Rafa Dan Fatar

Rafa Dan Fatar
Bab 30.


__ADS_3

“Sepertinya Dompet Hitam ini dulu aku pernah punya...” Gumam Lilis.


Lilis mencoba mengingat Dompet Hitam tersebut. Dompet hitam ini dulu ia pernah punya. Namun sudah sangat lama hilangnya. Lilis meraih Dompet hitam tersebut yang ukurannya cukup sedang besarnya. Bisa muat alat make up, Hape, Kartu ATM, beberapa lembar uang dan KTP. Lilis ingin membuka isi Dompet tersebut. Namun William yang baru selesai mandi segera mencegahnya.


“Lis...” Seru William.


Lilis menoleh kearah William. Ia tak jadi membuka Dompet tersebut dan meletakannya kembali.


William mendekati Lilis. Ia hanya memakai Handuk yang dililit dipinggangnya. Lilis membuang wajah ke arah


lain. Ia agak canggung melihat William yang tanpa pakaian dan hanya mengenakan handuk saja. Bahkan tubuh atletis dan kokohnya sempat terlihat Lilis. Lilis menutup kedua matanya dengan tangannya.


“Kenapa hanya memakai Handuk? Dimana pakaianmu Yud?” Lilis masih menutup matanya.


“Oh... itu dilemari pakaian. Kan ada dikamar ini.” William cepat mengambil kotak tersebut dan ditutupnya disembunyikan dibawah kolong ranjang. Ia tak mau Lilis membuka isi dompet tersebut yang ada dalam kotak tadi.


“Cepat pakai pakaian mu”


“Baiklah” William sekarang bernafas lega. Ia tersenyum.


Segera William mengambil pakaian santai dilemari pakaiannya. Lalu mengenakannya.


“Sudah belum?” Tanya Lilis.


“Sudah..”


Lilis kini melihat ke arah William.


“Lain kali jangan begitu ya sayang... bisa goyah iman ku”


“Hahaha... Goyah juga gak apa-apa” Goda William.


“Nanti saja kalau kita sudah sah suami istri.”


“Dicium mau... Yang lain kok gak mau”


“Iiihhh... udah ah. Aku pulang. Selamat malam.” Lilis pamit dan pulang.


William masih tersenyum nakal melihat Lilis. Ia pun kemudian mengkunci pintu rumahnya. Tapi sebelum dikunci ia melihat Lilis dahulu untuk memastikannya masuk ke rumah dengan aman. Setelah aman, baru ia pun mengunci pintu rumahnya. William kembali ke kamarnya. Ia berbaring di ranjangnya.


“Syukur saja belum sempat dilihat...” Gumam William. Dan ia lalu tertidur pulas.


***


Waktu terus berjalan. Hingga Rafa dan Fatar kini mulai masuk sekolah. Hari pertama disekolah, pagi tadi diantar Mamanya. Sekararang Rafa dan fatar mulai belajar seperti anak-anak lainnya. Guru memberikan contoh menulis huruf dan angka. Rafa dan Fatar sudah mempelajari hal tersebut jadi mereka tak sulit lagi. Kemudian mulai menulis kalimat dan berhitung. Sekolah khusus anak pintar memang beda. Walau tingkat TK pun sangat beda dari sekolah biasanya.


Soal menulis kalimat pun dan berhitung pun gampang dikuasi oleh Rafa dan Fatar. Apalagi Rafa sangat ahli dalam hitung menghitung. Semua soal dan materi diberikan gurunya dengan mudah dikerjakan Rafa dan Fatar. Gurunya sangat kagum dengan kecerdasan Rafa dan Fatar. Bahkan mulai diajarkan bahasa inggris. Rafa dan Fatar yang sudah mahir karena sudah diajarkan oleh William pun, tak kesulitan dalam mempelajari bahasa inggris. Ibarat kata seperti anak orang inggris yang dari lahir sudah fasih bahasa inggrisnya. Rafa dan fatar dengan mudah mengikutin pelajaran bahasa inggris. Semua pelajaran di ikutin dengan baik oleh Rafa dan Fatar.


Waktu berlalu dan Rafa dan Fatar tiba waktu pulang. Mereka pikir Mamanya mungkin tak sempat menjemput. Jadi mereka berpikir untuk naik taksi pulang ke rumah. Tapi sampai depan gerbang sekolah William sudah menunggu Rafa dan Fatar.


William melihat ke arah anak-anaknya. Ia sudah mendapatkan hasil tes DNA yang diberikan Jack tadi pagi dikantornya. Hasilnya Rafa dan Fatar memang anak kandungnya. Tebakan dan kecurigaannya selama ini benar ternyata. Karena itu ia sekarang menjemput anak-anaknya. Rafa dan fatar yang melihat William menjemput segera berlari menghampiri William.


“Papa...” Teriak Rafa dan Fatar bersamaan.

__ADS_1


“Anak-anak...” William memeluk kedua anaknya. Ia sangat bahagia.


“Papa jemput Rafa dan Fatar ya” Rafa melepaskan pelukan William. Begitu juga Fatar.


“Iya..” William mengelus kepala Rafa dan Fatar bergantian.


“Asyik... naik mobil Papa donk” Ucap Fatar pula.


“Oh iya. Ini hadiah kalian berdua.” William memberikan dua tas paper bag. Rafa satu dan Fatar satu juga.


Rafa dan Fatar melihat isinya. Mereka sangat senang. Isinya adalah sebuah HP canggih. Masing-masing dapat satu.


“Hore...” Jawab keduanya kompak.


“Ingat. Pergunakan dengan baik dan bijak.” Ucap William ke anak-anaknya.


“Oke Papa..” Rafa dan Fatar tersenyum.


“Ayo. Papa antar pulang.” Wiliam mengajak si kembar pulang.


Rafa dan Fatar menaiki mobil hitam pajero sport milik William. William melajukan mobilnya mengantar Rafa dan Fatar pulang. Setelah mengantarkan Rafa dan Fatar pulang dan menitipkannya ke Bibi May, William kembali ke kantornya.


Dikantor William mampir ke ruangan Lilis.


“Lis...” Sapa William.


Lilis menoleh melihat ke arah William. Ia melihat ke mbak Ivanka. Mbak Ivanka tak terlalu peduli, ia sibuk dengan gaun yang akan disiapkan nya untuk bulan depan yang akan dipakaikan model perusahaan.


“Ada apa?”


“Ayo makan siang bersama. Aku tak sempat makan. Tadi menjemput sikembar.”


“Kau jemput Rafa dan fatar disekolah ya . Terima kasih ya sayang.”


“Iya sayang. Maka dari itu temanin aku makan siang ya...” Ajak William.


“Aku tak bisa Yud... kami harus menyiapkan gaun untuk dipakai model perusahaan untuk event bulan depan. Aku juga sudah makan tadi. Maaf ya sayang.” Lilis tak enak dengan Ivanka. Karena sekarang memang lagi masa sibuk.


“Yah... ya sudah lah. Kecup dulu kalau gitu.” Pinta William.


“Sekarang kah?”


“Iya”


“Kalau ada yang lihat bagaimana. Kita kan selama ini merahasiakan hubungan kita.”


“Tak akan ada yang lihat. Ini jam kerja. Oke sayang.”


Lilis mengecup pipi William. William lalu mengecup kening Lilis. Dan kemudian William mencium sekilas bibirnya Lilis. Mereka berdua tersenyum.


Dan mereka berdua tak sadar kalau sepasang mata melihat hal tersebut. Sepasang mata itu adalah milik Natasya. Ia kebetulan lewat dan melihatnya.


“Sudah ya...” Lilis hendak kembali ke kerjaannya.

__ADS_1


“Nanti pulang bareng ya sayang. Bye” William melabaikan tangannya. Lilis pun membalas dan kembali ke kerjaannya.


Natasya yang melihat segera berlari dan sembunyi. Sedangkan William menuju ruangannya. Natasya secepat mungkin ke ruangan para pegawai lainnya.


“Kenapa kau Natasya?” Tanya Nuri teman Natasya di perusahaan.


“Kau tak akan percaya yang kulihat. Gosip heboh. Kelanjutan cerita yang lalu.” Natasya sudah ribut-ribu.


Semua pegawai wanita pun banyak yang ikut nimbrung mendengarkan.


“Tadi aku melihat Pak William Smith berciuman dengan wanita itu lagi. Ternyata wanita itu asisten baru mbak Ivanka. Wanita yang di ruangan Pak Smith yang waktu itu adalah dia juga”


“Wah dia kan anak baru ya disini. Kok bisa pak Smith suka dengan nya?” kata karyawati lain.


“Pakai pelet apa dia?” sambung yang lain.


“Dia baru beberapa bulan aja kan kerja di sini.. kok bisa?” tanya yang lainnya juga.


“Aku rasa dia masuk disini dan bisa kerja disini karena Tuan Smith...”


“Iya kurasa juga gitu...”


“Siapa namanya...”


“Kayaknya namanya Lilis. Lilis Hartono” Jawab Nuri.


“Oh iya... kurasa itu juga namanya. Soalnya tadi kudengar Pak Smith bilang kata “Lis” berarti memang dia namanya itu. Ternyata mereka memang Pacaran. Punya hubungan khusus.” Kata Natasya kembali.


Semua ribut kasak kusuk bergosip.


Di tempat lain William segera naik obil bersama Jack. Mereka harus segera bertemu klien di sebuah Resto. Sesampai di Resto William dan Jack segera masuk kedalam. Dan tak sengaja William bertabrakan dengan Dimas.


“Eh” William bertabrakan dan menoleh ke arah yang bertabrakan dengannya.


“Kau lagi...” Ucap Dimas.


“Aku tak ada waktu dengan mu. Permisi” Ucap William.


“Tunggu...” Kata Dimas. Dimas melihat Pin Bros metal kecil di jas hitam William. Berbentuk V.


“Kenapa?” Tanya William.


“Ah... gak. Gak jadi.” Kata Dimas.


William segera pergi bersama Jack masuk ke Resto. Ia ada urusan penting jadi tak menghiraukan Dimas.


Dimas terdiam dan berpikir. Kenapa Pria itu mempunyai Pin V. Bukankah itu untuk anggota khusus pasukan rahasia dari Bos V. Begitulah pikir Dimas.


“Kenapa dia punya benda itu...” Gumam Dimas.


Bersambung...


Jangan Lupa Vote dan Klik Favorite ya kakak-kakak readers semua. Klik like dan silahkan tinggalkan komentarnya ya kak. Biar mendukung Author dalam berkarya. Biar semangat untuk UP ceritanya kak :)  makasih untuk yang udah mampir ya kak :) :) :)

__ADS_1


__ADS_2