa yang mengambil alih.
Fatar juga mengotak atik laptopnya. Disaat Rafa sedang memecahkan sandi-sandi yang membingungkan tersebut. Katty memperhatikan dari samping.
“Hebat sekali anak-anakmu Will. Mereka pintar dan genius” Gumam Katty tersenyum menatap Fatar dan Rafa.
Tak butuh lama, Rafa sudah memecahkan sandi-sandi tersebut.
“Oke. Selesai. Fatar kau lanjutkan.” Rafa melirik ke Fatar.
“Oke. Siap kakak.” Fatar memulai aksinya. Dan tangannya berkerja dengan sempurna. Dengan beberapa klik dan ketik Fatar sudah menerobos data yang susah di bobol.
Katty tersenyum puas.
“Bagus. Kalian berdua melakukannya dengan sangat baik.” Puji Katty.
Di layar Katty bisa melacak lokasi Laura dan chip tersebut. Ia segera mengchat William.
“Will. Aku menemukan lokasi Laura dan chipnya. Aku kirimkan ke hapemu. Aku segera menyusul juga kesana”
“Oke” Balas William. Ia sebenarnya juga melacak dari GPSnya. Karena Hapenya Lilis dan William terhubung. Tapi karena Katty juga sudah menemukan hasilnya bahkan keberadaan chip telah di temukan. Jadi William makin mempercepat laju kendaraannya. Karena hasil lacak GPS William keberadaan Lilis sama dengan Laura dan chipnya yang telah Katty kirimkan datanya melalui Hape.
Katty mulai bersiap. Ia mengambil senjatanya di kamarnya. Bahkan setas besar dengan semua peralatan senjata dibawanya.
Rafa dan Fatar juga Tania yang sudah terbangun, sekarang semuanya di ruang tengah.
“Aku pergi dahulu. Tania, jagalah anak-anak. Semua pengawal akan berjaga disini” katty langsung menuju pintu luar.
Tania menganggukan kepalanya. Rafa dan Fatar juga melihat kearah Katty yang terus melangkah pergi keluar. Si kembar mendoakan keselamatan Papa dan Mamanya.
Di luar sudah ada Jack yang menunggu dengan tiga buah mobil beserta anak-anak buah Jack.
“Akhirnya kau datang Jack” Katty melirik ke Jack.
“Iya. Saat melihat pesan chatmu, aku segera bergegas juga.”
“Oke. Kita langsung berangkat.” Katty masuk mobil dan semobil dengan Jack.
Jack mengkode anak buahnya untuk berangkat. Pergilah mereka semua menuju lokasi Lilis saat ini.
Bersambung...
Yang suka dengan karya ini, ikutin terus kisahnya sampai akhir ya kakak readers semuanya :)
No Plagiat ya. Hargai usaha dan kerja keras seseorang dalam berkarya. Jadi katakan tidak pada meniru karya seseorang dan tidak menjiplaknya. No Plagiat. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)
Karya ini sedang mengikutin lomba, jadi mohon dukungannya terus ya kak.
Cara mendukungnya gampang yaitu :
1. Like semua episodenya / bab-nya ya kak. Dibaca juga semua babnya :)
2. Klik Vote setiap hari dan setiap saat ya kak. Dan setiap hari senin juga :D
3. Klik Favorite juga ya kak
4. Selalu berikan dukungannya ya kak setiap saat :D
5. Tinggalkan komen ya kak :)
6. Kasi bintang 5 ya kak untuk karya ini sebagai menyukai karya ini dan apresiasi ke karya saya ini.
Makasih semuanya. Dukung terus karya ini ya kakak readers semuanya, biar Author semangat UP ceritanya. Love you all :)
Yuk kak buat karya ini makin bersinar, ajak gitu semuanya buat like semua babnya, komen, vote serta favoritekan yak. Jangan lupa kasi bintang 5 nya ya. karya ini sedang mengikutin lomba, semoga masuk 10 besar yak. Karena itu butuh dukungan dari kakak readers semuanya. Yuk kak buat karya ini masuk 10 besar gitu hehehe.
Gak perlu 3 besar atau pun 5 besar. Masuk 10 besar aja udah senang banget loh. Hehe :D
Tembus 200 lebih like segera di UP kembali.
__ADS_1