
Kedua mata Lilis dan mata William saling memandang. Untuk beberapa detik keduanya menatap dan diam dalam kebisuan. Dengan langkah pelan William mendekati Lilis dan duduk dihadapan Lilis.
Lilis hendak pergi saja. Namun segera William cegah. Ia meraih tangan Lilis sehingga Lilis terduduk kembali di kursinya.
“Lis...” Ucap William. William melihat ke arah Lilis. Dilihatnya Lilis agak kurusan. Dua hari tak bertemu Lilis, sepertinya berkurang berat badannya. Namun Lilis masih terlihat sangat cantik.
“Lepaskan...” Lilis melepaskan tangannya dari tangan William.
“Oke. Baik. Maafkan aku. Aku hanya minta waktumu Lis...” William memandang Lilis lekat-lekat.
Lilis bisa melihat penampilan William agak sedikit kusam. Seperti orang yang lelah atau kurang tidur. Namun ia masih terlihat sangat tampan.
“Apa lagi yang mau dibicarakan. Kita tak ada hubungan lagi. Tak perlu saling berjumpa.”
“Kau masih punya tanggung jawab dengan perusahaan ku.”
“Aku akan resign saja.”
“Lalu bagaimana proyekmu dengan Ivanka. Kau harus profesional dalam bekerja Lis. Lagian kita masih ada urusan.”
“Aku tak ada urusan denganmu.”
“Ada. Tentang kita dan anak-anak kita.”
“Tak perlu dibahas lagi...”
“Perlu. Karena Rafa dan fatar adalah anak-anak ku”
“Mereka bukan darah dagingmu”
“Lalu darah daging siapa? Kau tak punya suami. Tak punya kekasih. Dan kejadian yang lalu, bukankah hanya denganku melakunnya. Lagian bukan kah aku kekasihmu sekarang”
“Diam...!! Jangan ungkit hal itu. Aku benci!! Hubungan kita sudah berakhir.” Suara Lilis nampak meninggi.
William merendahkan suaranya. Dia bersikap lembut. Karena jika sama-sama keras tak akan ada guna. Jadi jika satu keras, maka yang satunya harus melembut.
“Maaf Lis... Tapi bagiku belum ada kata berakhir untuk hubungan kita. Apalagi anak-anak kita harus kau pikirkan Lis...”
__ADS_1
“Sudah ku bilang. Rafa dan Fatar bukanlah anakmu. Mereka anaknya dari...” Lilis jadi bingung. Ia harus memberikan alasan.
“Dari siapa??” William mengerutkan keningnya. Alisnya lalu naik sebelah. Kepalanya dimiringkan.
“Anak... Anaknya Dimas.” Akhirnya hanya itu yang bisa dikatakan oleh Lilis. Dalam hati Lilis : “(Maafkan aku Dim... aku jadi membawa-bawa namamu)”
“Benarkah itu???” William tak percaya. Pasalnya hasil tes DNA ia sudah punya. Hasil tes DNA menyatakan kalau Rafa dan Fatar adalah anak kandungnya.
“Tentu saja. Kalau kau tak percaya, aku akan menyuruh Dimas kemari untuk berbicara denganmu.”
“Bukannya kalian teman. Hanya teman.”
“Sebenarnya kami pernah menjalin kasih. Hingga lahir Rafa dan fatar”
“Lalu kenapa kalian tak menikah dan hanya jadi teman sampai sekarang?”
“Itu... Karena...” Lilis jadi gagap.
“Lis... jangan berbohong padaku.”
“Sudah ku bilang, kalau Rafa dan fatar adalah anak-anaknya dari Dimas dan aku. Bukan kau Papa mereka. Dan bukannya kau yang selama ini berbohong kepadaku” Lilis nampak garang.
“Oke. Nanti kita atur waktu agar Dimas bisa berjumpa denganmu”
“Kenapa tidak sekarang saja. Bukankah ia kerja direstoran ini” kebetulan tempat mereka sekarang adalah Restoran milik Tania. Tempat Lilis dulu berkerja sebelumnya dimana ia mengenal Dimas pula.
“Oh iya. Aku akan telepon Dimas.” Lilis menekan tombol di Hapenya. Lalu menelepon Dimas. Namun beberapa kali tak ada yang menjawab.
“Sepertinya Dimas sibuk. Lain kali kalau begitu. Nanti kalian akan ku jumpakan.” Lilis beralasan.
“Baik kalau begitu. Sebelum hal itu. Maka kau dengarkan aku Lis.”
“...” Lilis hanya diam. Ia malas sekali menatap ke arah William. Jadi ia menatap ke arah lain.
William melihat sikap Lilis acuh tak acuh padanya. William pun memulai menjelaskan ke Lilis.
“Sebelumnya Maafkan aku Lis, untuk semua kesalahanku kepadamu. Aku tahu. Aku sangat bersalah padamu. Sudah banyak kebohonganku. Aku benar-benar minta maaf.” Ucap William. Tapi yang diajak bicara hanya diam membisu. Seperti tak mau tahu.
__ADS_1
Dalam hati Lilis : “(Sialan Tania... kenapa belum kembali juga. Aku hendak pergi sekarang. Apa Tania juga merencanakan ini? Apa Tania bersekongkol dengan William?)”
“Sewaktu perjumpaan kita pertama kali, bertahun-tahun lalu. Waktu itu aku sedang bertugas. Dua pria asing itu adalah sasaran tugas ku. Dan disitulah kita awal berjumpa. Maaf kalau waktu itu aku menangkapmu. Ku pikir kau seorang mata-mata yang sedang berakting sebagai wanita lemah atau pura-pura lewat. Makanya kau ku tangkap dan kubawa pergi. Kemudian ku sekap kau dirumah kosong. Aku pun berkata kalau diriku adalah Fatar saat itu. Di saat itulah aku merasakan obat bereaksi ditubuhku. Sebelumnya ternyata ada yang mencampurkan minumanku dengan obat perangsang. Nah karena kau bersamaku maka aku yang sudah terkena obat perangsang tak bisa mengendalikan diri. Maafkan aku Lis. Aku jadi memperkosamu. Aku menyesal Lis. Setelah aku sadar dan aku kekamar mandi untuk bersihkan diri, ternyata kau sudah kabur. Padahal aku ingin bertanggung jawab. Karena ternyata aku sadar, kalau kau hanya orang biasa. Tapi kau sudah kabur.” Jack menghela nafas panjang. Ia lalu melanjutkan kembali.
“Saat itu aku menemukan dompetmu Lis. Didalamnya aku menemukan identitasmu yang sebenarnya. Dari KTP mu itu aku mencari tahu tentangmu. Ternyata namamu bukanlah Rafa. Tapi Lilis Hartono putri tunggal dari pengusaha sukses bernama Bram Hartono. Pewaris satu-satunya dari keluarga Hartono. Rupanya kau bukan orang sembarangan. Aku berniat menemuimu kembali dan bertanggung jawab. Tapi aku diberi tugas kembali oleh Bos ku di inggris. Jadi aku terpaksa harus ke Inggris. Dan niatku akan menyelesaikan tugasku baru kembali menemuimu.”
Lilis mulai luluh mendengar keterangan dari William. Ia mulai menatap ke arah William.
“Namun sayang. Ternyata tugas ku sangat lama selesai. Beberapa tugas harus ku kerjakan hingga bertahun-tahun lamanya baru aku bisa kembali ke Indonesia. Setelah menyelesaikan tugasku, aku mengajukan liburan ke Bosku. Itulah saat aku bertemu kembali denganmu di Indonesia. Saat itu kau menyamar sebagi Tania. Ingatkan kejadian itu. Disitulah aku mulai ingin mendekatinmu karena ternyata kau tak mengenaliku. Aku menyamar menjadi Yudha Hadinata. Maaf. Bukan maksudku ingin terus berbohong. Tapi aku ingin mendekatin mu dahulu dan mencari tahu tentang dirimu serta ingin mencari tahu tentang Rafa dan Fatar. Jika sudah jelas semua maka aku akan jujur. Tapi saat mencari tahu aku sedikit bingung. Kenapa kau menjadi hidup dengan kemiskinan. Sedangkan dahulu bukannya kau putri dari seorang pewaris kaya. Dari seorang putri kenapa jadi orang biasa. Disitulah aku ingin dekat dan berteman denganmu sebagai Yudha. Jati diri asliku yaitu William Smith ku sembunyikan. Aku pun lalu jatuh cinta kepadamu. Hingga kita akhirnya menjalanin hubungan.”
“Jadi kau berniat meluluhkan ku, baru berkata jujur tentang dirimu gitu. Begitukah??? Kenapa tak mengatakan dirimu sesungguhnya adalah William Smith?? Kenapa tidak berkenalan dengan ku memakai jati dirimu yang asli yaitu William Smith??” Lilis menatap tajam ke William.
“Karena aku berpikir jika aku mengaku sebagai William Smith kau tak akan mau berteman denganku. Jika aku memakai jati diriku yang asli takutnya kau akan menjaga jarak. Aku ingin kita dekat. Sesugguhnya memang niat awalku meluluhkanmu tapi nyatanya aku yang luluh oleh mu Lis.” William menatap lekat-lekat ke arah Lilis.
“Lis... Aku tahu aku banyak salah. Kesalahanku sangat banyak kepadamu. Tapi tolong Maafkan aku Lis. Aku benar benar menyesal. Aku ingin bertanggung jawab. Aku mencintaimu Lis. Sangat amat mencintaimu. Aku juga sayang Rafa dan Fatar. Aku ingin kita mulai kembali dari awal. Bahagia bersama-sama lagi Lis, bersama anak-anak kita.” Tutur kata William kembali. Ia menjelaskan begitu panjang lebar ke Lilis. Semoga saja Lilis mau menerima nya kembali. Itulah harapan William.
Lilis terdiam. Ia mendengarkan William tanpa ada bantahan apa pun lagi. Lilis menghela nafasnya.
“Jadi kejadian dahulu itu karena kau diberi obat?”
“Iya Lis... Maafkan aku.”
“Aku tak tahu harus bagaimana...” Ucap Lilis ke William.
“Maafkan aku Lis. Dan terimalah aku kembali. Kita mulai hubungan kita kembali dengan baik.”
“Aku tak bisa.”
“Kenapa Lis... Begitu banyak yang ku jelaskan. Apakah kau masih tetap tak bisa menerimaku Lis...”
“Aku tak bisa.... Aku sungguh tak bisa.” Lilis mulai meneteskan air matanya.
“Kenapa Lis...???” William ingin meraih tangan Lilis dan menggenggamnya. Ia ingin menarik Lilis ke pelukannya. Tapi ia takut akan penolakan Lilis.
“Kenapa Lis... Jawablah aku.”
Bersambung...
__ADS_1
Jangan Lupa Klik Vote dan Favorite ya kakak-kakak Readers semuanya. :)
Di like juga semua episodenya ya kak. Tinggalkan Komennya juga. Dukungan kalian akan sangat berarti agar Authornya semangat dan bisa UP cerita secepatnya. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)