Rafa Dan Fatar

Rafa Dan Fatar
Bab 28.


__ADS_3

“Apanya yang sakit? Dimananya?” Lilis mendekat dan nampak panik melihat William berguling dan tangannya memegang dadanya. Ia nampak kesakitan.


William masih saja mengaduh kesakitan. Lilis makin panik. Lilis bermaksud memanggil yang lainnya dan meminta pertolongan. Namun tangannya ditarik dan Lilis jatuh menimpa William. Ia jatuh diatas tubuh William.


“Eh.. loh...” Lilis menatap William. Kini William tak mengaduh kesakitan lagi.


“Aku tak apa-apa. Hanya hati ku perih jika wajahmu berpaling dari ku.” William tersenyum.


“Oh... Jadi Kau se...” Lilis tak meneruskan kata-katanya karena William sudah mengecup bibirnya. William mengulum dan melilit lidah Lilis. Lilis yang awalnya hendak marahpun perlahan hilang amaranya. Berganti dengan suasana yang menghayutkan dirinya. Lilis pun membalas ciuman William dengan sama mesranya.


Sudah puas berciuman, William menghentikan aktivitasnya.


“Eemmm... masih siang Sayang. Nanti dilihat anak-anak hehe” William kembali duduk.


“Eh... em.. Iya.” Lilis jadi bingung mau bilang apa. Ia pun ikut duduk disebelah William.


“Maaf ya. Tadi aku hanya menggodamu saja. Jangan marah lagi oke sayang.” William merangkul Lilis dan memeluknya.


“Hem...” Lilis hanya menganggukan kepalanya. Ia kembali melihat si kembar yang sedang bermain dengan Tania. Mereka nampak bahagia.


“Yud... aku bahagia. Anak-anak juga bahagia. Ku harap kebahagian kita akan terus seperti ini”


William memandang wajah Lilis sekilas. Ia lalu berpikir.


“Kau mau menikah dengan ku Lis?”


Lilis memandang ke arah William.


“Kau serius Yud...?”


“Iya Sayang. Aku serius. Maukah kau menikah dengan ku Lis?”


“Aku mau. Tentu saja. Anak-anak pun pasti akan bahagia, karena akhirnya mereka memiliki seorang Papa” Lilis tersenyum dengan sangat cerah.


“Sekarang pun mereka sudah memanggil ku Papa Lis... oh iya. Ini belum lamaran resmi ya. Nanti akan ku buat lamaran resmi dengan membawa sebuah cincin. Oke sayang.” William menjanjikan lamaran dengan sebuah cincin.


“Iya sayang” Lilis tersenyum bahagia.


***


Malam harinya mereka membuat pesta barbequ. Jack sibuk membakar daging sapi dengan potongan kecil kecil. Bahkan ia juga membuat sate. Lilis dan Tania membuat salad dan minumannya. Sedangkan William bermain dengan Rafa dan Fatar. Setelah semua hidangan siap semua nya berkumpul di tempat yang disediakan dihalaman Vila tersebut. Semua makanan dan minuman sudah tertata rapi di atas meja. Kini semuanya duduk bersama dan menikmatin makanan mereka.


“Wow enak sekali. Ternyata Paman Smith sangat berbakat dalam memasak.” Puji Rafa.


“Iya.. Fatar pun suka”Ujar kata Fatar pula.


William dan Lilis pun nikmatin makanan mereka.


“Tuan Smith bergabunglah makan bersama. Sudah banyak daging yang tersedia” Ajak Tania ke Jack.


Jack diam saja dan hanya fokus memasak daging diatas api. Tania pun mendekatinya.


“Tuan Smith anda dengar saya kan?” Tania berkata disamping Jack.


“Oh... Nona berbicara dengan ku. Maaf aku tak mendengar.” Jack sebenarnya tak terlalu terbiasa dengan sebutan


Tuan Smith. Walau namanya juga menyandang nama Smith yaitu Jack Smith. Tapi ia terbiasa dengan nama Jack saja. Namun karena harus berakting bersama William. Ia akhirnya harus menjadi diri William.

__ADS_1


“Tentu saja aku berbicara denganmu Tuan Smith. Lalu siapa lagi. Disini yang bernama Tuan Smith kan hanya anda seorang” Tania terheran-heran.


“Oh... iya. Aku lupa.”


“Hah? Lupa? Anda sangat aneh.”


“Tolong jangan terlalu formal. Panggil nama saja.” Pinta Jack.


“Jadi aku harus memanggil mu William gitu.” Tania mengernyitkan keningnya.


Jack malah makin tak mu dipanggil William. Ah... susahnya dan ribetnya. Begitulah gerutu batin Jack.


“Ya sudah terserah Nona saja.”


“Loh kok panggil Nona. Tania saja.”


“Ok. Tania.”


“Oh.. boleh ku cicipi..” Tania hendak mengambil potongan daging tersebut. Namun karena panas, ia pun mengaduh kepanasan.


“Ah.. Panas...” Ucap Tania.


Jack yang melhat lalu meraih tangan Tania. Tania terkejut. Jack mengambil handuk kecil dan membasahinya. Kemudian tangan Tania yang panas segera di balutnya dengan handuk basah.


“Kau tak apa-apa. Nanti olesin salep ya.” Jack masih memegangi tangannya Tania.


Debaran dijantung Tania melonjak sangat kencang. Ia seakan tak bisa mengkontrol debaran hatinya yang terasa agak aneh.


“Aduh.. kenapa Jantungku” Gumam Tania pelan.


“Kenapa? Ada yang sakit” Jack memeriksa melihat ke arah Tania.


Jack yang bingung hanya diam saja dan melanjutkan memasak daging kembali.


Tania kembali duduk dan menikmatin makanannya.


“Kenapa Tan?” Lilis menoleh ke Tania.


“Gak apa-apa” Tania masih berusaha menenangkan debaran aneh yang dirasakannya.


Lilis agak aneh melihat Tania. Namun perhatiannya teralihkan dengan Rafa dan fatar yang sibuk ingin disuapin Lilis dan William pun ikut menyuapi si kembar. Jack yang merasa semua sudah selesai dimasak , ia pun ikut bergabung dan makan.


Setelah selesai makan, semuanya masuk kekamar masing-masing. Di tengah malam Lilis yang masih belum tidur dipanggil oleh William.


Pintu diketuk pelan. Lilis membuka pintu kamarnya.


“Ada apa?” Lilis merasa ini sudah tengah malam jadi bertanya ada apa.


“Rafa dan Fatar sudah tidur kan. Kalau iya, ikutlah denganku” Ajak William ke Lilis.


Lilis mengangguk dan mengikutin William.


“Kita mau ngpain Yud? Ini kan sudah tengah malam.”


“Aku kangen.. hehehe kalau rame orang agak susah berduaan dengan mu”


“Oh... apa iya. Bukankah kau suka curi-curi kesempatan juga.” Lilis menyipitkan matanya ke arah William.

__ADS_1


“Ayolah sayang...” William meraih tangan Lilis dan membawanya ke sofa ruang tamu. Mereka duduk di sofa.


Setelah keduanya duduk disofa, William memeluk Lilis dengan erat. Kemudian wajahnya dan wajah Lilis didekatkan. Kedua bibir kini bersentuhan. Saling mencium dan mengulum. Dan saling melilit lidah. Keduannya bermesraan dan menghangatkan tubuh masing-masing. William merebahkan tubuh Lilis ke sofa dan ciumannya sama sekali tak dilepasnya. Tangan Lilis melingkar keleher William. Dan William semakin memberikan ciuman mesranya.


Disaat keduanya sedang bermesraan, Lilis mendorong tubuh William.


“Cukup.. Kita jangan sampai kelewat batas.” Lilis mencoba menenangkan nafasnya yang sudah mulai terengah-engah.


“Baiklah sayang. Kalau kita sudah sah menikah maka kapan pun ku minta kau harus siap ya sayang” Kedip mata William ke Lilis. William lalu memcium kedua pipi Lilis dan kening Lilis.


“Sudah... Aku kembali ke kamar. Nanti anak-anak mencari ku.”


“Nanti Lis... masih kangen. Peluk aja ya.”


Lilis pun mengiyakan saja. Mereka duduk sambil berpelukan. Kemudian Jack muncul.


“Kalian ngpain? Jangan yang enggak-enggak ya...” Ucap Jack yang mengejutkan Lilis dan William.


“Ah Kau... kupikir apa. Jangan ganggu orang Pacaran” Ucap William ke Jack.


Lilis ingin melepas pelukan mereka. Namun William menahannya.


“Gak apa-apa sayang. Gak usah hiraukan orang yang jomblo itu hehe” ledek William.


Lilis hanya bisa terkekeh. Jack yang kesal pun berlalu dan pergi ke dapur. William dan Lilis kembali berpelukan mesra dan menikmatin waktu berduaannya. Tania keluar kamar dan ingin minum air tapi ia memakai selimut putih. Hingga Lilis yang melihat kaget.


“Hah? Apa tuh? Hantu kah?” Lilis nampak takut.


“Mana Hantunya?” William sibuk melihat kekanan kekiri.


“Itu...” Lilis menunjuk ke depan.


William melihat arah yang ditunjuk. Ia pun kaget. Namun Tania lalu bersuara.


“Hey... ini aku Tania. Enak aja aku dibilang hantu..” Gerutu Tania.


“Lagian kenapa kau pakai selimut putih. Ku kira hantu ... ya ampun” Lilis mengelengkan kepalanya.


Sedangkan William sudah mau terkekeh. Apa lagi melihat masker putih diwajah Tania jelas saja ia seperti hantu dengan masker putih diwajah dan selimut putih yang dibalutnya dibadannya.


“Sialan kalian... sudah lah. Lanjutkan saja adegan mesra kalian ala-ala sinetron atau drakor...” Tania berlalu pergi dan menuju dapur.


“Hahaha...” Lilis dan William tertawa bersama. Kemudian Lilis menutup mulut William.


“Ssssttt.. anak-anak nanti terbangun. Jangan ribut.”


“Oke”


“Ya sudah. Kita tidur saja ya.” Ajak Lilis.


“Oke.” William pun mengiyakan. Lilis dan William pun masuk ke kamar mereka masing-masing.


Di dapur Tania hendak mengambil air. Ia ingin minum. Dan betapa kagetnya ia melihat sesosok Hitam di dapur dan ia pun berteriak..


“Aaaaaaa......”


Bersambung....

__ADS_1


 


 


__ADS_2