Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 10. Apa Gunanya Menyesal Kalau Akhirnya Takdir Yang Ikut Campur?


__ADS_3

Beberapa bulan ke depan akan di adakan ujian kahir untuk semua jenjang sekolah menengah atas, jadi akhir-akhir ini semua siswa sibukuntuk mempelajari materi-materi ujian yang mungkin akan muncul. Begitu juga dengan kelas Esta. Ia juga sibuk membaca materi-materi yang di berikan oleh guru tersebut.


Namun, seberapapun ia mencoba untuk menyelesaikan contoh soalnya, ia tetap tidak sanggup untuk mengerjakannya. Otaknya benar-benar terbatas untuk berfikir. Apalagi sekarang ia jadi mudah lapar dan semakin banyak makan. Itu membuat tubuhnya semakin mengembang saja rasanya. Itu adalah salah satu akibat dari terlalu banyak stres karna sulitnya mengimbangi pelajaran. Dan Esta, melampiaskannya kepada makanan.


Yang membuatnya senang akhir-akhir ini adalah, teman-temannya kini semakin melihat keberadaannya. Terlebih Tina, yang sekarang selalu mengajaknya untuk pergi ke kantin atau sekedar mengobrol ringan.


Di pedulikan oleh orang-orang sekitar, ternyata mampu membuat Esta merasa lebih baik. Ia merasa bukan pecundang lagi. Ia bukan orang buangan lagi.


Dan Rai, sudah sepenuhnya melupakan kejadian malam itu. Sebenarnya ia hanya ingin menganggap kalau semuanya baik-baik saja. Mengingat Esta tidak pernah bersikap aneh padanya. Ia sennag dengan itu, dan ia juga merasa lega sekali.


Setelah istirahat jam kedua, Pak Jamil, wali kelas 3. 1, masuk dengan membawa sejumlah berkas di tangannya. Para murid yang tadinya masih asyik mengobrol langsung terdiam dan kembali ke kursinya masing-masing.


Guru yang sudah paruh baya itu seperti hendak menyampaikan sesuatu. Ia meletakkan berkas di atas mejanya kemudian berdiri sambil menatapi anakmuridnya satu-persatu.


“Gak kerasa ya, kalian disini tinggal beberapa bulan lagi. Bapak doakan semoga kalian bisa masuk kampus idaman. Jadi, untuk membantu teman-teman kita yang nilainya kurang memuaskan, bapak punya ide, bapak akan morolling teman sebangku kalian. Jadi yang nilainya masuk kategori rendah, akan bapak sandingkan dengan murid yang nilainya bagus. Buat yang nilainya kurang bagus, gak perlu insecure, anggap aja ini kesempatan emas buat kalian. Dan yang nilainya bagus, tolong di bantu teman sebangkunya, ya.” Pesan Pak Jamil lagi.


Esta tidak terlalu memperhatikan ujaran wali kelasnya. Ia hanya sibuk menulis sesuatu di buku bindernya. Namun setelah Pak Jamil mulai mengumumkan pertukaran itu, ia berusaha untuk memperhatikannya. Penasaran juga ia akan duduk dengan siapa karna ia termasuk siswa yang nilainya kurang bagus.


Sampai saatnya nama yang paling di tunggu-tunggu oleh seluruh siswa, di sebut oleh Pak Jamil.


“Rai Kenandra.”

__ADS_1


“Ya, Pak?” Jawab Rai segera.


“Kamu duduk sama Semesta, ya.”


Untuk beberapa detik Rai hanya mematung di kursinya. Sementara Esta sangat terkejut dengan pengumuman itu. Ia menatap Pak Jamil sambil ternganga kemudian beralih kepada Rai yang duduk jauh di depan sebelah kirinya.


“Pindah sekarang, Rai. Kok malah ngelamun begitu.” Seloroh Pak Jamil dengan terkekeh kecil.


Rai langsung tersadar dan mengambil tasnya kemudian berjalan ke arah belakang, tepatnya ke bangku Esta. Sementara teman sebangku Esta langsung berdiri saat Rai datang.


Pemasangan Rai dengan Esta, membuat banyak teman-teman Esta menjadi iri. Mereka melihat penuh kedengkian dari tatapan mereka.


“Yahh, beruntung banget si es teh.” Itulah salah satu ucapan yang Esta dengar.


Setelah Rai duduk di kursi barunya, Pak Jamil segera melanjutkan pengumumannya. Sementara dua makhluk remaja itu sedang berusaha untuk mengatur sikap agar terlihat senormal mungkin.


Selama ini Esta sudah mati-matian untuk tidak peduli dengan Rai.  Ia menempatkan dirinya di tempat yang seharusnya walau hatinya selalu saja bergejolak saat melihat atau berpapasan dengan pria itu.


Bukan apa, Esta merasa malu sendiri karna teringat dengan perbuatan mereka malam itu. Tapi siapa sangka, kalau pada akhirnya ia malah duduk satu bangku dengan Rai.


Padahal sangat sulit untuk menghindari temu tatap dengan Rai. Perasaan malu, takut, kecewa, dan marah selalu bercampur menjadi satu saat Esta bertemu dengan Rai. Bagaimana tidak, kenikmatan dari kebodohan malam itu masih teringat jelas di benaknya.

__ADS_1


Siapa yang bisa melupakan kejadian menyenangkan yang sesat itu? apalagi itu membuat seorang Esta kehilangan kehormatannya. Esta tidak pernah bisa melupakan perasaan menyesalnya itu hingga kini.


Bahkan selama satu bulan ini Esta selalu terkurung dalam perasaan menyesal dan was-was yang tidak berkesudahan. Satu hal yang membuatnya tak pernah tidur nyenyak adalah, hamil. Ia takut hamil karna ia masih sekolah. Mengurusihidupnya sendiri saja sudah membuatnya pusing setengah mati.


Selama sisa pelajaran, baik Esta maupun Rai hanya berusaha untuk fokus pada guru yang sedang menerangkan pelajaran di depan kelas. Padahal perasaan mereka sedang berkecamuk luar biasa.


Berada berdekatan seperti itu, membuat Rai kembali teringat akan malam yang menggairahkan itu. Hatinya berdesir dengan rasa bersalah dan rasa malu yang hebat. Ia ingin bertanya kepada Esta namun ia tetap tidak mengutarakannya. Ia tetap menganggap kalau semua baik-baik saja tanpa ada  yang perlu di sesalkan.


Pelajaran terakhir telah selesai dengan setumpuk tugas yang di berikan oleh guru. Esta hanya menggaruk-garuk pelipisnya karna sama sekali tidak mengerti tentang tugas fisika yang ada di dalam bukunya itu walaupun teman-temannya sudah mulai pergi meninggalkan kelas.


Rai menyadari kegelisahan Esta. Ia membereskan barang-barangnya sambil melirik sekali kepada Esta. Ada rasa tidak tega di hatinya, apalagi ia teringat dengan pesan Pak Jamil tadi untuk saling membantu teman sebangkunya.


“Mana yang kamu gak ngerti?” Tanya Rai dengan nada bicara super duper dingin. Ia kembali meletakkan tas yang tadinya sudah bertengger di punggungnya ke atas meja.


Esta yang tidak menyangka akan mendapatkan perhatian itu, langsung menoleh dengan tatapan heran kepada Rai. Ia tidak mengharapkan apapun dari Rai, apalagi untuk membantunya dalam masalah belajar.


“Ditanyain malah bengong.” Sindir Rai.


Namun Esta masih tidak menjawab Rai. Akhirnya Rai memilih untuk berdiri dan pergi meninggalkan Esta begitu saja karna tidak mendapatkan tanggapan dari gadis itu.


Fikiran Esta sedang melayang entah kemana. Yang jelas, ia sedang memikirkan sesuatu yang sangat penting dan menjadi pertimbangannya. Ia sedang bingung tentang apa yang harus ia lakukan. Ia merogoh ke dalam saku tas bagian dalam kemudian mengambil sesuatu dari sana. Setelah itu ia menatap punggung Rai yang mulai menjauh lewat deretan jendela kaca di sampingnya.

__ADS_1


Hatinya sedang di penuhi oleh keraguan atas keputusan yang akan ia ambil. Hal ini bukanlah perkara mudah saat ia sudah memutuskan untuktidak mau terlibat dengan Rai Kenandra. Tapi ia harus memberitahu Rai tentang sesuatu yang mengganjal di hatinya. Perihal Rai mau menerimanya atau tidak, itu terserah pada Rai nanti.


Akhirnya Esta segera membereskan barang-barangnya kemudian segera berlari untuk menyusul Rai. Namun ia terlambat karna Rai sudah memacu sepeda motornya meninggalkan area sekolah dan menghilang di jalan raya.


__ADS_2