Rafa Dan Fatar

Rafa Dan Fatar
Bab 32.


__ADS_3

“Siapa kau” William bangkit dari tempat duduknya. Ia berdiri panik. Pasalnya tak ada yang tahu identitasnya itu selain Bos V. Dan yang menelpon jelas bukan Bos V.


 


“Hahaha...” Hanya suara tawa di ujung sana yang terdengar.


 


 


“Apa mau mu? Kau yang datang kerumah ku kah?” William menebak, mungkin orang ini adalah Pria yang sudah mengobrak-abrik rumahnya.


 


 


“Pintar sekali. Iya, aku yang datang ke tempat mu.”


 


“Apa yang kau mau hah?”


 


 


“Menurutmu???” Ucap Pria tersebut.


 


“Siapa kau sebenarnya?”


 


“Aku?? Kenapa harus aku... Kau sendiri siapa sebenarnya?”


 


“Maksudmu??” William nampak bingung dengan permainan kata-kata ini.


 


“Harus ku sebut Fatar kah?? Yudha kah?? Atau William Smith..???”


 


William terdiam dan membisu. Ia tak sangka Pria tersebut akan berkata seperti itu.


 


“Kenapa kau membisu hah? Tak dapat berkata-kata lagi kah... kau heran bagaimana aku bisa tahu...”


 


“Siapa kau sebenarnya?” William bertanya kembali.


 


“Aku mencari tahu tentang mu. Sungguh membuat ku kaget setelah aku tahu jati dirimu...”


 


“Apa mau mu hah?”


 


“Hahaha...” Hanya suara tawa terdengar. Kemudian telepon terputus tiba-tiba.


 


William menatap HP-nya. Tiba-tiba perasaannya tak enak. Ia mencoba menelpon kembali namun nomer tersebut sudah tak aktif.


 


“Siapa dia? Suaranya disamarkan. Artinya ia tak mau dikenali.” William berpikir sebentar. Tapi ia masih tak tau siapa orang tersebut. Apakah penyamarannya sudah terbongkar? Adakah orang yang sedang mencarinya? Ataukah musuh? Semua tanda tanya berkecamuk didalam pikirannya. Hingga sampai malam hari tiba ia tak dapat tidur dan terus memikirkan siapa Pria tersebut.


***


 


Esoknya dikantor William sama sekali tak fokus seharian. Bahkan saat rapat dengan para pegawai stafnya pun ia masih saja tak fokus. Jack yang menyadarinya pun tak banyak bicara. Hingga mereka berdua didalam ruangan kantor Presdir, William masih saja diam membisu.


 


“Ada apa Tuan?”


 


“Tidak apa-apa”


 


“Kau yakin...”


 


“Iya...”


 


Jack sebenarnya ingin menyampaikan sesuatu. Namun tak jadi, sepertinya William banyak pikiran. Tapi ia malah diam mematung disebelah William. William pun sadar lalu menoleh ke arah Jack.


 


“Ada apa?”


 


“Tidak ada.”


 


“Katakanlah...”


 


“Bukan masalah besar. Hanya...” Jack jadi ragu.


 


“Hanya apa... tak usah ragu. Katakan saja Jack.”


 


“Gosip kau dan Lilis di perusahaan ini sudah menyebar. Semua pegawai membicarakan Lilis dan kau Will... Dan...”


 


“Dan apa?”


 


“Dan yang lebih kena imbasnya Lilis. Mereka menjelekkan Lilis. Mereka bilang kalau Lilis mungkin menggodamu dan karena koneksimu maka ia bisa bekerja disini. Padahal tidak bisa semua orang sembarangan bisa masuk bekerja di I.S” Jack menjelaskan situasi yang sedang terjadi.


 


“Hemmm..... Kenapa semua orang seperti kurang kerjaan saja. Kenapa harus mengurusin hidup orang lain.” William menghela nafasnya.


 


“Lalu apa tanggapanmu? Selanjutnya bagaimana? Aku sebenarnya tak ingin mengatakan. Karena sepertinya hari ini kau banyak pikiran.”


 

__ADS_1


“Tak apa-apa Jack. Seharusnya kau katakan saja dari awal. Tanggapanku, kalau mereka bergosip seperti itu, maka sebaiknya ku wujudkan saja” William tersenyum kemudian.


 


“Maksudmu?” Jack tak mengerti apa yang di ucapkan oleh William.


 


“Kau bantu aku bookingkan sebuah Restoran VIP. Pesan tempat untuk aku dan Lilis saja. Aku akan melamar Lilis segera.”


 


“Kau mau menikahinya?”


 


“Iya. Aku mau menikahinya. Lakukan itu sekarang Jack. Aku sudah pernah menyatakannya ke Lilis. Namun aku ingin lamaran yang lebih resmi lagi. Siapkan juga buket bunga mawar merah yang besar dan cake yang besar. Pesankan Steak dan minuman Wine burgundy tahun 1945 di Restoran tersebut”


 


“Sekarang?”


 


“Iya. Dan aku akan ke Toko Cincin. Aku harus memesan Cincin berlian yang indah untuk Lilis.”


 


“Baiklah” Jack segera melaksanakan perintah William.


 


William pun mengambil kunci mobilnya untuk segera ke Toko Cincin. William berpikir kalau ia dan Lilis menikah maka semua yang bergosip akan menutup mulutnya. Karena mereka tak akan berani dengan istri Bosnya kan. Jika berani dengan istri Bos maka sama saja akan berhadapan dengannya. Dan siapa yang mau menentang Bos sendiri, resikonya bisa-bisa kenak pecat bukan. Karena William tak akan membiarkan siapa pun menjelekan Lilis. Semua pegawainya tak ada yang berani dengannya. Karena saat William marah maka semua pegawai akan ketakutan. Berita Tuan Robert dan Nancy yang menyinggung William saja sudah menyebar kemana-mana. Dari kejadian itu maka semua orang tak ada yang berani cari masalah dengan William Smith.


 


Sampai di Toko Cincin, William membeli Cincin Berlian yang paling Indah dan yang paling mahal. Baginya yang terbaik harus diberikan ke Lilis. Ia pun kemudian mengirimkan sebuah pesan sms ke nomor HP Lilis, kalau dia akan menjemput nanti sore dan sekalian mengajak makan malam bersama. Dan Lilis membalas iya.


 


Di tempat ruang kerja Lilis.


 


Lilis sedang tersenyum bahagia sambil memandang HP-nya. Ivanka yang menyadari lalu menegurnya.


 


“Ada yang bahagia nampaknya?”


 


“Ah mbak Ivanka... Maaf. Aku akan fokus bekerja kembali.”


 


“Tak masalah kok Lis... pekerjaan kita sedikit lagi akan selesai bulan depan tinggal hitungan hari. Semua kerjaan sedikit lagi selesai. Jadi aman saja. Kau mau jumpa kekasih mu ya...”


 


“Kok Mbak Ivanka tahu...”


 


“Iya tahu lah... sering kali ku lihat dirimu dijempu kekasihmu. Terkadang kalian sampai kekantor bersama. Artinya pergi kerja bersama kan... tinggal serumah dengan kekasihmu ya...”


 


“Bukan mbak... Pacar ku tinggal disebelah rumahku. Jadi bisa sering pergi kerja sama dan pulang pun bisa sama. Karena pergi dan pulang searah.”


 


“Duh... senangnya. Pasti bahagia banget ya...”


 


 


“Yudha kan pacarmu Lis...” Ivanka tahu kalau Yudha itu adalah William Smith.


 


“Kok tahu mbak...”


 


“Tahulah... kan dia sering curi-curi waktu kemari. Terus yang bikin senyum dari tadi apa.”


 


“Yudha mau jemput pulang sekalian makan malam berdua di Restoran.”


 


“Wah... kencan kalian ya.. atau..”


 


“Atau apa mbak...??”


 


“Atau mau dilamar.”


 


“Ah... masak seh mbak. Dia udah pernah naya seh. Tapi katanya mau buat lamaran resmi.”


 


“Wah... selamat ya... bakal jadi Nyonya Smith nih...” Ivanka tersenyum.


 


“Hehehe... Eh... Tunggu dulu. Maksud Mbak tadi apa? Kok Nyonya Smith?”


 


Dalam Hati Ivanka : "Aduh... Mampus aku. Keceplosan aku" Ivanka jadi hanya diam.


 


“Mbak? Maksudnya tadi apa?”


 


“Eh... Enggak Lis... Gak apa-apa. Salah sebut aku.”


 


“Oh...”


 


“Ya sudah sana pulang. Nanti dia nunggu kau Lis didepan.”


 


“Boleh duluan pulang mbak?”


 


“Iya. Sana pulang duluan”

__ADS_1


 


“Makasih mbak.”


 


Lilis gembira. Ia pun pamit dan pulang duluan. Namun karena duluan pulang Lilis menunggu didepan Lobi saja. Lilis ingin mengirimkan pesan kalau ia sudah menunggu di dekat Lobi depan. Tapi Dimas datang tiba-tiba menghampiri Lilis.


 


“Hai Lis... Apa Kabar?” Dimas menyapa.


 


“Hai Dim... Aku baik, eh kok disini. Tumben. Kok gak bilang mau kemari Dim..” Lilis agak heran.


 


“Bisa kita bicara sebentar.”


 


“Oke.”


 


Lilis mengikutin Dimas. Dimas membawa Lilis keluar. Kini mereka berada di luar perusahaan. Didepan pintu gerbang perusahaan I.S Dimas mengajak Lilis berbicara ke sudut yang tak banyak orang lewat.


 


“Ada apa Dim?” Tanya Lilis.


 


“Ini Lis... Ini punya mu kan?” Dimas menyerahkan sebuah Dompet Hitam.


 


Lilis melihat Dompet tersebut. Ia membukanya. Dan benar saja. Di dalamnya ada barang-barangnya. Tapi ini sudah lama hilang. Kenapa ada di Dimas. Berarti yang dilihatnya dirumah Yudha kemaren bukanlah miliknya. Begitu pikir Lilis.


 


“Kenapa ada pada mu Dim?”


 


“Benarkan ini adalah punya mu?”


 


“Iya benar. Dan ini sudah lama hilang.”


 


“Bagaimana hilangnya Lis?”


 


“Aku tak ingat. Tapi kenapa ada padamu Dim?”


 


“Aku menemukannya.”


 


“Menemukannya?? Dimana?? Ini kan sudah lama hilang...”


 


“Apa kau kenal seseorang yang disebut Fatar. Yang jelas bukan Fatar anakmu ya Lis...”


 


“Fatar???” Lilis lalu mengingat seorang Pria yang bernama Fatar. Kejadian yang bertahun-tahun lamanya. Kejadian yang sudah lama ia tutup rapat bahkan ingin ia lupakan.


 


“Apakah kau mengingat sesuatu Lis...” Dimas menanyakan kembali.


 


Pertanyaan Dimas sama sekali adalah hal yang mengingatkan Lilis tentang kejadian silam. Yang bagi Lilis adalah sebuah luka dan kenangan buruk.


 


“Kau mengenal Pria itu kah? Pria yang bernama Fatar itu?” Mata Lilis sudah memerah.


 


“Aku hanya akan mengatakan kalau Dompet itu mungkin berhubungan dengan Fatar dan Yudha juga”


 


“Maksud mu Dim...?” Lilis semakin tak mengerti. Namun hatinya sudah tak tenang.


 


“Aku menemukan Dompet ini di rumah Yudha.”


 


“Yudha??? Bagaimana bisa?? Tunggu dulu...” Lilis mengingat sesuatu. Kalau bertahun-tahun lalu, Dompetnya ini hilang karena ia di sekap Pria bernama Fatar dan saat itulah ia di perkosa. Dan Dompet ini pernah dilihatnya dirumah Yudha. Dimas berkata ia menemukan dirumah Yudha. Jadi Yudha dan Fatar adalah orang yang sama kah???


 


Tubuh Lilis gemetar. Ia tak bisa membayangkan kalau pikirannya ini benar. Ia tak mau kalau hal ini adalah sebuah kebenaran. Ia tak mau menerima kebenaran tersebut.


 


“Sepertinya sekarang kau mengerti Lis... Iya. Benar. Yudha dan Fatar adalah orang yang sama Lis... Kau dijebak dan dibohonginya selama ini.”


 


“Tidak... Tidak....Ini gak mungkin” Air mata Lilis sudah turun dengan derasnya. Ia tak bisa menerima hal ini.


 


“Itu terserahmu Lis.. Sebaiknya kau tanya langsung ke Yudha. Aku pergi dulu. Jika ada apa-apa atau kau perlu aku, hubungi saja aku Lis.” Dimas pun pamit. Ia sebenarnya tak tega menyampaikan hal tersebut. Namun ia harus katakan hal tersebut ke Lilis.


 


Lilis kini terduduk lemas. Tubuhnya gemetar. Air matanya tak henti-hentinya mengalir deras.


 


HP-nya berdering. Sebuah panggilan dari William. Lilis menatap layar HP-nya. Ia tak tahu harus bagaimana.


 


Karena Lilis tak kunjung juga mengangkat teleponnya, akhirnya William mencoba mencari Lilis saja. William yang sudah kembali ke kantor dan sudah ada di lobi depan tapi ia tak melihat Lilis. Pesan yang diterimanya kalau Lilis menunggu di Lobi tapi kemana orangnya. Ia pun mencari kesan kemari tapi Lilis tak terlihat. Kemudian ia mencari keluar. Saat diluar ia melihat Lilis. William pun datang mendekat.


 


“Lis... Kenapa kau disini?? Kenapa duduk disitu?” William mendekat.


 


Bersambung...


Jangan Lupa Klik Vote dan Favorite ya kakak-kakak Readers semuanya. :)


Di like juga semua episodenya ya kak. Tinggalkan Komennya juga. Dukungan kalian akan sangat berarti agar Authornya semangat dan bisa UP cerita secepatnya. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)

__ADS_1


 


 


__ADS_2