
“Oh iya Lis... Aku akan mengambil hak asuh Rafa dan Fatar. Sampai jumpa dipersidangan.” Setelah berkata hal tersebut William langsung melangkahkan kakinya keluar dan pergi.
“Hah!!! Apa!!!” Lilis nampak syok kembali. Dimas melihat ke arah Lilis yang nampak cemas.
“Tenang Lis...” Dimas mencoba menenangkan Lilis.
“Bagaimana aku akan tenang Dim... Rafa dan Fatar akan di ambil oleh William. Aku tak bisa kehilangan anak-anakku. Dipersidangan mungkin saja William yang akan menang, karena ia berkuasa dan banyak uang. Aku takut Dim” Lilis merasa sangat cemas.
“Kita akan pikirkan caranya Lis... Agar kau tetap mempertahankan Rafa dan Fatar di sisimu. Bagaimana pun kau adalah Mama kandung mereka. Kau lah yang merawat dan membesarkan selama ini. Jadi tenanglah. Nanti kita cari solusinya” Ucap Dimas kembali.
Dimas bisa merasakan kegelisahan Lilis. Ia ingin menghibur dan menenangkannya. Tapi sepertinya hal tersebut tak akan mempan. Setidaknya ia berusaha agar Lilis lebih tenang. Tapi benar kata Lilis. William orang yang berkuasa dan banyak uang. Koneksinya dan kenalannya pasti banyak. Jadi akan sangat sulit bagi Lilis jika William benar-benar membawa masalah hak asuh anak sampai ke persidangan. Lilis bisa-bisa kalah dipersidangan dan hak asuh anak bisa jatuh ke William.
Ini adalah hal yang paling ditakutin oleh Lilis. Lilis takut jika kebenaran siapa Papa kandung anak-anaknya terungkap maka ia akan kehilangan anak-anaknya. Ia tak mau berpisah dengan anak-anaknya. Ia sayang sekali dengan Rafa dan Fatar. Lilis tak bisa membayangkan bila nanti anak-anaknya di ambil William, kehidupannya akan jadi kosong dan hampa tanpa anak-anaknya.
***
William telah sampai di ruangan kantornya. Jack masuk kedalam. Ia memperhatikan William yang nampak berwajah serius dan tenang. Jack pun bertanya bagaimana kelanjutannya.
“Will... Bagaimana?” Jack menanyakan bagaimana hasil perjumpan William tadi dengan Lilis.
William hanya menghela nafasnya. Ia tengah berpikir. Ia berpikir apakah terus lanjut. Atau menyerah saja.
“Will..?”
“Iya Jack...”
“Bagaimana?”
William memandang ke arah Jack. Ia kemudian bercerita ke Jack. Semua di ceritakannya.
“Kau gila Will... Bukankah kau ingin meluluhkan Lilis? Bukankah kau ingin membahagiakan Lilis dan anak-anakmu? Kenapa malah membawa masalah hak asuh anak ke persidangan.” Jack memprotes tindakan William.
“Lalu aku harus bagaimana? Mungkin dengan cara ini Lilis akan luluh dan mau bersamaku. Jika Rafa dan Fatar, aku ambil dan hak asuh ada padaku. Maka Lilis juga akan jadi milik ku. Dia tak akan mau berpisah dengan anak-anak. Maka kalau anak-anak bersama ku, Lilis pun akhirnya akan bersamaku.”
“Apa kau yakin? Jika akhirnya kau dan Lilis terus berseteru bagaimana?? Maka akan sia-sia usahaku dan Tania mempertemukan kalian kemaren.” Jack hanya bisa geleng-geleng kepala.
“Kau bilang menyesal... ingin meminta maaf. Ingin bertanggung jawab. Tapi tindakan mu ini akan membuat Lilis membencimu Will” Jack mencoba menasehatin.
William hanya diam. Ia tak ada komentar apa pun lagi.
“Lalu bagaimana tentang kau yang mau ke inggris.”
“Aku harus tetap ke inggris. Ada urusanku disana. Sedang ku jadwalkan waktu keberangkatanku. Kau jaga Perusahaan, anak-anakku dan Lilis ya Jack.” Pinta William ke Jack.
“Kau menyuruh ku menjaga semuanya. Lilis juga... tapi kau malah menyakitinnya terus. Aku tak habis pikir dengan jalan pikir mu Will. Seharusnya kau paham jika Rafa dan Fatar diambil dari Lilis maka kau hanya menyakitin Lilis. Lilis bisa membencimu” Jack mencoba memberikan pemahaman ke William.
__ADS_1
“...” William hanya diam. Dalam hati William : ( Aku percaya kalau dihati Lilis, ia masih mencintaiku. Hanya saja ia tak mau mengakuinya)
***
Lilis pulang ke rumah di antar oleh Dimas. Sesampainya di rumah teryata Rafa dan Fatar sudah pulang. Anak-anaknya kini bersama Bibi May dan juga ada Panji. Eh kok ada Panji. Lilis masuk ke rumah bersama Dimas juga.
“Mas Panji...” Ucap Lilis saat baru tiba dirumah dan baru masuk rumah.
“Hai Lis...” Panji bangun dari tempat duduknya. Tadi ia sedang ngobrol berdua di ruang tamu dengan Bibi May.
“Udah lama Mas Panji datangnya?”
“Lumayanlah. Padahal sudah ku telpon dan ku chat. Tapi gak ada balsan dari mu Lis..”
“Maaf. Tadi aku sibuk. (Lilis lalu menoleh ke Dimas yang disampingnya) Dim duduklah dahulu. Aku kekamar sebentar.”
“Lis... Bibi pamit dulu ya. kau sudah pulang jadi Bibi mau pulang ke rumah. Anak-anak sudah pulang dan ganti baju. Kini mereka sedang makan di dapur.” Bibi May pamit pulang.
“Iya Bi... Makasih ya.” Lilis menganggukan kepalanya.
Setelah Bibi May pamit pulang tinggal lah Lilis, Panji dan Dimas. Lilis melangkah ke kamar untuk berganti pakaian rumahan. Tadi dia memakai dress selutu berwarna peach. Kini ia memakai pakaian rumah yang santai. Kemudian Lilis ke dapur melihat anak-anaknya. Sedangkan Panji dan Dimas duduk di ruang tamu berdua tanpa saling menegur.
“Anak-anak tumben sudah pulang... dengan siapa pulangnya. Maaf Mama telat jemput ya...” Lilis datang menghampiri anak-anaknya yang tengah makan siang.
“Gak apa-apa kok Ma... tadi kita sama Papa kok” Fatar ngomong sambil makan.
“Papa?” Lilis mengerutkan keningnya. “Kalian tadi bertemu Papa?” Lilis memandangi wajah anak-anaknya bergantian.
“Tadi jumpa sebentar disekolah kok Ma... yang jemput kami disekolah Bibi May. Lalu jumpa Om Panji pas sampai rumah.” Rafa menoleh ke Lilis untuk menjelaskan kemudian kembali meneruskan makannya
“Oh... begitu.” Lilis kemudian bertanya kembali. “Rafa dan Fatar... Apakah kalian tahu siapa Om Yudha? Kalian tahu siapa Papa kandung kalian nak?” Lilis memandangi wajah anak-anaknya.
“Tahu Ma... Papa kandung kami adalah William Smith. Yang Mama kenal sebagai Om Yudha.. Om ganteng” Jawab Fatar. Rafa kembali menyenggol pinggang Fatar. Ia kesal sekali kenapa sang adik terlalu berterus terang. Akhirnya ia pun terpaksa jujur juga. Sedangkan Fatar yang disenggol tak mempedulikan tatapan tajam dari kakaknya. Ia tetap makan sambil menjawab pertanyaan ibunya. Rafa pun akhirnya hanya bisa bicara jujur pula.
“Jadi kalian sudah tahu??” Lilis mengerutkan keningnya.
“Iya Ma tahu. Om Yudha adalah William Smith, Papa kandung kami. Di depan ada om Panji, dia dulu mantan Mama kan. Dulu mantan calon tunangan Mama. Masa lalu Mama. Dan yang pulang dengan Mama, Om Dimas. Om Dimas yang sudah lama suka dengan Mama kan.” Rafa berbicara seperti orang dewasa saja. Padahal dia masih kanak-kanak.
Lilis cukup kaget karena anak-anaknya mengetahui banyak hal. Tapi sepertinya anak-anaknya tak tahu yang William sebagai Fatar. Hal tersebut nampaknya tidak diketahui.
“Darimana kalian tahu semuanya?” Lilis menyipitkan matanya mengarah ke Rafa dan Fatar. “Dari papa kalian ya?”
“Bukan Ma... Kami tahu sendiri. Iya kan kak” Fatar meneoleh ke Rafa.
“Iya Ma... kami tahu sendiri hehe..” Rafa jadi cengir.
__ADS_1
Lilis heran, bagaimana anak-anaknya yang masih kecil bisa tahu semuanya. Apa karena anak-anaknya orang yang peka. Begitukah. Itulah pikiran Lilis saat ini.
“Ya sudah. Kalian lanjut makan saja. Mama mau kedepan nemanin Om Dimas dan Om Panji ya. kalian habiskan makannya ya nak..” Lilis kemudian membuatkan teh untuk dibawa kedepan.
“Iya Ma...” jawab si kembar.
Sedangkan diruang tamu, Dimas dan Panji hanya saling melirik. Namun keduanya hanya diam saja. Tak ada yang bicara. Ataupun menegur. Keduannya memilih saling cuek. Kemudian Lilis datang dengan membawakan Teh untuk Dimas dan Panji.
“Slahkan diminum Mas Panji dan Dimas” Lilis meletakan teh untuk Dimas dan Panji di meja dan menawarin untuk di minum.
“Makasih Lis...” Ucap Panji.
“Makasi ya Lis...” Kata Dimas pula.
Keduanya menyeruput tehnya. Kemudian meletakkan kembali di meja setelah diminum.
“Maaf agak lama. Jadi kalian menunggu sampai bosen ya di ruang tamu ini. Tadi setelah ganti pakaina, aku kedapur melihat anak-anak yang sedang makan. Sekalian buatkan teh.”
“Gak apa-apa Lis..” Panji tersenyum.
“Gak masalah kok Lis...” Ucap Dimas juga.
“Oh iya. Kok Mas Panji kemari? Ada apa ya?” Lilis memandang ke Panji.
Panji melihat ke arah Dimas. Ia tak nyaman berbicara jika ada Dimas. Ia ingin bicara hanya berdua dengan Lilis.
Lilis sepertinya paham, kalau panji kurang leluasa karena ada Dimas. Dimas pun merasakannya.
“Lis... tadi kau darimana? Kenapa bisa kalian bersama?” Panji malah bertanya hal lain. Padahal maksud dia datang bukan hal itu.
“Oh... tadi aku dan Dimas ada urusan berdua. Iya kan Dim..” Lilis menoleh ke Dimas.
“Iya. Betul. Urusan jadi Papa Rafa dan Fatar” Ucap Dimas tiba-tiba.
Lilis melototi Dimas. Ia agak jengkel. Sepertinya Dimas sengaja berbicara hal tersebut. Sedangkan Panji agak syok mendengar hal tersebut. Di sudut ruang tak jauh dari Lilis, Panji dan Dimas berada, ada sosok kecil dua orang mengintip. Rafa dan Fatar ternyata sudah selesai makan. Mereka menguping pembicaraan Mamanya dengan kedua Om-Om tersebut. Hehehe...
“Kak... Dua Om-Om itu deketin Mama?” Bisik Fatar ke kakaknya.
“Iya... Musti kita apain ya?” Bisik Rafa juga.
Bersambung...
Jangan Lupa Klik Vote dan Favorite ya kakak-kakak Readers semuanya. :)
Di like juga semua episodenya ya kak. Tinggalkan Komennya juga. Dukungan kalian akan sangat berarti agar Authornya semangat dan bisa UP cerita secepatnya. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)
__ADS_1