
“Aku sudah tak sabar untuk berjumpa dengan mu William...” Ucap Laura sambil tersenyum.
Di tempat Lilis dan William.
Lilis dan William mengendarai mobilnya memasuki sebuah hutan yang dimaksud. Cukup lama juga mereka barulah sampai ditempat. Mendekatin ke arah pegunungan, mobilnya Lilis berhenti. Lilis dan William turun dari mobil.
“Apakah masih jauh lagi?” Tanya Lilis ke William.
“Diatas sana.” William menunjuk masuk kedalam hutan dan pegunungan di atas sana. Menurut share lock yang diberikan dipesan chat kalau tujuannya masih naik keatas lagi.
“Kau tidak tahu siapa yang menyuruh kita kemari?”
“Tidak tahu. Kalau kau kuatir, tak usah ikut aku. Disini saja didekat mobilmu menunggu.”
“Tidak. Aku akan ikut denganmu.”
“Kalau begitu telepon lah seseorang untuk bala bantuan nanti. Hanya untuk berjaga-jaga untuk segala kemungkinan yang terjadi. Atau kau kirim pesan juga lokasi tempat kita ini. Aku hanya punya perasaan tidak enak kali ini.” William merasa bakal ada yang akan terjadi didepan mereka.
Lilis pun mengikutin apa yang dikatakan William. William menyerahkan Box serta cincinnya dan foto yang tadi ia lihat. Dirinya masih memegangnya tadi. Ia kembalikan ke Lilis. Lilis menerimanya dan memasukan ke sakunya. Kebetulan kali ini ia memakai celana dan baju kemeja. Hingga ia bisa menyimpan di sakunya. Soalnya tasnya ia tinggalkan di mobilnya. Mobil tersebut sudah di lock . Lilis mengirim pesan singkat ke Tania dan jack lalu mengshare lokasi dari Hapenya. Kemudian Hapenya ia simpan di sakunya yang satu lagi.
Lilis dan William berjalan terus memasuki hutan kedalam dan semakin dalam. Kemudian mereka berjalan naik keatas pegunungan.
Sampai di atas. William melihat kalau Ayu sedang di ikat. William menghampiri Ayu segera.
“Ayu... kau tak apa-apa?” William menatap cemas ke Ayu.
“Om.... Tolong Ayu” Ayu kembali menangis.
Sedangkan Lilis masih terdiam melihat William dan Ayu. Lilis melihat sekeliling tak ada siapa pun. Lalu siapa yang menyuruh mereka kemari.
“Ok. Akan Om lepaskan ikatannya. Tunggu ya...” Ucap William.
“Iya Om”
Suara langkah kaki mendekat, Laura pun muncul.
“Halo Will... Apa kabarmu?”
William menoleh. Begitu juga Lilis. Lilis cukup kaget melihat ke arah Laura.
“Kau?” Lilis terkejut melihat Laura.
“Iya. Ini aku. Kenapa? Kau pikir aku sudah mati begitu.”
“Siapa kau?” Ucap William ke Laura.
“Sungguh mengecewakan. Kau melupakanku Will...” Laura mengelengkan kepalanya. Ia memegang senjata. Kapan saja senjata itu bisa di arahkan dan ditembakannya.
“Dia Nona LL.” Ucap Lilis. Lilis masih ingat kejadian beberapa tahun lalu di sebuah gedung kosong yang terbengkalai. Dari situlah awal mulai Lilis mengira kalau William tiada. Tapi ternyata masih hidup.
__ADS_1
“Kau masih ingat Lis. Baguslah.” Laura tersenyum jahat.
“Apa yang kau mau pada kami? Lepaskan Ayu. Dia masih kecil dan tak tahu apa pun. Ia masih pelajar SMA. Jadi lepaskan saja.” William mencoba bernegosiasi.
“Benar itu. Lepaskan lah gadis muda itu. Yang kau mau adalah Aku dan William kan. Kami sudah datang. Jadi lepaskan si Ayu” Lilis juga berusaha membujuk.
Ayu menatap ke arah William dan Lilis bergantian. Kedua orang ini ingin menyelamatkannya. Sungguh baik sekali. kalau William, Ayu tahu William pasti menolongnya. Tapi untuk Lilis, Ayu pikir itu hal yang mengejutkan kalau Lilis mau menolongnya. Karena ia pikir Lilis mungkin kesal padanya karena berusaha menahan William disisinya terus. Namun nyatanya Lilis begitu baik juga padanya.
“Aku tak setuju dengan kalian berdua. Kenapa aku harus menurut. Kau lah yang harus ku kasi pilihan William” Laura menatap ke William
“Aku?” William mengerutkan keningnya.
“Iya... Kau pilihlah sekarang. Pilih Lilis kah, gadis anak SMA itu atau Aku?” Laura membuat pilihan.
Lilis nampak bingung dengan pilihan yang dibuat Nona LL. William pun merasa aneh dengan pilihan tersebut.
“Maksudmu apa? Memilih antara tiga pilihan dan kau pun masuk dipilihan tersebut. Apa maksudmu?” William tak mengerti.
“Aku tak akan mengulanginya Will. Pilihlah salah satu diantara kami bertiga. Atau kau mau ku bantu membuat pilihan. Aku akan menembak salah satu di antara mereka. Gadis itu yang ku tembak atau Lilis kah??” Laura mengarahkan pistolnya ke arah Ayu dan Lilis. Tangan kanan mengarahkan pistolnya ke Lilis sedangkan tangan kirinya mengarahkan pistolnya ke arah Ayu. Kedua tangan Laura memegang senjata.
William nampak bingung. Ia berada di tengah, antara Lilis dan Ayu. William melihat ke arah Ayu dan Lilis bergantian. Tak mungkin ia mengorbankan Ayu. Dan tak mungkin juga Lilis. Walau ia belum mengingat Lilis. Namun hatinya tak mau kalau Lilis sampai terluka.
“Jawab sekarang Will... Kau tahu, aku bukan lah orang yang bisa sabar menunggu” Laura bersiap menarik pelatuknya.
“Jangan. Hentikan.” William menghentikan Laura.
“Kau siapa sebenarnya? Apa aku ada hutang dan bersalah padamu?”
“Will... Will... Will... Tak ku sangka kau mudah sekali melupakanku. Ya sudah panggil saja aku Nona LL”
“Nona LL?” William seperti melihat sebuah kenangan sewaktu dibangunan kosong. Ia merasakan sakit kepala kembali. william memegang kepalanya dengan kedua tangannya.
“Akh....” William merasakan rasa sakit dikepalanya.
Ayu dan Lilis melihat ke arah William. Keduanya cemas melihat William.
“Kenapa Om...? Sakit lagi kah kepalanya?” Ayu bertanya dengan nada cemas sekali.
“William... kau kenapa?” Lilis pun sama cemasnya seperti Ayu.
Laura merasa bosan.
“Kalian berdua, dua wanita bodoh. Diamlah kalian. Kalian tak perlu ikut bicara. Biar aku dan William saja.” Laura terlihat marah.
“Lepaskan saja mereka berdua. Kau bawa aku saja.” William menawarkan diri.
“Aku tak mau begitu. Kau harus memilih.” Laura kehabisan kesabaran.
“Kenapa Will... Apa kau merasa de ja vu dengan situasi sekarang? Bukankah ini hampir sama stuasinya dengan kejadian itu. Saat itu antara anak-anakmu dan Lilis. Tapi sekarang hanya ganti pilihan saja.” Sambung Laura kembali.
__ADS_1
William tertegun setelah mendengar kata-kata si Nona LL. Ia kembali merasakan sakit kepala yang sangat hebat. William merasakan kepalanya mau pecah rasanya. Dan beberapa kenangan bermunculan dipikirannya.
Laura mendekatin William. Ia mengelus William. Kemudian ia pukul dan di tinjunya kepala William. William yang belum persiapan langsung tumbang. William pingsan. Laura kemudian tersenyum jahat.
“William...” Jerit Lilis.
“Om...” Jerit Ayu juga.
Kini Laura menoleh ke kedua orang itu, ke Lilis dan Ayu. Ayu yang masih terikat tak bisa apa-apa. Sedangkan Lilis yang bersiap hendak lari malah dihadang oleh Philip dengan todongan pistol. Philip keluar dari persembunyiannya membantu Laura.
Suasana gelap berangsur-angsur mulai melihat cahaya. William bangun dari pingsannya. Ia lumayan lama pingsan tadi. Namun saat ia sadar. Dilihatnya pemandangan yang mengejutkan.
Ayu terikat di pohon begitu juga Lilis. Keduannya di ikat bersisian yang dimana dahan pohonnya mengarah ke tepi jurang. Jika ikatan mereka putus maka Ayu atau pun Lilis akan jatuh ke jurang tersebut.
Pemandangan ini sangat tidak William sukai. William melihat ke sekeliling. Dan di lihatnya kalau Laura sedang bersantai sambil memegang pistol di kedua tangannya. Ia duduk di kursi yang ntah darimana tiba-tiba ada disitu. Laura seakan bersiap menembak ke arah tali Lilis atau pun Ayu.
Laura yang melihat William sudah sadar kemudian bangkit dari tempat duduknya. Dan disebelahnya ada seorang pria asing yang juga sama-sama memakai topeng seperti Laura. Pria itu adalah Philip tentunya. Namun baik Philip dan Laura yang memakai topeng sama sekali tidak bisa William kenali. William hanya tahu wanita gila yang bertopeng itu adalah Nona LL seperti yang diakui oleh wanita gila itu. Dan pria asing itu, William pun tak tahu. Tapi seakan William pernah melihat postur tubuh pria bertopeng itu namun ntah dimana William lupa.
Laura mulai mendekatin William yang sudah sadar. Sedangkan Philip berjaga dari agak kejauhan.
“Kau sudah bangun hah?” Laura bertanya.
“Apa yang ingin kau lakukan?” Ucap William yang sudah sadar dari pingsannya.
“Menurutmu bagaimana? Aku hanya membuat pilihan jadi simple. Jika kau tak bisa menyelamatkan mereka berdua maka pilih aku saja kan... kedua tali yang mengikat mereka akan ku tembak dari sini. Kau tinggal memilih ingin selamatkan siapa. Jika tak bisa keduanya. Maka keduanya akan mati jatuh ke jurang. Gampang kan” Laura tersenyum jahat.
“Kau gila kah?” Ucap William mulai kesal.
“Hahaha...” hanya suara tawa yang mengerikan yang terdengar.
Bersambung...
Next gimana kelanjutannya ya? William akan menolong siapa? Ayu atau Lilis? Atau keduanya kah ditolong? Atau keduanya tidak tertolong?
Saksikan kelanjutannya ya kak.... :D
Jangan lupa dukungannya ya kak agar semangat UP.
Di like juga semua episodenya ya kak. Tinggalkan Komennya juga :D
Di like, di vote dan klik Favorite yah sebagai tanda telah membaca dan menyukai karya ini, juga sebagai apresiasi ke karya ini.
No Plagiat ya. Hargai usaha dan kerja keras seseorang dalam berkarya. Jadi katakan tidak pada meniru karya seseorang dan tidak menjiplaknya. No Plagiat. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)
Tembus 200 lebih like segera di UP kembali.
__ADS_1