Rafa Dan Fatar

Rafa Dan Fatar
Bab 46.


__ADS_3

“Jadi kemana Tuan Smith?” Tanya Lilis kembali.


Kembali Resepsionis tersebut heran, kok Lilis gak tahu dimana Tuan William Smith.


“Maksudku Tuan Smith ada dimana sekarang?” Tanya lilis karena resepsionis tak langsung menjawab.


“Tuan Smith saat ini ada di Inggris Non.”


“Di inggris” Gumam Lilis. “Jadi dia kembali ke Inggris. Lalu masalah mereka dan anak-anak gimana kelanjutannya” itulah kata-kata dalam hati Lilis.


“Ya sudah. Makasih Mbak.” Ucap Lilis ke Resepsionis.


“Sama-sama Non.”


Lilis nampak berjalan dengan lesu. Ia seperti tak punya arah. Tiba-tiba pintu Lift terbuka. Jack dan Natasya keluar dari Lift. Jack melihat ke arah Lilis. Ia memanggil Lilis dan meminta Natasya untuk duluan saja.


“Natasya, kau duluan saja ya. nanti aku menyusul.”


“Baik Pak” Natasya berlalu pergi duluan.


Jack menoleh ke arah Lilis.


“Lis... Lilis.” Panggil Jack.


Lilis melihat kebelakang. Ia melihat Jack datang mendekatinnya.


“Kenapa kau disini Lis..” Tanya Jack.


“Anda yang menyamar jadi William Smith kan?” Lilis malah balik bertanya.


“Ah.. itu. Iya. Maafkan aku. Aku hanya mengikutin permintaan William. Aku minta maaf. Nama ku Jack sebenarnya.”


“Oh... kau Jack. Ternyata yang bernama Jack itu adalah kau. Eh Pak...”


“Panggil Jack saja Lis... oh iya ayo ikut aku.” Ajak Jack ke Lilis.


“Kemana? Aku disini hendak..” Lilis belum selesai berbicara tapi Jack malah memotong.


“Ingin beretemu William kan. Ayo ikut aku keruang ku dahulu.”


Lilis pun akhirnya menurut. Ia mengikutin Jack. Dan sampailah mereka ke ruangan Jack. Jack dan Lilis duduk disofa di ruangan tersebut.


“Mau minum?” Jack menawarkan.


“Tak perlu.”


“Sekali lagi Maaf ya Lis...” Jack menyesal untuk yang sudah sudah.


“Iya. Tak apa-apa.”


“jadi kau ingin bertemu William”


“Tapi dia tak ada disini kan”


“Iya. William saat ini berada di Inggris. Tapi ada hal apa kau mau menemuinya. Apa masalah anak kalian lagi kah?”


“Bukan. Ini masalah lain. Masalah keluargaku.”

__ADS_1


“Ada apa?” Jack sebenarnya sudah menyelidiki banyak. Tapi kelanjutannya ia belum tahu.


“Aku...” Lilis ragu menceritakannya ke Jack.


“Tak apa-apa Lis... anggap saja aku adalah kakak laki-lakimu.”


Lilis melihat kalau Jack sangat penuh pengertian. Ia pun jadi tak sungkan. Lilis menceritakan semua yang terjadi tadi dirumah keluarga Hartono. Jack mendengarkan dengan serius.


“Jadi begitulah... karena itu aku mencari William. Ingin bantuannya.” Lilis mengakhiri ceritanya.


“Hem... agak rumit. Ternyata sudah sampai seperti itu.”


“Hah? Sudah sampai? Maksudnya?”


“Sebenarnya Aku disuruh William untuk menyelidikinya. Setelah kejadian kau pingsan dan berita Papamu jatuh sakit dan perusahaan diambil alih oleh Wenny, William sudah merasa aneh. Ia menyuruhku menyelidiki lebih lanjut.”


“Lalu?” Tanya Lilis ke Jack.


“Dari hasil penyelidikkan ku, kalau Papamu sengaja di buat jatuh dari tangga. Lalu diberikan obat yang membuatnya lumpuh seperti sakit stroke. Tapi kelanjutannya belum ku selidiki lagi. Ternyata sudah sampai seperti itu ya..”


“Jadi... kau sudah mencari tahu. Jadi Papaku sakit karena ulah Wenny dan Mamanya.”


“Iya.”


“Sungguh tega mereka ke orang tuaku.” Lilis mengepalkan tangannya. Sampai buku-buku tangannya memutih. Ia terlihat sangat marah. Jika tadi ia bersedih dan bingung. Namun sekarang ia terlihat marah.


“Hem... Manusia jaman sekarang banyak tingkah dan pola pikir yang tak bisa kita prediksi Lis. Kita lah yang harus waspada dan berhati-hati. Didepan bisa terlihat manis. Tapi dibelakang bisa saja menikam. Mereka memakai topeng palsu.”


“Iya. Kau benar Jack. Mereka selama ini memakai topeng untuk menipu kami. Aku harus menolong kedua orang tuaku. Aku juga harus mengambil kembali harta juga perusahaan keluarga Hartono.”


“Aku tak tahu. Tapi saat ini aku hanya memikirkan orang tuan ku. Tolong bantu aku. Jika William tak ada. Maka aku akan meminta bantuanmu.”


“Aku tak punya kuasa penuh Lis... tapi aku akan berusaha. Aku juga akan memberitahukan hal ini ke William.”


“Terima kasih Jack. Dan ...”


“Dan apa?”


“Dan William kenapa ke Inggris. Apa dia tak akan kembali ke Indonesia?”


Jack tersenyum kecil. Ia seperti melihat kalau Lilis masih menyimpan perasaan ke William.


“Kenapa Lis? Apa kau cemas kalau William tak kembali? Bukan kah itu yang kau mau. Tak ingin melihat William dan memintanya menjauhimu. Ketahuilah Lis, William sempat prustasi karenamu. Ia sangat mencintaimu Lis. Benar-benar mencintaimu” Jack melihat ke kedua bola mata Lilis. Ia seperti melihat ada genangan air dimata Lilis.


“Aku sulit Jack. Sulit menerima William kembali. Kenangan pahit itu masih membayangiku.”


“Kau masih mencintai William kan Lis?”


“Aku tak tahu.”


“Tak tahu atau tak mau mengakui”


“...” Lilis hanya diam.


“William ke Inggris karena ada urusan. Dia bilang berhubungan dengan kerjaannya dahulu. Aku juga gak tahu kapan dia kembali. Dan masalah anak-anak kalian sebaiknya kau tanya William. Aku akan mencoba sebisa ku dalam masalah kedua orang tua mu. Oke Lis.”


“Terima kasih Jack”

__ADS_1


“Tak masalah Lis. Karena kau sudah jadi tanggung jawabku.”


“Kenapa begitu?”


“Karena William berpesan kalau aku harus menjaga dirimu Lis serta anak-anaknya juga perusahaan ini.”


Dalam hati Lilis : “Menjagaku serta anak-anak??? Kenapa begitu??”


“Kau mungkin bingung. Tapi itulah pesan William” Kata jack kembali.


Hati Lilis nampak kacau. Campur aduk.


“Kembali lah pulang dan istirahat. Sudah saat nya Rafa dan Fatar dijemput sekolah juga. Aku akan menyuruh sopir mengantarmu pulang sekalian menjemput anak-anakmu. Masalah Ivanka, aku akan bantu jelaskan.”


Lilis menatap ke arah Jack. Lilis heran apakah Jack tahu tentang Ivanka yang terus meneleponnya dan mengirim chat untuk masuk kerja.


“Iya. Aku tahu Lis. Ivanka terus menanyakanmu kenapa tak masuk kerja. Aku akan bilang kalau kau sementara cuti dahulu karena urusan keluarga. aku yakin Ivanka akan mengerti. Dan masalah kerjaan kalian, akan ku kirim tim lain untuk membantu Ivanka.” Ucap Jack.


Jack seperti tahu saja apa yang dipikirkan Lilis. Lilis sedikit lega setelah mendengarkan kata-kata Jack. Karena masalah kerjaan sedikit teratasi.


“Tapi kau pertimbangkan lagi ya. Masalah berhenti kerja. Sebaiknya kau urungkan. Pikirkan demi kebaikan anak-anakmu. Bukankah kau butuh biaya hidup kalian bertiga. Jadi ingatlah itu. Tetap lah bekerja di I.S. Oke” Jack kembali berucap ke Lilis.


“Oke. Aku pertimbangkan kembali. Kalau begitu aku pulang ya. sekali lagi terima kasih Jack” Lilis pamit pulang.


Jack menganggukan kepalanya. Ia sudah menyuruh supir yang ditunjuk untuk mengantar Lilis pulang sekalian menjemput anak-anak Lilis disekolah.


Lilis kini berada didalam mobil yang sudah disiapkan Jack. Mobil melaju menuju arah sekolah anak-anaknya. Sesampainya disana, ternyata si kembar sudah waktu pulangan dan anak-anak sudah menunggu digerbang sekolah. Lilis turun dari mobil dan menyapa anak-anaknya.


“Rafa... Fatar...” Lilis berusaha tersenyum ke arah anak-anaknya.


“Mama...” Ucap si kembar bersamaan dan berlari ke arah Lilis lalu memeluknya.


“Mama jemput kami pakai mobil?” Tanya Rafa


“Iya Nak...” Jawab Lilis.


“Asyik naik mobil lagi...” Ucap Fatar.


“Lagi???” Lilis mengkerutkan keningnya.


Rafa melotot ke arah adiknya. Ia pun mencubit pinggang sang adik. Fatar jadi mengaduh kesakitan. Karena ulah Rafa.


“Rafa... Fatar.. ayo jelaskan ke Mama.” Lilis menatap ke arah anak-anaknya. Wajahnya sangat serius.


Si kecil Rafa menghelas nafasnya. Ia hendak menjelaskan.


 


Bersambung...


Jangan Lupa Klik Vote dan Favorite ya kakak-kakak Readers semuanya. :)


Di like juga semua episodenya ya kak. Tinggalkan Komennya juga. Dukungan kalian akan sangat berarti agar Authornya semangat dan bisa UP cerita secepatnya. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)


 


 

__ADS_1


__ADS_2