Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 36. Rasa Iri Melihat Kebaikan Orang Lain.


__ADS_3

Rai dan Akash berjalan ke arah gudang belakang sekolah. Ekspresi mereka sangat sulit di jelaskan. Seperti marah, tapi tidak. Jengkel, juga tidak. Hanya saja Rai yang selalu menatap tajam jalan di depannya sementara Akash mengikutinya di belakang.


“Aku masih gak ngerti alasan kalian bisa begini. Biar semalaman aku berfikir, tapi aku tetep gak nemu alesannya. Cuma ada satu penjelasan, kalau Esta...”


“Apa yang kamu fikirin bener banget. Karna itu aku nikahin dia.” Jawab Rai dengan tegas.


“Kamu goblok, Rai!!!  Kok bisa, sih?!”


“Itu salahku, bukan salah Esta. Aku juga gak tau kenapa malam itu kami bisa berbuat begitu.” Ucap Rai penuh sesal. Ia menuddukkan kepalanya.


“Hah!” Akash nampak sangat frustasi mendengarnya. Ia mengusap wajah dengan kasar. “Kapan nikahnya?”


“Udah sekitar dua mingguan.”


“Gila kamu! Ini gak bisa di biarin, Rai!”


“Kash, aku mohon. Tolong bantu aku buat ngelindungin Esta.”


“Ngelindungin? Omong kosong! Kamu udah ngerusak dia. Gila kamu ya! Aku gak bakalan biarin ini.”


“Demi Esta. please. Seenggaknya sampai kita lulus nanti. Esta cuman mau lulus, jadi ayo bantu aku buat ngelindungin dia. Kamu sayang kan sama Esta?”


“Gila! Bodoh! Bangs@t!!” Maki Akash. Nampak sekali kekecewaannya kepada Rai.


Brakkk!!!!


Akash melampiaskan kemarahannya dengan menendang potongan papan kayu yang ada di sebelahnya. Kayu itu terlempar dan terantuk kepada tumpukan bangku dan meja yang sudah tidak terpakai lagi.


Untuk beberapa lama, keduanya hanya terdiam saja. Rai sangat mengerti sebesar apa rasa kecewa Akash karna ia tau temannya itu menyukai Esta.


“Jadi karna itu dia gak nerima aku... Karna waktu itu, kalian udah nikah.” Lirih Akash kemudian. Ia berusaha mencoba memahami kondisi Esta.


“Aku sadar aku salah, Kash. Karna itu aku nekat buat bertanggung jawab. Aku nikahin dia cuma sebatas tanggung jawab, itu aja. Gak lebih.”


“Parah kamu, Rai. Kamu tau sesakit apa perasaan Esta? Pasti hancur banget.”

__ADS_1


“Aku tau. Maka dari itu aku gak mau lepas dari tanggung jawab.”


“Brengsek, kamu.”


“udah cukup menghakiminya. Kamu gak ada hak buat ngehakimin aku kayak gini.” Rai jadi tersulut emosi karna Akash terus menerus memojokkan dan menyalahkannya.


“Gak punya hak kamu bilang? Aku sayang sama dia, Rai!”


“Iya aku tau! Aku udah tanggung jawab sama dia. Aku juga ngerasa hampir gila! Huh,,, huh,,, huh,,,” Rai emosi dengan nafas yang tersengal-sengal. “Aku sadar betul aku salah, jadi berhenti nyalahin aku!”


Akash terkejut dengan kemarahan Rai. Ia menatap kedua netra Rai yang dipenuhi rasa penyesalan dan kemarahan, serta kebingungan.


“Terserah kalau kamu masih mau nyalahin aku. Aku cuma minta, tolong jaga rahasia ini buat neglindungin Esta. Aku gak butuh perlindungan. Tapi Esta, dia akan hancur begitu kabar ini nyebar, Kash. Kamu ngerti gak sih?”


Yang dikatakan Rai benar. Walaupun itu kesalahan Rai, tapi yang akan menerima akibatnya adalah Esta. Yang akan menerima cemoohan, sudah pasti Esta. Dan yang akan di jauhi dan di ejek, juga pasti Esta. Itu akan sangat berat untuk gadis itu.


Dari luar, Esta bisa mendengar semuanya. Ia berdiri di balik pintu gudang dan hanya terpaku disana. Mendengar Rai berbicara seolah ingin melindunginya, padahal yang ada di fikiran Rai hanya bayinya saja. Esta sangat tau itu.


Perlahan, Esta memberanikan diri untuk membuka pintu gudang. Rai dan Akash sontak melihat ke arahnya. Ia berjalan hendak menghampiri kedua pria itu namun kakinya tersandung bongkahan kursi yang rusak dan membuatnya hampir saja jatuh terjerembab.


“Hati-hati dong Ta, perutmu itu, lho...” Ujar Akash mendahului Rai.


Melihat kekhawatiran di wajah Akash, membuat Rai langsung menarik dirinya dan melepaskan  tangannya dari lengan Esta. Ia mundur dan hanya memperhatikan saja.


Sedangkan Esta, wajahnya sudah semerah buat tomat masak. Ia berusaha menangkan jantungnya yang bedegup kencang karna hampir terjatuh tadi. Ia tidak bisa membayangkan kalau ia sempat terjatuh tadi, ia pasti sudah mendarat di tumpukan kursi.


“Kamu gak apa-apa?” Tanya Akash lagi. Ia meneliti wajah dan tubuh Esta.


“Aku gak apa-apa.” Jawab Esta. Ia membenahi posisi berdirinya dengan benar.


Esta menatap Akash dan Rai bergantian. Ia khawatir kalau mereka sampai baku hantam karna dirinya. Tapi rupanya fikirannya itu terlalu berlebihan. Siapa dia sampai membuat dua pria berkelahi? Percaya diri sekali.


“Kalian gak lagi berantem, kan?” Tanya Esta.


Rai dan Akash kompak menggeleng. Esta lega melihatnya.

__ADS_1


“Kash, maaf aku udah ngecewain kamu, tapi tolong hormati pilihanku. Ini juga berat banget buat aku. Tolong bantu aku buat jaga rahasia ini. Please.” Ujar Esta dengan nada memohon.


Sebenarnya Esta ingin menangis, tapi air matanya tidak maukeluar. Memang dari dulu ia jarang sekali menangis. Dia juga hanya terdiam saat mendapatkan pukulan dari Ringgo. Mungkin kelenjar airmatanya yang bermasalah,


sehingga membuatnya sulit menangis.


“Iya, aku ngerti kok, Ta. Aku gak akan bilang siapa-siapa. Kamu tenang aja.”


Esta dan Rai bisa bernafas lega sekarang.


“Makasih banyak, Kash.”


“Sekarang apa rencana kalian?” Tanya Akash lagi.


Esta dan Rai kompak terdiam. Bahkan mereka tidak memikirkan rencana apa yang bisa di lakukan.


“Buat seakrang, yang penting hati-hati aja. Jangan sampai ada yang curiga.” Jawab Rai.


“Jadi kamu tiap hari ngabaiin Esta karna itu?”


“Ya jadi harus gimana, dong? Aku gak bisa tiba-tiba akrab sama dia, kan?”


Benar juga. Itu akan membuat mereka terlihat aneh.


“Oh iya, tadi ada tugas dari Bu Sisil. Buat prakarya, tema daur ulang. Kelompok dua orang sama temen sebangku.” Esta memberitahu. Bukan apa, ia ingin mengalihkan pembicaraan agar tidak menjadi canggung.


Karna Esta tidak suka mendengar dua pria itu bersikap seolah ingin melindunginya. Ia tidak terbiasa dangan sikap semacam itu. Itu membuatnya goyah dan mengharapkan lebih.


“Ke kantin yuk, Ta. Kamu pasti lapar kan?” Ajak Akash tiba-tiba.


Esta hanya mengangguk meng-iyakan. Kemudian ia dan Akash berjalan keluar dari gudang. Meninggalkan Rai yang termangu sendirian.


Ada perasaan aneh yang perlahan menelusupi hati Rai. Entah kenapa ia tidak suka melihat Esta yang langsung menyetujui ajakan Akash begitu saja. Ia merasa tidak di anggap oleh Esta, dan itu terasa menyebalkan.


Kenapa? Kenapa ia ingin dianggap oleh Esta? Padahal dia sendiri yang menetapkan batasan itu saat mereka ada di sekolah.

__ADS_1


Entahlah, yang jelas ia tidak suka melihat Esta berjalan dengan Akash dan pergi meninggalkannya. Ia juga tidak suka dengan Akash yang berbesar hati menerima keadaan Esta. Ia iri melihat kebaikan Akash dan kedewasaannya.


__ADS_2