
“Tapi kenapa...” Pak Robert sudahnharap-harap cemas.
“Apa ada yang kurang?” Tanya Pak Robert.
“Bukan kurang tapi kesalahan.” William menatap tajam ke arah Pak Robert.
“Maksud anda?”
“Saya tidak suka putri anda menanyakan kehidupan pribadi saya. Untuk apa? Ingin menggoda saya kah? Saya tidak tertarik” dengan dingin William mengatakannya.
Pak Robert dan Nancy merasakan hawa yang mencekam. Mereka terlihat takut dengan tatapan dingin dari William.
“Tuan...” Jack yang duduk di sebelah William, berbisik ke telinga William
William hanya menoleh ke arah Jack.
“Anda jangan memberikan tatapan menakutkan seperti itu. Kita sedang berbisnis bukan lagi ingin membunuh orang.” Jack berbisik lagi.
“Hem... Baiklah. Aku pergi dulu. Kau yang urus Jack.” William lalu pergi keluar duluan.
Setelah William keluar, kini hanya Jack yang ada dihadapan Pak Robert dan Nancy.
“Maafkan saya Tuan jack... saya tidak tahu kalau Tuan Smith akan marah.” Ucap nancy menyesal. Kini hanya masa depan perusahaan ayahnya yang dipikirkannya.
“Saya juga minta Maaf..” Ucap Pak Robert.
“Tidak apa-apa Pak Robert dan Nona Nancy.”
Nancy merasa kalau berbicara dengan Jack lebih nyaman ketimbang dengan William. Jadi mereka berusaha membaiki Jack.
“Tuan Jack. Tolong sampaikan Maaf kami ke Tuan Smith. Dan harap dipertimbangkan lagi kelanjutan kerja sama kita.” Ucap nancy.
“Iya benar. Kami sangat berharap. Tolong kami Tuan Jack.” Robert pun membujuk Jack.
“Oke. Saya akan coba bicarakan kembali ke Tuan Smith”
“Terima kasih Tuan Jack.” Nancy kelihatan lebih lega.
“Terima kasih Tuan Jack” Robert pun merasa agak lebih lega.
“Kalau begitu saya pamit dulu. Bos saya juga pasti sudah menungggu di Mobil.”
Nancy dan Robert hanya menganggukan kepalanya. Lalu mereka mengantar Jack keluar ruanagn.
William yang sudah lama nunggu didalam Mobil mulai merasa bosan. Ia lalu mencoba menelpon Lilis.
“Iya. Halo. Siapa ini?” terdengar suara Lilis diseberang sana.
“Ini aku. Yudha.” Jawab William.
“Oh... hai. Ada apa menelpon ku?”
“Kau ada waktu Lis... aku ingin mengajak mu makan siang.”
“Aku tak bisa. Lagian sudah lewat jam makan siang ku. Jam istirahat ku juga sudah selesai. Maaf aku sedang bekerja.”
“Oh... tak apa-apa. Mungkin lain kali. Save nomer ku ya.”
“Oke.”
“Bye.”
“Bye too”
William menutup teleponnya. Dan Jack pun baru tiba dan masuk kedalam Mobil.
“Kenapa kau lama sekali Jack?”
“Maaf Tuan. Tadi ada yang di diskusikan.”
“Apa lagi yang perlu di diskusikan?”
“Sebaiknya pertimbangkan lagi kerja sama dengan Pak Robert dan Nona Nancy. Nona Nancy saat ini adalah Model terkenal. Ia adalah Artis yang sedang naik daun. Akan sangat bagus jika ia menjadi bintang iklan dari perusahaan kita. Dan untuk Pak Roberts, kerja samanya selama ini sangat bagus dan selalu menguntungkan kita. Jadi sebaiknya anda pertimbangkan lagi keputusan anda.”
__ADS_1
“Kau cukup bawel Jack.”
“Ini demi perusahaan kita Tuan”
“Baiklah. Kau yang urus saja. Aku akan setujui.”
“Baik Tuan”
“Apa jadwal kita selanjutnya?” Tanya William.
“Kosong Tuan. Mungkin nanti malam anda ada meeting kembali diperusahaan dengan para staf kantor.”
“Baik. Kita pergi ke restoran.”
“Restoran mana Tuan?”
“Kau pasti tahu kemana yang ku maksud.”
Supir pun mulai melajukan mobilnya menuju Restoran yang dimaksud oleh William.
Ditempat lain ditempat kerja Lilis.
Lilis masih termenung menatap HP-nya. Ia lalu menyimpan nomer William yang dikiranya sebagai Yudha.
Lilis pun teringat tentang kejadian tadi malam. Ia mengingat dimana William meraih tangannya dan mengelusnya dengan lembut. Lalu wajahnya disentuh oleh William. Sekita ia teringat hal tersebut. Ada semu merah diwajahnya. Ia pun merasakan debaran dan desiran aneh dihatinya.
“Hentikan... Apa yang kau pikirkan Lis.. Dan ada apa dengan hatiku?” Gumam Lilis sendirian.
“Hey... kau kenapa?” sapa Dimas.
“Eh...”
“Hayo.. lagi mikirin apa?”
“Enggak apa-apa kok”
“Sudah sana. Kerja lagi.” Dimas tersenyum.
“Oke-oke” Lilis pun melanjutkan kerjanya melayanin para Tamu yang datang.
“Mau pesan apa Tuan?” Tanya Lilis dan saat Lilis menoleh eh ternyata Yudha.
“Hei Lis...” Sapa William.
“Hai Yud... mau pesan apa?” tanya Lilis kembali.
“Bos... mau pesan apa?” Tanya William ke Jack.
“Ehem... Apa saja boleh” Jawab Jack. Ia harus ikut berakting.
“Baiklah. Kami pesan Spageti untuk dua orang dan minumannya dua jus orange.” William menyebutkan pesanannya.
“Baik. Tunggu sebentar.” Lilis pun lalu segera ke dapur dan memberitahukan pesanan tamunya.
Beberapa saat kemudian, menunya sudah siap. Lilis mengantarkan pesanannya.
“Silahkan dinikmati.” Lilis meletakan dua piring spageti beserta dua gelas jus orange di atas meja dengan rapi.
“Terima kasih.” Ucap William sambil tersenyum.
Lilis pun undur diri. William dan Jack mulai menikmati makanannya.
Dari jauh Lilis melihat dan memperhatikan William dan Jack. Ia agak bingung kenapa, tiba-tiba si Yudha ada ditempatnya bekerja. Selang beberapa waktu kemudian, Ship kerja Lilis berakhir. Ia pun pamitan ke teman-teman kerjanya. Dimas yang selesai pun pulang bareng dengan Lilis.
William yang sudah selesai makannya segara membayar ke kasir. Ia pun segera menyusul Lilis.
“Tuan kita mau kemana lagi. Ini sudah sore hari.” Jack menanyakan tujuan William.
“Ikutin Lilis..”
“Baik.” Jack segera menyuruh supir untuk mengikuti Lilis.
Lilis yang berjalan bersisian dengan Dimas menuju sebuah Halte Bis.
__ADS_1
“Lis... langsung ke cafe ya..”
“Iya Dim.. biasalah kerja sampingan.”
“Apa tidak lelah Lis... sudah seharian direstoran sekarang harus kerja di cafe lagi.”
“Tak masalah. Aku ingin menyekolahkan anak-anak ku. Usianya sudah 5 tahun, bulan depan sudah pendaftaran sekolah. Aku tak mau anak ku ketinggalan untuk bersekolah.” Lilis ingin anak-anaknya bersekolah segera.
“Oh...”
“Lagian dari dulu juga aku sudah seperti inikan” ucap Lilis kembali.
“Iya. Aku tahu. Kau memang pekerja keras.”
Sebuah sepeda motor tiba-tiba melintas. Dimas dengan refleks menarik Lilis kepelukannya.
“Awas Lis..” Ucap Dimas dan kini Lilis dalam pelukan Dimas.
“Hah...” Lilis yang kaget hanya bisa terdiam.
“Kau tak apa-apa kan?” Dimas nampak cemas.
“Gak apa-apa. Makasih. Sekarang bisa dilepas.”
“Oh... maafkan aku” Dimas melepas pelukannya.
Ditempat tak jauh dari mereka ada mata yang mengawasi dengan tajam. Mata William nampak berubah jadi dingin. Bahkan Jack disebelahnya bisa merasakan hawa menjadi lebih dingin lain dari biasanya.
“Oke. Sampai disni ya Dim... Kita berpisah dihalte ini. Aku harus naik Bis lain yang berbeda dari arah mu.”
“Ok Lis... Sampai jumpa lagi esok di tempat kerja.”
“Bye...” Lilis melambaikan tangannya. Dan naik Bis tujuannya.
Dimas pun melambaikan tangannya. Lalu dilihatnya Bis Lilis makin menjauh juga ada sebuah mobil hitam mengikuti dibelakang Bis. Dimas pikir awalnya salah lihat tapi sepertinya Lilis di ikuti.
Sesampainya ditempat kerjanya. Lilis segera berganti pakaian seragam pegawai cafe.
Salah satu pelanggan datang.
“Ada yang mau dipesan mbak?”Tanya Lilis diloket pegawai.
“Satu americano ya?”
“Dibawa Pulang atau minum disini?”
“Dibawa pulang saja.”
“Oke. Tunggu sebentar.”
Lilis mulai membuatkan pesanan pelanggannya. Setelah selesai, ia memberikannya ke pelanggan.
“Silahkan. 20 ribu ya mbak.”
“Oke. Ini uangnya. Makasih”
“Terima kasih kembali.”
Begitulah seterusnya dengan tamu yang lainnya. Ada yang minum ditempat. Kadang ada yang minum dibawa pulang. Berbagai minuman tersedia. Lilis dengan dua karyawati bergantian melayanin. Terkadang ketiganya harus bekerja bersamaan jika ramai pelanggan.
Sampai jam 10 malam tiba. Setelah itu Lilis bisa pulang. Jam kerja nya selesai dan Lilis pun pulang.
Lilis berjalan ke halte terdekat.
Saat sendirian menunggu Bis, tiba-tiba ada yang datang mendekat. Ia menepuk bahu Lilis.
“Hai Lis...” Sapa William.
“...” Lilis menoleh dan kaget.
William tiba-tiba datang, muncul dari belakang dan menepuk bahunya. Lilis menjadi kaget dan ketakutan. Mendengar suara Lilis yang hampir menjerit tiba-tiba....
Bersambung....
__ADS_1
Jangan Lupa Like dan Komen ya Kak Readers semua nya. Serta klik Vote dan favoritenya biar semangat untuk UP cerita kembali. Makasih untuk yang udah mampir. :) :) :)