Rafa Dan Fatar

Rafa Dan Fatar
Bab 77.


__ADS_3

“Kau gila kah?” Ucap William mulai kesal.


“Hahaha...” hanya suara tawa yang mengerikan terdengar.


William bangun dan bangkit. Ia menatap lurus ke arah Laura.


“Pilihlah.... Lilis kah, gadis kecil itu atau...” Laura menghentikan perkataannya.


“Atau... sebaiknya kau mati saja” Ucap William bersamaan meninju ke arah wajah Laura.


Laura terpental ke belakang akibat tonjokan dari William. William segera mengambil kedua pistol Laura. Laura bangkit kembali.


“Sialan kau William.” Geramnya.


“Kau yang tak waspada..” Pistol di arahkan William ke arah Laura. Ia menodong Laura.


Laura tertawa. Dia hanya terlihat santai di todongkan pistol kekepalanya.


“Kau mau menembakku kah? Kau lihat dulu disana?” Laura menunjuk dimana Philip sedang mengarahkan pistolnya ke arah Lilis atau pun Ayu.


“Sial...” Gumam William.


Dalam hatinya : “Apa yang harus ku lakukan. Jika aku gegabah, mereka berdua bisa mati.”


William lalu menarik Laura ke arahnya. Pistol masih ditodongkannya kekepala Laura.


“Aku sebenarnya tak mau menembak seorang wanita atau pun menghajar seorang wanita. Tapi untuk wanita gila sepertimu, ku rasa tak akan masalah.” Bisik William ke Laura.


Laura hanya tersenyum sinis.


William melihat ke arah Philip.


“Kau yang disana. Cepat lepaskan Lilis dan Ayu. Jika tidak wanita ini akan ku bunuh.” William mengancam.


“Jangan turuti. Kau tetap disana. Kita lihat apa dia berani menembak ku” Laura malah menantang.


Philip melihat ke arah Laura dan William. Ia ingin menolong Laura tapi Laura melarangnya.


“Sial...” Umpat William.


“Kau mau menantang ku kah?”William menembak ke arah kaki kiri Laura. Dor... dan Laura mengaduh kesakitan.


Philip mulai goyah. Tapi Laura memberikan isyarat dengan tangannya untuk tidak bergerak sedikit pun. Sehingga Philip tak jadi bertindak. Ia diam masih di tempatnya.


William merasakan tak ada pergerakan dari pria bertopeng tersebut. Ia melirik ke Laura wanita bertopeng yang berada didekatnya. Laura melihat dengan senyuman puas diwajahnya. Ia lalu mencekal tangan William dan memukulnya. Sehingga pistolnya terlepas. Pistol terjatuh ke tanah.


William hendak mengambil pistolnya, namun Laura menendangnya semakin jauh. Akhirnya Laura dan William saling adu kekuatan. Yang satu menendang satu nya menangkisnya. Satunya memukul dan satunya menahan. Saling tinju, pukul dan tendang. Kekuatan William cukup prima hingga ia bisa menerima serangan Laura. Dan Laura walau kakinya terluka sebelah tapi ia tetap lihai dan lincah menangkis dan membalas serangan William. Keduanya baku hantam dan saling adu jontos.


Sebenarnya Philip sangat cemas melihat ke arah Laura. Ia ingin datang membantu. Tapi ia harus menuruti Laura. Lilis dan Ayu yang terikat tak dapat berbuat apa pun. Mereka hanya menyaksikan William dan Laura saling pukul dan tendang.


Lilis melihat ke sekeliling. Ia ingin mencari cara meloloskan diri. Namun sepertinya sulit. Salah langkah bisa jatuh ke jurang yang terjal. Lilis melirik ke arah Ayu.


“Ayu... Kau tak apa-apa. Jangan takut ya.” Lilis mencoba menenangkan Ayu. Karena dilihatnya Ayu terus menangis.

__ADS_1


“Kak Lilis...” Ayu menoleh ke Lilis. Ia masih menangis.


“Tenanglah. Kita pasti selamat.” Lilis mengatakan hal tersebut agar Ayu tenang tp padahal dia sendiri juga dalam bahaya dan merasa cemas pula. Namun ia berusaha tetap tenang.


William dan Laura masih saja berkelahi. Keduanya tak ada yang mau mengalah. Masih saling terus serang dan membalas. Hingga akhirnya saat Laura mengenai perut William, William jatuh tersungkur. Kesempatan ini dipakai Laura untuk mengambil pistol yang jatuh. Ia ambil lalu di arahkannya ke arah Lilis. Dor... meleset mengenai tali Lilis yang tergantung di atas dahan pohon yang besar. Walau meleset tapi talinya terputus sedikit demi sedikit.


William yang melihat terlihat panik. Ia segera mendatangi Laura dan menghajarnya. Tapi laura segera mengelak dan kembali menembak. Dor... mengenai Tali Ayu... Ayu semakin menangis. Tapi belum terputus talinya.


William menghajar Laura lagi dan pistolnya jatuh kembali. keduanya baku hantam. Laura tersudut karena  kakinya yang luka. William mengunakan kesempatan tersebut, di injak kakinya yang terluka. Laura kesakitan. Philip yang melihat langsung mendekatin dan menghajar William.


Kini William dan Philip saling adu jontos. Bahkan beberapa kali pistolnya ditembakan ke arah William. Tapi William segera mengelak. Dan kemudian ditendang William hingga pistol Philip terjatuh.


William membabi buta menghajar Philip. Philip berkali-kali terkena pukulan dan habis-habisan di hajar oleh William. Hingga Philip jatuh dan terkulai lemas. Philip babak belur dan bonyok dihajar oleh William.


Ia melihat kearah Laura.


“Sekarang kau yang akan ku habisi.” Ucap William sambil mendatangi Laura.


“Sebelum kau datangi aku. Coba kau lihat mereka berdua. Kedua tali mereka akan putus. Hahaha” Laura tertawa puas.


William melihat ke arah Ayu dan Lilis. Ia meninggalkan Laura dan menuju Lilis dan Ayu.


William berusaha membuka ikatan Ayu terlebih dahulu.


“Ayu... tenanglah. Jangan menangis. Aku datang menyelamatkanmu.” Ucap William sambil membuka ikatannya Ayu.


“Om... Hiks... Hiks...” Ayu masih menangis.


William cukup kesulitan membuka ikatannya. Tapi dengan segera ia buka. Karena mengingat Lilis juga masih dalam bahaya. Ia secepatnya menolong Ayu. Jika Ayu sudah selamat, ia akan menolong Lilis kemudian. Jika Lilis talinya putus dan tak sempat di tolongnya, maka ia akan lompat juga bersama Lilis. Yang penting Ayu sudah diselamatkannya dahulu.


“Makasih Om...” Ayu memeluk William yang telah menolongnya. Sedangkan Lilis menatap saja kedua orang tersebut berpelukan.


“Iya... cepat pergi ketempat yang aman. Aku mau menolong Lilis sekarang.” William segera melepaskan pelukan Ayu. Ayu pun mencari tempat yang lebih aman.


William segera mendatangi Lilis. Lilis menatap ke arah William.


“Maaf Lis... Maaf aku datangnya lama menyelamtkanmu.” Ucap William.


“Tak apa. Yang penting kau tetap datang Will.” Lilis tersenyum.


William berusaha membuka ikatan Lilis. Tali semakin hendak putus. Jika ia putuskan langsung, takutnya ia tak sempat menangkap Lilis. Jadi ia buka dahulu ikatan yang lainnya seperti tadi dia menolong Ayu.


William masih sibuk membuka ikatan Lilis. Lilis menatap pria yang dicintainya dan dirindukannya itu.


“Makasih Will...” Lilis tersenyum sambil meneteskan air matanya.


“Tenanglah...”


“Aku pasti tenang. Karena ada kau disisi ku.” Ucap Lilis kembali.


“Maafkan aku sayang... Kau sudah banyak menderita.” William masih fokus membuka ikatannya.


Lilis menoleh ke William. Ia tertegun mendengar perkataan William barusan. Ia tak salah dengarkan. Ia tak bermimpikan. Begitulah pikir Lilis.

__ADS_1


William menoleh ke Lilis, di tariknya wajah Lilis dan dikecupnya dengan lembut. Lilis tertegun. Sedangkan Ayu menatap di tempatnya berdiri dengan kaget, karena melihat William mencium Lilis.


William melepaskan kecupannya. William tersenyum hangat.


“Aku sudah ingat sayang...”


“Will...” Lilis kembali menangis.


“Saat aku sakit kepala tadi. Kepala ku sangat sakit dan hendak pecah rasanya. Namun beberapa kenangan kembali muncul. Satu persatu kenangan kita bermunculan dipikiranku. Kemudian aku pingsan. Saat aku bangun, aku telah mengingat semuanya Lis. Tapi kau dan Ayu malah terikat. Jadi..” William hendak meneruskan kata-katanya, namun suara lain terdengar. William pun menghentikan aktivitasnya membuka ikatan Lilis. Suara lain itu datang dari laura.


“Will... coba kau lihat ini.” Laura memegangi Ayu dan meletakkan sebuah pisau tajam ke leher Ayu. Ayu nampak ketakutan.


William yang menoleh ke arah Ayu dan Laura.


“Jangan lukai dia. Lepaskan gadis itu”


“Kau gila. Kalau Aku lepaskan. Dia selamat. Dan kau pun selamatkan Lilis. Artinya keduanya selamat dong. Tidak bisa. Jika keduanya tidak mati. Setidaknya salah satu harus mati kan.”


“Tidak. Jangan... Hentikan!!!” teriak William.


Namun Laura tak menggubrisnya. Ia menghunjamkan pisau tersebut ke perut Ayu. Berkali-kali di tusuknya Ayu. Ayu bersimbah darah segar di tubuhnya. Darahnya terus mengalir dari luka tusukan pada perutnya. Dan terakhir Laura menggorok leher Ayu, hingga dari leher Ayu  merembes darah seger. Mulut Ayu pun mengeluarkan darah.


“Tidak...!!!” Teriak William.


Laura lalu melemparkan tubuhnya Ayu ketanah. Ia puas.


“Hahaha...” Laura tertawa puas. Philip mendatangi Laura dan mengajaknya untuk pergi karena mereka juga sudah terluka banyak. Laura dan Philip pun pergi.


Disisi lain tali Lilis akhirnya terputus. Lilis menjerit dan menutup matanya. William menoleh dan segera menangkap talinya Lilis. Syukur masih bisa di tangkap oleh William. Ia menggenggam erat tali ikatan Lilis.


“Will...” Lilis memandang ke arah William.


Tapi posisi saat ini kurang bagus. Dimana Lilis yang terikat malah jatuh ke jurang namun William menggenggam tali dengan erat agar Lilis tak jatuh ke jurang. Ia menahannya.


“Lepaskan Will... jika tidak kau juga bisa jatuh.” Lilis meminta William melepaskan pegangannya. Ia pun menetaskan air matanya.


“Tidak akan ku lepas. Sampai mati pun kau tak akan kulepas. Jika mati, maka kita mati bersama.” William masih menahan talinya Lilis.


Bersambung...


Next gimana kelanjutannya ya? Hiks... Hiks... Aku kok jadi sedih ya... Lilis bisa ditolong atau mereka berdua jatuh ya????


Saksikan kelanjutannya ya kakak readers semuanya.... :D


Jangan lupa dukungannya ya kak agar semangat UP.


Di like juga semua episodenya ya kak. Tinggalkan Komennya juga :D


Di like, di vote dan klik Favorite yah sebagai tanda telah membaca dan menyukai karya ini, juga sebagai apresiasi ke karya ini.


No Plagiat ya. Hargai usaha dan kerja keras seseorang dalam berkarya. Jadi katakan tidak pada meniru karya seseorang dan tidak menjiplaknya. No Plagiat. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)


Tembus 200 lebih like segera di UP kembali.

__ADS_1


 


 


__ADS_2