Rafa Dan Fatar

Rafa Dan Fatar
Bab 48.


__ADS_3

“Dasar ceroboh. Kenapa meninggalkan Hape disini. Syukur saja aku yang lihat.” Ucap Katty sambil meraih Hape William. Ia langsung mengangkat panggilan tersebut tanpa melihat nama si penelepon.


“Iya. Halo..” Jawab Katty.


“Ha-halo..” Suara Lilis diseberang sana berkata sambil terbata-bata.


Katty mengkerutkan keningnya. Kenapa suara seorang wanita. Sangat sedikit wanita yang berinteraksi dengan William. Karena William selalu dingin dengan semua wanita yang coba mendekatinnya. Lalu siapa wanita ini?? Katty pun melirik ke layar Hape. Di layar tertera nama Lilis dengan lambang ada bentuk hati.


Sedangkan Lilis di tempat lain merasa agak bingung. Sudah jelas itu nomer Hape William tapi kenapa seorang wanita yang menjawabnya.


“Ha-halo... Bisa bicara dengan William.. Ini nomer Hape William kan?” Lilis memastikan saja.


“Iya. Ini memang nomernya. Hape William ada ditanganku.”


“Williamnya ada kah? Aku ingin berbicara dengannya” Lilis merasa tegang. Pasalnya ia tak tahu siapa wanita yang berbicara dengannya ini melalui Hape.


“Dia sedang di toilet. Ada pesan. Akan ku sampaikan” Katty bersikap biasa saja.


“Lain kali saja kalau begitu. Tapi maaf, anda siapa ya?” Lilis menegang dan sampai menahan nafas menunggu jawaban dari Wanita tersebut.


“Aku Katty.”


“Katty?” Lilis mengkerutkan keningnya.


“Iya... Eh...” Perkataan Katty terhenti. Cincin yang ia pegang jatuh ke lantai.


“Kenapa?” Tanya Lilis.


“Ini... Cincin dari William malah jatuh. Sebentar, aku ambil dahulu ya..” Katty mencari cincin tersebut di lantai.


Lilis makin mengkerutkan keningnya. Dalam hati Lilis : (Cincin dari William?? Apa maksudnya itu? Apa William melamar wanita itu)


Lilis akhirnya mematikan teleponnya. Katty yang sudah menemukan cincinya segera memasukan ke boxnya. Dan meletakkan di meja. Agar tak jatuh lagi. Katty kemudian melihat ke Hape William. Eloh kok sudah mati. Begitu pikir Katty.


William kembali dari toilet. Ia duduk kembali di hadapan Katty. Katty memberikan Box yang ada cincinya beserta Hape William.


“Punya mu. Ini simpanlah dengan baik.”


“..” William menerima dan menyimpan box serta cincin juga Hapenya kemudian dimasukan ke sakunya.


“Kau ikut aku ya...” Ajak Katty.


“Kemana?”


“Bukankah kau mau bantuan ku. Ayo ikut aku.” Katty bangkit dan William mengikutinnya.


Katty dan William keluar dari cafe setelah membayar minumannya. Kini keduanya berada di dalam mobilnya Katty. Katty meminta William yang menyupirkan mobilnya.


“Kemana kita?” Tanya William.


“Ketempatku.” Kata Katty sambil memberi tahukan alamat dia sekarang tinggal. Ia tinggal di sebuah apartement di jalan XY.


“Oke” William mulai melajukan mobilnya.


Suasana hening sepanjang perjalanan. Kemudian Katty teringat kalau Hape William tadi ada panggilan dari Lilis.

__ADS_1


“Oh iya Will.. Tadi ada yang menelepon mu”


“Siapa?” William fokus pada jalanan tak menoleh ke Katty.


“Lilis..”


“Hah? Lilis? Dia menelepon ku?” William kaget.


“Yes... dan aku yang menerima panggilannya.”


“Apa yang dikatakannya?”


“Tak ada pesan. Dia malah menutupnya. Kau telepon balik saja nanti.”


“Oke.” William tersenyum.


Katty melihat senyuman hangat William. Ah... Senyuman hangat itu sudah lama tak dilihatnya. Dulu senyuman hangat itu hanya diperlihatkan William untuknya. Tapi sekarang sudah beda.


“Kenapa kau tersenyum. Apakah bahagia karena kekasihmu menelepon?”


“Iya.”


“Tadi kau seperti sedih saat membicarakannya. Sekarang malah happy”


“Jika dia menelepon ku, maka ada harapanku kembali.”


“Oh... begitu rupanya” Katty tersenyum kecil. Iya. Dia selalu tulus mendoakan kebahagian William.


William memperhatikan kaca spion mobil. Ia seperti melihat kalau mereka sedang dibuntutin. Sebenarnya sejak di cafe tadi, William sudah sadar kalau ada yang mengikutin mereka. Dan nampaknya mereka masih terus diikutin.


“Ok. Aku bersiap” Katty mengeluarkan sebuah pistol dari kaki kanannya yang diselipkannya. Ia melirik ke belakang.


William menambah kecepatannya. Ia melaju dengan sangat cepat. Mobil dibelakang menyadari kalau William sudah mengetahui mereka mengikutinnya. Mereka pun menambahkan kecepatannya untuk mengejar William dan Katty.


Terjadilah kejar-kejaran dijalanan. Kedua mobil saling mengejar dengan kecepatan maksimal. William membawa ke tempat yang tak banyak orang berlalu lalang. Karena takut akan melukai warga sipil. Akhirnya mereka melaju semakin kencang menjauh dari keramaian.


Katty yang sudah bersiap, langsung membuka kaca jendela mobil. Ia mengeluarkan kepalanya dan mengarahkan pistolnya ke arah mobil yang ada dibelakang. Beberapa kali tembakan di lakukan oleh Katty. Satu dua dan tiga tembakan. Masih melesat. Yang berikutnya baru mengenai kaca mobil, namun sayang kacanya seperti anti peluru. Katty mengubah sasaran tembaknya ke ban mobil lawan. Ia menembak beberapa kali. Dan yang berikutnya tepat sasaran mengenai mobil lawan. Mobil lawan tergelincir dan jatuh terguling-guling. Katty tersenyum puas. Ia duduk ke posisi semula dan menatap William yang disampingnya dengan masih fokus menyupir.


“Selesai. Sudah ku bereskan.” Baru saja Katty berkata sudah ada tembakan dari belakang. Ternyata masih ada lagi.


William dan Katty terkejut mendapatkan tembakan dari mobil lawan. Mobil terus melaju kejar-kejaran.


“Kat... Sepertinya masih belum beres” William melirik sekilas ke Katty. Ia masih fokus menyupir.


“Sialan. Siapa mereka? Kenapa mengejar kita. Sekarang mobilku malah di tembaki” Gerutu Katty. Katty kembali menembaki musuh yang ada di belakang. Yang di belakang pun terus menembak. Terjadi lah tembak menembak. Antara Katty dan musuh dibelakang.


Mobil yang lain pun datang dan kecepatannya menyamai kecepatan menyetir William. Lalu musuh berusaha disebelah William. Dan menyenggol mobilnya yang William bawa. William sedikit oleng. Namun tetap berusaha tidak keluar jalur.


“Will... jaga jalur kita.” Teriak Katty sambil terus menembak ke belakang.


“Hem...”


Kemudian mobil lawan William balas juga menyenggolnya. Mobil lawan sedikit oleng juga. Tapi masih disamping terus mengimbangi kecepatan William dalam mengendarai mobil.


Dan tiba-tiba. Bruk...

__ADS_1


Sebuah truk besar menabrak ke arah Mobil William dan Katty. Mobil melesat jauh dan terguling-guling. Dua mobil musuh datang mendekatin mobil William dan Katty yang terguling dijalanan. Sedang Truk besar tadi pergi melarikan diri karena di ancam oleh orang-orang yang mengejar William dan Katty.


William dan Katty luka-luka. William melirik ke Katty.


“Kat... Bagaimana dengan kau?” Ujar William ke Katty.


“Apa ada yang lebih baik lagi Will. Kau sendiri??” Katty melirik William. Ia berusaha meloloskan diri dari mobil yang mereka naiki.


“Luka.. tapi masih bisa bergerak. Kau?”


“Sama denganmu.”


“Ayo kita bergerak. Musuh mendekat”


William dan Katty berusaha keluar dari mobil. Luka-luka di sekujur tubuh tak mereka hiraukan. Setelah keduannya keluar dari mobil. Mereka segera mencari tempat berlindung.


“Pelurumu masih ada Kat?”


“Masih. Kau?”


“Aku bawa senjata sendiri” William mengeluarkan senjatanya. Sebuah pistol yang ia selipkan dibelakang pinggangnya. Selama ini kalau kemana-mana ia memang selalu sedia senjata.


William dan Katty terengah-engah. Menatap ke arah musuh. Mereka berlindung sambil menatap ke arah musuh.


Dua mobil yang mengejar mereka. Berhenti di dekat mobil mereka yang terguling-guling tadi. Keluarlah 4 orang pria asing yang tak mereka kenal. Pihak musuh melihat dan memeriksa mobil William dan Katty. Setelah tahu kalau William dan Katty tak ada, mereka segera memeriksa tempat sekitar mencari William dan Katty.


“Mereka siapa Will?”


“Aku pun tak tahu Kat”


Musuh menyadari kalau William dan Katty sedang bersembunyi. Salah seorang berkata.


“Itu mereka.”


“Tembak.”


Terjadilah tembak menembak kembali. 4 pria asing juga menembak sambil berlindung juga. Sama halnya seperti Katty dan William.


Tembak menembak terus. Akhirnya William melirik ke arah mobil mereka tadi yang terguling. Ia melihat minyak telah keluar. William membidik ke arah mobil dan minyak tersebut. Dan Duar.. terjadi ledakan besar. Karena ke 4 pria asing tersebut berada didekat mobil tersebut maka ke 4 pria asing terkena ledakannya.


Mereka terkulai lemas dan luka-luka. William dan Katty mendekat. Tiga orang telah tewas. Satu orang walau luka-luka tapi masih hidup. William mendekatinnya.


“Siapa kau? Dan Siapa yang menyuruhmu?” Ucap William.


 


Bersambung...


Jangan Lupa Klik Vote dan Favorite ya kakak-kakak Readers semuanya. :)


Di like juga semua episodenya ya kak. Tinggalkan Komennya juga. Dukungan kalian akan sangat berarti agar Authornya semangat dan bisa UP cerita secepatnya. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)


 


 

__ADS_1


__ADS_2