
“Hentikan...” Ucap William memegang pundak Dimas dan Panji bersamaan.
Kini ketiga Pria ada dihadapan Lilis. Ketiga Pria mengelilingnya. Lilis berada di tengahnya.
Lilis melihat ke arah William. William juga melihat ke arah Lilis.
“Lepaskan” Dimas melepaskan tangan William dari pundaknya.
William menarik kedua tangannya dari Dimas dan Panji. Baik Panji dan Dimas keduanya melihat ke arah William.
“Kau tak perlu ikut campur” Panji tak suka ada yang melarangnya mendekatin Lilis.
“Sebaiknya Tuan William Smith pergi saja. Karena Lilis bukan siapa-siapanya anda. Aku dan Lilis akan segera menikah” Dimas mengingatkan William.
“Hah!! Kau mau menikah Lis dengan dia?” Panji kaget dan menoleh ke arah Lilis. Panji menanyakan kebenaran antara Dimas dan Lilis.
“Dan dia adalah William Smith kah?” ucap Panji kembali sambil melihat sekilas ke William. Kemudian kembali menoleh ke Lilis.
William hanya diam dengan santai. Sedangkan Lilis menghela nafas panjang. Dari kejauhan Wenny dan Hesti melihat ke arah Lilis dan 3 pria tersebut.
“Wen... kenapa ke tiga pria itu mengelilingi Lilis. Dia bisa jadi pusat perhatian semua orang malam ini” Hesti melirik ke arah Wenny.
“Aku juga gak tahu Ma. Dasar Lilisnya saja seorang wanita penggoda. Bahkan Panji disana juga” Wenny nampak geram.
“Wen... Siapa pria yang sangat tampan itu, yang kelihatan kayak orang bule” Hesti memperhatikan William dari kejauhan.
“Dia William Smith, Presdir dari perusahaan I.S. Sepertinya dia juga di goda Lilis.”
“Presdir I.S. Wah... Ini suatu hal baik Wen... Kau dekatin dia. Jangan sampai dia jatuh ke tangan Lilis.”
“Ma... Aku sudah punya Panji.”
“Kau ini. Jika dibandingkan Presdir I.S. si Panji itu bukan apa-apa. Perusahaan I.S adalah Perusahaan terbesar. Jika perusahaan kita bisa bergabung dengan perusahaan I.S maka keuntungan kita pasti berlipat ganda. Lagian William Smith itu juga sangat tampan.” Hesti ingin anaknya mau mendekatin William.
“Tadi William bilang kalau aku wanita cantik malam ini Ma...”
“Nah.. Lihat kan. Dia saja memuji kecantikanmu. Pikirkan lah Wen... Lagian Panji tak pernah mau denganmu. Dekatin saja si William Smith itu. Atau Pria yang satu nya lagi juga boleh.” Ucap Hesti mamanya Wenny saat melirik ke arah Dimas. Dilihat dari setelan Dimas yang mahal dan sama halnya kayak William. Maka bisa dipastikan Hesti kalau Dimas bukan orang sembarangan. Pasti dia juga sama seperti William. Kaya dan berkuasa.
“Tapi aku sudah mengumumkan pernikahan ku dengan Panji Ma. Nanti apa kata Om Bambang dan tante Belinda. Orang tuanya Mas Panji. Lagian aku mencintai Mas Panji Ma..” Wenny memang sangat mencintai Panji.
__ADS_1
“Kau ini... tak bisa melihat emas dan berlian ya.. Masih saja berharap dengan besi baja itu” Hesti agak kesal karena Wenny tetap gentol ke Panji saja.
Di lain pihak, Tania dan Jack saling pandang. Mereka jadi tegang dan kebingungan dalam menjawab pertanyaan Pak Siregar. Karena masih belum ada jawaban Pak Siregar mengulangi perkataannya.
“Jadi kapan kalian akan menikah? Kalian tak mungkin hanya berpacaran saja kan?” Pak Siregar menatap tajam ke arah Tania dan Jack bergantian.
“Papa... Ini masih terlalu dini mikirin pernikahan. Lain kali saja kita bahas ya Pa” Tania ngeles.
“...” Jack hanya diam. Ia tak tahu harus jawab apa. Dalam hati Jack : “Waktu itu berakting dengan William. Ah... Sekarang harus berakting lagi dengan Tania. Hem... ribetnya”
“Loh Tan... Kamu ini kapan lagi. Lihat Lilis sudah punya dua anak kembar. Teman kamu yang lainnya juga sudah berkeluarga. Kamu yang kapan lagi menikah. Mama capek tiap kali jumpa teman selalu ditanya tentang anak kapan nikah. Lagian Mama juga mau cepat-cepat punya cucu Tan” Mama Tania berkata panjang lebar. Membuat Tania semakin pusing.
Tania tak pernah berpikir bakal ditanggih menikah oleh orang tuanya. Ia pikir setelah mengenalkan Jack jadi kekasihnya maka urusan selesai. Ternyata malah berlanjut ke hal lain. Hadeh. Tania pun sebenarnya capek, kalau setiap kali harus ditanya kapan nikah? Kapan punya anak? Ini lah, itu lah. Ah... bikin kesel di hati. Tapi usia Tania sebenarnya sudah matang untuk berumah tangga. Tapi ntah kenapa sampai hari ini ia masih saja single. Tania melirik ke arah Jack. Ia sudah kehabisan akal dalam menghadapi orang tuanya.
Jack menyadari tatapan Tania.
“Begini Pak Siregar dan Bu Siregar..” Jack mulai membuka suara.
“Panggil saja Om dan Tante ya Jack.” Pinta Mama Tania.
“Oh iya. Om dan Tante. Begini, menurut Tania dan aku kalau masalah pernikahan harus dipikirkan dengan serius da matang. Gak boleh salah dalam melangkah jadi tidak membuat penyesalan. Jadi kami mau jalanin aja dulu hubungan ini” Jack menjelaskan dengan tenang. Tania menjadi lebih lega.
“Jadi segera kalian putuskan tanggal pernikahan kalian dan kabarin kami ya...” Sambung Mamanya Tania.
Tania dan Jack jadi menghela nafas bersamaan. Mereka berdua jadi susah menghindar.
Sedangkan Lilis masih di kelilingi oleh ketiga Pria.
“Kalian bertiga tolong kasi aku jalan. Aku mau ke toilet. Paham. Apa ada yang mau mengikutin ku ke toilet?” Pandang Lilis kepada ketiga pria tersebut. Dimas melepaskan tangan kanan Lilis dan Panji juga melepaskan tangan kiri Lilis dari pegangannya. Dan William hanya tersenyum kecil dan memberikan ruang gerak untuk Lilis berjalan. Lilis lalu melangkah menjauh dari ketiga pria tersebut. Ia menuju toilet di dekat ruangan ballroom tersebut.
“Sebaiknya kita tak saling mengusik” Ucap William ke Dimas dan Panji.
Panji malas menanggapinnya. Ia berlalu pergi dan menjauh. Sedangkan Dimas cuek saja juga. Dimas kembali ke tempat duduknya. Dan William melangkah ke arah lain juga.
Di toilet Lilis membasuh kedua tangannya. Ia mengambil nafas. Lilis berkaca di cermin. Melihat dirinya yang malam ini sungguh sangat cantik.
“Hem... Buat apa ketiga pria itu bersikap seperti itu didepan ku. Apa mereka kurang kerjaan” Gerutu Lilis.
“Enak ya dikelilingi ketiga pria tampan dan kaya..” Ledek Wenny. Ternyata Wenny mengikutin Lilis sampai ke toilet.
__ADS_1
“Kau... sedang apa disini?” Lilis berbalik ke belakang dan melihat Wenny yang ada dibelakangnya. Sejak kapan ia sudah ada dibelakangku. Begitu pikir Lilis.
“Aku? Kenapa? Terserah aku kan mau kemana...”
“Aku malas meladenin mu Wen... ini hari ulang tahun perusahaan. Banyak tamu. Jadi kita tak usah cari keributan” Lilis melangkah pergi namun terhenti.
“Kau saja sudah mengambil topik berita malam ini”
“Apa maksudmu Wen?” Lilis kembali menatap Wenny.
“Malam ini seharusnya malam acaraku. Kau malah membuat perhatian semua orang ke arahmu dengan tiga pria yang mendekatinmu.”
“Jaga bicaramu Wen.. jangan sembarangan”
“Aku? Kau yang sembarangan. Cuma cari perhatian..”
“Apa karena Mas Panji tidak mempedulikanmu dan hanya menatap ku. Dihati Mas Panji hanya ada aku begitu” Serang Lilis.
“Kau..!!!” Plak.. Wenny menampar wajah mulus Lilis.
Lilis menatap tajam ke Wenny dan ia pun tak mau kalah. Ia pun membalas tamparan Wenny.
Plak.. balasan tamparan keras dari Lilis untuk Wenny. Wenny memegang pipinya. Ia kesakitan juga.
“Kau pikir kau saja yang bisa menampar orang Wen... Aku juga bisa” Lilis nampak garang.
“Sialan kau Lis...” Wenny hendak menampar Lilis kembali. Namun tangannya dihentikan oleh William.
Sontak saja Wenny kaget dan menoleh ke William. Begitu juga Lilis, ia pun kaget melihat William muncul di toilet wanita. William mencekal tangannya Wenny.
Bersambung...
Jangan Lupa Klik Vote dan Favorite ya kakak-kakak Readers semuanya. :) Likenya belum tembus 100 nih. Kalau tembus 100 lebih maka UP-nya akan segera Author liris. Makasih semuanya :)
Di like juga semua episodenya ya kak. Tinggalkan Komennya juga. Dukungan kalian akan sangat berarti agar Authornya semangat dan bisa UP cerita secepatnya. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)
__ADS_1