Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 84. Setumpuk Harapan Yang Masih Belum Ada Kejelasan.


__ADS_3

Akash jadi mengantar Esta pulang ke Semarang. Pria itu beralasan kalau ia ada urusan di sekitar Semarang dan sekalian mengantar Esta pulang. Padahal itu hanya alasannya saja.


“Tadi ngobrol apa sih sama Mas Oza?” Selidik Akash lagi.


“Dia nanya aku udah punya pacar apa belum.” Jawab Esta jujur.


“Terus kamu jawab apa?!” Akash terbelalak. Dari mimik wajahnya, ia nampak tidak menyukai pertanyaan Oza.


“Ya aku jawab jujur lah.”


“Terus dia bilang apa?” Desak Akash lagi.


“Gak usah khawatir. Dia cuma tanya sebatas itu.”


Akash menghela nafas lega. Ia kembali menyandarkan punggungnya di kursi. Pria itu nampak tersenyum samar.


“Ta...”


“Hem?”


“Maaf kalau aku bahas soal Rai. Aku cuma gak mau kamu salah faham sama aku dan ngira aku sengaja nyembunyiin dia dari kamu. Selama ini kami bener-bener udah putus kontak.” Ujar Akash. Ia ingin meluruskan kesalah fahaman itu. Ia terus teringat dengan tatapan pias Esta padanya.


“Aku tau. Aku percaya kok sama kamu.”


“Syukurlah. Aku fikir kamu salah faham sama aku.”


Esta tersenyum kepada Akash.


Entahlah. Sebenarnya ia tidak ingin membahas pria itu. Ia tidak ingin menguliknya. Hal itu hanya akan membuat hatinya goyah. Ia sudah bertekad untuk mulai membuka hati bagi siapapun yang datang nanti. Sayangnya, ia tetap tidak bisa membuka hati untuk Akash.


Esta tidak akan sanggup jika menerima perasaan Akash. Mengingat sedekat apa hubungannya dengan Rai dulu. Jika ia membuka hati kepada pria itu, itu hanya akan membuat hatinya terluka akan kenangan-kenangan masa lalu. Dan ia tidak akan bisa bertahan dengan Akash untuk waktu yang lama.


“Mau makan dulu, gak?” Tawar Akash memecah keheningan saat berada di tengah perjalanan.


“Boleh.”


“Mau makan apa?”


“Senemunya di pinggir jalan aja. Biar gak repot.”

__ADS_1


“Din, mampir beli makan dulu.” Perintah Akash kepada manajernya yang sedang mengemudikan mobil.


“Iya, Mas. Mau makan dimana?” Tanya Edin.


“Itu di warung itu aja. Kayaknya rame.” Tunjuk Akash di tenda pinggir jalan yang tak jauh dari hadapan mereka.


Edin menghentikan mobilnya di depan warung sate kambing. Esta dan Akash kemudian turun, begitu juga dengan Edin.


Edin memesankan tiga porsi sate kambing untuk mereka. Setelah itu ia ikut bergabung bersama dengan Esta dan Akash yang sudah duduk terlebih dahulu.


Tidak lama kemudian pesanan mereka sampai. Mereka langsung saja melahapnya sambil diselingi dengan obrolan ringan.


“Ada acara apa sih besok sampe buru-buru pulang?” Akash memulai pembicaraan.


“Oh, rapat sama pengembang aplikasi.”


“Pengembang aplikasi?”


“Hem. Aku pengen ada aplikasi untuk Semesta Laundry. Biar jangkauannya lebih jauh lagi.”


“Waahhh. Ternyata sekarang otakmu encer juga ya. Dulu aja minder katanya kapasitasnya gak mencukupi.” Ejek Akash.


Akashpun ikut tertawa.


“Kamu, gak ada niatan balik ke Jakarta, gitu?” Pertanyaan Akash membuat Esta menghentikan makannya. Ia menatap pria itu dalam kemudian menggeleng.


“Jakarta penuh dengan kenangan masa remaja yang menyakitkan buat aku. Kalau sekarang kayaknya aku belum bisa kesana. Tapi gak tau nanti.” Jawab Esta yang kemudian melanjutkan makannya.


Dan Akashpun jadi terdiam setelah mendengar jawaban Esta.


“Ta?” Panggilnya kemudian.


“Apa?”


“Bukankah udah saatnya kamu lepas dari bayang-bayang masa lalu? Mau sampai kapan kamu nyimpen semua rasa sakit itu?”


“Aku juga mau ngelupain semuanya. Aku juga gak mau ingetin terus. Tapi mau gimana lagi? Sekeras apapun aku maksa hatiku buat lupa, yang ada malah tambah ingat dan tambah sakit. Aku gak tau gimana lagi caranya buat lupa, Kash. Kalau kamu tau caranya, kasih tau aku.”


“Jangan marah ya. Kalau menurutku, kamu bukannya gak bisa. Tapi belum mau merelakan semua kenangan indah yang ada di antara rasa sakitmu itu.”

__ADS_1


Benar. Itu benar. Esta mengakuinya walaupun dalam hati.


Bagaimana ia bisa merelakan semua kenangan indah yang bagi orang lain tidak seberapa itu? Sementara hanya itulah kenangan indah yang ia punya. Bagaimana ia bisa mengikhlaskannya begitu saja kenangannya bersama dengan Rai? Kalau hanya itulah satu-satunya kenangan indah yang pernah ia rasakan.


“Hheemmpphh.” Esta hanya menghela nafas saja. Ia menyuapkan tusukan terakhir satenya ke dalam mulut.


“Kamu tau kalau aku akan tetap ada buat kamu kan, Ta? Di saat apapun.” Pias Akash menatap kepada Esta.


Esta mengangguk. Ia balas menatap Akash. Ah, rasanya iaingin sekali menerima perasaan pria itu. Kalau saja bukan karna rasa bersalahnya, ia pasti sudah menerima Akash dengan tangan terbuka.


“Makasih, Kash. Udah selalu ada buatku. Aku gak tau gimana caranya buat bales semua kebaikanmu.”


“Selama kamu baik-baik aja, itu udah lebih dari cukup buat aku. Tujuanku adalah ngelihat kamu bahagia, Ta.”


Ah, itulah yang membuat Esta semakin merasa bersalah. Perasaan itu seperti beban berat di hatinya.


Esta terus menatap Akash untuk beberapa waktu. Ia tidak lagi tersenyum. Hanya menatapi pria itu dalam-dalam.


“Udah yuk.” Ajak Akash pada akhirnya. Pria itu sedang melarikan diri dari tatapan Esta yang tidak ia suka. Tatapan Esta yang seperti itu seolah menghakiminya tanpa celah. Membuat perasaannya menciut dan menyusut.


Akash segera membayar makanan mereka. Sementara Edin telah lebih dulu masuk ke dalam mobil dan menunggu kedua penumpangnya.


Edin kembali melajukan mobilnya ke jalanan menuju kota Semarang. Kali ini, Esta memilih untuk tidur karna memang ia sudah mengantuk. Hari ini ia kelelahan setelah menemani Oza jalan-jalan.


Akash juga tidak berani mengusik Esta yang nampak sudah tertidur pulas. Ia mengambil jaketnya dari sandaran kursi depan kemudian menyelimutkannya kepada Esta. Ia juga merapikan rambut Esta yang tergerai beberapa helainya hingga menutupi wajahnya.


Menatap wajah Esta lekat seperti itu, membuat degup jantung Akash tak dapat di kendalikan. Ia bisa merasakan wajahnya yang sudah memanas akibat debaran jantungnya.


Sebelum ia melewati batas, Akash segera menarik tubuhnya kembali ke posisinya. Berkali-kali menghela nafas untuk menenangkan hatinya.


Kenapa perasaannya bisa bertahan selama ini untuk Esta? Kapan ia bisa menggantikan posisi Rai dan memberikan kenangan indah untuk Esta?


Akash tidak mau berlarut-larut dalam harapannya. Jadi ia juga memutuskan untuk mencoba memejamkan mata.


“Kalau udah sampe bilang ya, Din. Aku mau tidur dulu.” Pesannya kepada Edin.


“Iya, Mas. Tidur aja. Nanti kalau udah nyampe aku bangunin.” Jawab Edin sambil mengangguk dan menoleh sekilas lewat kaca spion dashboard.


Akash mencoba terlelap dengan membawa setumpuk harapan yang sepertinya masih belum ada kejelasan. Ia tidak pernah menyalahkan Esta. Ia juga tidak pernah merasa kalau Esta menggantung perasaannya. Karna semua sikap Esta sangat tegas mengenai batasan antara mereka. Wanita itu tidak pernah memberinya harapan sama sekali. Hanya dia sendiri yang terus berharap akan balasan perasaannya yang entah kapan akan terwujud.

__ADS_1


__ADS_2