
Pasien tersebut adalah William. Ia sudah lama terbaring di rumah sakit dan belum bangun juga sampai sekarang.
Seorang perawat masuk ke ruangan VVIP tempat William dirawat. Perawat ini ditugaskan untuk mengecek keadaan William setiap harinya.
“Pria ini tampan sekali. Setiap hari melihatnya tak pernah bosan. Kapan bangunnya ya Pangeran tidur ini” Ucap si Perawat sendirian di ruangan tersebut.
Setelah selesai memeriksa keadaan William, perawat tersebut pun keluar. Kemudian Jack masuk kedalam ruangan. Ia bersama dokter khusus yang ditunjuk untuk merawat Willliam.
“Will... apa kabarmu hari ini?” Ucap Jack sambil memandang ke arah William. Ia seakan berbicara ke William. Padahal William tak ada respon sedikit pun.
Jack kemudian duduk di kursi yang berada di dekat William terbaring. Jack kemudian menoleh ke dokter.
“Bagaimana William sekarang dok?” Tanya Jack ke dokter.
“Keadaannya sudah mulai stabil dan membaik. Hanya masalah waktu saja maka Tuan William Smith akan bangun.”
“Kenapa lama sekali dok. Dan kapan itu pastinya ia akan bangun?”
“Saya belum dapat memastikannya Pak Jack”
“Terus pantau keadaannya dok”
“Baik Pak Jack. Tapi apa Nona Lilis tak perlu tahu. Kita selama ini merahasiakan masalah Tuan William darinya.”
“Aku yang akan mengatakannya.”
“Baiklah kalau begitu.”
***
Siang itu dikediaman tempat tinggal Lilis, Tania sedang main. Ia sudah lama tak bertemu Lilis. Sesampainya di tempat Lilis, malah hanya curhat yang dilakukan Tania. Keduanya duduk diruang tamu dengan hidangan cake dan Jus Orange di meja tamunya.
“Jadi gitu Lis... Kok jadi cowok gak peka banget seh. Pengertiannya mana coba” Gerutu Tania setelah ia curhat masalah dirinya dan Jack.
“Hahaha.... Lagian kalian berdua kenapa bikin ribet seh.”
“Ribet gimana?”
“Kalau sama-sama suka kenapa dari awal pakai pura-pura pacaran. Jadian langsung aja napa. Pacaran betulan gitu.”
“Aku kan cewek Lis... Masak aku duluan seh.” Tania cemberut.
“Lah... kan kau yang nyosor duluan. Jadi nanggung, kau ajak aja pacaran sekalian. Haha” Lilis tertawa.
“Idih... kau ini sahabat apa bukan seh... lagian apa Jack ada hati gak seh sama aku”
“Tanya sendiri gih sono”
“Malas ah... gengsi aku.”
“Hadeh... Capek deh.”
“Anak-anak belum pulang Lis?”
“Iya. Masih disekolahnya. Kadang mereka ada Les tambahan. Bahkan ikut Bimbel juga.”
“Senangnya punya anak pintar-pintar kayak Rafa dan Fatar.” Tania berkhayal.
“Hehe... Mau ya... buat dulu gih sono sama Jack. Tapi nikah dulu ya” Lilis tertawa cekikikan.
Tania melempar bantal kecil di sofa tersebut ke arah Lilis. Lilis mengelak biar tak kenak.
“Seneng ya ... ledek aja terus.” Tania nampak kesal. Kemudian ia menoleh ke Lilis.
“Lis.. hari ini kau benaran gak sibuk?”
“Kagak. Napa? Lu aja gak ke tempat Restoranmu.”
“Iya. Gue lagi suntuk. Cabang restoran makin banyak. Makanya sibuk banget. Jadi jarang jumpa sama mu Lis. Tapi ini aku lagi suntuk jadi malas ah ke restoran atau pun ke cabang-cabangnya. kau sendiri Lis, gak ke Butik? Eh sesekali kasi dong satu stel dress untukku. Kan mau juga dapat dress sari perancang terkenal.” Tania senyam-senyum.
“Hem... ntar ya.. ku kasih yang cantik deh buatmu Tan. Udah ada anak buah yang ngawasin butik jadi aku agak lapang.”
“Enaknya. Eh gak kepikiran buka cabang lagi butik mu?”
“Gak lah. Satu aja udah rame. Malas capek”
“Lah... kau kan Bos Lis. Tinggal perintahin anak bah aja. Kan gampang.”
“untuk sekarang satu aja. Biar lebih fokus.”
Tania melihat sekeliling. Ia melihat sebuah album foto. Kemudian di ambilnya. Tania melihat-lihat isinya.
“Eh ini foto album mu ya. Ada anak-anak juga. William juga ada” Ucap Tania sambil melihat-lihat Fotonya satu persatu.
“Iya. Kenangan aku dan anak-anak. Serta kenangan kami bersama William. Itu saat jalan-jalan ke wahana bersama William juga saat kita jalan-jalan ke pantai waktu itu” Lilis menunjuk foto kenangan saat bersama William.
“Eh.. ini Rafa dan Fatar waktu masih bayi dan waktu baru jalan ya. lucu sekali. kau gabung disatu album foto Lis”
“Iya. Foto si kembar dari aku hamil si kembar. Lalu foto bayi si kembar, dan masa-masa kecil mereka. Umur setahun, dua tahun hingga 5 tahun juga foto kenangan bersama William ku satukan satu album. Aku ingin kenangan itu selalu bersama kami.” Lilis tersenyum hangat.
Tania memandangi sahabatnya. Ada rasa haru di lihat nya saat melihat ke arah Lilis. Lilis tersenyum namun ada genangan air mata di ujung pelupuk matanya yang ditahannya. Tania mencoba mengalihkan perhatian Lilis. Ia mengambil foto album yang lainnya.
__ADS_1
“Kalau ini foto album apa?”
“Sepertinya punya keluarga William. Aku tak pernah membukanya”
“Boleh ku lihat.”
“Silahkan.”
Tania melihat doto William bersama kedua orang tuanya. Lalu foto William dan Jack waktu kecil. Eh Tania malah fokus ke foto Jack. Mereka terlihat lucu di foto masa kecil. Foto dari masa kanak-kanan hingga sekolah dan besar. Semuanya dilihat oleh Tania. Dan dibagian akhir Tania terhenti.
“Kenapa?” Tanya Lilis melihat Tania yang fokus ke foto yang terakhir. Lilis juga ikut melihat.
Ternyata dibagian akhir ada foto sikembar dan Lilis. Ada juga foto William yang berdua dengan Lilis. Bahkan satu foto Lilis yang sendirian di buat tulisan catatan di foto tersebut. Yang bertuliskan : “My Love” Artinya Cintaku.
Lilis meraih album foto tersebut. Ia memandangi cukup lama. Tak terasa ia menangis. Ia kembali teringat kata-kata William di saat William tertembak. Kata-kata terakhir yang di ucapkan William untuk Lilis begitu terpatri di hati Lilis yang terdalam. Tak terasa air mata banjir membasahi pipinya.
“Lis... Maaf. Kau jadi teringat William terus”
“Tidak apa-apa Tan.” Lilis mengusap air matanya.
Suasana mulai hening. Tania jadi bingung tak tahu harus bagaimana. Kemudian Hape Lilis berbunyi. Sebuah panggilan masuk dari Jack.
Lilis menoleh ke Hapenya dan meletakan album foto tersebut. Ia meraih Hapenya dan menerima panggilan telepon Jack.
“Hai Jack. Ada apa?” Jawab Lilis.
“Hai Lis.. bisa kita bertemu?”
“Bisa. Ada masalah apa? Apa masalah Tania. Kalau Tania, saat ini dia bersama ku.”
“Bukan Tania. Aku hanya mau bicara denganmu Lis.”
“Baiklah. Mau jumpa dimana?”
Jack menyebutkan cafe tempat pertemuan mereka.
“Ok. Aku akan kesana. Sekarang ya?”
“Iya. Sampai juma disana”
“Oke.”
Lilis mematikan Hapenya. Diliriknya Tania. Tania menatap dari tadi ke arah Lilis yang sedang berteleponan dengan Jack.
“Ada apa Lis? Kenapa Jack mencarimu?”
“Aku tak tahu. Kok tidak mencari mu saja ya Tan”
“Entahlah. Sana gih pergi. Temui tuh orang tua” Tania radak kesel.
“Gak. Aku dirumah mu saja. Aku mau nungguin si kembar. Sudah kangen sama mereka.”
“Ya sudah. Aku pergi ya.”
“Iya”
Pergilah Lilis sendirian. Ia menaiki sebuah mobil sedan hitam.
Lilis menuju ke tempat yang dikatakan Jack. Cafe tersebut tak jauh dari rumah sakit ternama di kotanya.
Sampailah Lilis ditempat yang dituju. Ia segera parkir dan turun dari mobil. Lilis masuk kedalam dan didalam sudah ada Jack yang menunggu. Dia duduk di sudut ruanganya yang paling ujung. Lilis pun datang menghampiri.
“Maaf. Sudah lama ya Jack menunggu ku?” Lilis berdiri dan menatap Jack.
“Tak apa-apa. Duduklah Lis. Aku sudah pesankan minuman untuk kita. Dua Jus Mangga. Silahkan dinikmatin” Jack menawarkan minuman yang sudah ada di meja mereka.
“Terima kasih.” Lilis duduk di hadapan Jack.
“Ada apa minta bertemu Jack?” Tanya Lilis penasaran.
“Masalah William Lis..”
“William?” Lilis mengkerutkan keningnya.
“Iya.”
“Kenapa?” Lilis meraih Jus minumannya.
“Kau mau melihat William.” Jack menatap lurus ke Lilis.
“Hah!!!” Lilis kaget dan hampir saja gelas jus ditangannya lepas. Namun segera diletakkannya di atas meja kembali.
“Maksudmu Jack”
Jack akhirnya menceritakan semuanya. Kalau William masih hidup. Namun dalam perawatan khusus dokter. Lilis begitu syok mendengarnya. Ia kira selama ini William sudah tiada. Lalu makam yang pernah ditunjukkan oleh Jack itu adalah makam siapa?
“Lalu makam yang pernah dulu kau tunjukkan kepada ku siapa? Makam siapa itu?” Lusa adalah hari kematiannya, Lilis berencana datang melihat makam tersebut. Tapi ternyata itu bukan makam William. Lalu dimana William.
“Itu Makam Max. Max yang kita kenal sebagai Dimas. Bukankah kejadian bertahun lalu kau sudah ceritakan semuanya kepadaku. Apa saja yang menimpa kalian.”
“Jadi itu bukan makam William?”
__ADS_1
“Iya. Maaf ya Lis.”
“Kenapa kau bohong pada ku Jack.”
“Karena aku tak tahu apa William akan selamat atau tidak. Saat itu dia benar-benar kritis. Sedangkan kau pingsan. Dalam keadaan tak stabil itu untuk agar tak mempengaruhi kondisi mentalmu, aku terpaksa berbohong waktu itu. Dan syukurlah kau kuat. Tahun demi tahun telah terlewatkan sekarang keadaanmu lebih baik.”
“Apa kau tak ingat betapa aku sangat terpukul waktu itu. Aku pikir William benar-benar meninggal.”
“Maaf Lis. Tapi jika memang William tak selamat setidaknya kau cepat ikhlas. Makanya aku berbuat begitu. Maaf kan aku”
“Lalu bagaimana sekarang William?”
“Ia dalam perawatan khusus. Sekarang keadaannya sudah stabil dan membaik. Namun belum sadar juga. Padahal sudah bertahun-tahun tapi masih belum sadar”
“Aku mau menemuinya Jack. Antarkan aku Jack. Aku mau menemanin hari-harinya di rumah sakit.”
“Iya. Sekarang keadaan sudah lebih baik. Maka ku beritahukan kepadamu. Untuk itulah aku mengajak mu bertemu disini. William di rawat didekat rumah sakit ternama di dekat cafe ini”
“Benarkah? Bawa aku kesana Jack”Lilis mulai menangis haru. Ia tak sangka kalau William masih hidup. Betapa senangnya hatinya saat ini.
Jack menganggukan kepalanya. Mereka menghabiskan Jusnya lalu segera ke rumah sakit tersebut.
Di sebuah ruangan VVIP dengan penjagaan ketat, Jack dan Lilis masuk kedalam ruangan tersebut. Didalam ruangan William terbaring. Lilis yang melihat langsung menghamburkan dirinya ke arah William ia memeluk erat tubuh William.
“Aku kangen Will” Ucap Lilis sambil terisak menangis.
“Sabar lah. Tenangkan diri.” Jack menepuk bahu Lilis.
Lilis kemudian duduk disamping William. Ditatapnya wajah William. Masih tak berubah, tetap sangat tampan seperti dahulu. Jack duduk di dekat kursi yang lainnya juga. Melihat ke arah William dan Lilis.
Lilis meraih tangan William kemudian di kecupnya. Ia menggenggam erat tangan William. Suasana kemudian hening. Hanya alunan musik yang mulai terdengar dan mengalunlah lirik lagu dari Lala Hsu - The Time Monologue dibawah ini menemanin suasana Lilis saat ini.
wǒ mèng guò xīng guāng qiān yī xiù
bái sè chèn shān fù qīng shòu jiān tóu
wǒ kàn guò liú nián yǜ shāng kǒu
zǒng huì yǒu rén bēn fù zhè tiān cháng dì jiǔ
fán huá lù kǒu
lán shān dēng huǒ xià mò rán huí shǒu
ài guò nǐ wàng zhe xīng kōng ān jìng de yǎn móu
yě ài guò nǐ xīn zhōng de yǚ zhòu
shí jiān bù tíng liú jì zhe yí hàn zhēn cáng de yè zhòu
fēng jīng guò gāo lóu yǐ wú rén děng hòu
wǒ yě céng chōng jǐng yóu xīng qiú
chuān guò yǘn céng kàn yín hé bēn liú
wǒ yě céng chóu chàng wàng shān qiū
mèng de chū kǒu huì bù huì tōng xiàng xīng kōng jìn tóu
mò rán huí shǒu
wǒ zài nǎ yī tiáo xīng hé piāo liú
yáo wàng zhe nǎ yī kē xīng shì nǐ de yǎn móu
chù bù kě jí cuǐ càn nán sī yǒu
guāng yīn bù wǎn liú hé shàng shí guò jìng qiān de chūn qiū
fēng qīng sòng zì yóu wǒ qīng tīng suì yüè wēn róu
Sebelah tangan William yang tidak di genggam oleh Lilis mulai bergerak pelan. Namun Lilis dan Jack tak melihatnya. Mereka tak memperhatikannya.
Bersambung...
Hai-hai.... tangan William bergerak tuh... udah sadarkah atau gak ya pangeran tidurnya :D :D gimana menurut kakak-kakak readers semuanya J
Di like juga semua episodenya ya kak. Tinggalkan Komennya juga. Dukungan kalian akan sangat berarti agar Authornya semangat dan bisa UP cerita secepatnya. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)
Like nya masih sikit nih. Gak tembus belum... jadi up nya agak lama deh... saya usahakan selalu UP tiap hari ya.
Tembus 200 lebih like segera di UP kembali.
Tinggalkan komen yah...
Di like, di vote dan klik Favorite yah sebagai tanda telah membaca dan menyukai karya ini, juga sebagai apresiasi ke karya ini.
__ADS_1