Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 90. Ada Sedikit Rasa Kasihan Di Dalam Hati.


__ADS_3

Sebelum masuk ke kamar Nisa, Esta terlebih dulu mengetuknya. Barulah kemudian ia masuk.


“Buk Esta di pinggir ya?” Pinta Nisa yang sudah berada di dalam selimut di atas kasur.


Esta mengangguk. “Boleh. Kamu tidur duluan aja. Aku masih belum ngantuk.” Ujar Esta kembali kemudian duduk di atas karpet dengan bersandar ke tempat tidur.


“Tapi kalau boleh saya tanya. Siapa sih itu Buk?” Tanya Nisa memberanikan diri.


“Cuma temen sekelas dulu waktu SMA.” Jawab Esta. Tidak mungkin ia memberitahu kebenarannya bukan?


Ia tidak bisa mengatakan kalau Rai merupakan mantan suaminya. Jadi ia hanya mengatakan kalau Rai adalah temannya dulu.


“Ooh. Enak banget ya. Ibuk punya banyak temen cowok yang ganteng-ganteng. Ini bahkan jauh lebih ganteng dari Mas Akash.” Seloroh Nisa.


“Hahahahaha. Iya kah?”


“Iya, buk. Yang ini ganteng banget. Keren lagi.” Puji Nisa.


Beberapa saat kemudian, nafas Nisa sudah terdengar teratur. Yang menandakan kalau gadis itu sudah tertidur pulas.


Sementara Esta sedang sibuk dengan ponselnya untuk berbalas pesan dengan Sena. Sudah sejak kemarin mereka tidak memberi kabar. Ia tersenyum saat melihat status Sena yang sedang online.


Esta: “Sena?”


Sena: “Hai!”


Esta: “Ku fikir udah tidur.”


Sena: “Belum. Belum ngantuk.”


Esta: “Lagi ngapain emangnya?”


Sena: “Gak ada. Lagi rebahan aja. Kamu?”


Esta: “Lagi duduk aja.”


Sena: “Eh, ngomong-ngomong, gimana kabar Pak Kapolres itu? Udah ada telfon kamu?”


Esta: “Siapa? Mas Oza?”


Sena: “Iya.”


Esta: “Ngapain dia telfon aku?”


Sena: “Ya kali. Kukira dia lagi PDKT sama kamu? Enggak ya?”


Esta: “Ngaco kamu. Ya enggak lah.”


Sena: “Hahahahahahaha. Aku lupa kalau kamu kan belum move on dari mantan.”


Esta: “Sena!!!!!!”


Sena: “Hahahahahahahahaha. Ngomong-ngomong gimana kabar mantan itu? Masih belum ngasih kabar?”

__ADS_1


Esta: “Dia disini.”


Sena: “???????”


Esta: “Dia disini. Lagi tidur di kamarku. Tadi dia tiba-tiba dateng.”


Sena: “Seriusan?!”


Esta: “Yup!”


Sena: “Ngapain dia tiba-tiba dateng?”


Esta: “Gak tau.”


Sena: “Terus gimana reaksimu? Secara kan baru ketemu setelah sepuluh tahun lamanya.”


Esta: “Aku gak tau harus bersikap gimana sama dia. Aku bingung.”


Sena: “Kenapa bingung?”


Esta: “Gimana gak bingung? Sepuluh tahun dia pelan-pelan ngilang tanpa kabar. Dan sekarang dia berani muncul di depanku seolah gak ngerasa bersalah sama sekali. Jengkelin tau gak?!”


Sena: “Tapi dia ada minta maaf kan sama kamu?”


Esta: “Ada sih. Tapi tetep aja. Jengkelin! Udah gak pernah kasih kabar. Sekarang tiba-tiba nongol gitu aja. Aku gak tau harus gimana.”


Sena: “Kenapa kamu yang jengkel? Bukannya kamu yang nyuruh dia pergi?”


Esta: “Iya emang aku yang nyuruh dia pergi. Tapi ya gak harus ngilang juga kali. Pokoknya tu orang nyebelin banget!”


Esta: “Entahlah. Apa aku boleh ngangenin dia. Secara aku udah buat dia sakit hati dulu.”


Sena: “Aku rasa dia udah gak masalah dengan itu. Buktinya aja dia sekarang dateng dan nemuin kamu. Ya kan?”


Esta menghela nafas panjang. Entah kenapa ia nyaman sekali bercerita segalanya kepada Sena. Mereka tidak saling mengenal di dunia nyata. Mungkin karna itulah Esta berani blak-blakan kepada Sena. Bahkan kepada Putri saja ia memilih bahan untuk di ceritakan.


Sena: “Ta? Ketemuan yuk.”


Esta: “Hah? Serius? Emangnya kamu sekarang ada dimana?”


Sena: “Masih di Surabaya sih. Kebetulan lusa aku mau ada even di Solo. Kalau kamu mau, nanti aku mampir ke Semarang.”


Tentu saja ucapan Sena itu membuat Esta merasa sangat antusias. Jujur, dia ingin bertemu dengan Sena. Sahabat dunia maya yang setia mendengarkan keluh kesahnya selama lebih dari 8 tahun.


Sena: “Mau gak?”


Esta: “Ya mau lah! Gilak! Seneng banget aku tuh. Udah gak sabar pengen ketemu sama kamu.


Sena: “Oke. Nanti aku hubungin kamu. Kita ketemu pakai baju yang pernah aku kirim itu ya? Yang couple-an sama aku.”


Esta: “Oke. Siap.”


Sena: “Oke deh. Met malam Esta. Met tidur.”

__ADS_1


Esta: “Met malam, Sena. Met istirahat. Makasih banyak udah setia dengerin curhatanku. Jadi gak sabar aku.”


Sena: “Sama. Ya udah kalau gitu.”


Dan obrolan pesan singkat dunia maya itu berakhir dengan seutas senyum bahagia di sudut bibir Esta. Ia benar-benar tidak sabar menunggu waktu mereka untuk bertemu.


Baru saja Esta hendak merebahkan diri di atas kasur, tiba-tiba ponselnya kembali berdering. Sebuah nomor tidak dikenal menelfonnya. Karna penasaran, Estapun mengangkatnya.


“Halo?”


“Ta? Ini aku.” Suara Rai.


Esta yang terkejut sontak menjauhkan ponsel dari telinganya dan kembali menatapi nomor itu di layarnyanya.


“Rai? Kok kamu bisa tau nomorku?” Tanya Esta heran. Padahal ia tidak pernah memberi tahukan nomornya kepada  pria itu.


“Cuman cari nomormu aja, masalah gampang buat aku.”


“Kenapa lagi?”


“Aku gak bisa tidur.”


“Terus?”


“Sini dong... Temenin aku.” Rayu Rai dari seberang.


“Gak usah ngaco deh kamu. Udah buruan tidur. Aku udah ngantuk.”


Tit.


Esta mematikan ponselnya dengan paksa.


Ada sedikit rasa kasihan di dalam hatinya. Ia membayangkan betapa gundahnya Rai saat ia tidak bisa tidur begitu. Tapi tidak. Ia segera mengusir perasaan itu jauh-jauh. Kemudian mencoba untuk terpejam dan menyambut mimpi.


Namun yang ada, pertanyaan demi pertanyaan muncul di kepalanya. Ia baru sadar kalau ia belum bertanya apapun tentang keadaan Rai saat ini.


Bagaimana keadaannya? Dimana tempat kerja dan tempat tinggalnya? Apa masih di Jakarta? Tinggal bersama neneknya atau ayahnya? Seringkah dia pulang saat sedang berada di Purdue?


Esta sama sekali tidak tau tentang semua itu. Tiba-tiba rasa penasaran menumpuk di hatinya.


Sedangkan Rai, ia benar-benar tidak bisa tidur. Jadi ia memutuskan untuk berkeliling memperhatikan setiap sudut kamar Esta. Ia duduk di meja Esta dan memperhatikan deretan buku-buku yang tersusun rapi di atasnya.


Rai kembali mengedarkan pandangannya. Kali ini tatapannya terfokus pada selembar foto yang terjatuh di bawah meja. Ia sangat mengenali foto itu. Itu adalah foto hasil USG anak mereka dulu. Kemudian Rai mengambilnya dan menatapinya dalam.


“Ternyata kamu masih nyimpen foto ini, Ta?” Gumamnya. Tiba-tiba perasaannya menjadi trenyuh dan sedih.


Kesalahannya dulu karna ia membuat posisi Esta semakin sulit. Apalagi setelah ia mengumumkan kalau mereka berpacaran. Membuat Esta semakin tertekan dan akhirnya mereka kehilangan bayi mereka.


Dulu Rai tidak berfikir panjang tentang konsekuensinya bagi Esta setelah ia memberi tahu semua orang. Dan sekarang ia sangat menyayangkan sikapnya itu. Sikap bodoh karna ingin membuat hubungan mereka lebih nyaman, ternyata malah membuat luka di hati mereka. Dan Estalah yang lebih banyak menderita ketimbang dirinya.


“Hhhhhhheemmpphh..” Rai menghela nafas panjang kemudian meletakkan foto itu ke atas meja kembali. Setelah itu ia kembali naik ke tempat tidur dan bersiap untuk terpejam.


*****

__ADS_1


hallo teman-teman.. gak ada apa-apa, cuma mau minta maaf karna aku gak bisa balesin komentar kalian semua. harap maklum ya. tapi aku tetep baca semua komentar kalian kok. makasih banyak yaaa....


__ADS_2