Rafa Dan Fatar

Rafa Dan Fatar
Bab 25.


__ADS_3

“Dimas... kok nelpon ya? ada apa ya?” pikir Lilis. Ia lama menatap layar HP-nya.


Lilis lalu mengangkat HP-nya.


“Iya. Halo” Jawab Lilis.


“Halo Lis... apa kabar? Bisa kita ketemuan?” terdengar suara Dimas di ujung sana.


“Baik. Kapan dan dimana?”


“Sekarang saja. Lokasi ku sms ke HP mu Lis”


“Oke”


Lilis menutup teleponnya. Ia pun segera menuju tempat yang dimaksud setelah menerima sms Dimas.


Lilis sampai disebuah kedai Coffee.


Dimas sudah menunggu di atas meja sudah ada dua cangkir kopi tersedia.


“Dim...” Sapa Lilis.


“Hai... duduk sini. Sudah ku pesankan kopinya” Dimas tersenyum melihat Lilis.


“Ok. Terima kasih.” Lilis duduk yang kursinya berhadapan dengan Dimas.


“Apa kabar Lis...?”


“Aku baik. Kalau Kau?”


“Aku juga baik. Kenapa kau sudah tak kelihatan lagi di restoran.?”


“Maaf Dim. Aku tak memberikan kabar padamu. Aku lupa. Aku sudah berhenti dan Tania pun sudah tahu. Di Cafe pun aku sudah berhenti”


“Lalu kau kerja dimana?”


“Aku sekarang kerja di I.S”


“Kenapa Kau bisa kerja disana?? Apa sewaktu kau mengembalikan berkas yang tempo hari ya lalu Pria itu kah?? Sepertinya ia juga Pria yang pernah mengikutin mu pulang kerja...”


“Dia tidak bermaksud begitu...”


“Siapa dia Lis... apa kau ada hubungan dengannya?”


Lilis melihat raut wajah Dimas agak berbeda.


“Kenapa Dim...??”


“Lis... sebenarnya aku menyukai mu. Sudah lama aku menyimpan rasa suka ku ini. Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkannya tapi nyatanya sekarang malah ada orang baru yang mendekatin mu...”


“Dim... sejak kapan?”


“Sudah lama Lis... dari awal kita kenal aku sudah tertarik dengan mu.”


“Jadi sudah bertahun-tahun Dim... Maafkan aku” Lilis tak tahu kalau Dimas sudah lama menyukainya dan menyimpan rasa dengannya. Walau Tania pernah mengatakannya, tapi ia pikir tak mungkin. Namun sekarang ia percaya. Ternyata Dimas memang menyimpan rasa untuknya.


“Siapa dia Lis?? Bukannya kau baru mengenalnya?”


“Nama Yudha Hadinata. Dia asisten dari Tuan Smith di perusahaan I.S”


“Lalu.. kenapa Dia Lis? Kenapa kau memilihnya? Kalian baru kenal”


“Aku tahu Dim... tapi Rafa dan Fatar sangat menyukainya. Mereka sudah sangat dekat. Dan aku pun...”


“Kau kenapa Lis..?”


“Aku pun sepertinya menyukainya”


“Sepertinya? Berarti kau belum yakin Lis...”


“Tapi kami memang sedang menjalin hubungan serius... Maafkan aku Dim”


“Tak bisakah kau pikirkan lagi Lis....”


“Maaf Dim... hatiku sudah dimasuki oleh Yudha”


“Seharusnya dari dulu ku katakan isi hati ku padamu.”


“Maaf Dim...”


“Sudah lah... kita masih teman kan” Dimas tersenyum tipis ke arah Lilis.

__ADS_1


“Iya. Kita masih teman.”


Mereka kemudian menikmatin minum kopinya dengan tenang.


***


Dirumah Kontrakan Lilis.


William kini bersama Rafa dan Fatar. Jack dan Bibi May hanya duduk memperhatikan mereka bertiga.


“Rafa dan Fatar senangkan kalau Om sering main kemari?” William memperhatikan kedua bocah tersebut.


“Tentu senang Om.” Rafa sedang menulis


“Senang banget Om” Fatar bermain mobilan dengan William.


“Oh iya. Jack kemari lah kenalkan ini Rafa dan ini Fatar.”


“Hai... saya Jack.”


“Halo Om....” Sapa kedua bocah kembar tersebut.


Jack mendekatin kedua bocah. Ia memperhatikan Fatar. Kemudian berbisik ke telinga William.


“Ku lihat Fatar sangat mirip denganmu sewaktu kecil dulu” Bisik Jack ke William


“Benarkah?” William menoleh ke Jack


“Iya... sepertinya mereka memeng anak kandungmu” Bisiknya kembali.


William tersenyum. Kemudian memandang kedua anak kembar dihadapannya.


“Bibi May... boleh saya bertanya” William menatap Bibi May yang duduk tak jauh darinya.


“Silahkan Yud” Bibi may sudah kenal dengan Yudha. Jadi ia tak canggung lagi memanggil namanya.


“Bibi May tahu siapa Papa dari Rafa dan fatar?”


“Bibi tak tahu. Lilis tak pernah cerita apa pun.”


“Oh begitu rupannya.”


Rafa menoleh ke arah William.


“Oke”


Mulut Rafa kecil di dekatkan ke telinganya William. Ia lalu berbisik.


“Om kan Papa kami” bisikan di telinga Rafa ke William.


Kata-kata tersebut. Membuat William tersenyum.


“Apa yang kau bilang kak?” Fatar jadi penasaran


“Mau tahu aja. Whee” Rafa menjulurkan lidah nya ke Fatar. Fatar kesal dan mengejar Rafa. Terjadilah kejar kejaran di rumah kecil tersebut.


William hanya terkekeh melihat tingkah dua bocah. Bibi May dan Jack pun ikut tersenyum.


Suasana bahagia.


Karena kelelahan bermain. Siang itu Rafa dan fatar ketiduran. William menemanin mereka tidur.


Bibi May Pamit pulang. Jack mendatangi William di kamar.


“Tuan kita harus kembali ke kantor”


“Kau saja Jack. Aku harus menjaga mereka”


“Panggil saja Bibi May kembali untuk menjaga mereka.”


“Biarkan aku bersama kedua anak kembar ku.”


“Kau yakin mereka anakmu?”


“Tentu saja. Bukankah kau bilang Fatar mirip dengan ku sewaktu kecil”


“Kalau begitu kita cek dengan tes DNA”


Jack mengambil gunting. Ia memotong sedikit rambut Rafa dan sedikit rambut fatar. Dimasukan kedalam plastik kecil dan dimasukan ke saku jasnya.


“Untuk apa Jack?”William menoleh kearah Jack. Walau dia sudah bisa menebaknya.

__ADS_1


“Untuk Tes DNA. Berikan sedikit rambut mu juga” Jack meminta rambut William.


“Oke” William mengambil gunting dan memotong ssedikit rambutnya dan memberikan ke Jack.


“Oke. Aku bawa ya. Aku sekalian pamit”


“Mau kemana kau Jack?”


“Ke rumah sakit lalu ke kantor” Jack pun lalu pergi.


Waktu berlalu dan tiba Malam harinya. Lilis kembali pulang. Saat hendak membuka pintu rumah, malah dibuka dari dalam oleh seseorang. Setelah pintu terbuka ternyata William masih dirumah Lilis hingga Lilis pulang ke rumahnya.


“Kau? Kenapa ada disini?” Lilis terheran-heran.


“Bermain dengan Rafa dan Fatar”


“Apa kau tak kerja tadi?” Lilis msuk ke rumah dan William menutup Pintu.


“Kerja donk. Sudah pulang lah.”


“Kemana Rafa dan fatar”


“Mereka baru saja selesai mandi dan makan.”


“Sudah mandi dan makan?”


“Iya.”


Lilis agak heran. Namun ia langsung ke kamarnya. Mandi dan berganti pakaian. Setelah itu ia kembali ke ruang tamu. Di lihatnya William bersama Rafa dan fatar.


“Sedang apa kalian?”


“Sedang belajar bersama Papa”Jawab Rafa


“Asyik Ma... hari ini main dan belajar dengan Papa?”


“Papa???” Lilis menoleh ke William


“Hehehe...” William hanya terkekeh.


“Ya sudah lanjutkan yang Papa ajarkan tadi ya...” William memberikan beberapa pelajaran ke Rafa dan fatar yang di ikutin Rafa dan Fatar dengan sangat baik.


“Oke” Jawab si kembar kompak.


Lilis bingung. Ia memandang ke William.


“Apa yang kau ajarkan ke anak-anakku”


“Belajar hitung-hitungan, menulis dan belajar bahasa inggris. Rafa dan Fatar sangat cepat menangkap”


“Jangan terlalu memaksakan ya Yud”


“Hey.. tenang saja sayang. Mereka anak yang cerdas. Tak perlu kau cemas.” William tersenyum dan meraih pinggul Lilis dan mendekatkan ke dirinya.


“Ada anak-anak Yud”


“Oke. Tapi begini saja tak akan apa-apa” William mengedipkan matanya dengan nakal.


Lilis dengan malas dan hanya memutar bola matanya.


“Tapi kenapa anak-anak memanggil mu dengan sebutan Papa?” Lilis menatap William.


“Ntah lah... dari tadi siang sudah seperti itu”


“Oh...”


“Lis.. sudah makan. Kalau kami sudah makan.”


“Belum. Nanti saja aku makannya.”


“Oh.. iya bolehkan aku bertanya tentang Rafa dan Fatar?”


“Bertanya bagaimana? Apa yang hendak kau ketahui?”


William berpikir sejenak. Ia rasa sekarang waktu yang tepat untuk menanyakannya.


Lilis menunggu dan lihatnya raut wajah Yudha(William) sangat serius.


“Siapakah Papa kandung Rafa dan Fatar?? Bisakah kau ceritakan padaku Lis?” Ujar William ke Lilis.


Bersambung...

__ADS_1


 


 


__ADS_2