
Saat telepon mulai tersambung, Lilis datang ke kamar.
“Rafa... Fatar... sedang apa kalian nak” Lilis masuk ke kamar.
Rafa dan Fatar jadi saling pandang.
"Waduh, ada Mama Kak? Gimana dong..??" Fatar melirik dan berbisik ke sang Kakak.
"Sembunyikan..." Rafa pun berbisik dan menyuruh Fatar menyembunyikannya.
Sedangkan di lain tempat William memandang ke arah lain dengan pandangan kosong. Kemudian Hp-nya berdering. William memandang HP-nya. Ternyata Fatar yang menelpon. William terlihat senang dan segera mengangkatnya. Tapi saat di terima panggilan tersebut William tak mendengar suara apa pun. Ia hanya mendengar suara Lilis di ujung sana.
“Rafa... Fatar... apa yang kalian lakukan?” Lilis memandang keduanya.
Fatar menyembunyikan HP-nya. Namun Lilis sudah melihatnya.
“Kenapa HP-nya nak? Menelpon siapa?” Lilis meraih Hapenya Fatar. Ia lalu melihat dilayar tertulis Papa. Kini Lilis mengerti kalau anaknya sedang menelpon William. Lilis segera mematikan panggilan telepon tersebut.
Telepon terputus. William tak mendengar suara apa pun lagi. Wajahnya kembali sendu.
Sedangkan Lilis kemudian mengambil Hapenya Fatar.
“Ma... mau dikemanakan Hape Fatar” Fatar agak panik saat Mamanya mengambil Hapenya.
“Mau Mama simpan. Kalian masih kecil jadi tak perlu pakai HP dulu. Rafa HP mu mana? Sini kasi Mama” Setelah Hape Fatar ada ditangannya, Ia juga meminta Hape Rafa. Ia ingin menyita Hape anak-anaknya.
“Yah... Mama.” Fatar nampak sedih.
“Ini Ma...” Rafa hanya bisa pasrah dan memberikan Hape miliknya juga.
Lilis mengambil Hape keduanya. Lalu pergi untuk menyimpannya ke tempat yang susah dijangkau anak-anaknya.
Rafa dan Fatar terlihat sedih. Pasalnya mereka jadi tak bisa menelpon Papanya dan tak bisa berkominukasi dengan Papanya.
“Untuk sementara ini Hape kalian Mama simpan ya. kalian fokus belajar dan sekolah saja. Cepat ganti pakaian. Mama siapkan Makan siangnya ya. segera ke dapur ya. Mama tunggu.” Lilis berjalan keluar menuju dapur. Tadi ia sudah masak sebelum menjemput anak-anaknya. Sekarang ia ingin menghidangkannya untuk makan bersama.
Rafa dan Fatar hanya bisa saling pandang dan pasrah. Mereka hanya bisa menurut.
***
William masih terpaku menatap Hapenya. Jack baru saja kembali. Dan ia masih melihat William termenung diam. Jack menghela nafasnya.
__ADS_1
“Will... Ayo makan bersama, seharian ini kau belum makan kan?? Sarapan tidak bahkan makan siang tidak...tadi malam kau banyak minum dan sekarang dikantor seperti ini. Ayo ikut aku. Kita makan bersama” Ajak Jack. Namun tak ada tanggapan apa pun dari William.
William hanya menoleh sekilas dan kembali menatap Hapenya sambil termenung. Bahkan tatapannya kosong. Sepertinya jiwanya ntah kemana hanya raganya yang ada disini.
“Ayolah Will..” Jack akhirnya menyeret dan menarik tangan William, agar mengikutinya.
Jack membawa William kesebuah cafe di daerah dekat kantor mereka. Jack memesankan nasi pakai soto untuk William. Sedangkan ia sendiri memesan Nasi plus ayam geprek. Dua minumana teh manis dingin juda dipesankan. Sekarang semua menu yang dipesannya sudah tersaji dimeja.
“Ayo makanlah Will..” Jack mengajak makan.
“...” William tak menjawab hanya memandang makanan tersebut. Dirinya sama sekali tidak berselera makan.
“Kalau kau makan nanti aku ajak menemui Lilis”
William menoleh ke arah Jack. Menatap tajam ke arah Jack. Benarkah itu?? Kata hati William.
“Iya. Itu benar. Tapi nanti ya” Seolah Jack tahu apa yang William katakan sehingga Jack menjawab seperti itu.
William mulai memakan makanannya. Jack yang melihat tersenyum. Akhirnya William mau makan juga. Karena seharian ini Jack sudah gelisah sekali melihat keadaan William. Kemudian tak ada pembicaraan apa pun lagi. Mereka makan dengan tenang.
Setelah selesai makan, Jack dan William kembali ke kantor. Didalam kantor Jack duduk di sofa dengan tenang. William pun ikut duduk di sofa panjang yang ada diruangannya. William melirik ke Jack. Seakan meminta penjelasan ke William. Jack yang sadar akan tatapan William bersikap biasa saja. Ia hanya diam. Lama-lama William sudah tak sabar. Ia pun mulai bertanya ke Jack.
“Iya. Tapi bukan sekarang. Tunggulah dulu kabar dariku” Jack belum bisa memastikan kapan. Tapi ia sudah menyakinkan William kalau itu bisa dilakukan.
“Baiklah. Aku akan menunggu kabar darimu. Soalnya aku telepon dan chat terus Lilis tak menghiraukan ku. Bahkan anak-anakku menelpon ku malah sepertinya dilarang oleh Lilis.” Kata William ke Jack.
“Padahal aku sudah kangen dengan Rafa dan Fatar” Kata William kembali.
Jack hanya menghela nafasnya. Ia lalu buka suara kembali.
“Mungkin itu hukuman untukmu Will...”
William mendengarkan kata-kata Jack tersebut. Iya. Benar sekali. Ini adalah hukuman untuknya karena sudah berbuat salah ke Lilis. Dirinya memang bersalah. William mengusap kasar wajahnya. Ia sadar kalau dirinya memang bersalah. Dan amat sangat bersalah.
Sebuah notif chat masuk ke Hape Jack. Jack membacanya dan mulai tersenyum. Ia melihat ke arah William.
“Will.. Esok ikutlah dengan ku ke sebuah Restoran VIP milik Tania.”
“Untuk apa?” William mengkerutkan keningnya.
“Kalau kau mau bertemu Lilis maka ikutlah denganku esok”
__ADS_1
“Baiklah.” William kembali ceria.
“Tapi ingat. Dikesempatan ini kau harus menjelaskan semuanya dengan baik. Dan bersungguh meminta maaf. Selanjutnya Lilis yang memutuskannya. Gunakan waktu dengan baik Will saat kau bersama Lilis”
“Tentu saja Jack. Terima kasih Jack.” Sekarang William paham. Sepertinya Jack meminta Tania membantunya. Agar bisa bertemu dengan Lilis. William seperti menemukan sebuah harapan. Walau itu kecil namun ia tetap berusaha dan mau mencobanya.
***
Esoknya disiang hari. Tania sudah mengajak Lilis ke Restorannya dan memesan ruangan VIP no. 10. Lilis sebenarnya tak mau ikut. Ia mau berkurung diri saja dirumah. Tapi Tania yang melihat temannya itu terus berkurung diri menjadi tak tahan. Ia akhirnya menyeret Lilis. Lilis terlihat lesu dan malas. Tapi apa boleh buat sahabat itu sekarang sudah menyeretnya sampai ke tempat.
Tadi pagi pun Tania sudah sibuk. Tania juga membantu Lilis mengantar si kembar ke sekolahnya. Kini siang ini mereka berdua sudah di restoran setelah begitu banyak bujukan dari Tania. Tania memesankan Spageti untuknya dan Lilis, juga memesan Jus Melon untuk keduannya. Saat semuanya sudah tersaji tiba-tiba mau pamit dahulu keluar.
“Lis.. kau makan dulu ya... aku mau keluar.”
“Loh... kau yang ngajak sekarang malah ninggalin aku disini.” Lilis radak kesal.
“Hehe. Maaf ya... aku harus bertemu orang yang baru sampai didepan.”Tania menerima notif chat dari Jack kalau Jack dan William sudah sampai ditempat.
“Iyalah... Cepat kembali ya. aku malas disini sendirian. Bagus aku dirumah saja. Tapi siapa yang mau kau temui.” Lilis memandang ke Tania.
Tania yang nampak panik jadi asal sebut saja.
“Teman. Udah ya...” Tania segera berjalan keluar. Ia tak mau Lilis curiga kepadanya.
Diluar Tania bertemu dengan Jack dan William. Tania langsung memberitahukan ruangan VIP yang dipesannya tadi dimana ada Lilis berada sekarang. William mengucapkan terima kasih. Kini Tania dan Jack menunggu di luar. Sedangkan William melangkah masuk kedalam Ruangan VIP No. 10.
“Kok udah balik Tan... Udah Ketem...” Kata-kata Lilis terhenti. Lilis melihat orang yang baru masuk. Ternyata bukan Tania. Namun malah William yang masuk.
Kedua mata Lilis dan mata William saling memandang. Untuk beberapa detik keduanya menatap dan diam dalam kebisuan. Dengan langkah pelan William mendekati Lilis dan duduk dihadapan Lilis.
Bersambung...
Jangan Lupa Klik Vote dan Favorite ya kakak-kakak Readers semuanya. :)
Di like juga semua episodenya ya kak. Tinggalkan Komennya juga. Dukungan kalian akan sangat berarti agar Authornya semangat dan bisa UP cerita secepatnya. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)
__ADS_1