Rafa Dan Fatar

Rafa Dan Fatar
Bab 9.


__ADS_3

“Hah... mantan tunangan? Tau dari mana hal itu Rafa? Lilis kaget mendengarnya.


“Jadi bener Ma? lalu apakah Om Panji itu Papanya rafa dan Fatar?”


“Bukan sayang.” Ucap Lilis cepat. Ia bingung kenapa anaknya berpikiran hal itu.


“Benarkah Ma bukan”


“Iya. Bukan. Panji Sudrajat bukanlah Papa kalian. Mama yakin akan hal itu”


“Oh...” Wajah Rafa nampak sedih. Ia pikir kalau ia akan menemukan Papanya. Nyatanya belum.


“Sudah larut. Kembali tidur ya..” Lilis membaringkan Rafa kembali. Tak berapa lama kemudian Rafa tertidur kembali.


Lilis mencari Dimas. Dimas ternyata ada diruang tamu.


“Dim... sudah larut malam jadi..”


“Iya aku tahu. Kau pun ingin istirahat kan. Aku pamit pulang ya.”


“Iya. Makasih untuk hari ini”


“sama-sama”


Pulang lah Dimas dan Lilis mengunci pintu depan. Ia segera kekamar mandi membersihkan diri dan ganti pakaian tidur. Lilis pun lalu merabhakn dirinya disamping anak-anaknya yang sudah tidur.


***


Esok Pagi nya.


Lilis yang sedang bersiap kerja melihat kearah kedua anaknya yang masih sedang sarapan.


“Mama mau berangkat kerja. Gak apa-apa kan Mama tinggalkan duluan.”


“Iya Ma. Enggak apa-apa” Rafa melihat ke Mamanya.


“Nanti Bibi May akan menemanin kalian seperti biasanya.” Ucap Lilis kembali.


“Iya Ma...” Kali ini Fatar yang bicara.


“Rafa... Mama mau bertanya. Darimana Rafa tau tentang perihal Mantan Tunangan Mama?” Lilis menatap Rafa. Lilis penasaran darimana anaknya tahu akan hal itu.


“Om Sudrajat ya Ma...” Ucap Rafa.


“Iya”


“Dari berita.”


“Maksudnya?”


Rafa melangkah dan mengambil sesuatu. Kemudian menyerahkannya ke Mamanya.


Lilis menerima selembar kertas. Sebuah artikel berita. Berita pertunangan Lilis dan Panji. Dimana Keluarga Hartono dan keluarga Sudrajat mengumumkan akan menjodohkan anak-anak mereka. Berita ini di cetak saat Lilis baru Lulus kuliah. Sebelum kejadiaan naas menimpa nya. sudah sangat lama. Darimana anaknya menemukan artikel ini. Ini artikel lama.


“Dari mana Rafa menemukan artikel ini?” Tanya Lilis.


Rafa menatap ke Fatar. Kini Fatar yang berbicara.


“Fatar yang nemuin Ma... gak sengaja lihat koran lama/ bekas. Fatar pungut eh gak tau nya ada berita tentang Mama...” Fatar memberikan penjelasan. Walau sebenarnya bukan seperti itu. Mereka menemukannya dari berita yang diretas Fatar di komputer ala hasil karyanya. Kemudian dicetaknya bersama Rafa. Karena mereka pikir telah menemukan Papa.


“Oh.. begitu. Kebetulan sekali.” Ucap Lilis.


“Tapi Ma... di artikel itu dikatakan Mama dari keluarga Hartono yang kaya raya. Tapi kehidupan kita begini. Apa Kakek tidak menerima Kami ya Ma...?” Si kecil rafa bertanya kembali.


“Suatu Hari Mama akan cerita ya sayang. Sekarang Mama berangkat kerja dahulu ya.”


“Iya Ma...” Jawab si kembar bersamaan.


Lilis mencium kedua pipi anak kembarnya. Ia pun lalu berangkat kerja.


Diluar rumah. Lilis berhenti. Ia mulai menangis. Mengingat kejadian dahulu. Dimana Papa nya yang marah dan mengusirnya. Ia mulai menagis kembali. Tapi tangisan itu cepat dihapusnya. Karena ia tak ingin ada yang melihatnya menangis.


Didalam rumah. Rafa dan fatar berbincang-bincang.


“Kak. Sepertinya Mama sedih.” Ucap fatar yang mengintip dari kaca jendela untuk melihat Lilis yang pergi kerja.


“Mungkin Kakek tidak menerima Kita. Jadi Mama teringat dan jadi sedih.”


“Jadi Panji sudrajat bukan Papa kita”


“Mama bilang bukan.”


“Yah... jadi siapa donk Papa kita sebenarnya.”

__ADS_1


“Entahlah..”


“Oh iya kak. Buatkan rumus ini. Aku ingin membuat sesuatu”


“Kenapa tidak kau rancang sendiri?”


“Jika dengan perhitungan mu maka akan lebih akurat kak.”


“Baiklah.”


Rafa menerima sebuah sketsa gambar. Dan mulai membaca deskripsi nya. ia pun mulai merumuskan sebuah formula.


15 menit pun berlalu.


“Oke sudah selesai. Aku sudah menghitung bolak balik. Jadi ini rumus yang pas”


“Oke. Terima kasih kak. Dengan rumus mu aku akan membuat sebuah Formula digabungkan alat buatan ku.”


“Oke. Kakak bantu rakit juga”


“Terima kasih kak”


***


Lilis dan Dimas sibuk melayanin para tamu yang sangat banyak datang ke restoran.


“Hari banyak sekali Tamunya” Ucap Lilis.


“Iya. Semua pekerja bertugas tanpa henti” sahut Dimas.


Manager datang.


“Lilis... sgera ke ruang VVIP no. 6 layanin tamu disana?” Kata Managernya


“Baik. Dim... kerjaan memanggil. Sampai nanti ya..” Lilis pun bergegas.


Kini Lilis menuju ruangan Khusus VVIP no.6. Biasanya ruangan VVIP hanya digunakan oleh Tamu khusus saja. Lilis pun masuk kedalam.


Betapa kagetnya Lilis ternyata dia melihat Yudha didalam ruangan tersebut.


“Hai Lilis.” Sapa William yang menyamar sebagai Yudha.


“Hai juga.. Kau kenapa disini?” Tanya Lilis.


“Tentu saja. Dengan siapa kau kemari. Ini ruangan VVIP. Sangat mahal memesan ruangan ini.” Lilis teringat kalau Yudha hanya seorang asisten.


“Nona... walau aku hanya seorang asisten. Tapi aku bukan asisten sembarangan. Kami dari perusahan I.S, Apa anda tahu apa itu perusahaan I.S. itu adalah International Smith. Perusahaan I.S sangat terkenal. Dan aku adalah asisten khusus Tuan Smith”


“Oh... begitu kah?“


“Lagian sebentar lagi Bos ku akan kesini. Jadi aku sekalian akan memesankan makanannya. Bos ku bukan orang sembarangan jadi ia harus dapatkan yang terbaik.”


“oh... eh... Bos mu tak marahkan kepada ku. Sampaikan Maaf ku padanya ya.”


“Tenang saja. Semua aman. Tapi aku tak sangka kau bekerja disini.”


“Eh iya. Aku memang seorang pelayan restoran. Aku bekerja di Restoran milik Tania. Ini salah satu cabang Restorannya.”


“Heemmmm...” William mangut-mangut.


“Lalu apa yang mau kau pesan.”


“Aku pesan menu paket A dan C”


“Baik. Segera saya antarkan.”


Lilis pun undur diri. Dan ke pihak dapur untuk memberikan catatan pesanan Tamu di ruangan VVIP no. 6.


Setengah jam berlalu. Amakanan pun siap. Lilis membawa Troli untuk membawa makanan nya. didorongnya masuk kedalam ruangan VVIP tersebut. Troli berisi makanan yang masih tertutup lalu dibukanya penutupnya. Disusun Lilis diatas meja dengan rapi. Setelah semua sudah rapi tertata, ia ingin pamit keluar. Tapi William mencegahnya.


“Tunggu...”


“Hah... kenapa? Apa ada yang salah dengan menunya.?” Tanya Lilis dengan heran.


“Bukan itu. Temanin aku makan.”


“Eloh... bukannya Bos mu akan datang. Bagaimana bisa aku menemanin mu makan.”


“Bos ku baru saja memberi pesan di SMS. Dia berkata tak jadi kemari. Aku sudah terlanjur pesan. Kan sayang dibatalkan. Jadi temanin aku makan. Kita makan bersama.”


“Tapi aku sedang bekerja”


“Tenang saja. Kau menemanin aku makan juga suatu pekerjaan. Bilang saja nanti pada managermu kalau kau melayanin aku makan. Sekalian kau bisa istirahat disini. Tenang saja.”

__ADS_1


“Baiklah.” Lilis sebenarnya memang sudah lelah. Jadi ia mengiyakan saja. Lilis duduk berhadapan dengan William.


Kini kedua nya mulai makan. Sesekali dilihat Lilis kalau lelaki dihadapan nya ini memperhatikan ponselnya lalu berpindah ke beberapa file.


“Nampak nya makan pun harus sambil bekerja ya..” celoteh Lilis.


William menyadarinya. Ia pun tersenyum.


“Maaf. Kita lanjut makan ya... sambil berbincang bolehkan.”


“silahkan...”


“Lis... kau tinggal dimana dan sampai jam berapa selesai bekerja nya?”


“Itu hal pribadi. Maaf. Tak bisa menjawabnya.” Lilis mengunyah makanannya.


“Baiklah.” William sebenarnya hanya basa basi saja. Sebenarnya ia sudah tau semua nya tentang Lilis.


Mereka makan dengan tenang. Setelah selesai makan. William buru-buru hendak pergi.


“Terima kasih ya sudah menemaninku makan. Aku duluan ya Lis.”


“Eh... eloh main pergi saja.”


William bergegas dan segera membayar dikasir lalu pergi.


Lilis membereskan piring-piring


kotor dan meletkan di troli makanan. Ia hendak berjalan keluar, namu ia


berhenti.


“Apa ini? Sebuah berkas? Mungkin punya dia? Tertinggal... gimana ini?”


Lilis membuka berkas tersebut dan dilihat nya isi nya masalah pekerjaan dan ada sketsa gambar pakaian... Lilis tertarik dengan gambar tersebut. Sebenarnya dulu Lilis punya hobi untuk merancang pakaian. Walau ia Lulusan dari Bisnis management tapi punya keinginan tentang Desain Pakaian.


“Ini... bukankah Desain Pakaian??? Juga ada berkas penting lainnya. Sebaiknya aku kembalikan.”


Lilis berlari keluar untuk mengejar William. Namun sayang William sudah pergi.


“Ah... sudah tak ada. Bagaimana ini?” Lilis jadi bingung.


Jam istirahat. Beberpa pelayan diberi waktu istirahat bergantian selama 15 menit. Giliran Lilis dan Dimas yang istirahat.


“Dim... temenin aku keluar ya..” Ajak Lilis.


“Kemana? Makan siang di luar ya...”


“Bukan... aku minta temanin ke Perusahana I.S”


“Hah... perusahaan I.S??”


“Iya. Kau tahukan dimana itu?”


“Aku tahu. Tapi untuk apa kesana?”


“Tamu tadi meninggalkan berkasnya. Sepertinya penting jadi aku ingin mengantarkannya. Nanti kutraktir makan siang deh.” Lilis membujuk Dimas.


“Okelah. Yuk kita berangkat sekarang. Mumpung kita masih istirahat.”


Lilis pun mengangguk. Pergilah Dimas dan Lilis dengan menaiki Sepeda motor butut milik Dimas.


Sesampainya didepan perusahaan I.S. Wow. Begitu megah dan menjulang tinggi. Lilis dan Dimas sampai terpukau.


“Ini tempat nya Dim...” Tanya Lilis..


“Iya... yakin mau kesitu Lis... tempatnya terlalu wah sekali.”


“Iya. Aku harus kesana.”


Mulailah Lilis masuk. Didepan Lobi ia bertanya ke resepsionis.


“Maaf Mbak. Saya mau bertanya. Pak Yudha Hadinata ada ditempat buk? Kalau ada saya ingin bertemu...”


“Pak Yudha Hadinata...?” Tanya Resepsionis tersebut.


“Iya.”


“Saya belum pernah dengar nama tersebut.” Jawab Resepsionis tersebut..


“Hah!! Apa!!” Lilis jadi makin bingung.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2