Rafa Dan Fatar

Rafa Dan Fatar
Bab 88.


__ADS_3

“Hah? Pacar? Sejak kapan?” Ucap Rafa menatap Felix dengan wajah yang kaget dan mulut berbentuk huruf O.


“Sejak...”


“Sejak kapan Felix? Jangan menyebar rumor yang enggak-enggak lah” Rafa terlihat marah.


“Hehe...” Felix menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Kan dari pertama aku sudah bilang suka kamu Rafa. Jadi sejak itu kita jadi pacaran”


Rafa mendelik dan kepala Felix di geplaknya dengan agak kuat.


“Aduh... sakit Rafa.” Felix kesakitan.


“Makanya jangan bicara sembarangan dan jangan ngaku-ngaku.”


Mobil jemputan Rafa dan fatar tiba. Rafa langsung menyeret Fatar untuk segera naik mobil mereka. Si kembar pun segera pulang. Dan Felix di tinggalkan dengan kebengongannya.


***


Di kantor. Sekarang Wenny kembali ke perusahaan. Ia melihat data-data keuangan perusahaan. Ia menghela nafas panjang. Keadaan sudah gawat begini. Ia sangat bingung. Lalu ia teringat kalau seminggu yang lalu perusahaan I.S hendak melakukan kerja sama. Wenny pun berpikir mungkin kalau begini akan tertolong dirinya. Namun Wenny kuatir tentang kerja sama tersebut. Karena ia tahu itu adalah perusahaan William Smith. Dan kabar William Smith yang akan menikah dengan Lilis sudah menyebar kemana-mana. Bahkan awak media sudah tahu. Maka itulah Wenny kuatir jika ia terima kerja sama tersebut maka artinya ia harus bertekuk lutul di bawah kekuasaan William. Wenny benar-benar kuatir akan hal tersebut.


Sambil menghela nafas panjang terus, Wenny menatap layar Hapenya. Ia melihat kontak nama di Hapenya. Nama Panji ingin ia telepon. Dia sangat berharap Panji mau menolongnya.


Wenny pun akhirnya menelepon Panji, walau kecil kemungkinannya tapi ia tetap mencoba. Bagaimana pun mereka sekarang suami istri. Mana tahu Panji mau membantu.


Wenny menelepon Panji dipanggilan pertama tidak diangkat. Ia menelepon lagi kedua kalinya. Tapi tidak diangkat juga. Wenny mencoba menelepon kembali di telepon ke tiga. Dan syukurlah diangkat Panji.


“Halo Mas Panji” Sapa Wenny.


“Hem... Ada apa? Aku sedang sibuk.” Jawab Panji di seberang sana.


“Aku mau minta bantuanmu Mas?”


“Bantuan apa? Masalah keuangan perusahaanmu dan pinjaman di Bank mu ya” Panji menebak dengan tepat sekali.


Tenggorokan Wenny terasa berat untuk mengeluarkan suara. Namun ia tetap menutupi kegelisahannya.


“I-iya. Mau kah kau membantuku Mas? Aku benar-benar sudah buntu dan butuh bantuan”


“Maaf. Aku tak bisa. Aku terlalu sibuk dengan urusanku. Perusahaanku kalau membantumu pasti nanti mengalami kerugian besar. Jadi aku tak mau mengambil resiko.” Panji menolak.


“Tapi Mas. Aku ini istrimu. Tak bisakah kau membantuku” Wenny sudah memelas.


“Istri? Istri yang tak ku harapkan. Kau pikir aku tak tahu kalau dua tahun lalu kau menjebakku. Aku dengan bodohnya malah percaya”


Wenny kaget. Ia malah diam dan tak bersuara.


“Maksudmu Mas?”


“Jangan pura-pura kau Wen. Aku sudah tahu semuanya. Sebulan lalu orang suruhan yang ku suruh menyelidiki telah memberikan laporan padaku. Kaulah yang menjebakku hingga akhirnya aku menikahimu.”


“Apa!!!” Wenny terkejut bukan main. Ia tak sangka kalau Panji telah menyelidikinya selama ini.


“Jadi bersiaplah untuk perceraian kita. Aku sedang mengurusnya.”


“Tidak Mas. Tolong jangan ceraikan aku. Aku sangat mencintai mu”


“Aku tidak mencintaimu.” Dan Panji memutuskan panggilan teleponnya.


Wenny mencengkram Hapenya kuat-kuat hingga buku-buku kukunya memutih. Ia terlihat marah dan kesal sekali. marah dan kesal karena Panji tak mau membantunya dan bahkan hendak menceraikannya.


“Sialan kau Panji. Kau harus mendapatkan hukumannya.” Wenny memikirkan suatu rencana jahat.


Kemudian ia melihat notifikasi di hapenya. Isi pesan nya dari pihak Bank hanya memberikan waktu dalam tiga hari Wenny harus segera membayar pinjamannya ke Bank. Sudah mau jatuh tempo. Wenny semakin gusar. Ia akhirnya menelepon Jack. Ia terpaksa harus menerima tawaran itu.


Dari hasil percakapan Wenny dan Jack, mereka akan janjian ketemuan di sebuah Cafe Coffee. Dan kesanalah Wenny segera menuju. Ia keluar kantor dan akan menuju Cafe ang dimaksud.


Di lain sisi.


Lilis dan William akan janji ketemuan di sebuah tempat. Lilis pun segera kesana. Namun saat menuju ke tempat tersebut, tak sengaja mobil Lilis menyenggol sebuah mobil yang juga melintas di persimpangan. Kedua mobil pun berhenti. Syukur saja tak ada yang terluka parah. Namun Lilis segera turun dan melihat orang yang di mobil lain tersebut. Lilis turun dan panji jiga turun. Ternyata pemilik mobil adalah punya Panji.


“Mas Panji...” Lilis kaget melihat Panji. Mereka sudah lama tak bertemu.


“Lilis.. kau rupanya.” Panji juga sama terkejutnya.


“Maaf kan aku. Aku terlalu terburu-buru jadi tak sengaja menyenggol mobilmu. Maaf ya”

__ADS_1


“Tak Apa-apa Lis. Oh iya apa kabarmu?”


“Aku baik. Kalau Mas?”


“Baik juga.”


“Ku dengar Mas dan Wenny sudah menikah ya dua tahun lalu. Maaf aku tak bisa menghadirinya. Karena pas kebetulan aku pergi ke Paris.”


“Tak masalah Lis. Namun aku akan segera bercerai.”


“Hah? Kok cerai?”


“Bisa kita berbicara berdua Lis. Aku merindukanmu.”


Lilis pun mengiyakannya. Mereka kembali menaiki mobil masing-masing. Karena di persimpangan jalan tak baik berlama-lama berhenti di tempat tersebut. Jadi mereka pindak ke sebah tempat lain. Setelah mereka memparikirkan mobilnya masing-masing, Lilis dan Panji pun duduk di dekat taman kota yang tak jauh dari mereka berada.


“Mau bicara apa Mas?” Lilis menatap ke arah panji.


“Aku merindukanmu.” Panji menatap Lilis penuh cinta. Jujur ia masih belum bisa melupakan Lilis.


“Hanya itu saja kah? Kalau tak ada yang penting, aku pergi sekarang Mas. Aku ada keperluan lain.” Lilis hendak pergi namun di cegah Panji. Ia menarik lengan Lilis.


“Tunggu Lis. Aku mau bicara hal penting.”


“Baiklah. Hal penting apa yang hendak dibicarakan?” Lilis kembali duduk.


Panji meremas tangannya sendiri. Ia nampak gugup dengan yang mau dikatakannya. Ia takut kalau Lilis akan menolaknya. Namun ia tetap ingin mengatakannya.


“Aku masih mencintaimu Lis. Hingga sampai sekarang. Jadi ku mohon bisakah kita seperti dahulu lagi.”


Lilis memutar bola matanya malas. Ternyata hal ini lagi. Keluh batin Lilis.


“Mas panji. Aku sudah berkali-kali mengatakan. Aku sudah tak mencintai Mas lagi. Lagian kau juga sudah beristri Mas.”


“Aku akan bercerai Lis.”


“Kenapa pula kau bercerai? Aku tak mau kalau nanti Wenny menyalahkan aku”


“Bukan karena mu. Tapi karena aku memang tak pernah mencintai Wenny. Lagian dia menjebak ku sampai harus menikahinya. Jadi sekarang aku mau menceraikannya.” Panji terlihat kesal kalau sudah membahas Wenny. Ia membenci wanita itu.


“Aku tak mau tahu masalah antara kalian. Tak ada hubungannya juga denganku. Dan maaf Mas. Ini untuk yang terakhir kali aku katakan. Jangan ganggu aku lagi Mas. Lupakan aku. Aku mencintai pria lain dan kami akan menikah.”


“Menikah? Dengan siapa Lis?”Tanya Panji.


“Dengan kekasih hatiku William Smith. Papa dari anak-anakku”


“Jadi benar kalian akan menikah.” Panji terlihat sedih.


“Iya. Maka lupakan aku dan kembali lah ke istrimu. Sebaiknya Mas bina rumah tangga Mas dengan baik. Aku yakin kalau Mas baik ke Wenny, maka Wenny akan menjadi pribadi yang lebih baik. Jagalah pernikahan kalian.” Lilis berusaha menasehati Panji. Ia mau Panji mengerti kali ini kalau mereka memang tak bisa lagi seperti masa lalu.


Panji terlihat muram. Ia tak bisa menerima Lilis bersama pria lain. Tapi ia melihat kesungguhan dimata Lilis. Kalau Lilis sudah tidak menganggapnya lagi dan pria lain sudah mengisi hatinya.


“Aku pamit Mas. Aku ada hal lain yang penting yang mau ku lakukan. Permisi.” Lilis pun beranjak pergi.


Panji hanya bisa membiarkan Lilis pergi. Sepertinya ia kali ini harus merelakan melepaskan Lilis untuk selamanya. Karena memang sudah tak ada lagi harapan untuknya dan Lilis. Hatinya sedih sebenarya. Hatinya Panji menangis, karena wanita yang ia cintai tak bisa bersamanya dan harus dilupakannya selamanya. Kisah Lilis dan panji memang benar-benar sudah berakhir.


Di tempat lain di sebuah Cafe Coffee.


Wenny sudah tiba dari tadi dengan hati gelisah. Ia menunggu kedatangan jack. Tak lama kemudian Jack pun datang. Ia datang bersama William. Wenny menatap ke arah Jack dan William yang baru tiba. Kedua pria tersebut langsung duduk di hadapan Wenny.


“Mau minum Tuan Smith dan Pak Jack, biar saya pesankan.” Wenny berbasi basi. Ia sendiri sudah memesan secangkir kopi panas yang ada dimejanya dihadapanya dan sudah di hirupnya beberapa kali tadi saat menunggu Jack dan Wiliam.


“Tak perlu. Kita langsung saja” Ucap Jack.


“Baiklah.” Wenny terlihat gugup.


“Aku datang langsung karena Jack sudah memberitahukan kalau Nona Wenny hendak melakukan kerja sama dengan perusahaan kami.” William langsung to the point.


“I-iya.” Wenny terbata dalam berbicara.


“Jadi kita langsung saja tanda tanganin perjanjian. Bagaimana?” tatap William tajam ke Wenny.


Wenny yang menerima tatapan tajam dan dingin William merasa ciut rasanya.


“Baik.” Wenny menjawab singkat.


“Bagus. Namun ada syaratnya juga”

__ADS_1


“Syarat apa?” Wenny menatap lurus ke William dan Jack.


William tersenyum penuh arti.


“Perusahaanmu dibawah kendali ku. Dan aku akan menjadi peruahanmu menjadi anak perusahaan kami. Lalu semuanya harus dengan ijin ku. Bagaimana?”


Wenny kaget. Ternyata bukan sebuah kerja sama biasa. Ia sudah menebaknya. Namun tak sangka akan permintaan yang di ajukan.


“Tapi itu perusahan ku. Kalau anda yang mengendalikannya, sama saja itu dikatakan punya anda Tuan Smith. Lalu bagaimana saya?” Wenny tak terima.


“Itu terserah anda. Atau anda mau dikejar pihak Bank dan tempat tinggal anda disita. Mau tinggal dijalanan. Dan satu lagi anda apa mau dipenjara karena pembukuan palsu dan tidak membayar pajak dalam waktu lama?” William langsung menghunuskan kata-kata tajamnya. Wenny terbengong dan matanya membulat besar.


“Jadi.. Jadi anda sudah tahu semuanya Tuan Smith” Wenny kalah telak.


“Hal seperti itu gampang kami ketahui. Jadi bagaimana Nona Wenny? Lagian anda tak akan rugi. Anda tetap memimpin perusahaan namun dibawah kuasa ku.”


Wenny pun tak punya pilihan lain. Tak ada yang akan membantunya. Jadi ia terima saja lah pilihan ini. Lagian ia masih memimpin perusahaan. Tak apa lah. Yang penting masalah keuangan teratasi semuanya.  Itulah pikir Wenny.


“Baiklah. Asal anda juga memberikan sejumlah uang yang banyak ke saya. 500 juta tak masalah kan? Hal itu pasti akan mudah anda lakukan kan Tuan Smith” Wenny tak mau rugi telak. Jadi ia meminta juga sejumlah uang selain kerja sama dan persyaratan tersebut.


“Baik. Tak masalah. Asal kedua orang tua Lilis kau lepaskan. Aku hendak membawa mereka keluar dari rumah mu” Walau sebenarnya rumah itu rumah keluarga hartono sebenarnya. Tapi William ingin meminta hal tersebut. Karena ia sudah mendengar cerita dari Lilis sebelumnya.


Wenny terdiam. Sial. Umpat Wenny dalam hatinya. Jika ia segera melepaskan kedua orang tua Lilis lalu bagaimana ia punya jaminan untuk menyiksa kedua orang tua Lilis dan sekalian menyiksa Lilis. Keluh Wenny sumpah serapah dalam hatinya.


“Bagaimana?” William tak bisa sabar lagi.


“Baiklah. Aku setuju asal kau memberikan dua kali lipat dari uang yang ku minta Tuan Smith” Wenny tersenyum simpul.


William menyunggingkan senyumnya. Dasar wanita mata duitan kata William dalam hatinya.


“Baik. Kita deal” William mengulurkan tangannya.


“Oke. Deal.” Wenny menerima uluran tangan William dan mereka pun berjabat tangan.


“Kalau begitu Nona Wenny harap menanda tanganin surat perjanjian kerja sama kita ini” Jack sekarang yang berbicara.


Wenny pun membubuhi tanda tangannya di surat-surat tersebut. Bahkan ia tak melihat lagi isi surat tersebut. Banyak sekali yang ia tanda tanganin. Tapi yang ia pikirkan hanyalah jumlah uang yang banyak yang akan ia terima.


“Oke. Selesai.” Ucap Wenny.


Wiliam lalu memeriksa dan tersenyum. Kemudian ia mengeluarkan cek dan menuliskan nominal 500 juta di cek tersebut. Dua lembar cek di berikan ke Wenny. Wenny menerima dengan senang hati.


“Oke. Kalau begitu terima kasih Tuan William Smith dan Pak Jack. Saya permisi dahulu.” Wenny hendak pergi tapi di cegah William.


“Tunggu dulu. Kita akan pergi bersama.”


“Maksud anda?” Wenny mengkerutkan keningnya. Kedua alisnya saling bertautan.


“Kerumah anda Nona Wenny.”


“Hah? Kok kerumah saya?”


Belum sempat William menjawab, Lilis pun telah tiba di tempat mereka. Wenny melirik ke arah Lilis dan kaget. Buat apa Lilis ada disini juga? Begitulah ucap Wenny dalam hati.


Bersambung...


Gerakan jempolnya yak :D


Di Like yang banyak ya kakak readers semuanya... kasi Vote juga banyak-banyak ya :D


No Plagiat ya. Hargai usaha dan kerja keras seseorang dalam berkarya. Jadi katakan tidak pada meniru karya seseorang dan tidak menjiplaknya. No Plagiat. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)


Jangan lupa kasi bintang 5 nya ya kak... :D


Ikutin terus kelanjutannya kak :D


Jangan lupa dukungannya kak agar semangat UP.


Di like juga semua episodenya ya kak. Tinggalkan Komennya juga :D


Di like, di vote dan klik Favorite yah sebagai tanda telah membaca dan menyukai karya ini, juga sebagai apresiasi ke karya ini.


Tembus 200 lebih like segera di UP kembali.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2