Rafa Dan Fatar

Rafa Dan Fatar
Bab 61.


__ADS_3

“Hai Lis..”


Lilis segera mengusap air matanya. Ia tak ingin orang melihatnya menangis. Jadi segera di hapusnya. Lilis menoleh ke asal suara tersebut.


“Kau...” Ucap Lilis.


Pria tersebut adalah Jack. Jack duduk di hadapan Lilis.


“Iya. Ini aku. Siapa lagi coba. Apa kau berharap William yang datang menyapamu? Sudah jangan bersedih lagi Lis” Hibur Jack.


“Hem... Ada apa kau mencari ku Jack?”


“Masalah perusahaan Hartono.”


“Masalahnya?” Lilis mengubah gaya duduknya. Yang awalnya nampak santai berubah menjadi serius.


“Beberapa tahun ini, setelah Wenny yang mengambil alih. Ia banyak kehilangan dana perusahaan. Dia terlalu ambisius sehingga tidak memperkirakan untung dan rugi perusahaan. Sehingga kali ini ia mempunyai banyak hutang di Bank. Para investor juga nampak kurang percaya lagi kepadanya. Ia sedang kewalahan.” Jack menjelaskan.


“Lalu??”


“Jadi setelah bertahun-tahun akhirnya ia masuk juga jebakan kita. Kita akan pura-pura melakukan kerja sama. Dan saat semuanya sudah terlambat maka kita bisa mengusai perusahaan Hartono. Kau bisa mengambil perusahaan keluargamu.”


“Kenapa tidak dari dulu saja kita lakukan. Kenapa harus menunggu bertahun-tahun. Bukankah lebih cepat lebih baik.” Lilis tak sabar menunggu Wenny hancur dan merebut perusahaan keluarganya kembali.


“Waktu itu dia masih siaga Lis. Ia masih banyak pertimbangan dan berhati-hati. Tapi kali ini dia lengah sehingga terlilit hutang. Bahkan pembukuan keuangannya terkena pemeriksaan. Mereka sudah lama tak membayar pajak juga. Masalah banyak datang menghampirinya.”


“Jadi inilah kesempatannya Jack?”


“Iya. Kalau kau mau ikutlah dalam rencana ini. Masuk lah bekerja ke I.S kembali. Posisi tinggi akan ku berikan kepadamu. Jadi masalah kerja sama dia akan tunduk padamu. Bagaimana?”


“Aku sudah punya usaha ku Jack. Kerjaanku saja sudah cukup banyak. Aku tak mau waktu ku habis untuk pekerjaan. Aku ingin juga meluangkan waktu bersama anak-anakku. Anak-anakku membutuhkan ku Jack. Hanya aku yang mereka punya.”


“Baiklah. Tapi jika kau berubah pikiran katakan saja. Karena balas dendam akan lebih baik jika kau sendiri yang menanganinnya.”


“Aku tak berniat balas dendam Jack. Aku hanya ingin menyelamatkan perusahaan keluargaku. Aku juga mau menyelamatkan orang tua ku yang masih Wenny kurung didalam rumah. Sesekali saja aku mendengar kabar orang tuaku. Itu pun karena Mamaku sesekali mencuri waktu untuk meneleponku. Memberitahukan keadaan Papa dan Mama ku yang dikurung Wenny di rumah.”


Lilis menghembuskan nafas panjangnya. Ia merasa lelah.


“Baik. Kalau begitu aku saja yang urus.”


“Terima kasih Jack. Kau sangat baik padaku dan anak-anak”


“Tentu saja. Kita bukankah keluarga” Jack tersenyum. “ Bagaimana pun aku adalah Paman nya sikembar. William dan aku kan bersodara angkat” sambung Jack kembali.


“Iya” Lilis pun tersenyum.


Jack memesan sebuah kopi pahit panas kepada pelayan cafe. Tak beberapa lama kemudian kopinyatelah dihidangkan dimejanya. Jack menyeruput dan menikmatin kopi pahitnya.


“Oh iya Jack. Bagaimana hubunganmu dengan Tania?” Lilis ingin tahu karena Tania sangat jarang sekali bercerita kepadanya sekarang. Lilis sibuk mengurus Butik dan anak-anaknya. Sehingga jarang bertemu Tania.


“Baik saja” Jawab Jack singkat.


“Benarkah? Hanya itu? Lalu kapan lagi kalian menikah?”


“Kami hanya pura-pura didepan orang tuanya Tania.”

__ADS_1


“Ayolah Jack. Sudah bertahun-tahun apa bisa dikatakan hanya pura-pura. Aku rasa Tania sudah jatuh hati kepadamu.”


“Tak mungkin.”


“Bisa saja kan. Lihalah dia, sampai sekarang tak ada pemuda lain yang mendekatinnya. Karena semua pria tahu kalau kau dan Tania berhubungan.”


“Lalu?”


“Kok Lalu. Kau pun sama. Sudah umur segini masih saja jomblo. Tak ada kah niat utk benar-benar berhubungan dengan Tania?”


“Iya. Aku jomblo tua”


“Hahaha...” Lilis tertawa mendengarkan perkataan Jack.


“Setelah ini kau akan sibuk apa?” Jack mengalihkan topik pembicaraan.


“Palingan juga ke butikku memeriksa keadaan di sana. Kau?”


“Palingan juga kembali ke kantor. Oh iya si kembar apa kabar? Minggu ini aku tak main kerumah jadi tak tahu kabar si kembar?” Jack memang sering bermain menemui keponakan-keponakannya itu.


“Rafa dan Fatar baik-baik saja. Nilai mereka selalu bagus. Malahan terlalu bagus. Bulan lalu mereka mengikutin lomba kembali yang di adakan pihak sekolahnya antar sekolah lain. Dan seperti biasa mereka menang.”


“Mereka berdua memang anak yang cerdas. Aku jadi ingat waktu William kecil dahulu ia sering mendapatkan nilai terbaik. Sepertinya anak-anakmu mewarisi kepintaran dan kegeniusan Papanya.”


“Iya. Kau benar Jack. Anak-anakku sangat pintar dan mirip William.” Lilis kembali melihat cincin yang didekat tangannya.


“Kau masih menyimpannya Lis? Kau bawa kemana-mana?” Jack melihat cincin yang di belikan William untuk Lilis.


“Iya. Ku bawa kemanapun. Jadi kalau ada yang coba mendekatin ku, akan kupakai cincin ini. Para Pria akan berpikir kalau aku sudah bersuami.” Senyum tipis Lilis sambil mengelus cincinnya.


“Mereka patah hati lah ya...” Jack tertawa kecil.


Suasana kemudian hening. Keduanya tak berbicara. Setelah cukup lama berdiaman, Jack berdiri dan mau pamitan.


“Sudah jam segini, aku pamitan dulu ya Lis. Aku hendak kembali kekantor” Jack menghabiskan kopinya dan berdiri hendak pergi.


“Oke. Sampai nanti lagi” Lilis tersenyum.


Jack menganggukan kepalanya. Ia lalu pergi meninggalkan Lilis di cafe tersebut.


Kini Lilis kembali sendirian. Lilis menerima pesan singkat di chat. Rafa dan Fatar yang mengechat.


“Mama... Jangan lama pulangnya ya.” Pesan dari Rafa.


“Mama... Fatar mau es cream coklat. Jangan lupa bawa pulang. Cepat pulang ya Ma” Fatar pun mengirim pesan chatnya.


Lilis tersenyum melihat kedua buah hatinya. Es cream, anak-anaknya suka sekali es cream. Bahkan Fatar yang paling menyukai es cream coklat. Sepertinya Lilis ingat kalau Rafa pernah cerita tetang mereka pergi makan es cream bersama, Kalau William juga menyukai es cream. Sama seperti anak-anaknya. Ternyata hal tersebut diwarisin oleh William juga. Anak-anaknya suka es cream sama seperti William. Mereka memang anak dan ayah.


Lilis jadi teringat kembali William. Semua hal selalu mengingatkannya ke William. Lilis jadi mau beli es cream yang banyak untuk anak-anak sekalian ia pun ingin makan es cream kali ini.


***


Jack yang sudah sampai kantor. Melihat Tania didalam ruangan kantornya. Jack biasa saja. Ia langsung duduk dikursinya dan membuka beberapa berkas untuk diperiksa.


Tania yang menunggu lama menjadi cemberut. Ia sudah lama menunggu tapi Jack hanya biasa saja. Tania bangun dari duduk nya di sofa lalu menghampiri Jack. Mendekatinnya.

__ADS_1


“Jack...”


“Hem...” Jack lebih fokus ke berkasnya.


“Aku sudah lama menunggu dan kau sama sekali tak menoleh ku atau pun menanyakan ku?”


“Oh... Ada apa?” Jack masih saja fokus ke dokumen dan berkasnya.


“Kau menyebalkan...” Tania masih kesal karena ulang tahunya tahun lalu di lupakan Jack. Seperti tiap tahun yang lainnya pun selalu begitu. Tania ingin tahun ini Jack ingat dan tak lupa lagi.


“Kau ini kenapa seh?” Jack mengalihkan pandangannya.


“Bulan depan ulang tahun ku. Apa kau akan lupa lagi seperti tahun-tahun sebelumnya. Sedangkan ulang tahun mu selalu kuingat dan ku beri kejutan hadiah.”


“Aku kan gak minta. Lagian ulang tahun mu selalu pas hari sibuk kerja ku. Jadi aku tak bisa janji”


“Kau selalu seperti itu” Gerutu Tania.


“Kalau kau mau rayakan saja bersama Lilis dan si kembar”


“Aku mau rayakannya bersamamu”


“Kalau aku tak bisa jadi gimana. Lagian kau sudah jarang kan ketemu si kembar dan Lilis. Jadi baiknya rayakan bersama mereka.”


“Uuh..” Tania sungguh sangat kesal.


“Kenapa lagi. Sana pergi. Aku sedang bekerja.”


“Kau ini.... Kita kan...”


“Kita kan Cuma pacaran bohongan selama ini. Atau kita akhirin saja kebohongan ini gimana. Aku lelah Tan. Papamu juga selalu bertanya, kapan kita menikah dan kapan serius ke tahap selanjutnya” Jack merasa lelah dengan kepura-puraan ini.


“Aku kan mau serius...” Guman Tania.


“Hah.. Apa kau bilang?” Jack tak terlalu dengar apa yang di gumam kan Tania.


Tania sangat kesal, ia lalu berteriak.


“Aku mau kita berhubungan serius...” Teriak Tania.


Jack terdiam terpaku dan menoleh ke arah Tania.


Bersambung...


Maksud Tania apa ya kak Readers?? Kira-kira Jack paham gak ya :D :D


Di like juga semua episodenya ya kak. Tinggalkan Komennya juga. Dukungan kalian akan sangat berarti agar Authornya semangat dan bisa UP cerita secepatnya. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)


Like nya masih sikit nih. Gak tembus belum... jadi up nya agak lama deh... saya usahakan selalu UP tiap hari ya.


Tembus 200 lebih like segera di UP kembali.


Tinggalkan komen yah...


Di like, di vote dan klik Favorite yah sebagai tanda telah membaca dan menyukai karya ini, juga sebagai apresiasi ke karya ini.

__ADS_1


 


 


__ADS_2