
Dalam hati Lilis : ”Apa mau dia? Merebut William? Jangan harap. Aku akan tetap mempertahankan rumah tangga kami”
William kembali duduk setelah dari toilet. Lilis dan Vanya bersikap biasa saja. Selesai makan mereka pun membayar makannya dan keluar dari Mall.
Vanya berpura-pura merasakan sakit dan pusing kepala. William memperhatikan Vanya yang nampak beda.
“Kenapa Van?”
“Aku sepertinya pusing Will. Bisa kau antar aku?”
Lilis memperhatikan dari samping William.
“Baiklah” Ucap William ke Vanya.
“Sayang. Aku antar Vanya dahulu ya. Hati-hati dijalan pulang ya” William berbicara melihat ke arah Lilis.
Lilis pun mempunyai ide. Disaat William membantu Vanya dengan memapahnya masuk ke mobil William, saat itulah Lilis buka suaranya.
“Sayang... Aku kelelahan rasanya. Tadi di ajak Tania berkeliling jadi sangat lelah. Pulanglah bersama ku” Lilis meraih tangannya William. Sehingga William berpindah ke sisi Lilis kembali.
William mengkerutkan keningnya. Vanya terlihat kesal.
“Will... Bisa antarkan aku pulang ya. Biar Vanya di antar supirmu saja. Oke” Lilis mengelus wajah William kemudian mengecup bibir William. Entah keberanian dari mana Lilis lebih dahulu mencium William. William tentu saja kaget. Untuk beberapa sekian menit kecupan itu masih berlangsung. Setelah kecupannya dilepaskan. William melihat ke arah Vanya.
“Van... Maafkan aku. Aku harus mengantarkan istriku pulang. Pulang lah bersama supir ku. Oke”
Vanya mengepalkan tangannya. Ia mendengus kesal. Ia melirik Lilis. Dan Lilis meliriknya juga. Sambil gerakan bibirnya seakan mengucapkan “Aku menang”.
Lilis masuk ke mobil bersama William. William yang menyetirkan mobilnya Lilis. Dan Vanya pun ditinggalkan sendirian.
“Sial” Gerutu Vanya.
Supir William datang.
“Nona. Silahkan masuk.”
“Tak perlu. Aku biar di jemput sekertarisku saja.”
Vanya segera menelepon Jaka. Tak lama kemudian Jaka muncul menjemput. Vanya masuk kedalam mobil. Di lihat Jaka bosnya terlihat kesal.
“Non. Kenapa?”
“Diam kau. Sudah dapatkan yang aku minta”
“Sudah Non. Data Tuan William Smith dan istrinya. Semuanya ada didalam amplop coklat besar itu Non.” Jaka menunjukkan ke Vanya. Dan Vanya membaca semua data berkasnya.
“Non. Buat apa lagi anda mencari data Tuan Smith. Kalau presdir tahu, pasti marah Non. Dia kan sudah beristri dan punya dua anak kembar. Jadi sebaiknya ...” Jaka tak sempat meneruskan kata-katanya. Karena Vanya melihatnya dengan tatapan yang menakutkan. Jaka pun terdiam.
Sedangkan Vanya melihat semua data tersebut.
Di sisi lain. Di dalam mobil Lilis yang William menyetirnya. Keduanya diam sepanjang perjalanan.
William sesekali melirik ke Lilis. Tapi Lilis melihat ke arah jendela kaca mobil.
“Sayang...”
“Hem..”
“Kita langsung pulang atau kemana?” Tanya William.
“Pulang saja. Tapi apa kau mau kembali ke kantor?”
“Tidak. Urusan kantor bisa Jack yang meneruskannya”
“Baguslah”
“Yang tadi...” William ingin menanyakan sikap Lilis. Tapi ia mengurungkan niatnya.
__ADS_1
“Apa?” Lilis memandang ke arah William.
“Bukan apa-apa.” William tak jadi menanyakan.
“Oh iya Will. Apa kau cerita ke Vanya masalah kita yang...”
“Yang apa?” William melirik ke arah Lilis sekilas.
“Apa kau menceritakan tentang kita pada Vanya?” Lilis memandang lurus ke arah William.
“Tidak. Aku tak pernah berkata apa pun pada Vanya. Kami memang berteman. Tapi pembahasan kami hanya sebatas pekerjaan. Dia cuma sekali bertanya padaku”
“Apa itu?”
Dalam hati Lilis : “Sialan. Aku di tipu wanita itu. William tak cerita apa pun. Jadi dari mana dia tahu semuanya? Dan kenapa dia berbohong tadi?” Keluh kesah Lilis dalam hatinya.
“Vanya bilang jika ada wanita cantik dan masih muda menyukaiku dan jatuh cinta padaku, terus berharap hubungan layaknya antara pria dan wanita, dan dia menanyakan apakah aku mau atau tidak?”
Lilis membulatkan kedua bola matanya. Agak kaget juga Lilis mendengarnya. Tak sangka kalau Vanya akan bertindak sejauh itu.
“Lalu apa jawabanmu”
“Jawaban ku Tidak.”
“Benarkah?”
“Iya. Tentu saja. Karena aku sudah menikah, punya dua anak kembar dan seorang istri cantik yang ku cintai” William tersenyum hangat ke arah Lilis. Ah senyuman hangat itu hanya di tujukan ke Lilis seorang.
Lilis melihat senyuman hangat William. Ia menundukan kepalanya.
“Terima kasih” Lilis menitikkan air matanya.
William meghentikan mobil di pinggir jalan. Ia menatap ke istrinya.
“Sayang... kenapa kau menangis?”
“Lis... Percayalah cintaku dan di hatiku hanya untukmu”William meraih tangan Lilis dan mencium punggung tangannya.
Lilis merasakan hangat cinta William. Tapi sedetik kemudian, Lilis segera menarik tangannya. William tentu kaget.
“Kenapa? Aku pikir kau sudah tak masalah jika kita bersentuhan” Ucap William.
“Aku... Aku...” Lilis jadi tak tahu harus berkata apa.
William menyenderkan dirinya di kursi mobil. Ia menghela nafas panjang.
“Lis... Aku tahu kau masih teringat kejadian buruk itu, makanya kau masih kesulitan. Tapi percayalah. Aku tak pernah masalah dengan hal tersebut. Aku masih mencintaimu sama seperti dahulu. Aku tahu semua derita mu di akibatkan oleh diriku, karena itu walau kau mengacuhkanku sekali pun aku akan tetap menunggumu sayang. Maafkan aku dan ku cinta dan sayang padamu Lis” William berkata dengan sangat lembut.
Kata-kata William masuk kedalam relung hati Lilis. Lilis menghangat.
“Tidak Will. Kau tak salah. Itu kesalahanku. Jika saja waktu itu aku tak masuk ke jebakan mereka maka hal tersebut tak akan terjadi. Jadi itu semua bukan kesalahanmu. Aku merasa diriku tak layak dan tak pantas lagi untuk mu.”
“Husstt...” William mengulurkan jari telunjuknya di bibir Lilis agar Lilis berhenti.
Ia lalu menarik cepat jarinya sebelum Lilis merasa kurang nyaman.
“Bukan sayang. Aku juga bersalah karena terlambat menolongmu. Maafkan aku. Dan jangan berkata kau tak layak atau pun tak pantas. Kau ibu dari anak-anakku. Wanita yang ku cintai. Jadi tak ada lagi yang lain selain dirimu sayang. Hanya kau yang ku mau dan ku inginkan. Lupakan bayangan gelap itu ya sayang”
“Aku juga minta maaf Will. Aku juga mencintaimu”
“Me too honey”
Keduanya memandang dengan sangat lembut dan mesranya.
“Will... setelah kejadian tersebut selanjutnya apa yang terjadi? Aku hanya melihatmu membunuh Wenny? Apa tak masalah?” Lilis mengkerutkan keningnya.
“Wenny telah mati di tanganku. Dan masalah itu juga tak diketahui oleh siapa pun. Pihak polisi juga tak tahu. Semua jejak sudah di hapus. Jangan kau risaukan hal itu lagi. Untuk Hesti mamanya Wenny telah mendekam dipenjara untuk seumur hidupnya. Bahkan ku dengar ia seperti mengalami gangguan jiwa. Gila. Kalau Laura dan Philip sudah tewas juga. Aku menghajar mereka habis-habisan. Saat hendak kulenyapkan, Katty mencegahku. Katty yang mengambil alih membunuh Laura dan Philip. Sehingga Laura dan Philip tewas di tangan Katty” William menjelaskan ke Lilis.
__ADS_1
Lilis tertegun sesaat.
“Lalu bagaimana Katty sekarang? Aku tak melihatnya lagi setelah kejadian itu?”
“Katty tentu kembali ke Inggris. Ia harus menyerahkan chip ke Bos V. Chip yang hilang dan dicuri sudah kembali ke pemerintah Inggris. Dan aku juga sudah resmi pensiun dari pekerjaan lama ku. Katty pun harus bersembunyi. Karena ia mengambil tanggung jawab untuk membunuh Laura dan Philip, ia menanggung itu semua sendirian demi kita. Jadi dia lah yang akan jadi sasaran kejaran para Mafia dari Jerman dan gengster dari Tiongkok. Ia berkorban untuk kita Lis. Karena jika berita kematian Laura dan Philip telah sampai ke telinga mereka, para mafia Jerman dan gengster Tiongkok pasti memburu pembunuhnya. Oleh karena itu Katty menanggung semuanya itu.” William menghela nafas panjangnya.
“Katty sungguh baik. Kita berhutang banyak padanya”
“Iya sayang. Karena itu semua pengorbanan Katty jangan kita sia-siakan. Kita harus hidup bahagia sayang”
Lilis menganggukan kepalanya.
“Lalu di tempat itu. Rumah tua itu bagaimana dengan semua mayat yang ada”
“Sudah ku suruh Jack untuk membereskan agar tak ada jejak. Semuanya sudah aman sayang.”
William kembali menghidupkan mesin mobil dan menyetirnya. Mereka menuju rumahnya.
Sampai di rumah keluarga Smith. William dan Lilis turun bersama. Dan menuju kamar mereka berdua.
Didalam kamar William memeluk Lilis dengan eratnya. Lilis merasa kaku dan kurang nyaman. Namun belaian mesra dan lembutnya membuat Lilis ikut dalam pesona William.
William pun mengecup bibir manis Lilis. Wanita yang sudah lama ia rindukan kehangatannya dan aroma tubuhnya Lilis yang sudah lama William kangenin dan dambakan, kini dipeluknya erat dan belaian mesranya terus dilakukan William sambil terus mengecup mesra bibirnya Lilis.
Keduanya jatuh di atas tempat tidur dengan masih berpelukan dan bibir keduanya masih saling bertautan.
Bersambung...
Senangnya mereka berdua kembali hangat dan mesra... Love love lah untuk Lilis dan William. :D
Dan Vanya kasian dah di tinggalkan hehe...
Yang suka dengan karya ini, ikutin terus kisahnya sampai akhir ya kakak readers semuanya :)
No Plagiat ya. Hargai usaha dan kerja keras seseorang dalam berkarya. Jadi katakan tidak pada meniru karya seseorang dan tidak menjiplaknya. No Plagiat. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)
Karya ini sedang mengikutin lomba, jadi mohon dukungannya terus ya kak.
Cara mendukungnya gampang yaitu :
1. Like semua episodenya / bab-nya ya kak. Dibaca juga semua babnya :)
2. Klik Vote setiap hari dan setiap saat ya kak. Dan setiap hari senin juga :D
3. Klik Favorite juga ya kak
4. Selalu berikan dukungannya ya kak setiap saat :D
5. Tinggalkan komen ya kak :)
6. Kasi bintang 5 ya kak untuk karya ini sebagai menyukai karya ini dan apresiasi ke karya saya ini.
Makasih semuanya. Dukung terus karya ini ya kakak readers semuanya, biar Author semangat UP ceritanya. Love you all :)
Karya ini akan segera Tamat, akhir bulan ini rencananya akan di Tamatkan. Jadi Vote yuk kak yang banyak dan Like sebanyak-banyaknya. Thanks :D
Tembus 200 lebih like segera di UP kembali.
__ADS_1