Rafa Dan Fatar

Rafa Dan Fatar
Bab 31.


__ADS_3

“Kenapa dia punya benda itu...” Gumam Dimas.


Lama Dimas terpaku diam sambil berpikir. Kemudian ia pun langsung pulang.


Di sisi lain. Lilis dan Ivanka sedang sibuk menyiapkan Gaun. Ada sekitar 10 Gaun yang harus di siapkan. Betapa sibuk dan lelahnya Lilis. Hingga sore hari pun tiba, dan pas sore harinya Ivanka menyuruhnya untuk pulang saja. Dilanjutkan kembali esok. Lilis awalnya ingin pulang dengan Yudha. Karena sudah janjian. Namun Yudha belum selesai bekerja. Sehingga Lilis pulang sendirian. Kebetulan Tania hendak menjemput Lilis, katanya kangen dengan si kembar jadi ingin main ke rumah Lilis. Saat ini Lilis dan Tania sedang bersama di dalam Mobilnya Tania. Mereka pun berbincang-bincang.


“Tan...” Lilis ingin mengutarakan sesuatu yang mengganjal di hati dan pikirannya.


“Kenapa Lis..” Tania menoleh ke Lilis.


“Aku menemukan sebuah Dompet Hitam di rumah Yudha”


“Lalu..”


“Dompet itu seperti punya ku. Dulu aku punya Dompet seperti itu. Tapi sudah lama hilang. Dan aku lupa hilangnya dimana.”


“Terus yang aneh apanya...”


“Masalahnya aku merasa itu seperti Dompet ku, tapi kenapa ada di Yudha ya...”


“Perasaanmu saja kali Lis... Mungkin itu punya Yudha. Kau lihat isinya tidak?”


“Belum sempat ku lihat. Tapi untuk apa Yudha menyimpan Dompet itu... Itu kan Dompet milik seorang wanita”


“Iya juga ya.... coba saja kau tanyakan Lis”


“Tanya Yudha gitu...”


“Iyalah... Tanya saja kepadanya”


"baiklah. Nanti ku tanyakan kalau ada kesempatan bicara berdua dengannya"


Lilis pun lalu diam dan jadi melamun memikirkan hal tersebut. Sepanjang perjalanan pun kemudian sunyi tanpa ada pembicaraan selanjutnya. Pikiran Lilis menerawang ntah kemana-mana. Ia jadi melamun. Dan tak terasa sudah sampai rumahnya.


Lilis mengetuk pintu, dan Bibi May membukakannya. Lilis masuk rumah bersama Tania. Karena Lilis sudah pulang maka Bibi May pamit pulang. Di lihat Lilis kalau si kembar sibuk berdua dikamar. Si kembar yang melihat Mamanya pulang lalu menghampirinya.


“Mama sudah pulang...” Rafa memeluk Mamanya.


“Lihat Ma.. Hadiah dari Papa.” Fatar menunjukkan HP baru yang canggih.


“Wah... bagus sekali. Ini Om Yudha yang kasi.” Lilis memperhatikan ke dua HP baru yang canggih milik Rafa dan Fatar.


“Iya Ma... Papa yang ngasih.” Rafa duduk disofa dan mulai bermain HP. Fatar pun sama.


“Lis... baru ku sadari anak-anakmu memanggil Yudha dengan sebutan Papa ya...” Tania pun ikut duduk.


“Iya... gak tau tuh. Kok anak-anak panggil Yudha dengan sebutan Papa. Udah dari kemaren-kemaren loh Tan...” Lilis pun heran.


“Berarti anak-anakmu setuju dengan Yudha donk. Tuh udah lampu hijau semua. Tunggu apa lagi resmi kan saja biar jadi suamimu Lis.”


“Hahaha.... tunggu saja tanggal mainnya ya Tan...”


Lilis memperhatikan anak-anaknya lagi. Ia kemudian cemas. Pasalnya masih kecil tak baik main HP.


“Rafa... Fatar... Jangan sering main HP ya nak. Lebih baik kalian belajar atau bermain dengan mainan kalian.” Nasehat Lilis ke anak-anaknya.


“Iya Ma... Papa juga bilang agar kami gunakan dengan baik dan bijak” Rafa menghentikan bermain HP-nya.

__ADS_1


“Oh iya.. Papa ada bilang gitu ya kak.” Fatar pun baru teringat.


“Iya... kan udah dikasi tahu Papa” Rafa mengingatkan kembali.


“Nah... tu kan Papa udah kasi tahu. Kalian harus nurut loh.” Lilis memandangi anak-anaknya.


Rafa dan Fatar pun menurut. Mereka menyimpan HP-nya. Kemudian kembali ke kamar mereka untuk belajar dan mengerjakan tugas sekolah.


“Enaknya punya anak seperti Rafa dan Fatar ya Lis...” Celoteh Tania tiba-tiba.


“Kau mau Tan... Kalau gitu sana buat anak... Tapi cari suami dulu noh... Hahaha” Goda Lilis ke Tania.


“Ya elah... Resek banget sih. Udah tau kalau aku gak punya pacar. Jomblo gini...” gerutu Tania.


“Makanya sana cari pacar... Atau sama Pak Smith saja hehe”


“Yah... Kok dia seh... Gak lah. Udah tua tuh orang...”


“Heleh... Tua pun sempat kau bilang tampan kan... gak ingat pas kita liburan itu. Ayo ngaku...”


“Idih... gak lah... cari yang seumuran aja...”


“Awas ya... ntar kemakan omongan baru tau.”


“Hahaha...”


Terdengar suara ribut dari sebelah.


“Lis... suara apa tuh disebelah.”


“Oh... Yudha mungkin baru pulang...”


“Loh... apa aku belum bilang, kalau Yudha tu tinggal disebelah.”


“Cie.... Enak dong..”


“Enak apanya?”


“Ya enak aja. Pacarnya disebelah. Kalau kangen tinggal jalan bentar udah jumpa. Pacar 5 langkah hahaha”


“Iye... Tetanggaku Idolaku. Tetanggaku Kekasihku... gitu kan” Lilis jadi terkekeh kemudian. Tania pun sama kekeh juga.


Namun tak lama kemudian sebuah suara mobil terdengar. Ternyata Jack an William yang datang. Nah loh... Kalau Jack dan William baru tiba jadi suara ribut disebelah tadi siapa.


William masuk ke dalam rumahnya. Ia melihat pintu rumah terbuka. William heran siapa yang masuk. William ke rumah Lilis. Mungkinkah Lilis pikirnya. Karena ia ingat pernah memberikan kunci cadangan ke Lilis.


William mengetuk pintu rumah Lilis. Lilis dan Tania yang lagi berbincangpun jadi diam dan melihat ke arah Pintu. Lilis berjalan ke arah pintu depan dan membukanya. Ternyata William yang dikiranya sebagai Yudha yang saat ini didepan pintu.


“Oh Sayang.. Mari masuk.” Lilis mempersilahkan William masuk. Namun William masih diam di depan pintu.


“Lis... kau ada masuk kedalam rumahku kah?”


“Enggak ada. Kenapa?”


“Aku baru tiba. Dan ku lihat pintu rumah terbuka. Aku pikir kalau kau yang masuk dan lupa menutupnya.”


“Bukan aku. Tapi, bukannya kau sudah dari tadi pulangnya.” Lilis mengkerutkan keningnya.

__ADS_1


“Aku baru tiba”


“Jadi yang tadi apa dong.. ada suara dirumah mu” Lilis nampak cemas.


“Ya sudah. Mungkin aku yang lupa. Sudah masuklah kedalam rumah dan kunci rumah ya...” William mencoba menenangkan Lilis. Ia tak mau Lilis cemas. Tapi sebenarnya William sudah cemas.


Lilis pun menurut. Ia menutup rumahnya dan mengkuncinya. Tania heran dan menatap Lilis.


“Ada apa?” Tanya Tania.


“Tak Tahu..” Lilis pun menggelengkan kepalanya.


Sedangkan William kembali ke rumahnya. Disitu Jack sudah masuk ke dalam. William pun masuk dan betapa kagetnya William kalau isi ruangan nampak berantakan.


“Ada yang masuk nampaknya Will” Jack menduga ada seseorang yang masuk.


“Sepertinya iya Jack...” William memeriksa sekitar isi dalam rumah. Jejak orang yang masuk sudah tak ada berarti ia sudah pergi.


“Apakah maling? Ada barang rumahmu yang hilang gak?” Tanya Jack karena melihat wajah William yang sudah nampak tak karuan.


William memeriksa semua barang. Dan terlihat hanya laptopnya terbuka. Sepertinya ada yang membuka laptopnya. Mungkin mencari sesuatu. Lalu ia melihat kotak di bawah kolong ranjang terbuka dan Dompet Hitam telah hilang. Wajah William nampak diam dan berpikir.


“Kenapa?” Jack merasa ada sesuatu.


“Tidak apa-apa Jack. Kau pulanglah.” William menyuruh Jack untuk pulang saja.


“Kau yakin. Apa sebaiknya aku temanin saja disini. Atau kau ikut aku saja pulang. Rumah keluarga Smith sangat besar. Aku sendirian disana. Kita pulang bersama bagaimana” Jack mengajak William. Karena ia cemas dengan William.


“Tidak Jack. Aku disini saja. Kau pulanglah. Tenang. Tak ada apa-apa.”


“Baiklah. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku.”Jack pun lalu pamit pulang.


Setelah Jack keluar. William memeriksa barang-barangnya sekali lagi. Ia pun membuka laptopnya bahkan mengecek isi file yang ada didalam laptopnya. Tak ada yang hilang. Atau mungkin disalin saja kah. Ia lalu teringat untuk memeriksa CCTV. Iya. Didalam ruangan rumahnya ia pasang CCTV rahasia yang disembunyikan diseluruh sudut rumah. Ia memeriksa kedalam laptop untuk melihat rekaman CCTV.


Didalam rekaman tersebut, terlihat seorang Pria berpakaian serba hitam masuk kedalam rumahnya dan menggeledah isi dalam rumahnya. Tapi wajah Pria itu tak terlihat. Ia memakai penutup wajah. Didalam rekaman terlihat kalau Pria itu memeriksa isi laptop nya dan juga mengambil Dompet Hitam yang disimpan William didalam Kotak dibawah ranjangnya. Setelah semua di geledahnya, ia lalu pergi.


William terduduk dan menghela nafas berat. Ia bertanya-tanya siapa orang tersebut. Kenapa rumahnya digeledah.


Sebuah panggilan berdering. William mendapatkan sebuah panggilan dari nomor yang tak dikenalnya. Ia lalu mengangkat panggilan tersebut.


“Halo... Siapa ini?” Ucap William. Karena ia tak tahu siapa yang menelponnya.


“Halo Fatar...” sebuah suara yang disamarkan dan tak dikenalnya.


“Siapa kau” William bangkit dari tempat duduknya. Ia berdiri panik. Pasalnya tak ada yang tahu identitasnya itu selain Bos V. Dan yang menelpon jelas bukan Bos V.


 


 Bersambung...


Jangan Lupa Klik Vote dan Favorite ya kakak-kakak Readers semuanya. :)


Di like juga semua episodenya ya kak. Tinggalkan Komennya juga. Dukungan kalian akan sangat berarti agar Authornya semangat dan bisa UP cerita secepatnya. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2