Rafa Dan Fatar

Rafa Dan Fatar
Bab 124.


__ADS_3

William dan Rafa malah tertawa terbahak-bahak, apa lagi melihat ekspresi si Fatar semakin membuat Papanya dan Kakaknya malah terkekeh.


“Kok diketawain sih?” Fatar mengkerutkan keningnya.


“Oke. Gini nak. Apa Fatar belum pernah dengar tentang hal tersebut?” William memandang ke arah Fatar.


“Belum Pa. Di sekolah belum membahas itu kayaknya” jawab Fatar polos.


William menatap putrinya.


“Kalau Rafa?”


“Rafa pernah dengar Pa. Soalnya pernah dengar Mama ngomongin hal tersebut.” Rafa kecil tersenyum.


William menganggukan kepalanya. Ia kembali menoleh Fatar.


“Nak. PMS itu masalah tentang wanita. Hanya anak perempuan dan para wanita yang akan mengalaminya. Kadang karena hal tersebut emosi nya bisa naik turun. Suatu hari saat Fatar dewasa akan memahaminya nak. Oke” William mengacak-acak rambut Fatar.


Walau Fatar masih bingung dengan yang dijelaskan Papanya. Tapi ia memilih menganggukan kepalanya.


Tepat di saat itulah, Lilis muncul dan memanggil semuanya untuk makan siang bersama.


“Wah... sedang bersama Papa ya. Ayo kita makan siang bersama. Semua hidangan sudah tersedia di meja makan” Ajak Lilis pada suami dan anak-anaknya.


William dan anak kembarnya bangkit dari tempat duduknya. Kemudian mengikutin Lilis menuju ruang makan. Dimana di atas meja makan sudah banyak hidangan tersedia. Ada capcay, ada nila asam manis, udang goreng, ayam goreng, tumisan jamur dan minuman lengkap nasi putihnya.


Lilis, William dan si kembar duduk bersama di ruang makan dan makan siang bersama dengan tenang.


***


Beberapa hari kemudian pun berlalu.


Saat ini Lilis sedang menemanin Tania di butiknya. Lilis mendesain beberapa gaun pengantin untuk Tania. Sudah tiga gaun pengantin yang dicoba, namun belum ada yang sesuai keinginan Tania.


“Oke. Ini yang ke empat. Coba lah Tan” Bujuk Lilis.


Tania pun menganggukan kepalanya. Ia pun mencoba memakainya. Setelah itu ia keluar.


Dan tara... kali ini lebih baik dan memuaskan. Lilis menatap takjub dan Tania tersenyum senang.


“Bagaimana?” Tania bertanya.


“Aku rasa ini yang terbaik Tan”


“Aku juga merasa begitu. Oke kalau begitu ini saja gaun yang ku pilih”


“Oke” Lilis menganggukan kepalanya.


Tania berganti lagi pakaian biasa. Ia lalu duduk di sebelah Lilis.


“Tan... semuanya sudah kau siapkan?”


“Sudah. Bahkan untuk Jack juga sudah selesai semua dipilihkan pakaian pengantin prianya”


“Baguslah. Sepertinya persiapan kalian sudah mantap dan mateng sekali”


“Iya. Semuanya tersusun rapi. Tinggal menunggu menyebar undangan dan menunggu hari H-nya”


“Selamat ya Tan...” Lilis tersenyum tulus.


“Makasih Lis” Tania memeluk Lilis. Ia senang di hari bahagianya selali ada sahabatnya.


Tania melepaskan pelukannya.


“Ayo... ku ajak makan siang bersama. aku dengar ada resto baru buka. Yuk ke sana”


“Oke”


Pergilah Tania dan Lilis bersama. mereka menaiki mobil ke tempat resto tersebut.


Sampai di resto, Tania memilih tempat yang bisa melihat pemandangan luar. Keduanya memesan menu yang sama. Dan minumannya yang sama. Di saat keduanya sedang asyik berbincang sambil memakan makanannya, dua orang pria terus menatap ke arah Tania dan Lilis.


Meja kedua pria tersebut tak jauh dari tempat Tania dan Lilis juga.

__ADS_1


Kemudian kedua pria tersebut, mendekatin Tania dan Lilis dan duduk disebelah kedua wanita tersebut.


Baik Lilis dan Tania, keduanya kaget melihat kedua pria yang tak dikenalnya.


“Halo... para wanita cantik. Kita boleh gabung ya” Jawab Adrian.


“Kita mau kenalan juga. Kalian berdua cantik sekali” Jawab Rio.


Tania dan Lilis saling pandang.


“Maaf kami tak mau diganggu. Biarkan kami makan berdua dengan tenang” Lilis meminta pengertian kedua pria tersebut.


“Ayolah. Hanya berkenalan kurasa tak apa. Aku Adrian dan ini temanku Rio. Dari tadi kami perhatikan kalian hanya berdua” Adrian nampak ngotot dan tak mengerti penolakan Lilis.


Tania lalu memberikan kode ke Lilis.


“Lis... sebaiknya kita pergi. Lagian makanan kita sudah mau habis. Yuk” Ajak Tania


Lilis pun menganggukan kepalanya. Tania dan Lilis berdiri dan hendak pergi, tapi tangan Lilis di pegang oleh Adrian, ia mencegah Lilis pergi. Sedangkan Tania pinggangnya sudah dipeluk oleh Rio dari belakang.


Spontan Tania menampar pria kurang ajar tersebut. Dan sebuah tamparan keras mendarat di wajah Rio.


Lilis juga menepis tangannya Adrian.


“Kalian pergi lah dan jangan ganggu kami berdua” Lilis menaikkan suaranya satu oktaf lebih tinggi dari biasanya.


Tania berjalan ke samping Lilis. Lilis melindungi Tania agar ia dibelakangnya saja.


“Berani juga ya” Ucap Rio.


“Aku suka wanita seperti ini” Ucap Andrian.


“Ini tempat umum jaga sikap kalian” Tania berkata hal tersebut di depan kedua pria tersebut.


Kedua pria itu hanya terkekeh.


Andrian datang mendekati Lilis. Dan Lilis menendang kakinya, hingga Andrian kesakitan.


Rio melihat Andrian kesakitan langsung maju. Ia hendak memukul Lilis, tapi Lilis menahan serangan Rio. Ia malah meninju Rio berkali-kali tepat di wajahnya. Rio kesakitan dan hidungnya berdarah.


Kedua pria itu saling pandang. Tak sangka mereka kalau Lilis pandai bela diri dan bisa menghajar orang.


Andrian memberikan kode ke Rio untuk menyergap Lilis. Rio maju dan mencekal tangannya Lilis, sedangkan tania di dorong oleh Andrian hingga jatuh tersungkur.


Kedua tangannya Lilis di cekal oleh Rio dan Andrian maju untuk memberikan Lilis pelajaran. Tepat di saat itu Lilis segera cepat bertindak dan mengelak. Ia tendang kakinya Rio, hingga ia terlepas. Kemudian dengan cepat kilat, Lilis mengeluarkan pisau belati kecilnya yang ia simpan di dekat tubuhnya. Ia lemparkan dan tepat mengenai lengah Andrian. Kemudian pisau satu lagi ia arahkan ke Rio. Selanjutnya di tendangnya Andrian hingga jatuh tersungkur.


Rio tak bisa berkutik juga karena saat ini pisau tersebut di arahkan Lilis ke lehernya.


“Maafkan kami” Ucap Rio.


“Iya. Maafkan kami” Andrian pun meminta maaf yang masih dilantai dengan posisi tersungkur.


Tania yang jatuh tersungkur tadi segera bangun. Ia merasakan sakit dan ada beberapa luka kecil.


Lilis hanya tersenyum tipis. Ia menyimpan segera pisau belati kecilnya kembali.


Rio dan Andrian bernafas lega.


Keduanya kemudian berdiri bersisinya. Rio dan Andrian merasa malu diperlakukan seperti itu. Karena banyak tamu yang ada di tempat tersebut.


Kedua pria membungkuk minta maaf. Mereka pun hendak pergi. Dan tepat di saat itu suara tepuk tangan terdengar.


Ternyata tepuk tangan tersebut datang dari William dan Jack. Jack dan William tadi baru saja selesai bertemu relasi bisnisnya ditempat tersebut sekalian makan siang bersama. saat hendak meninggalkan tempat, malah melihat keributan. Mereka pun melihat kalau itu adalah para wanitanya. Niatnya hendak mnedekat dan menolong tapi tak jadi karena sudah melihat Lilis yang bertindak.


“Sayang...” Ucap Tania yang langsung memeluk Jack, calon suaminya.


“Sakit kah? Yang mana saja yang sakit?” Jack agak kuatir juga. Karena tadi ia sempat lihat Tania jatuh tersungkur.


“Ini beberapa kaki dan lenganku lecet”


“Sini ku lihat” Jack memeriksa tubuhnya Tania.


William mendekatin Lilis.

__ADS_1


“Sayang kau tak apa-apa?” William memandang ke arah istrinya.


“Tidak apa-apa suamiku” Jawab Lilis santai.


Andrian dan Rio kaget luar biasa. Ternyata kedua wanita tersebut sudah punya pasangan. Bahkan Lilis telah bersuami. Mereka menyesal.


William lalu menatap kedua pria tersebut. Sebuah tatapan menakutkan dan mengerikan yang bersiap untuk membunuh.


“Kalian berani mengganggu istriku hah?” tatap William dengan sangar.


“Maafkan kami. Kami tak tahu kalau sudah ada suaminya” Andrian menunduk.


“Iya. Maafkan kami” Rio juga menundukan kepalanya.


“Tidak ada yang boleh macam-macam dengan istrinya William Smith, tahu kalian?”


Rio dan Andrian saling tatap “ William Smith” Gumam kedua pria tersebut.


Kedua pria tersebut sudah ketakutan. Bukankah William Smith adalah presdir dari I.S. berarti mereka mencari kuburannya sendiri. Keluh didalam hati kedua pria tersebut.


“Dan wanita yang satu itu adalah Tania, calon istrinya jack. Paham kalian” William menatap dingin.


Kedua pemuda langsung mendekatin William dan berlutut. Mereka memohon ampun.


Bersambung...


Sebentar lagi akhir bulan, karya novel Rafa dan Fatar akan segera tamat. :D


Niatnya mau buat sampai 150 bab atau 140 lebih gitu lah babnya. Tapi sepertinya gak bakalan bisa hehe...  Soalnya Author mau garap lomba yang lainnya lagi. Semoga para pembaca juga mau menikmatin karya saya yang lainnya ya :D


Maafkan segala kekuarangan Author dan typo yang masih sering terjadi ya :D maklum masih manusia biasa hehe.


Terima kasih kepada pembaca yang selalu setia dari awal sampai akhir cerita. Thanks a lot. Love you all. :D


Yang suka dengan karya ini, ikutin terus kisahnya sampai akhir ya kakak readers semuanya :)


No Plagiat ya. Hargai usaha dan kerja keras seseorang dalam berkarya. Jadi katakan tidak pada meniru karya seseorang dan tidak menjiplaknya. No Plagiat. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)


 


Karya ini sedang mengikutin lomba, jadi mohon dukungannya terus ya kak.


 


Cara mendukungnya gampang yaitu :


1. Like semua episodenya / bab-nya ya kak. Dibaca juga semua babnya :)


2. Klik Vote setiap hari dan setiap saat ya kak. Dan setiap hari senin juga :D


3. Klik Favorite juga ya kak


4. Selalu berikan dukungannya ya kak setiap saat :D


5. Tinggalkan komen ya kak :)


6. Kasi bintang 5 ya kak untuk karya ini sebagai menyukai karya ini dan apresiasi ke karya saya ini.


 


 


 


Makasih semuanya. Dukung terus karya ini ya kakak readers semuanya, biar Author semangat UP ceritanya. Love you all  :)


Tembus 200 lebih like segera di UP kembali. Like yang banyak dan vote sebanyaknya ya kak. Thanks. :D :)


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2