
Rafa tertegun dan kaget melihat reaksi Mamanya.
Kegaduhan tersebut terdengar juga oleh beberapa pembantu rumah tangga. Mereka datang mendekat dan melihat. Dan salah seorang pembantu langsung menelepon majikannya. Yaitu William.
“Fatar... Anakku...” Ucap Lilis dengan panik serta sambil terisak.
“Cepat antar ke rumah sakit..” Perintah Lilis pada pembantu rumahnya.
Seorang pembantu langsung memanggil supir. Setelah supir datang, Lilis segera menggendong Fatar memasuki mobilnya. Rafa ikut juga masuk ke mobil dan pergilah mereka menuju rumah sakit.
Di tempat William. Di kantornya. Ia baru saja menerima telepon pembantunya. William tentu syok sekali. Namun pembantunya hanya mengabarkan Fatar yang terjatuh, tentang Lilis tak disebutkan. Ia pun hendak bergegas pergi namun Jack menghentikan langkahnya.
“Mau kemana kau Will?”
“Aku mau pulang. Pembantuku bilang Fatar jatuh dari tangga pas mau naik ke lantai atas.”
“Mungkin saat ini menuju rumah sakit Will”
“Ah.. Kau benar. Aku telepon Rafa dulu. Dia pasti bersama Fatar.”
William menekan nomer di Hapenya. Nomer hape Rafa di pencetnya. Di seberang sana Rafa sudah mengangkat teleponnya.
“Rafa... Kalian dimana sekarang?” Tanya William cemas.
“Di rumah sakit Pa. Dan Mama bersama ku. Fatar lagi ditanganin dokter di UGD” Jawab Rafa di seberang sana.
“Mama mu nak?” William mengkerutkan keningnya.
“Iya Pa. Mama. Mama tadi yang bantu Fatar untuk di bawa ke rumah sakit. Kami masih menunggu keadaan Fatar.”
“Baik. Tunggu Papa ya nak. Papa segera menyusul. Rafa kirimkan alamat rumah sakit dimana sekarang kalian berada melalui pesan chat ya.”
“Iya Pa.”
William menutup teleponannya. Dan menyimpan hapenya dalam saku celananya. Ia melirik ke Jack.
“Fatar sudah di rumah sakit. Dan yang membawanya Lilis. Sekarang Lilis dan Rafa yang menunggui di rumah sakit.” Ucap William ke Jack.
“Lilis? Kau yakin itu Lilis, Will?” Jack agak bingung dan heran.
“Iya. Tak mungkin Rafa salah sebut juga.”
“Bagaimana bisa?? Bukankah keadaan Lilis tak memungkinkan”
“Aku tahu. Tapi mungkin saja iya.” Wiliam masih ingat kejadian si kembar dan Lilis di dalam kamar. Mungkin saja Lilis tergerak karena ikatan hati seorang ibu dengan anaknya. Itulah pikir William.
“Kalau begitu pergilah Will. Urusan kantor sisanya serahkan padaku”
“Oke. Makasih Jack”
William pun langsung pergi. Ia pun segera menaiki mobilnya menuju rumah sakit.
Di rumah sakit. Di ruangan UGD.
Lilis dan Rafa masih menungguin Fatar yang didalam ruangan UGD. Ada rasa cemas di wajah Lilis dan Rafa. Lilis memeluk Rafa. Mereka duduk di kursi yang ada di depan pintu UGD yang masih tertutup.
“Mama...” Tatap Rafa dalam pelukan Lilis.
“Iya sayang” Lilis pun menatap putrinya.
“Mama sekarang udah baik-baik aja kan”
“Maafkan Mama sayang. Seharusnya Mama lebih perhatian ke kalian anak-anak Mama.” Lilis mengecup keningnya Rafa.
Rafa menangis dalam pelukan Lilis. Lilis pun menangis. Kini kesadarannya telah kembali.
“Gak apa-apa kok Ma. Mama kan lagi sakit jadi Rafa bisa paham kok.” Ucap Rafa dalam pelukan Lilis.
“Iya nak. Mama sekarang disini untuk kalian”
Beberapa saat kemudian William telah sampai. Ia langsung bertanya ke suster dimana ruangan UGD. Setelah di beritahukan oleh suster, William langsung ke ruangan UGD. Di sana William telah melihat Rafa dan Lilis yang sedang berpelukan.
William mendekat.
“Lilis...” Ucap William saat melihat Lilis.
__ADS_1
Lilis melepaskan pelukannya. ia melihat ke arah William.
“William...”
Kini William datang memeluk Lilis. Ia merasa senang karena Lilis sudah mengenalinya.
“Lilis sayangku” Bisik William sambil memeluk Lilis. Lilis berderai air matanya.
“Maafkan aku Will.”
“Tidak sayang. Aku yang minta maaf. Terima kasih kau kembali seperti dahulu lagi”
William melepaskan pelukannya. ia menatap Rafa. Rafa memeluk Papanya.
Kemudian William menoleh ke Lilis.
“Bagaimana Fatar?”
“Masih didalam ruangan UGD.” Jawab Lilis.
Kemudian pintu UGD terbuka. Seorang dokter keluar.
“Bagaimana putra saya dok?” Tanya William.
“Iya dok, bagaimana anak kami?” Lilis pun panik.
“Syukurlah. Anak Tuan dan Nyonya selamat. Tidak ada cedera yang parah.” Dokter tersenyum ramah.
Dokter pun pamit pergi. Lilis dan William serta Rafa kini bernafas lega.
Sekarang Fatar di bawa ke ruangan kamar pasien. Ia di tempatkan oleh William di ruangan kamar VVIP. Maklum anak presdir ya jadi selalu memilih ruangan yang istimewa dan yang terbaik.
Didalam ruangan, Fatar masih terbaring. Ia belum sadar.
Lilis, Rafa dan William menemanin didalam ruangan tersebut.
Beberapa saat kemudian, sekitar dua jam kemudian, Fatar pun sadar. Ia melihat sekeliling.
“Mama... Papa... Kak Rafa..” Sebut Fatar satu persatu.
“Iya sayang. Ini Mama.” Lilis meneteskan air matanya. Ia segera menghapus air matanya.
“Mama sudah sembuh kah? Mama sudah bisa bicara?” Fatar nampak senang.
“Iya nak. Mama sekarang baik-baik saja” Lilis tersenyum juga. Ia lega Fatar telah selamat.
Fatar melihat ke arah Mamanya dan tersenyum juga. Ia juga melihat ke arah Papanya dan Rafa. Rafa dan Papanya pun menganggukan kepalanya dan ikut tersenyum.
“Hore... Asyik...” Ucap Fatar.
Semua tersenyum dan bahagia.
“Lalu kapan kita pulang? Fatar mau pulang saja” Rengek Fatar di hadapan orang tuanya.
“Nanti ya nak. Tunggu apa kata dokter. Kalau dokter bilang sudah boleh pulang barulah kita pulang. Oke” William mengelus lembur rambut Fatar. Dimana kepala Fatar diperban akibat ada luka dan sempat berdarah yang sekarang sudah di obatin.
Fatar pun menganggukan kepalanya.
15 menit kemudian dokter datang memeriksa Fatar dan dikatakan kalau Fatar bisa segera pulang. Karena tak ada yang berbahaya.
Malam itu pulanglah William bersama istri dan anak-anaknya.
Sampai di rumah mereka langsung ke kamar Fatar. Fatar di rebahkan di ranjangnya.
“Istirahatlah ya nak. Sementara tak boleh ke sekolah atau kemana pun. Sehatkan diri dirimu ya nak” Pesan William ke putranya itu.
“Iya Pa.” Jawab Fatar.
“Mama tinggal dulu ya nak. Kalau ada apa-apa panggil saja Mama ya.” Ucap Lilis pula ke putranya.
“Iya Ma..”
“Istirahat ya dek. Cepat sembuh toh.” Rafa tersenyum.
“Iya kak. Makasih. Fatar seh udah sembuh. Anak hebat dan kuat loh” ucap Fatar.
__ADS_1
“Iya deh... Iya.” Sambung Rafa.
Keluarlah Lilis dan William juga Rafa. Fatar di biarkan istirahat di kamarnya. Rafa pun pamitan kepada orang tuanya untuk kembali ke kamarnya sendiri. Dan masuklah Rafa ke ke kamarnya sendiri.
Sedangkan Lilis dan William kembali ke kamar mereka juga.
Setelah sudah di kamar William langsung memeluk Lilis. Ia merindukan Lilis yang sudah bisa berinteraksi dengan semua orang.
Di peluk nya dan di kecupnya kening istrinya itu. Namun Lilis kemudian melepaskan pelukannya William.
“Kenapa sayang?” William mengkerutkan keningnya.
“Tak apa-apa. Aku hendak mandi.”
“Kau sudah sehatkan? Perlu kita ke dokter atau psikiater untuk memeriksamu sayang.”
“Tak perlu. Aku baik-baik saja. Aku hanya ingin mandi.”
Lilis pergi ke kamar mandi dan mandilah dia. William menatap heran ke Lilis.
“Ada apa dengannya? Dia kelihatan sudah membaik tapi kenapa seakan menjaga jarak denganku” William mengkerutkan keningnya. Ia merasa aneh.
Setengah jam kemudian Lilis sudah selesai mandi, ia langsung berganti pakaian tidur. William pun gantian mandi dan setelah selesai ia segera berpakaian tidur dan menuju ranjang. Ikut tidur di samping Lilis.
Yang anehnya, William ingin memeluknya sambil tidur tapi Lilis malah menggeser tubuhnya dan melepaskan pelukan William.
“Kenapa sayang? Apa ada yang salah?” Tanya William menatap Lilis.
Namun Lilis tak melihat ke arah William.
“Tak apa-apa sayang. Cuma hari-hari yang di lewatin sangatlah berat. Aku perlu waktu.” Ucap Lilis tanpa menoleh ke William.
“Kau tidak marah padaku kan Lis?” Tanya William dengan wajah sedihnya.
Bersambung...
Syukurlah Lilis sudah membaik. Tetapi kenapa Lilis menjaga jarak terhadap William ya ???
Yang suka dengan karya ini, ikutin terus kisahnya sampai akhir ya kakak readers semuanya :)
No Plagiat ya. Hargai usaha dan kerja keras seseorang dalam berkarya. Jadi katakan tidak pada meniru karya seseorang dan tidak menjiplaknya. No Plagiat. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)
Karya ini sedang mengikutin lomba, jadi mohon dukungannya terus ya kak.
Cara mendukungnya gampang yaitu :
1. Like semua episodenya / bab-nya ya kak. Dibaca juga semua babnya :)
2. Klik Vote setiap hari dan setiap saat ya kak. Dan setiap hari senin juga :D
3. Klik Favorite juga ya kak
4. Selalu berikan dukungannya ya kak setiap saat :D
5. Tinggalkan komen ya kak :)
6. Kasi bintang 5 ya kak untuk karya ini sebagai menyukai karya ini dan apresiasi ke karya saya ini.
Makasih semuanya. Dukung terus karya ini ya kakak readers semuanya, biar Author semangat UP ceritanya. Love you all :)
Yuk kak buat karya ini makin bersinar, ajak gitu semuanya buat like semua babnya, komen, vote serta favoritekan yak. Jangan lupa kasi bintang 5 nya ya. karya ini sedang mengikutin lomba, semoga masuk 10 besar yak. Karena itu butuh dukungan dari kakak readers semuanya. Yuk kak buat karya ini masuk 10 besar gitu hehehe.
Yuk... Vote yang banyak dan Like yang banyak yak :D Makasih buat semuanya.
Tembus 200 lebih like segera di UP kembali.
__ADS_1