Rafa Dan Fatar

Rafa Dan Fatar
Bab 94.


__ADS_3

“Mama...” Gumam Rafa.


Lilis masuk dan mendekatin anaknya.


“Rafa tidak boleh berbicara seperti itu. Sama orang yang lebih tua harus hormat nak. Mama gak pernah mengajarkan hal yang tak sopan seperti itu. Lagian Papa Rafa dan Tante Katty hanya berteman nak.” Lilis membungkuk dan memegang kedua bahu Rafa dan memberikan pengertian ke Rafa.


Rafa terdiam dan menundukan kepalanya. Ia lalu memeluk Lilis.


“Maafkan Rafa Ma...”


Lilis mengangguk dan mengelus rambut Rafa dengan lembut.


“Mama maafkan sayang. Mama gak marah kok sayang. Mama cuma mau Rafa paham dan mengerti ya sayang.” Lilis berkata dengan lembutnya. Rafa pun menganggukan kepalanya.


“Nah... sekarang minta maaflah ke Tante Katty ya...” Lilis melepaskan pelukannya.


Rafa menoleh ke Katty.


“Rafa minta maaf Tante.”


“Iya. Tak apa-apa.” Katty tersenyum manis. Dan Rafa juga tersenyum. Fatar begitu juga Lilis pun ikut tersenyum bersama-sama.


William pun melihat seperti ada keramaian di kamar Fatar, ia pun ikut masuk kedalam.


“Ada apa ini? Kok rame di kamarnya Fatar?” Tanya William menatap semuanya yang ada didalam kamar.


“Aku hanya melihat sesuatu yang dibuat oleh anak mu Will” Ucap Katty.


William pun menganggukan kepalanya.


“Aku rasa bisa digunakan untuk mencari tahu Nona LL apakah benar Laura Luther. Sekalian melacak lokasinya dan menemukan chip yang telah di curi.” Sambung Katty kembali.


“Benarkah?? Wah.. anak Papa ternyata sangat hebat.” Puji William ke Fatar. Fatar pun tersenyum bangga.


“Oke. Kalau begitu Fatar akan coba usahakan cepat selesai. Biar bisa bantu Tante Katty dan Papa.” Senyum Fatar ke semua orang.


“Good job my son.” William mengacungkan jempolnya.


“Lalu kalau kalian sudah mengetahui kebenarannya, apakah kalian akan menangkap wanita itu?” Lilis bertanya sambil memandang ke arah William dan Katty.


“Mungkin menangkapnya bisa tapi...” William agak ragu meneruskan kata-katanya.


“Tapi apa?” Tanya Lilis kembali.


“Tapi susah memenjarakannya Lis. Karena prihal kedua orang tuanya yang sangat berpengaruh. Dia itu putri seorang Mafia dan Gengster.” Katty yang menjelaskannya.


“Tapi tak mungkin kita biarkan kan. Dia akan mengancam hidup kita.” Lilis merasa kuatir.


“Sudah jangan dibahas. Aku sudah mengerahkan semua penjaga. Anak-anak juga harus istirahat ya. Esok pagi libur dan mereka bisa menemui kakek dan neneknya.” Ucap William.


Lilis dan Katty pun menganggukkan kepalanya. Sedangkan Fatar dan Rafa menoleh ke Papanya.


“Apa Pa? Kakek dan Nenek??” Rafa terheran dan mengkerutkan keningnya.


“Loh... emang kakek dan nenek dimana?” Fatar bertanya pula.


“Iya sayang. Esok kita jumpai kakek dan nenek. Dan tempatnya esok kalian akan tahu.”  William memadangai kedua anak kembarnya.


Anak-anaknya pun menganggukkan kepalanya. Semuanya sekarang kembali ke kamarnya masing-masing. Malam semakin larut dan semuanya telah tidur untuk istirahatkan diri masing-masing.


***


Esoknya di rumah sakit.


Saat ini Lilis, William, Rafa dan Fatar sedang berada dirumah sakit. Mereka memasuki ruangannya VVIP dimana kedua orang tuanya Lilis sedang di rawat didalam ruangan pasien tersebut. Rafa dan Fatar masuk kedalam ruangan yang serba putih tersebut bersama kedua Papa dan Mamanya. Didalamnya ada kakek dan neneknya sedang berbaring.


“Papa... Mama...” Sapa Lilis kepada kedua orang tuanya.


Ajeng dan Bram menoleh ke arah Lilis. Lilis datang bersama kedua anak kembarnya dan juga William di sampingnya. Mereka mendekatin ranjangnya Ajeng dan Bram.


“Lilis...” Ajeng tersenyum dan Lilis langsung memeluk Mamanya.


Ajeng kemudian melirik ke arah dua bocah kembar namun yang satu anak laki-laki dan satunya lagi anak perempuan.


“Rafa... Fatar... Nenek rindu sekali.” Ajeng tersenyum haru.


Rafa dan Fatar memeluk neneknya. Mereka tersenyum bahagia bersama.


Hanya Bram yang melihat saja dari tempat ranjangnya.


Lilis menoleh ke Papanya.


“Papa...” Lilis mencium tangan Papanya.


Dan sebuah keajaiban terjadi tangannya Bram bergerak dan mengelus rambutnya Lilis. Bram menyesal karena pernah marah dan mengusir putrinya. Ia merindukan putrinya dan cucu-cucunya. Ia telah salah. Dan selama ini terlalu mendengarkan ucapan Wenny dan Hesti. Yang ternyata adalah musuh yang menikam dari belakang.


Lilis tertegun dengan reaksi Papanya. Ia melihat ke arah Papanya.


“Tangannya Papa sudah bisa gerak. Syukurlah.” Lilis menangis haru.


“Pa-pa min-ta ma-af ya  Lis.” Bram mulai berbicara walau terbata-bata.


“Papa mulai bicara juga. Syukurlah. Tak perlu minta maaf Pa. Lilis baik-baik saja.” Lilis memeluk Papanya dan menangis haru.

__ADS_1


Ajeng, Rafa , Fatar dan William melihat dari samping. Mereka pun merasakan suasana haru tersebut.


“Pa... Ini anak-anaknya Lilis. Ini Rafa dan yang ini Fatar.” Lilis mengenalkan si kembar ke Papanya.


Bram berusaha tersenyum walau susah. Si kembar lalu melangkah dan memeluk kakeknya. Kedua anak kembar tersebut kemudian mencium tangan sang kakek.


Bram menangis haru. Ia meneteskan air matanya. Ia menganggukan kepalanya ke arah ke dua bocah kembar tersebut.


“Kakek... akhirnya bisa jumpa kakek.” Rafa tersenyum manis.


“Iya. Fatar senang bisa ketemu kakek.” Fatar juga tersenyum. Dan kedua bocah pun menganggukan kepalanya saat melihat kakeknya. Bram sangat senang sekaligus haru bisa bertemu anaknya dan cucu-cucunya.


Ajeng pun senang melihat putrinya, suaminya dan cucu-cucunya bisa berkumpul kembali bersama-sama. Ia memandang ke arah William dan tersenyum. William lalu memeluk calon mertuanya itu yaitu Ajeng.


Lilis kemudian melihat ke arah William. Ia memberikan kode untuk mendekatin Papanya. William pun paham dan melepaskan pelukan Ajeng. Ia mendekatin ranjang Papanya Lilis.


“Papa... Ini William. Dia adalah calon suami ku” Lilis mengenalkan William di hadapan Bram.


“Nama saya William Smith. Panggil saja William Pak Bram.” William mencium tangannya Bram.


“Mohon maafkan saya, karena saya sudah melamar Lilis terlebih dahulu. Namun saya juga ingin meminta ijin Pak Bram dan meminta restu Pak Bram. Bolehkah Pak Bram?? Mama sudah memberikan ijin dan restunya untuk saya menikahi Lilis. Tinggal restu dan ijinnya Pak Bram yang saya harapkan dan yang saya inginkan.” William memandangi wajah Bram.


Bram diam dan memadangi William. Ia tengah berpikir. William merasakan degupan di jantungnya. Ternyata begini kalau berhadapan dengan calon mertua. Rasanya gugup dan kayak jantungan. Lilis melihat ke arah William. Ia menggenggam tangannya William dan tersenyum. William merasakan kalau Lilis seperti memberikan kekuatan dan supportnya untuk dirinya, supaya ia tenang. William pun tersenyum lembut ke arah Lilis.


Bram melihat ke arah William dan Lilis bergantian. Ia bisa merasakan kalau kedua insan ini memang sudah saling mencintai. Ia pun tersenyum dan menganggukan kepalanya.


William dan Lilis pun tersenyum melihat anggukan dan senyuman Bram.


“Jadi Pak Bram menyetujuinya?” Ucap William.


“I-iya. A-ku se-tu-jui.” Bram pun tersenyum hangat ke William dan Lilis.


Walau Bram terbata-bata dalam berbicara namun jelas bisa di dengar oleh yang lainnya.


“Terima kasih Pak Bram.”


Bram menganggukan kepalanya.


“Will...” Panggil Ajeng.


“Iya Ma..” William menoleh.


“Masak Pak Bram. Panggil Papa dong nak. Sama kayak manggil Mama.” Ajeng memberitahukan ke William panggilan yang harus di rubah oleh William.


“Oh iya. Tapi boleh kah?” William melirik ke Bram.


Bram pun menganggukan kepalanya. William tersenyum dan kembali mencium tangannya Bram.


Ajeng, Lilis, Rafa dan Fatar pun ikut tersenyum.


William kembali di sisi Lilis. Sedangkan Rafa duduk didekat neneknya dan fatar duduk di dekat ranjang kakeknya.


“Lalu kapan kalian menikah?” Tanya Ajeng.


“Dua hari lagi Ma... Tapi apa Papa dan Mama bisa datang ya??” Lilis jadi mengkerutkan keningnya.


“Mama sudah sehat kok sayang. Sedangkan Papa kan bisa pakai kursi roda. Untuk hadir sebentar ke pernikahan kalian tentu saja kami bisa sayang. Iya kan Pa..” Ucap Ajeng dan menoleh ke suaminya. Dan Bram pun menganggukan kepalanya.


“Tapi Papa kan masih dalam perawatan..” Lilis nampak ragu.


“Tenang saja sayang. Nanti kalau sudah hadir sebentar di acara pernikahan kita, Papa akan menjalanin lagi perawatan di rumah sakit. Oke” William mencoba menenangkan Lilis.


Lilis pun paham dan mengerti. Sekarang hati William dan Lilis jadi lebih tenang dan lega karena sudah mendapatkan restu dan ijin dari kedua orang tuanya Lilis.


***


William dan Lilis pamitan dahulu dari rumah sakit. Sedangkan Rafa dan fatar masih hendak bersama kakek dan neneknya. Sehingga si kembar di tinggalkan bersama orang tuanya Lilis. Dan penjagaan disekitar rumah sakit didekat ruangan VVIP pun diketatkan.


William dan Lilis sedang dalam perjalanan ke sebuah tempat. William yang mengemudikan mobilnya. Lilis melirik ke arah William.


“Mau kemana kita Will?”


“Kita ke tempat yang mengasikkan sayang. Ada hadiah dan kejutan yang mau ku berikan.” William tersenyum kecil.


“Apa itu?”


“Ada deh.”


Di tempat lain. Di kantornya Wenny.


Wenny sedang mengemasi beberapa dokumen penting dan uang di berangkasnya serta dua cek yang ia terima dari William. Ia mengemasi semuanya karena ia hendak lari dan sembunyi. Si hesti sudah menunggunya di luar gedung dengan sebuah mobil.


Di saat Wenny sedang berkemas. Sebuah ketukan pintu terdengar.


“Siapa? Aku sedang sibuk.” Wenny masih mengemasi semuanya.


“Ini saya buk Wenny. Niken sekretaris ibu. Ada yang mau menemui anda buk.”


“Siapa?”


“Tuan Smith dan Pak Jack.”


Wenny mengkerutkan keningnya. Buat apa mereka kemari.

__ADS_1


“Baiklah. Suruh masuk.” Wenny segera menyimpan apa yang sedang ia kemasin. Ia tak mau kalau William dan Jack melihatnya sedang berkemas.


William dan Jack pun masuk. Hanya Lilis yang bersembunyi di balik pintu. William memintanya untuk bersembunyi dahulu.


Wenny mempersilahkan kan William dan jack untuk duduk di kursi sofa yang ada di ruangannya.


“Silahkan duduk Tuan Smith dan Pak Jack. Mau minum apa?”


William dan Jack langsung duduk. Wenny pun ikut duduk.


“Tak perlu minum. Kami langsung saja.” Ucap William nampak dingin.


Wenny mengkerutkan keningnya.


“Perihal apa? Kok tiba-tiba datang kemari.” Wenny terheran-heran.


William melirik ke Jack. Dan Jack menganggukan kepalanya. Jack mengeluarkan sebuah map yang dialam nya berisi beberapa berkas.


Wenny menatap heran.


“Apa ini?” Wenny nampak bingung.


“Ini adalah kerja sama yang tempo hari anda tanda tanganin.” Jawab jack.


“Oh...” Jawab Wenny.


“Jadi karena sekarang perusahaan ini adalah milik aku. Maka sebaiknya kau angkat kaki dari sini.” Ucap William dengan angkuh dan dingin.


“Hah?? Apa??? Tapi kan katanya anda bilang kalau aku akan tetap memimpin kan... kita hanya bagi hasil dan bekerja sama.” Ucap Wenny dengan perasaan kacau balau.


“Aku berubah pikiran. Ternyata dibawah kepemimpinanmu semuanya nampak kacau. Jadi sebaiknya kau ku ganti. Lagian semua sudah kau tanda tanganin kan.”


“Loh tanda tangan apa?? Tidak ada tertulis kalau hal itu bisa terjadi.”


Jack menyerahkan map tersebut.


“Anda baca sendiri saja. Kalau anda robek pun percuma itu hanya salianannya. Yang asli sudah kami simpan.”


Wenny langsung membacanya. Ternyata yang ia tanda tangan itu bukan hanya surat kerja sama tetapi juga surat kuasa kalau ia menyerahkan perusahaan Hartono dengan seluruh asetnya juga mengembalikan rumah keluarga Hartono. Dan ia bersedia untuk di di berhentikan dari jabatannya. Begitulah yang tertulis.”


Wenny sangat berang dan marah. Ia bergetar memegang berkas yang ada dalam map tersebut. Ia syok dan terguncang.


“Saya tak terima. Bukan seperti ini seharusnya.” Ucap Wenny meledak-ledak amarahnya.


“Tak ada gunanya kau marah-marah. Atau kau mau ku habisi” Ancam William.


Wenny bergetar. Ia jadi ketakutan.


“Baiklah. Kalian ambil saja. Puas kalian. Lalu siapa yang akan menggantikan aku disini?”


“Orang itu ada dibalik pintu. Masuklah sayang.” Ucap William.


Wenny melihat ke arah pintu dan Lilis telah masuk kedalam ruangan.


“Lilis...”Ucap Wenny sambil melihat ke arah Wenny.


Untuk beberapa saat Wenny terdiam mematung. Kemudian ia langsung berkata.


“Wah... selamat... ternyata kalian telah memperdayaku. Hebat.” Sindir Wenny ke Lilis, William dan jack.


Wenny lalu segera melangkah ke arah mejanya kemudian mengambik tas besar untuk segera pergi.


“Eits... Kau pikir mau kemana?” William berdiri dan mendekatin Wenny.


“Aku akan pergi. Aku hanya mengambil barang-barangku. Setelah aku pergi, silahkan kalian sepuasnya menikmatin kemenangan kalian.” Wenny hendak pergi dengan semua yang sudah dikemasinnya dalam tas besar yang dibawanya.


Jack menghalangi Jalan Wenny. William berdiri di samping Lilis.


“Perhatikan sayang. Kau suka kejutan dan hadiah ku kan?” Senyum William ke Lilis.


“Iya.” Lilis tersenyum.


“Hey.. kenapa kau halangi jalanku.” Wenny nampak marah karena Jack menghalanginya.


“Tunggu dulu Nona Wenny. Ada yang datang untuk membawa anda” Ucap Jack.


“Maksudnya?” Wenny tentu saja bingung. kemudian beberapa polisi telah masuk kedalam ruangan.


Wenny tentu saja kaget. Ia tak sangka bakal ada polisi yang datang dan masuk kedalam ruangannya.


“Apa maksudnya ini?” Wenny membelalakkan matanya.


Bersambung...


Nah kapok lu Wenny.. Rasain tuh.


Di Like yang banyak dan kasi Vote juga banyak-banyak ya :D


No Plagiat ya. Hargai usaha dan kerja keras seseorang dalam berkarya. Jadi katakan tidak pada meniru karya seseorang dan tidak menjiplaknya. No Plagiat.


Di like, di vote dan klik Favorite yah :D


Tembus 200 lebih like segera di UP kembali.

__ADS_1


__ADS_2