Rafa Dan Fatar

Rafa Dan Fatar
Bab 12.


__ADS_3

Tiba-tiba si kembar muncul.


“Mama dan Om lagi ngpain?” Ucap Rafa dan Fatar bersamaan.


William segera menarik tangannya. Sekarang William dan Lilis segera kembali ke posisi semula dan mengambil jarak tempat duduk. Mereka jadi agak salah tingkah.


Si kembar datang mendekat dan ikut duduk bersama Mamanya. Bahkan si kembar duduk ditengah antara William dan Lilis.


“Mama dan Om tadi lagi ngpain?” Tanya Rafa kembali.


“Iya. Ngpain Om?” Tanya Fatar pula sambil melihat ke arah William.


“Mama?” Tanya Rafa dan menoleh ke arah Mamanya.


“Itu tadi...” Agak bingung juga Lilis.


“Tadi Mama kalian sedang sedih. Om bantu hapus air mata Mama kalian.” Ucap William sambil tersenyum ke arah si kembar.


“Mama sedih Om?” Tanya Rafa.


“Sedih kenapa Om?” Tanya Fatar pula.


Lilis hanya memperhatikan anak-anaknya dan William.


“Sedih karena kalian berdua sempat hilang. Mama kalian sangat cemas. Jadi lain kali jangan seperti itu. Oke” William memberi nasehat.


“Iya Om...” Ucap Rafa dan fatar bersamaan.


Lilis melihat kalau William bisa akrab dengan mudah dan cepat dengan anaknya. William juga pandai. Lilis kagum melihatnya. Ia seakan bisa mengendalikan anak-anaknya.


“Minta maaflah kepada Mama kalian dan menyesali perbuatan kalian. Janji agar tidak mengulangi”


“Iya Om. Kami janji.” Ucap Rafa dan Fatar.


Kini si kembar melihat ke arah Mamanya.


“Mama kami minta Maaf. Lain kali tidak akan begitu.” Ucap Rafa.


“Kami janji Mama tidak akan begitu lagi.” Ucap Fatar pula.


“Oke. Mama maafkan.” Lilis mengecup kedua pipi anaknya.


Wajah Rafa dan fatar yang sedih berubah jadi ceria kembali.


“Oh iya. Sudah waktu nya makan malam. Mama buatkan sesuatu dulu ya. Yudha ikutlah makan bersama kami.” Ajak Lilis.


“Oke” Ucap William.


Lilis pergi kedapur. Sedangkan si kembar bermain dengan William diruang tamu.


Setelah beberapa saat Lilis selesai membuat makan malam. Lilis mengajak semuanya makan malam. Mereka makan malam bersama. William merasakan arti sebuah keluarga. ia merasa nyaman dan damai. Begitu juga Rafa dan Fatar yang senang seakan mereka memang keluarga sesungguhnya. Lilis pun senang dan bahagia. Mereka makan dengan bahagia.


Selesai makan. Si kembar nampak mengantuk. Padahal mereka masih ingin main dengan William. Tapi Lilis melarang.


“Om.. kita main apa ni?” Ucap Rafa tapi matanya sudah sangat lelah.


“Iya Om” Fatar pun sudah mulai mengantuk.


“Kalian sudah mengantuk. Pergilah tidur sekarang” Lilis menyuruh si kembar untuk istirahat.

__ADS_1


“Tapi Ma... kami masih mau main.” Rafa masih ingin main dengan William.


“Iya Ma... Fatar pun masih mau main dengan Om Ganteng” Fatar juga sama.


“Bukan Om Ganteng.... Tapi Om Yudha. Yudha Hadinata. Panggil Om Yudha saja ya” William memberi tahukan kepada kedua anak kembarnya Lilis.


“Sudah.. Ayo Tidur nak..” Ajak Lilis.


“Sudah Lis. Biar aku saja” William pun lalu berbisik ke Rafa dan fatar. Rafa dan Fatar pun menganggukan kepalanya. Kemudian si kembar masuk kedalam kamar lalu tidur.


Lilis mengkerutkan keningnya. Kenapa anak-anaknya jadi patuh begitu.


“Apa yang kau bisik kan ke anak-anak ku?” tanya Lilis penasaran.


“Aku hanya bilang. Sudah waktunya istirahat. Esok lagi mainnya. Ok.” William memberitahukan apa yang dibisikannya tadi.


“Segampang itu. Hebat. Selain aku tak ada yang bisa membuat patuh anak-anak ku. Dan kau dengan gampang cepat akrab dengan mereka bahkan bisa membuat mereka patuh dengan cepat” Lilis agak heran.


“Benarkah?”


“Iya.”


“Lilis. Bolehkan aku bertanya?”


“Iya. Silahkan”


“Siapa Papa dari kedua anak kembar mu? Apa kau sudah bersuami atau sudah berpisah?” William menyelidik.


“Aku..” Lilis agak ragu. Karena ia baru kenal dengan Pria ini jadi ia ragu menjawab.


“Kenapa?”


“Ah... tak apa-apa. Papa anak-anak sudah lama pergi.” Lilis merasa itu kata-kata yang cukup tepat untuk dikatakannya.


“Iya. Ah sudah. Jangan bahas kehidupan ku. Masalah rumah akan ku kabarin lagi nanti.”


“Oke. Kalau gitu aku pamit pulang. Sudah larut malam”


“Iya. Dan kau akan pulang kemana?”


“Sementara aku akan pulang kerumah teman ku dulu. Barang-barangku disana. Aku juga kemari dengan mobil Bosku” William beralasan kembali.


“Oh. Baiklah. Hati-hati dijalan.”


William pun pamit. Lilis mengantar sampai depan rumah saja. Setelah William pergi, Lilis kembali masuk dan mengunci pintu rumahnya. Ia pun pergi tidur.


***


Siang hari dikantornya William.


William sedang senyum-senyum sambil memandangi foto Lilis yang pernah diambilnya dengan kamera HP-nya. Jack masuk kedalam dan memperhatikan Bosnya dengan sangat aneh.


“Tuan..” panggil Jack.


“Tuan..”


“Tuan William..” namun William masih tak menghiraukannya. Jack agak mulai kesal.


“William Smith.... Will...” Panggilnya dengan lebih kuat.

__ADS_1


William yang kaget menoleh ke arah Jack.


“Hey Jack... Biasa saja.”


“Dari tadi saya panggil anda Tuan. Tapi anda tak dengar” Jack menjelaskan.


“Oh iya. Maaf kalau begitu. Tapi aku cukup kaget karena kau memanggil ku dengan nama saja” William menatap Jack.


“Maaf Tuan.”


“Tak apa Jack. Sebenarnya pun aku harus memanggil mu kakak. Karena kau lebih tua 2 tahun dari aku”


“Tidak perlu Tuan. Panggil saja saya Jack.”


“Ok. Baiklah. Jika itu mau mu. Ada apa kau kemari Jack?”


“Siang ini anda ada janji temu dengan klien bernama Pak Robert dan putrinya Nancy.”


“Prihal apa?”


“Kelanjutan kerja sama perusahaan kita dengan perusahaan Pak Robert dan Putrinya Nona Nancy sebagai model Iklan perusahaan kita. Mau diteruskan atau bagaimana kelanjutannnya”


“Oh... kenapa tak kau saja yang urus Jack. Selama ini kau yang mengurus.”


“Kali ini anda Pulang. Jadi karena anda sudah ada disni, sebaiknya anda saja Tuan. Bukankah anda adalah pemilik sesungguhnya.” Jack menjelaskan.


“Oke. Baiklah. Kau temanin aku ya.”


“Baik.”


William dan Jack segera berangkat ketempat pertemuan yang dijanjikan.


Sampailah mereka di sebuah hotel. Yang sengaja dipesan Pak Roberts di ruangan VIP.


Masuklah Jack bersama William kedalam ruangan tersebut. Didalamnya Pak Robert menyambut mereka dan Nancy juga ikut menyambut. Kini ke empatnya duduk bersama di sofa didalam ruangan tersebut. Ada beberapa minuman dan cake yang dihidangkan.


“Silahkan dicicipi Kue dan minumannya Tuan” Ucap Robert. Willliam dan Jack hanya menganggukan kepalanya.


“Apakah ini Tuan Smith?” Nancy dari tadi memperhatikan William.


“Iya. Benar. Ini adalah Tuan Smith. William Smith” Jack menjelaskan dan menunjuk kearah William.


“Oh... ternyata Tuan Smith sangat Tampan” Nancy terpukau dan kagum dengan ketampanan William. Banyak Aktor dan Model yang ia temui dan dikenalnya tapi tidak ada yang setampan William. Bahkan William sangat sangat Tampan.


“Terima Kasih” Ucap William dingin. William memang agak menjaga jarak dengan orang yang tidak terlalu dikenalnya. Dan dengan wanita lain ia memang sangat dingin. Selain jack, Lilis dan anak kembarnya Lilis yang hanya bisa dekat dengannya. Yang lain baginya hanya angin. Jika dengan pekerjaan pun William akan bersikap profesional. Karena ia sangat serius dalam pekerjaan.


“Apa Tuan Smith sudah menikah atau punya pacar.” Tanya nancy lagi. Sepertinya Nancy sudah jatuh cinta pada pandangan pertama.


“Maaf Nona. Kita hanya membicarakan Bisnis.” William menjelaskan. Wajah Nancy berubah jadi sedih.


“Hahaha... Maafkan Putri saya. Karena wajah Tuan Smith banyak yang tidak tahu dan tidak pernah di ekspos jadi saat baru melihat anda, putri saya terkesima. Tuan Smith pun sangat Tampan jadi mudah membuat para wanita jatuh cinta.” Pak Robert mencoba membuat suasana agar lebih rileks.


“Terima kasih pujian anda. Sebaiknya kita berbicara bisnis saja”  William tak ingin membuang waktu.


“Jadi begini. Saya ingin perusahaan kita melanjutkan kerja sama. Kontrak dua tahun kerja sama akan segera berakhir. Jadi bagaimana kalau diperpanajang kontrak nya dan Putri saya pun jadi bintang Iklan dari perusahaan anda juga Tuan Smith. Bagaimana?” Pak Robert mengutarakan niatnya untuk menyambung kontrak kembali.


William memandang ke arah Jack. Jack hanya melirik sekilas. Kemudian William kembali melihat kearah Pak Robert dan Nancy.


“Awalnya saya ingin melanjutkan kerja sama dengan anda. Tapi sekarang...” William menatap Pak Robert.

__ADS_1


“Tapi kenapa...” Pak Robert sudah harap-harap cemas.


Bersambung...


__ADS_2