
Laura dan Philip telah tewas di tangan Katty.
Katty melihat ke arah William yang masih terdiam dan terpaku di tempat. Katty mendekatinya.
Jack pun mendekatin William.
William jatuh berlutut. Ia tak tahu lagi harus bagaimana.
“Will... Kau harus kuat. Jika kau lemah, bagaimana dengan Lilis nanti.” Ucap Katty pada William yang terlihat kacau tak menentu.
“Iya Will. Kau harus kuat. Demi Lilis dan anak-anakmu” Sambung Jack pula.
Katty membantu William berdiri. Ia memapahkan berjalan. Jack juga mengikutin dari belakang. Mereka sedang berjalan menuju lantai atas.
Di lantai atas, Lilis seperti orang yang seakan jiwa nya tak ada di tempat. Pandangannya kosong. Wajahnya sembab karena tadi terus menangis. Ia terlihat putus asa. Lilis merasa dirinya sudah kotor dan terhina. Ia merasa hancur dan tak pantas lagi untuk William. Ia tak berani lagi menatap wajah William apalagi bertemu dengannya. Ia tak sanggup juga bertemu anak-anaknya.
Lilis melihat sebuah kaca. Ia pecahkan kaca tersebut. Suara pecahan kaca membuat William, Katty dan Jack segera berlari ke arah Lilis.
Lilis mengambil pecahan kaca. Ia lalu menggores tangannya tepat di urat nadinya. Ia berpikir lebih baik saat ini mati saja. Ia tak sanggup bertemu semua orang .
Darah seger merembes keluar dari tangan Lilis. Ia seakan sudah tak merasakan sakit goresan di tangannya. Lilis hanya menatap kosong.
William , Katty dan Jack tiba. Dimana mereka melihat Lilis bersimbah darah di tangannya yang sudah tergores pecahan kaca tadi.
“Lilis...” Ucap William dan mendekatin Lilis.
Katty dan Jack kaget melihat keadaan Lilis yang sudah penuh luka-luka, memar, bajunya sobek-sobek dan penampilan yang kacau. Apalagi di tambah dengan darah yang terus menetes dari tangannya. Bisa di pastikan oleh mereka kalau Lilis memotong urat nadinya. Semakin membuat Katty, William serta Jack kaget luar biasa. Mereka cemas.
William mendekatin Lilis.
“Lilis... sayangku...”
Namun Lilis mencegahnya.
“Jangan...Jangan dekatin aku.”
Lilis kembali menangis.
“Lis... Kau berdarah. Aku ini menolongmu.”
“Tinggalkan aku sendirian...” Lilis masih terisak.
“Tidak sayang. Aku tak akan pergi. Aku akan selalu bersama mu. Jangan tinggalkan aku sayang. Please.”
Namun Lilis tetap tak mau mendengarakan William. Melihat William pun tak sanggup dirinya. Lama-kelamaan Lilis merasa pusing dan ia terjatuh pingsan.
William melihat Lilis pingsan, cepat-cepat ditolongnya. Ia memeluk tubuh Lilis dan mencium keningnya Lilis. Lalu segera menggendongnya ala style bridal.
William segera membawa Lilis. Jack dan Katty mengikutin dari belakang William. Mereka segera menaiki mobil dan menuju rumah sakit.
***
Dirumah sakit.
Didalam ruangan pasien kamar VVIP. Lilis terbaring di ranjang pasien. Matanya masih terpejam. Syukurlah ia terselamatkan dan dokter yang menanganin menyelamatkan Lilis dengan segera.
William menatap sedih ke arah Lilis. Katty dan Jack berada di samping William.
“Will... Istirahatlah. Kau juga terluka. Baru di obatin dokter juga. Sebaiknya kau istirahat.” Jack mencoba menyuruh William istirahat.
“Tak perlu. Aku akan disamping Lilis. Kalian lah yang harus istirahat.” William masih menatap ke arah Lilis.
“Jack...” Katty memanggil Jack.
“Iya...”
__ADS_1
“Biarkan dahulu William dan Lilis. Mereka butuh ruang dan waktu untuk berdua. Ayo kita keluar.” Katty mengajak Jack kelaur. Keluarlah mereka dari ruangan pasien tersebut.
William, Katty dan Jack juga terluka. Tapi mereka sudah di obatin dokter juga. Kini Jack dan Katty pergi keluar dan pulang ke rumah. Sedangkan William masih duduk disamping Lilis. Ia menggenggam tangannya Lilis. Lalu mencium punggung tangannya Lilis.
“Maafkan aku sayang. Kau sampai begini karena aku. Sadarlah sayang. Dan percayalah Lis, cinta ku padamu akan selalu sama seperti sebelumnya. Aku selalu mencintaimu untuk selamanya.” William mengecup punggung tangannya Lilis sambil berderai air matanya.
Lama-kelamaan ia pun tertidur disamping Lilis. William tertidur sambil memeluk tangannya Lilis yang sebelahnya yang tak terluka.
Setelah berjam-jam kemudian, Lilis akhirnya sadar. Ia melihat William tertidur di samping ranjangnya. Lilis melihat tangannya yang sudah diperban.
“Kenapa tak mati saja...” Gumam Lilis pada dirinya sendiri. Ia malah jadi ingin bunuh diri kembali. Lilis turun dari ranjangnya. Ia melepaskan tangannya dari genggaman William. Lilis sudah menatap kosong. Ia berjalan ke arah luar. William terbangun. Dan saat bangun, ia tak melihat Lilis. Begitu paniknya William.
William pun keluar dari kamar pasien, ia mencari-cari Lilis. Kesana-kemari dicarinya Lilis. William benar-benar panik. Dan William berlari ke arah atap gedung rumah sakit.
Di atas gedung, akhirnya ia melihat Lilis. Tapi ia melihat Lilis sudah di ujung tepian. William berlari dan datang mendekatin Lilis.
“Tidak... Jangan Lis... Hentikan.” Suara William bergetar. Ia menatap sedah ke arah Lilis.
Lilis berbalik melihat William.
“Maafkan aku Will...” Ucap Lilis sambil berderai air mata kembali.
Lilis sudah bersiap meloncat dari atap gedung rumah sakit. Namun William segera berlari dan menangkap Lilis. Tangannya Lilis di pegangnya dengan erat.
“Jangan begini Lis... Jangan tinggalkan aku. Aku mencintaimu sayang.” Ucap William. Ia dengan sekuat tenaga menarik Lilis kembali ke atas.
Dan akhirnya Lilis terselamatkan kembali oleh William. William memeluk Lilis dengan eratnya.
“Jangan pernah lakukan itu lagi sayang. Pikirkan anak-anak kita sayang. Pikirkan aku juga. Aku tak peduli dengan apa pun yang sudah menimpamu. Aku tetap mencintaimu. Cintaku tak akan pernah pudar. Dan tak akan pernah berubah sayang. I love you so much.” William mencium puncak kening Lilis.
Lilis menangis dalam pelukan William.
Beberapa saat kemudian Lilis sudah tenang. William membawa Lilis kembali kekamar pasien. Tapi yang anehnya kini Lilis hanya diam. Dia hanya diam tanpa mau berbicara apa pun. William bertanya ke dokter, apa yang terjadi pada istrinya? Dokter menjawab mungkin istri anda terkena trauma. Jiwa dan mentalnya terganggu. Saran saya segera ke dokter spesialis. Atau ke psikiater. William tentu terguncang dengan yang disampaikan oleh dokter.
Setelah cukup lama di rumah sakit, William kemudian membawa Lilis pulang. Di jemput oleh Katty dan Jack.
William membiarkan Lilis istirahat dikamarnya sendirian.
William kembali ke ruang tengah, dimana ada Katty dan Jack. Mereka duduk bersama.
“Si kembar dimana Jack?” Tanya William.
“Masih disekolah. Tania yang mengurusin si kembar. Nanti Tania juga yang akan menjemput si kembar.” Jawab Jack.
“Lalu bagaimana Lilis sekarang Will?” Katty kali ini yang berbicara.
“Aku tak tahu Kat. Dia seperti itu terus sekarang. Hanya diam dan tak bicara. Pandangannya kosong. Tubuhnya disini tapi jiwanya ntah kemana.”
“Sabar ya Will. Ku doakan Lilis akan baik-baik saja. Kalian bahagia selalu. Itulah doa dan harapan ku” Ucap Katty dengan tulus.
“Kau mau pergi Kat?”
“Iya Will. Tugas ku sudah selesai disini. Chip yang di curi sudah ku dapatkan. Aku juga sudah membantumu. Aku akan melaporkan ke Bos V. Dan ini mendali untuk mu. Bos V bilang, jika tugas berhasil dan selesai, aku harus menyerahkan ini padamu. Ini tanda kau sudah resmi pensiun. Semua datamu akan segera di hapus di organisasi di divisi V. Pemerintah Inggris juga mengucapkan terima kasihnya padamu atas semua jasa-jasamu selama ini.” Katty menyerahkan mendali tersebut.
William menerimanya.
“Terima kasih kat.” William tersenyum tipis. Karena saat ini memang keadaannya sedang tidak baik.
"Sampaikan salam ku pada Lilis. Kau harus kuat dan sabar Will. Ku doakan kalian baik-baik saja dan bahagia ya. Aku pergi ya Will... Jack.." Ucap Katty ke William dan juga sekalian menatap ke arah Jack.
Katty pun pamitan pada William dan Jack. Sebelumnya ia sudah mengemasi kopernya. Ia harus segera kembali ke Inggris untuk menyerahkan chip tersebut. Sekalian melarikan diri. Karena mungkin saja sekarang Katty akan di buru oleh para mafia dari Jerman atau gengster dari Tiongkok. Pasti berita akan cepat menyebar. Ia harus segera pergi.
Di pintu depan Katty berpapasan dengan si kembar dan Tania.
“Loh... Tante Katty mau kemana?” Tanya Rafa.
__ADS_1
“Iya. Mau kemana Tante?” Fatar pun bertanya.
Katty tersenyum lembut.
“Maaf ya... Tante harus kembali pulang ke Inggris. Misi Tante sudah selesai disini.”
Si kembar pun menganggukan kepalanya.
“Hati-hatilah Kat...” Ucap Tania. Katty pun menganggukan kepalanya.
Pergilah Katty dengan supir yang sudah disuruh oleh Jack untuk mengantarkan Katty ke bandara.
Si kembar masuk ke rumah bersama Tania. Kemudian ikut bergabung duduk di ruang tengah.
Si kembar memeluk Papanya. Tania duduk disebelah Jack.
“Papa...” Ucap si kembar bersamaan.
“Halo sayang... anak-anak Papa” William memaksakan diri tersenyum.
“Papa... Mama mana??” Rafa melihat sekeliling tapi tak melihat Mamanya.
“Iya Pa... Mama mana? Fatar kangen sama Mama.” Fatar juga menanyakan Mamanya.
“Mama kalian...” William bingung menjawab pertanyaan anak-anaknya. Si kembar menatap William dan menunggu jawaban William. William menatap sedih kedua anak kembarnya. Ia tak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaan anak-anaknya.
Bersambung...
Hiks... Hiks.... Author kok jadi sedih juga ya mikirkan nasib Lilis, William dan anak-anaknya. William juga sangat mencintai Lilis ya... Lilis sudah seperti itu pun William tetap mau menerima dan mencintainya. Semoga mereka kuat dalam menghadapi dan menjalanin cobaan hidup ini ya. Aaammmiiinn.
Yang suka dengan karya ini, ikutin terus kisahnya sampai akhir ya kakak readers semuanya :)
No Plagiat ya. Hargai usaha dan kerja keras seseorang dalam berkarya. Jadi katakan tidak pada meniru karya seseorang dan tidak menjiplaknya. No Plagiat. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)
Karya ini sedang mengikutin lomba, jadi mohon dukungannya terus ya kak.
Cara mendukungnya gampang yaitu :
1. Like semua episodenya / bab-nya ya kak. Dibaca juga semua babnya :)
2. Klik Vote setiap hari saat ya kak. Dan setiap hari senin juga :D
3. Klik Favorite juga ya kak
4. Selalu berikan dukungannya ya kak setiap saat :D
5. Tinggalkan komen ya kak :)
6. Kasi bintang 5 ya kak untuk karya ini sebagai menyukai karya ini dan apresiasi ke karya saya ini.
Makasih semuanya. Dukung terus karya ini ya kakak readers semuanya, biar Author semangat UP ceritanya. Love you all :)
Yuk kak buat karya ini makin bersinar, ajak gitu semuanya buat like semua babnya, komen, vote serta favoritekan yak. Jangan lupa kasi bintang 5 nya ya. karya ini sedang mengikutin lomba, semoga masuk 10 besar yak. Karena itu butuh dukungan dari kakak readers semuanya. Yuk kak buat karya ini masuk 10 besar gitu hehehe.
Hari ini Author ulang tahun loh.... Hehehe... :D Jadi kasi hadiah Vote yang banyak ya dan Like juga banyak-banyak ya. Terima kasih semuanya.
Tembus 200 lebih like segera di UP kembali.
__ADS_1