
Fatar menganggukan kepalanya sambil mengedipkan matanya ke arah Rafa. Dimas melihat pergerekan kedua bocah. Ia pun bertanya.
“Kenapa Fatar?? Ada apa?” Tanya Dimas.
Fatar tersenyum sambil berkata.
“Gak apa-apa kok Om... Yuk main lagi.”
“Ayuk..” Ucap Dimas sambil tersenyum.
Rafa pun ikut bergabung. Baik Fatar atau pun Rafa, keduanya terus mengajak Dimas main. Nanti Rafa ngajak main boneka tapi kemudian Fatar ngajak main mobil-mobilan. Dimas mulai kewalahan mengikutin keinginan kedua bocak kembar tersebut. Tak ada hentinya Rafa dan Fatar terus membuat Dimas sibuk dengan mereka berdua. Hingga akhirnya Dimas kelelahan dan pamit pulang. Misi satunya lagi telah selesai.
Kini tinggal Lilis bersama anak-anaknya yang dirumah. Lilis agak aneh dengan sikap anak-anaknya. Tapi karena malas ambil pusing, ia biarkan dan ia pun istirahat.
***
Beberapa hari kemudian.
Lilis masih stay dirumah dengan anak-anaknya. Ia tak tahu harus bagaimana. Setelah mengantarkan anak-anaknya sekolah, ia kembali ke rumah lagi. Seharian ini Lilis mendapatkan telepon dari Ivanka lagi. Karena Lilis tak mau mengangkatnya, Ivanka kemudian mengirimkan pesan chat. Isi chatnya :
“Lis... sudah berkali-kali kutelepon. Tapi kau tak pernah mengangkatnya. Sudah beberapa hari kau tak masuk kerja. Ada apa Lis?? Segera kabarin aku. Aku tahu kerjaan kita tinggal sedikit lagi tapi kalau sepuluh gaun, aku kewalahan sendirian. Jika hanya dua atau tiga gaun bisa ku kerjakan sendirian tapi ini sepuluh dan waktu sudah mepet Lis. Segera kabarin aku ya” Itulah pesan Ivanka.
Lilis menghela nafas panjang. Ia jadi bimbang. Di satu sisi ia tak mau masuk kerja, nanti pasti bertemu William. Tapi di sisi lain, ia tak bisa membiarkan Ivanka sendirian. Benar kata William, ia masih punya tanggung jawab dengan kerjaannya. Ia harus profesional. Namun jika begitu ia akan bertemu William di kantor. Tapi William pernah berkata juga kalau ia sebaiknya masuk kerja saja dan mereka tak akan bertemu di kantor jadi Lilis tak perlu berhenti kerja. Namun tak mungkin kalau Lilis tak bertemu William. Karena William Bosnya dan perusahaan tempat Lilis bekerja adalah milik William. Jadi ia harus bagaimana. Belum lagi masalah hak asuh anak yang dipikirkan Lilis. Hem... Lilis bingung sekali. Kepalanya jadi sakit.
Hapenya kembali berdering. Lilis kira Ivanka lagi yang menelpon. Namun kali ini bukan. Lilis melihat dilayar Hapenya kalau Mamanya yang menelpon. Lilis segera menerima panggilan tersebut.
“Halo... Iya Ma..” Jawab Lilis.
“Lis... Bisa pulang ke rumah. Papamu sakit Lis... Pulanglah. Bantu Mama nak.” Pinta Ajeng Ayu Hartono kepada putrinya satu-satunya yaitu Lilis. Ada nada kecemasan dari suara Mamanya.
“Ada apa Ma? Papa masih sakit kah? Tapi Lilis tak bisa pulang.”
“Pulanglah Lis... Demi Mama dan Papamu.”
__ADS_1
“Apa Papa tidak dibawa ke rumah sakit juga Ma... Sebaiknya Papa dirawat di rumah sakit.”
“Lis... Hiks... Pulanglah nak.” Ada nada kesedihan di suara Mamanya.
“Mama???”
(...) Kemudian hanya keheningan. Lilis hanya diam mendengarkan. Lilis pun berkata.
“Baiklah Ma.”
Telepon pun diputus. Lilis meletakan Hapenya. Ia menghela nafas berat. Dia masih punya masalah, sekarang masalah orang tuanya pula yang harus ia pikirkan. Sebenarnya saat Lilis mendengar Papanya sakit, ia ingin sekali datang menjenguk. Tapi ia teringat kalau Papanya melarang menginjakkan kakinya kerumah keluarga Hartono kembali.
Lilis merasa dipersimpangan. Gak tahu harus gimana. Menimbang banyak hal. Namun hatinya sangat resah. Antara Orang tuanya, William dan Hak asuh anak-anaknya. Serta kerjaannya juga. Andaikan William cukup hanya menyamar sebagai Yudha saja. Maka tak akan masalah. Ia dan William tak perlu sampai seperti ini. Tapi William juga sebagai Fatar di masa lalunya yang pahit. Lilis susah menerimanya. Lagian di masa lalu, ia dengan terang tahu kalau William yang jadi Fatar telah membunuh orang. Apa yang dilakukannya dengan membunuh orang. Kenapa dia tak ditangkap. Ada ketakutan saat Lilis mengingat pembunuhan itu. Padahal sebelumnya William sudah menjelaskan kalau ia sedang menjalankan misi. Tapi tentu saja Lilis tak tahu dan tak paham maksud William. Ia hanya tahu kalau William dulu membunuh orang dan menyakitin dirinya.
Andaikan Lilis bisa memutarkan waktu, ia memilih tak mengenal William. Atau tak bertemu William, maka nasib naas tak akan menimpanya. Dan kalau pun bertemu, ia mau pertemuan yang baik tanpa ada permasalahan. Kalau seperti ini, Lilis juga yang susah. Susah apa ia harus mencintai atau membenci. Sedangkan hatinya sudah tersakiti namun juga jatuh cinta ke William. Lilis merasakan sesak di dadanya.
Setelah merenung dan berpikir cukup lama, Lilis segara mengambil tas kecilnya. Lalu segera keluar rumah untuk menuju rumah keluarga Hartono. Ia harus bertemu dengan orang tuanya.
Sesampainya didepan Pintu depan, Lilis memencet bel rumah. Dengan tergopoh-gopoh seorang pembantu membuka pintunya. Bik minah yang membukakannya. Saat pintu terbuka, Bik minah meliaht Lilis. Ia nampak gembira.
“Non Lilis... sudah lama gak lihat. Kemana aja Non?” Bik Minah bertanya dengan penasaran.
‘Bik... Mama dan Papa ada dirumah?” Lilis terlihat cemas di wajahnya.
“Ada Non... Mari masuk.”
Lilis menganggukan kepalanya. Baru saja ia melangkah masuk sudah ada Hesti turun dari tangga melihat Lilis memasuki rumah besar keluarga Hartono.
“Lilis... ngpain kau kesini?” Hardik Hesti tantenya Lilis.
“Maaf tan... aku ingin bertemu orang tua ku”
“Gak perlu.. pergi sana. Mas Bram gak mau kau ada disini apalagi menginjak kan kaki mu di rumah ini” Hesti mengusir Lilis pergi.
__ADS_1
Lilis menatap tajam ke arah Hesti. Ia tak percaya tantenya selama ini ia kenal, akan bersikap ini padanya. Tapi tunggu dulu. Mungkin saja Tante Hesti sama saja kayak Wenny. Berpura-pura baik tapi sebenarnya menikam dari belakang. Baru sekarang Lilis menyadarinya.
“Kenapa gak pergi juga. Pergi sana kau. Di rumah ini kau tak ada tempat.”
“Tante yang gak punya tempat disini.” Balas Lilis. Sedangkan Bik minah yang melihat dua orang tersebut ribut segera berlari kedalam. Ia mau memanggil Ajeng Ayu Hartono.
“Apa maksud kau Lis?”
“Ini bukan rumah tante. Tante hanya menumpang disini.” Bentak Lilis. Ia tak mau kalah dari Hesti.
“Sialan. Anak gak tahu diri. Berani kau membentak ku hah.” Hesti mendekatin Lilis. Ia ingin menjambak rambut lilis.
“Tante yang gak tahu diri. Sudah ditolong Papa tinggal disini dan nikmatin semua fasilitas. Sekarang malah mau mengusai semuanya.”
“Jangan sembarangan kau Lis...” Hesti sudah melotot matanya. Ia berang mendengar perkataan Lilis.
“Tapi itu fakta kan tante..” Lilis juga nampak garang.
“Sialan. Dasar anak berengsek kau..” Hesti hendak menampar Lilis. Namun tangan nya terhenti oleh sebuah suara.
“Hentikan...”
Bersambung...
Jangan Lupa Klik Vote dan Favorite ya kakak-kakak Readers semuanya. :)
Di like juga semua episodenya ya kak. Tinggalkan Komennya juga. Dukungan kalian akan sangat berarti agar Authornya semangat dan bisa UP cerita secepatnya. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)
__ADS_1