Rafa Dan Fatar

Rafa Dan Fatar
Bab 21.


__ADS_3

Seseorang menepuk bahu Lilis.


“Lilis....”


Lilis menoleh ke belakang. Ternyata si Jack yang dikira Lilis adalah Tuan Smith memanggilnya.


“Oh anda Tuan Smith” Lilis membungkuk hormat.


“Santai saja. Kenapa berdiri disini. Ini ruangan Natasya.” Jack memperhatikan Lilis yang tadi dilihatnya mematung diam di depan pintu ruangan Natasya.


“Saya.. saya...” Lilis agak bingung.


“Kalau tidak ada apa-apa segeralah kembali keruangan kerja mu Lis...”


“Baik Tuan...”


“Tak perlu panggil Tuan... Oh kau belum terbiasa di ruangan ini ya. Kalau begitu aku antar ke ruangan mu”


“Iya Pak... Terima kasih Pak”


Lilis dan Jack pun beranjak pergi. Lilis pun segera kembali ke ruangannya.


Setelah Jack mengantarkan Lilis ke ruangannya. Ia kembali ke ruangan Presdir.


“Tuan...” Sapa Jack ke William.


“Oh kau Jack...” William menoleh ke arah Jack dan menutup berkas yang diperiksanya.


“Saya sudah menyelidikinya. Pak Bram Hartono memang sakit. Dan sekarang perusahaannya di ambil oleh Nona Wenny.”


“Bagaimana bisa Pak Bram bisa sakit?”


“Beliau jatuh dari tangga kemudian jadi stroke sekarang.”


“Sangat aneh... coba kau selidiki lagi lebih lanjut Jack.”


“Baik Tuan. Dan bagaimana dengan Lilis?”


“Kenapa Lilis?” Tanya William.


“Hubungan kalian berdua sepertinya sudah digosipkan oleh karyawan lain. Apalagi  sekretarismu melihat kalian seperti itu tadi”


“Oh... Biarkan saja.” William cuek dan tak peduli.


“Jadi anda tak peduli”


“Buat apa peduli dengan gosip Jack. Kita fokus dengan apa yang kita kerjakan saja”


“Tapi saya rasa anda harus peduli. Karena ini tentang Lilis. Dia pegawai baru di perusahaan ini. Lambat laun orang akan mengenalnya. Dan jika mereka melihat kedekatan  Lilis dengan anda, maka akan semakin timbul banyak gosip. Lalu bagaimana perasaan Lilis nanti anda harus pikirkan”


“Perasaan Lilis?” William melirik ke Jack.


“Iya. Perasaannya harus  anda pikirkan. Dia ibuk dari anak kembar. Seorang single mother. Anda seorang Presdir. Apa nanti kata semua orang.”


“Si kembar kemungkinan anak ku Jack. Dan masalah itu pasti nanti ku pikirkan”


“Oke. Semua file dan berkas sudah ku periksa. Selanjutnya kau bereskan ya.. Aku mau pergi dulu” Ucap William kemudian dan lalu beranjak pergi meninggalkan Jack.


Jack hanya bisa menurut saja.


***


Diruangan Ivanka.


“Lis...contoh kain yang kemaren kau ambil dimana?” Ivanka bertanya.


“Ada Mbak. Sebentar aku ambilkan.” Lilis yang awalnya memeriksa kain lalu mengambilkan beberapa contoh kain yang diminta Ivanka.


“Oke . Terima kasih.”  Ivanka melihat Lilis yang rajin sekali.


“Ini Mbak...” Lilis menyerahkan beberapa contoh kain.


“Oke. Taruh disini saja”


“Iya.” Lilis meletakkan di atas meja yang dimaksud oleh Ivanka.


Ivanka melihat beberapa contoh kain. Ia mencocokkan kain tersebut dengan gambar sketsanya. Ivanka sangat teliti dalam bekerja. Lilis senang bekerja bersama Ivanka. Banyak hal yang ia pelajarin dari Ivanka. Cara membuat sketsa gambar yang baik, Cara memilih kain yang cocok dan sesuai, serta cara mendesain yang bagus agar tidak asal-asalan. Semua teknik dari Ivanka, Lilis pelajarin. Ivanka pun melihat kalau Lilis sangat tekun dan rajin. Ia juga mudah  cepat tanggap dengan apa yang diajarkannya. Ivanka senang mendapatkan asisten sekaligus murid seperti Lilis.


“Lis... coba kau perhatikan desain gambar ini. Menurutmu kain mana yang lebih cocok??” Ivanka menoleh ke Lilis.


“Menurut ku jika ingin terlihat lebih cantik gunakan warna-warna yang cerah.”


“Bisa juga. Tapi aku ingin memberikan kesan yang agak lebih Wow”


“Atau kombinasi warna dan corak serta motif saja Mbak...”


“Oke. Usulmu akan ku pertimbangkan”


Lilis tersenyum. Ia senang usulnya bisa dipertimbangkan oleh Ivanka.

__ADS_1


“Lis... boleh ku bertanya.” Ivanka melirik ke Lilis.


“Iya Mbak. Mbak mau tanya apa?”


“Kau ada hubungan apa dengan Pak Smith?”


“Hah? Pak Smith dan saya tidak ada hubungan apa-apa” Lilis bingung dengan pertanyaan Ivanka.


“Oh... Maksud ku Pak Yudha..” Ivanka lupa kalau ia disuruh berakting juga. Ia baru teringat kalau Jack menyuruhnya untuk berakting didepan Lilis. Ivanka tak tahu detailnya tapi ia harus berakting saja.


“Yudha?? Aku dan dia juga tak ada hubungan apa-apa kok. Kenapa Mbak?”


“Oh... Tidak apa-apa kalau begitu.” Ivanka yang awalnya ingin tahu tapi karena sepertinya Lilis memberinya jawaban seperti itu dia pun mengurungkan niatnya.


Lilis kemudian teringat gosip yang didengarnya diruangan Natasya.


“Apa Mbak Ivanka menyukai Yudha?” Tanya Lilis agak ragu berbicara. Namun tetap juga di ucapkannya.


“Aku? Menyukainya? Hahahaha... Tidak. Aku tak pernah menyukainya. Aku sudah tua. Sudah punya anak dan suami. Masak harus melirik brondong...” Ivanka terkekeh. Ia tak sangka Lilis berpikiran seperti itu.


“Oh... aku kirain. Hehehe...” Lilis terkekeh juga.


“Soalnya aku pernah dengar kalau Yudha banyak yang suka.” Kata Lilis kembali.


“Oh... kau telah mendengar hal tersebut.”


“Maksudnya Mbak bener kalau Yudha banyak yang suka”


“Sejak dia kembali dari Inggris dan masuk bekerja di perusahaan ini, memang banyak gadis dan wanita yang jatuh hati dan terpesona dengan ketampanannya. Semua Karyawati yang masih single banyak tertarik kepadanya. Tapi ia tak begitu tertarik.”


“Oh... Begitu kah?”


“Iya. Tentu saja. Siapa yang tidak mau dengannya. Sudah Tampan, menarik, masa depan cerah juga pastinya. Kau beruntung yang bisa dekat dengannya.” Ivanka mengedipkan matanya.


“Ah... Mbak ini. Kami biasa saja kok. Hanya teman.” Walau seringkali di hati Lilis selalu timbul desiran setiap bersama Yudha (William).


“Benarkah itu?? Hati-hati... Nanti cinta beneran dengannya... hehehe. Ya sudah kita lanjutkan saja pekerjaan kita.”


“Baik..”


***


Kini William sedang bersama si kembar. Ia kangen dengan si kembar. karena itu William menemui si Kembar. ia pun sudah meminta ijin Bibi May yang mengasuh si kembar untuk membawanya keluar jalan-jalan.


Disebuah cafe, mereka bertiga duduk sambil memakan es cream dan beberapa cake.


“Makasih Om.. Udah ajak kita makan es cream dan makan cakenya” Rafa senang sekali.


“Baguslah. Om juga suka sekali es cream...” William tersenyum melihat si kembar nampak senang dan happy.


“Om juga suka es cream??? Benarkah?” Fatar mengerjapkan matanya.


“Iya. Suka sekali malahan.” William juga melahap es creamnya.


“Wah... kok sama ya kayak kita...” Rafa terheran-heran.


“Mungkin saja Om adalah Papa kita kak...” Fatar menebak.


“Bisa jadi...” Rafa juga berpikiran sama.


“Mungkin saja... hehehe” William terkekeh.


Si kembar saling pandang setelah mendengar perkataan William.


“Maksud Om?” Rafa menatap tajam ke William.


“Ah... gak apa-apa. Ayo habiskan es creamnya. Kalau meleleh tak akan enak.” Ajak William.


“Oke” Ucap Rafa dan Fatar.


Sebuah panggilan masuk ke HP William.


“Om angkat telpon sebentar ya...”


“Iya Om... tapi Om... Rafa mau lagi cake banana nya?” Ucap Rafa.


“Ya udah pakai kartu Om ini pesannya ya.” William memberikan Card emasnya. Ia lalu bergeser menjauh untuk menerima telepon.


“Ok.” Ucap Rafa


“Kak... Untuk apa lagi pesan banana cake?” Fatar bertanya heran.


“Kau tak dengar ucapan Om Yudha tadi kata“Mungkin saja..”. Jadi aku mau memeriksa saja.”


“Bagaimana memeriksanya?”


“Gunakan kecerdasanmu donk Fatar... masak hal begini tak paham.” Rafa beranjak dari tempat duduknya. Ia pergi ke kasir.


“Ada apa adik manis? Ada yang bisa dibantu?” Ucap sang kasir. Cewek manis penjaga kasir.

__ADS_1


“Kak... mau tanya harga banana cakenya ya kak?? Aku mau bayar pakai ini” Rafa menunjukan Card emas.


“Oh... oke. Sebentar ya...” Kasir mengambilkan banana cake kemudian menerima Card emas ditangan Rafa.


“Harganya Rp. 20.000,-  aja dek.. Mau?”


“Mau kak”


“Oke. Sebentar “ Kasir menggesekkan Card emas tersebut. Kemudian memberikan card dan cakenya ke Rafa.


“Ini cake dan kartunya ya dek.” Ucap sang kasir.


“Makasih kak. Oh ya kak di mesin kakak terbaca oleh siapa nama Card ini??”


“Oh.. itu tadi terbaca nama pemiliknya atas nama William Smith.”


“Oh.. oke. Makasih ya kak.”


“Sama-sama.” Si kasir tersenyum.


Rafa kembali ke tempat duduknya. Cake dan Card emas di taruhnya diatas meja.


“Sudah selesai?” Tanya Fatar.


“Iya...”


“Lalu hasilnya...”


“Nama pemilik Card ini William Smith..”


“Benarkah kak?”


“Iya. Tapi harus ku buktikan lagi.”


“Caranya?”


“Tenang saja. Nanti kau kan tahu” Rafa tersenyum manis.


William kembali ke tempat duduknya.


“Siapa yang menelpon om?” Tanya Rafa


“Itu Jack tadi yang menelpon..” Ucap William.


“Jack itu siapa Om?” Fatar pun bertanya.


“Oh... teman kerja Om.”


“Om ini Cardnya, tadi Rafa sudah bayar dan pesan cakenya.”


“Oh.. Sudah ya. Ya sudah dimakan cakenya. Sini Kartunya”


“Om... Biar Rafa yang masukan saja ke Dompet Om... Sini Dompetnya Om”


William agak heran dengan permintaan Rafa. Ia berpikir sejak dan lalu tersenyum seakan paham dengan maksud Rafa.


“Tak perlu. Om saja yang masukan” William mengambil Cardnya dan langsung memasukan ke dompetnya.


Rafa menghela nafas kecewa. Kini Fatar paham maksud sang kakak. Ia pun berpikir.


“Om..” Ucap Fatar.


“Iya...”


“Boleh minta uang gak om?”


“Untuk apa? Apa kurang es cream dan cakenya?”


“Bukan... Fatar mau beli jajan. Diseberang ada mini market. Temanin ya om...”


“Oke kita ke seberang...” William tak dapat menolak permintaan si Fatar. ia begitu menyayangi si kembar.


Mereka bertiga segera menghabiskan cake dan es creamnya. Kemudian William mengajak Rafa dan Fatar ke mini market diseberang jalan.


Fatar memilih banyak jajanan. Saat bayar dikasir begitu banyak jajanan yang dibawa William. William segera mengeluarkan dompetnya untuk membayarnya. Kemudian fatar malah merengek.


“Uuweee....”


“Kenapa?” William tak jadi membayar. Ia menoleh ke Fatar yang tiba-tiba menangis.


“Uuweee... Fatar mau mobilan Om...”


“Mobilan... Baiklah. Ayo kita cari yang mana yang mau dipilih” William malah meletakkan dompetnya di dekat kasir. Rafa yang masih disitu segera mengambil dompet tersebut. Ia membukanya.


“Om Yudha adalah William Smith...” gumam Rafa setelah melihat KTPnya William yang ada di dompet. Ia lalu segera meletakan kembali kedalam dompet. Dan menaruhnya ke posisi semula.


Bersambung...


 

__ADS_1


 


__ADS_2