Rafa Dan Fatar

Rafa Dan Fatar
Bab 129.


__ADS_3

“Tidak. aku tetap mau hadir di pesta pernikahan Tania dan Jack” Lilis bersikeras dan tak mau mendengarkan suaminya.


William menghela nafas panjang.


“Sayang...”


“Pokoknya tetap datang. Titik”


Mau tak mau akhirnya William mengalah pada istrinya. William hanya cemas pada istrinya.


“Baiklah. Tapi kalau merasa tak enak badan jangan dipaksakan. Oke” Tatap William penuh pengertian.


Lilis menganggukan kepalanya.


 #


Waktu pun terus berjalan hingga hari H pernikahan Jack dan Tania pun tiba.


Pagi hari dilaksanakan dengan penuh hikmah. Sah secara agama dan hukum. Kemudian lanjut di adakan pesta di siang hari sampai malam harinya.


Lilis, William, Rafa dan Fatar menghadiri acara pernikahan dan pesta nikahnya Jack dan Tania. Acara pesta berlanjut di sebuah hotel ternama.


Tania memakai desain buatan Lilis yaitu gaun putih yang sangat indah dengan ekor yang menjuntai panjang. Sedangkan Jack memakai setelan jas hitam armani yag termahal tentunya. Keduanya bagai raja dan ratu sehari. Papa dan Mama Tania sungguh senang akan pernikahan putri satu-satunya. Dan William menjadi wakil dari keluarga Jack.


Semua undangan mengucapkan selamat dan doa yang terbaik untuk kedua pasangan tersebut. Pestanya meriah dan mewah. Tak kalah mewah dan meriah dengan pesta pernikahan William dan Lilis dulu. Banyak hidangan dan hiburan yang tersedia.


Mereka pun melakukan sesi foto bersama untuk album pernikahan Tania dan Jack tentunya. Di depan tamu yang lain Tania dan Jack di temanin Papa dan Mamanya Tania.


Sedangkan William, Lilis dan kedua anak kembarnya duduk di meja yang sudah disiapkan untuk mereka sambil menikmatin hidangan yang sudah tersedia. Sikembar makan dengan puas di pesta tersebut karena banyak makanan enak. William juga sempat memakan beberapa hidangan. Hanya Lilis yang makan sedikit.


William memperhatikan istrinya yang duduk disebelahnya. Wajahnya cantik tapi terlihat nampak pucat.


“Kenapa sayang? Ingin pulang kah? Kalau iya, kita pulang saja dan pamitan pada Jack dan Tania. Sehabis pesta usai mereka juga akan segera pergi bulan madu kok. Dan sudah malam hari. Paling juga sebentar lagi pesta usai”


“Tidak Will. Nanti saja kita pulangnya. Mereka pergi bulan madu kemana?”


“Ke Paris. Begitu kata Jack. Kau yakin kita tak pulang saja sayang?”


“Tidak”


“Tapi dari pagi sampai siang hingga malam kita masih terus mengikutin acaranya. Kau perlu istirahat sayang. Lagian kau hanya makan sedikit sayang. Wajahmu juga terlihat agak pucat sayang” William sebenarnya mencemaskan istrinya.


“Aku tak berani makan banyak karena nanti pasti akan muntah-muntah lagi”


“Pikirkan kondisimu sayang. Pikirkan bayi kita yang ada dalam perutmu juga”


Sebenarnya Lilis memang sedang pucat wajahnya. Bahkan bukan hanya pucat tapi juga keringat dingin yang di rasakannya. Namun tak di katakan oleh Lilis ke suaminya. Tapi William bisa melihat semuanya itu. Walau istrinya tersenyum tapi rasanya tipis.


William tak tahan melihat keadaan istrinya. Ia pun bangkit dan menuju ke arah Jack dan Tania. Entah apa yang di ucapkan oleh William ke Jack dan Tania. Yang jelas ia mengatakan hendak pamit pulang duluan.


Setelah William berbicara dengan Jack dan Tania, ia pun berpamitan dengan Papa dan Mamanya Tania.


Kemudian William melangkah ke arah Lilis.


“Ayo sayang” Ucap William.


Ia mengulurkan tanganya ke arah Lilis. Lilis mengerutkan keningnya.


“Mau kemana sayang?”


“Follow me... Okay?”


Lilis pun menyambut tangannya William dan ikut bersama William.

__ADS_1


Willia juga memanggil Rafa dan Fatar untuk ikut bersama. dan pulanglah mereka sekeluarga menaiki mobil William.


William menyupir. Lilis duduk di sebelahnya. Sedangkan Rafa dan Fatar duduk di kursi belakang. Mobil pun kemudian melaju menuju rumah mereka.


“Kita pulang sayang?” Tanya Lilis di saat mereka sudah dijalan raya.


“Hem... dan jangan membantah ya sayang, please” William menoleh sekilas.


“Oke” Lilis akhirnya menurut.


Sepanjang perjalanan Lilis semakin keringat dingin, William melihat Lilis yang kurang baik keadaannya. Ia lalu memberhentikan mobilnya di pinggir jalan di dekat sebuah restoran.


“Kok berhenti sayang? Kan belum sampai rumah?” Tatap Lilis ke arah suaminya.


William menoleh ke isrinya.


“Kau bawa minya kayu putihnya tidak. coba oleskan agar keadaanmu lebih baik sayang. Aku tahu ada yang tak beres kan”


“Aku tak apa sayang”


William menoleh ke arah kursi belakang. Ternyata si kembar telah tertidur. Ia kembali melihat ke arah istrinya.


“Sayang.. tunggulah disini ya. aku keluar sebentar” William turun dari mobil dan menuju restoran yang ada didekat mobilnya berhenti.


Lilis hanya memperhatikan suaminya itu.


Restoran kecil dan sederhana. Bahkan bisa di bilang hanya dari golongan menengah ke bawah saja yang banyak mendatangi restoran tersebut. Bisa dibilang ini bukan restoran seh sebenarnya. Dan lokasinya pun pas hanya di pinggir jalan.


William masuk kesitu dan memesan sesuatu. Lilis merasa William sangat lama. Ia pun turun dari mobil. Saat turun, Lilis melihat seorang anak kecil yang akan ditabrak mobil yang lewat. Lilis segera berlari untuk menolong anak kecil tersebut.


Dan Ups... Hampir saja tertabrak. Syukur saja Lilis menolong tepat waktu. Anak kecil tersebut selamat. Namun karena menangkap dan menolong anak kecil tersebut, Lilis dan anak kecil tersebut jatuh ke arah lain hingga sikut dan lutut Lilis lecet dan terluka. Dan si anak kecil malah menangis. Padahal ia tak terluka. Hanya Lilis yang terluka. Mungkin saja si anak kecil tersebut kaget dengan kejadian yang barusan, sehingga hanya bisa menangis.


“Kau tak apa-apa dek?” Ucap Lilis memandang anak kecil tersebut


Tapi anak kecil tersebut hanya menangis.


William yang sudah keluar dengan bungkusan di tangannya, kemudian melihat Lilis serta anak kecil tersebut. William segera berlari dan mendekatin istrinya.


“Sayang... ada apa ini? Siapa anak kecil ini?” William terlihat panik apalagi melihat istrinya terluka.


“Aku gak apa-apa. Cuma anak ini hampir tertabrak. Aku menolongnya tadi”


“Seharusnya pikirkan keadaanmu sayang. Lalu dimana ibu dari anak ini?” William menatap anak kecil yang masih terus menangis. Lilis juga melihat ke arah anak kecil tersebut.


“Cup... cup... cup... Jangan nangis ya dek. Mamanya mana?”


Baru saja Lilis berkata hal tersebut, seorang wanita berhijab datang mendekat.


“Anakku Nala... Ya Allah. Apa yang terjadi nak? Kok nangis?” seorang wanita muda memanggil anak kecil tersebut. Anak kecil tersebut menoleh ke wanita berhijab dengan mulut mungilnya ia berkata.


“Mama..” anak kecil berlari ke arah wanita berhijab tersebut dan memeluknya.


William dan Lilis saling pandang.


“Apakah anak kecil ini anakmu?” Tanya Lilis.


“Iya. Ini Nala anakku. Putri kecilku berumur 3 tahun. Belum terlalu pandai berbicara. Tapi beberapa kata sudah bisa”


“Tadi Nala hampir saja tertabrak. Aku menolongnya” Ucap Lilis.


“Terima kasih ya... maaf jadi merepotkan” Ia melihat Lilis yang terluka.


“Lain kali berhati-hatilah, jaga anakmu baik-baik. Dan jangan sampai dia berjalan sendirian nanti bisa hilang atau hal lain terjadi. Seperti hampir tertabrak tadi” Ucap Wiliam dengan dingin. Si wanita hijab menyadari kecerobohannya yang sampai kehilangan anaknya.

__ADS_1


“Iya. Maaf ya. sekali lagi makasih” Ia lalu pamit dan membawa putri kecilnya bersama dengannya.


Setelah ibu dan anak itu pergi, William melihat ke arah istrinya. William menghela nafas panjangnya.


“Lain kali berhati-hati lah juga sayang. Lihat sikut mu dan lututmu sudah terluka. Ayo kita pulang segera dan obatin. Oh iya. Ini makanlah” William memberikan sebuah bungkusan.


“Apa ini?”


“Soup hangat untukmu. Ada irisan daging ayamnya dan beberapa sayuran. Makanlah selagi hangat. Bagus untukmu. Apalagi dari tadi hanya sedikit makannya kan, jadi ini makanlah” William menyerahkannya bungkusan berisi soup yang diletakkan pada cup besar dan ada sendok kecilnya.


Lilis menerima. Mereka kembali ke mobil dimana si kembar masih tertidur.


Didalam mobil, Lilis segera memakan yang di beli oleh William tadi. Ia menghabiskan dengan lahap. William yang memperhatikan dari samping merasa lebih lega. Setelah makanannya habis, William memberikan jus alpukat. Tadi ia juga membeli jus pokat yang memakai cup ukuran sedang dan ada sedotan pipetnya agar mudah meminumnya.


“Ini...”


“Loh kok jus. Gak nyambung dong, kan tadi makannya itu...” belum selesai bicara William mendahului.


“Sudah minum saja. Jus baik untukmu sayang”


Lilis pun menurut kali ini. Ia menghabiskan jus pokatnya.


Setelah dilihatnya Lilis sudah menghabiskan semuanya, barulah ia mengendarai mobilnya menuju rumah mereka.


Sampai dirumah, William segera menggendong Rafa dan masuk ke rumah kemudian membaringkan Rafa di kamarnya. Lalu kembali menggendong Fatar dan membaringkan di kamarnya Fatar juga. Baru setelah itu, ia kembali ke mobil dan memapah istrinya.


“Tak apa sayang. Aku bisa jalan sendiri”


“Sudah. Aku gendong saja” William menggendong ala style bridal.


Mobil langsung diamankan oleh penjaga dirumah William. Dan William membawa istrinya masuk ke kamarnya. Ia dudukan Lilis di atas ranjang. Kemudian mengambil kotak P3K.


Ia duduk di samping Lilis. Dilihatnya wajah Lilis sudah tak sepucat tadi. Sekarang lebih cerah. Hanya saja luka di sikut dan lututnya yang masih ada.


William membersihkan luka-luka Lilis.


Lilis mengaduh kesakitan saat William membersihkan luka-lukanya.


“Aduh... sakit. Pelan-pelanlah sayang”


“Ngerasa sakit juga ya... Masih ingat sama nyawakan? Masih sayang nyawakan? Pikirkanlah dirimu dan bayi dalam perutmu.” William terlihat marah kali ini.


Bersambung...


William kuatir banget loh sama Lilis. Saking kuatirnya, ia sampai marah. Karena kalau kenapa-napa dengan Lilis pasti William juga yang bakal sedih dan menyalahkan dirinya.


Halo semua kak readers... udah mau di akhir episode dan bab akhir nih. Satu bab terakhir akan segera saya setor. Selalu setia sama karya ini yah. :D


Yang suka dengan karya ini, ikutin terus kisahnya sampai akhir ya kakak readers semuanya :)


No Plagiat ya. Hargai usaha dan kerja keras seseorang dalam berkarya. Jadi katakan tidak pada meniru karya seseorang dan tidak menjiplaknya. No Plagiat. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)


Karya ini sedang mengikutin lomba, jadi mohon dukungannya terus ya kak.


Makasih semuanya. Dukung terus karya ini ya kakak readers semuanya, biar Author semangat UP ceritanya. Love you all  :)


Like yang banyak dan vote sebanyak-banyaknya ya kak. Thanks :D


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2